Menikahi Dokter Dingin

Menikahi Dokter Dingin
My Cold Police : Hujan


__ADS_3

< Budayakan Like episode ini sebelum membaca agar bisa menambah semangat author dalam berkarya dan bila kamu menyukai novel ini silakan masukkan ke daftar favorite kamu agar kamu yang pertama menerima notifikasi ketika author update episode terbaru (~_^) >


"Kenapa dengan pria ini? Bukankah dia yang memintaku menyerahkan segalanya dan mungkin nanti aku akan hamil itu sudah jadi tanggung jawab dia,' gerutu Eva dalam hati.


Melihat Eva tak menjawab, Rendra kemudian menarik tubuh Eva dan menghempaskannya kelantai sehingga Eva sedikit terbentur pada tembok.


Eva meringis kesakitan memegangi kepalanya sebelum akhirnya berdiri dan berjalan keluar dari kamar Rendra.


Sementara Rendra merasa sangat menyesal dengan apa yang terjadi karena ia yakin bahwa ia melakukan hal yang lain terhadap Eva dia benar benar bingung akan apa yang terjadi dan memilih merebahkan badannya dan kembali tertidur.


---


"Maaf," ucap Rendra duduk di kursi meja makan.


Eva tak menjawab dan lebih memilih menulikan diri dan melanjutkan memasak sarapan untuk Rendra dan kali ini dia tidak peduli apa Rendra akan memakannya atau membantingnya.


Rendra sudah rapi dengan seragam kerjanya, serta penampilan yang begitu gagah dan juga wajah tampan yang ia miliki.


Mendengar Eva tidak menggubrisnya, Rendra kemudian berdiri lalu berjalan ke arah Eva dan berdiri tepat di belakang Eva.


"Biar aku liat kepalamu," ucap Rendra menyibak rambut Eva dan melihat benjolan akibat benturan tadi. "Astaga, kenapa bisa jadi begini?"


"Apa dia lupa? Dia kan yang mendorongku," gerutu Eva dalam hati.


"Duduklah, biar aku ambilkan obatnya," ucap  Rendra mengajak Eva duduk di kursi.


Eva hanya diam dan mengikuti semua kemauan Rendra atau tidak dia akan mendapat siksaan lagi yang lebih menyakitkan.


"Mana lukamu?" ucap Rendra yang datang membawa kotak p3k.


"Aww,: keluh Eva saat tangan Rendra menyentuh bagian pipinya.


"Kenapa? Apa pipimu sakit?" tanya Rendra


"Jelas apalagi kalau bukan sakit," kesal Eva dalam hati.


"Pasti karena tamparan dari ku yah?" tanya Rendra menebak.


"Akhirnya dia sadar juga," guman Eva lega.


"Maafkan aku yah?" ucap Rendra pada Eva.


Eva terdiam dan tertunduk tak percaya bahwa ternyata Rendra punya sisi lain dalam dirinya yang sangat manis.


"I ... Iya Om," ucap Eva gugup.


"Tapi, kau jangan salah paham dulu, aku minta maaf karena aku merasa bersalah," ucap Rendra berdiri dari duduknya. "Kau tetap tak akan merasakan apa itu cinta dari ku dan kan ku buat kau menyerah dan berpisah denganku,"


"Ada apa dengan pria ini?" guman Eva bingung atas perubahan sikap yang begitu cepat.


Entah keberanian dari mana, Eva kemudian berdiri dan menatap tajam ke arah Rendra dan tersenyum simpul.


"Sebegitu yakinnya kah Om? Kita lihat nanti siapa yang akan menyerah," ucap Eva kemudian melanjutkan proses memasaknya.


Sedangkan Rendra berdiri tanpa suara dengan keadaan tak percaya. "Baru kuberi hati dianya ngelunjak," guman Rendra kesal.


"Apa mungkin efek benturan tadi makanya dia jadi berani begini?" pikir Rendra.


"Ah sudahlah lagian akan ku buat dia pergi meninggalkanku," ucap Rendra dalam hati.


Rendra kemudian berjalan ke meja makan menantikan masakan apa yang sedang dimasak gadis itu untuknya


---

__ADS_1


"Ini Om, dimakan," ucap Eva meletakkan sepiring nasi goreng di depan Rendra.


Rendra menatap piring tersebut kemudian menariknya lebih dekat dengannya, sementara itu Eva sudah penuh dengan pikiran negatifnya bahwa Rendra akan melempar makanan itu seperti kemarin, namun ternyata ia meleset ternyata Rendra memakan nasi goreng tersebut tanpa sepatah kata pun.


Setelah sarapan Rendra kemudian berjalan ke ruang tamu memakai sepatunya dan bersiap akan pergi bekerja.


"Om? Ini kunci mobilnya," ucap Eva menyerahkan kunci mobil Rendra.


"Oh, terimakasih," ucap Rendra mengambil kunci tersebut.


Setelah menyerahkan kunci tersebut Eva kemudian melangkahkan kakiknya ke dapur untuk mencuci piring bekas makan mereka tadi.


"Va?"


"I ... Iya Om," ucap Eva gugup membalikkan badannya.


"Aku cuma mau bilang, Aku pulang agak malam jadi kamu tidak usah menunggu Aku dan saya bawah kunci rumah cadangan jadi kamu bisa tenang," ucap Rendra melangkahkan kakinya ke arah Eva. "Ku harap kau tidak repot karena ulahku, dan jika sudah menyerah aku akan menyiapkan surat gugatan cerai hari ini juga,"


"Kurasa aku takkan menyerah," ucap Eva dalam hati sembari memandangi sorotan mata tajam Rendra.


Hari sudah sore, langit bahkan sudah menjelang gelap sementara Eva baru saja keluar dari sebuah minimarket membawa belanjaannya.


Eva berdiri di tepi jalan raya menanti taksi yang bisa mengantarkannya pulang, namun sayang tidak ada satu pun taksi yang lewat, sementara itu ia juga belum masak untuk makan malam Rendra.


Di saat Eva masih berdiri mencari taksi tiba tiba setetes air dari langit membasahi puncak kepalanya, ia segera berlari ke arah teras minimarket dari hujan yang turun cukup deras. Ia khawatir tidak bisa pulang karena hari sudah mulai malam, terbersit niat untuk menelepon Rendra namun rupanya itu hanya akan menganggu Rendra yang sedang bekerja.


Pitt!


Suara klakson mengagetkan Eva  sebuah mobil sudah ada di depannya namun ia tidak tahu siapa pengemudinya dan yang jelas itu bukan Rendra.


"Ayo naik!"


Eva melingkarkan mata sempurna ketika mengetahui pemilik mobil tersebut adalah Ali, mantan dari Eva, jarak usia yang berbeda 2 tahun tak membuat mereka gentar namun sayang hal itu terjadi ketika Eva terpaksa menikahi Rendra.


Ali merupakan seorang general manager di perusahaan telekomunikasi sehingga ia memiliki akses ke begitu banyak orang jadi tak heran bila dia di kenal oleh semua orang.


"Makasih yah," ucap Eva naik keatas mobil.


"Kamu mau kemana?" tanya Ali menjalankan mobilnya.


"Aku mau pulang kak, soalnya Om Rendra pasti udah nungguin aku,"


"Oh gitu dek, emang Rendra itu gak jemput kamu?" tanya Ali menyelidik.


"Hmmm Kayaknya Om Rendra lagi di kak," ucap Eva menunduk.


Mendengar penuturan dari Eva, Ali hanya bisa ber oh ria dan menganggukkan kepalanya.


Ali tampak memikirkan sesuatu namun ia tak menunjukkan kebingungannya dihadapan Eva dan entah apa yang dia pikirkan hanya dia yang tau.


Hari sudah malam, kini mobil Ali memasuki jalanan perumahan tempat tinggal Eva sebelum akhirnya berhenti di depan sebuah rumah milik Rendra.


"Makasih yah kak," ucap Eva turun dari mobil.


Ali hanya mengangguk menunggu Eva turun, Ali kemudian menunggu Eva masuk kedalam rumah untuk memastikan dia aman. Setelah Eva masuk kedalam rumah rumahnya Ali kemudian menancap gas meninggalkan tempat tersebut.


"Kau sudah terlalu lama tersiksa dek," ucap Ali dalam hati.


---


Eva berjalan masuk kedalam rumahnya, dia agak panik karena sudah ada mobil Rendra yang terparkir di sana ditambah hujan yang semakin deraa membuat dia semakin gemetar untuk masuk kedalam rumah.


Cekrek!

__ADS_1


Bunyi pintu rumah yang dibuka oleh Eva, tampak di sofa sana Rendra sedang menunggu dengan kedua tangan yang di lipat, seragamnya masih lengkap mungkin dia belum mengganti bajunya atau baru pulang atau mungkin ia menunggu Eva untuk pulang.


"Darimana saja kau? Sampai malam begini baru pulang?" tanya Rendra tanpa menolehkan kepalanya kearah Eva.


"Ma ... Maaf Om," ucap Eva menunduk.


"Siapa yang mengantarkanmu tadi?"


"Dia kak Ali, teman saya," jawab Eva gugup.


"Teman atau Pacar?"


Eva terdiam dan menundukkan kepalanya semakin dalam dan gugup untuk menjawab.


"Te ... Teman Om," ucap Eva semakin gugup.


"Kenapa kamu bisa bersama dia?" tanya Rendra mengimtimidasi.


"Tadi hujan Om, jadi kak Ali mengantarkan saya pulang soalnya hari sudah gelap,"


"Hujan? Pulang? Kenapa kamu tidak menelepon saya, lupa kalau udah punya suami? Kamu kira saya suami macam apa tidak bisa menjaga istrinya?"


"Maaf Om, saya tidak mau menganggu Om dan lagian Om belum pernah mengakui saya sebagai istri,"


Rendra kemudian berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah Eva yang sedang tertunduk ketakutan.


"Apa maksud kamu?" tanya Rendra mengangkat wajah Eva untuk menatap wajahnya.


"Kenapa Om masih bertanya? Kurang puaskah?" ucap Eva berlinang air mata. "Saya memang perempuan hina, saya yang sudah menjebak Om dalam pernikahan ini, tapi saya juga punya hati sayang ingin di cintai, om menyuruh saya menyerah? Akan saya lakukan malam ini juga karena mungkin Om tidak akan mau mencintai gadis hina seperti saya,"


"Oh baguslah," ucap Rendra mengangguk.


Eva kemudian mengambil tasnya dan berjalan keluar rumah sedangkan hujan masih sangat deras di luar sana.


"Tunggu mau kemana kau ini sedang hujan bisakah kau menunggu besok?" tanya Rendra.


"Saya tidak akan membuat Om menunggu terlalu lama untuk tersiksa," ucap Eva melangkahkan kakinya tanpa memperdulikan Rendra.


Sementara itu Rendra sedikit khawatir kenapa hatinya begitu sakit melihat Eva pergi, walaupun sebenarnya Rendra juga menginginkan ini tapi kepergian Eva seperti mengambil sesuatu yang paling berharga milik Rendra.


---


Eva berjalan di derai hujan dengan butiran air mata yang terus berjatuhan dari sudut matanya. Ia sekarang bingung dia harus kemana dan untuk kerumah orang tuanya dia harus menjawab apa nanti.


Dia masih terus berjalan dijalanan yang sepi, ada perasaan takut namun segera ia tepis karena hatinya terlanjur sakit dengan perlakuan suaminya.


Eva kemudian melangkahkan kakinya kesebuah kursi halte dan memilih berteduh di sana dalam keadaan basah kuyup. Ia tak menyangka kehidupannya akan begini.


"Va!"


Eva membalikkan badannya kearah suara yang memanggilnya kemudian melingkarkan mata sempurna. "Om Rendra?"


Rendra berlari kearah Eva dalam keadaan basah kuyup akibat kehujanan.


"Ada apa Om kesini?" tanya Eva ketus.


"Maaf," ucap Rendra memeluk Eva. "Kau memang gadis bodoh, apa aku akan meninggalkanmu malam malam begini? Kau masih istriku dan tidak kubiarkan orang lain menyentuhmu,"


Eva terdiam lalu tersenyum bahagia, hatinya terasa lebih hangat sekarang karena kini ia tau bahwa suaminya masih mengkhawatirkannya.


Sementara itu Rendra mempererat pelukannya sebelum akhirnya ia merasakan kesakitan yang teramat di bagian belakang badannya sebelum hingga ia merasa semuanya gelap dan tidak mengingat apa apa.


- Bersambung -

__ADS_1


__ADS_2