
< Budayakan Like episode ini sebelum membaca agar bisa menambah semangat author dalam berkarya dan bila kamu menyukai novel ini silakan masukkan ke daftar favorite kamu agar kamu yang pertama menerima notifikasi ketika author update episode terbaru (~_^) >
---
Angin semilir menyapu wajah Reza yang sedang duduk termenung di bangku taman, ia baru saja kehilangan orang yang paling dia sayangi walaupun dia tahu bahwa orang tersebut adalah seorang psycopat namun cinta dan sayangnya seakan mengalahkan semuanya, kenapa harus butuh alasan? Jika perasaan tak hanya butuh alasan.
"Woy! Kecebong nangka," ucap Andrew menyapa Reza yang sedang termenung sendiri dan kemudian ikat duduk di samping Reza.
"Ngapain lo kesini?" tanya Reza tanpa menoleh ke arah Andrew.
"Emang gak boleh?"
"Iya gak boleh," ucap Reza ketus.
"Yaudah kalau gak boleh," ucap Andrew berdiri hendak meninggalkan tempat itu.
"Tunggu,"
Andrew kemudian membalikkan badannya dan kembali menatap sahabatnya Reza.
"Kau ngambekan juga yah Telur penyet?"
"Idih? Siapa yang ngambek?"
"Lah kau tadi?"
"Woy monalisa? Gue cuma pergi aja kan lo yang nyuruh pergi,"
"Hmmm, yaudah sini," ucap Reza pada Andrew.
"Kau kenapa sih?" tanya Andrew serius.
"Gak apa apa,"
"Serius?" ucap Andrew memastikan.
"Iya,"
__ADS_1
"Serius?"
"Iya,"
"Serius?"
"Nanya lagi gue tabok nih?" ucap Reza kesal.
"Yaudah kali gak usah ngegas," ucap Andrew melipat kedua tangannya lalu tersenyum simpul.
"Untung gue punya sahabat absurd kayak lo," ucap Reza merangkul pundak Andrew.
"Idih? Lagian siapa yang mau sahabatan sama kau?" ucap Andrew melepas rangkulan tangan Reza.
"Oh gini nih? Yaudah kalau gitu jangan harap gue mau berteman sama lo lagi," ucap Reza kesal.
"Yah gak gitu juga,"
"Terus apa?"
"Yah gak ada apa apa sih," ucap Andrew menarik napas panjang. "Gue tahu kesedihan lo, gue juga pernah ngerasain kol di tinggal pasangan apalagi dia yang kita cinta tapi bedanya gue bisa ketemu lah lo kagak ketemu lagi? Yang sabat yah bro,"
"Gue kuat kok," ucap Reza tegar. "Mungkin dia bukan jodohku,"
"Yah gitulah," ucap Andrew berdiri dari duduknya. "Yaudah yuk kita cari Wisnu dan Han, udah laper gue mau pulang,"
Andrew memegangi perutnya yang kini sedang menyelenggarakan debat pilkada dan berorasi serta demo pancasona level 10 itu.
Reza yang mengerti pun mengangguk setuju lalu berdiri menyusul Andrew mencari Wisnu.
"Cari dimana?" tanya Reza pada Andrew.
Sebuah pertanyaan yang bodoh dilontarkan oleh Reza yang membuat Andrew menatap malas ke arah sahabatnya itu.
"Di sini lah, yah kali lo mau nyari di komplek yang ada lo di gerubutin ama janda janda haus belaian itu,"
"Iya gue tau kali, yang gue tanyain nyarinya dimana tempatnya dimana?,"
__ADS_1
"Stop!" ucap Andrew dengan tampang serius.
"Ada apa?" tanya Reza bingung.
"Aku mencium aroma aroma,"
"Aroma apa?"
"Hmmm nasi goreng! Makan yuk!" ucap Andrew berjalan ke arah sebuah stand penjual nasi goreng yang kebetulan sedang berjualan ditempat itu.
Ingin rasanya Reza melempar sahabatnya itu dan memakinya namun sayangnya itu hanya sebatas niat karena ia tahu sikap sahabatnya yang polos atau kurang cerdas? Biarlah hanya author yang tau.
---
"Han?" panggil Wisnu.
"Iya kak?" ucap Han lemah.
Wisnu menatap ke arah Han yang tengah terduduk menundukkan kepalanya.
"Bisa kau jelaskan apa yang terjadi?"
Sebuah pertanyaan yang dilontarkan Wisnu dengan suara lemah namun terasa mengimtimidasi pendengarnya.
Mendengar perkataan kakaknya Han kemudian mengambil napas panjang lalu mengangkat kepalanya untuk menatap sang kakak.
"Maaf kak, aku gak tau," ucap Han lemah.
"Gak tau?" ucap Wisnu duduk disamping Han. "Kau yang mengalami kenapa kau tidak tahu?"
Han terdiam cukup lama dan bingung harus menjawab apa karena dia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengannya.
"Baiklah kalau tidak mau jujur, kakak gak maksa kok tapi kakak akan tunggu kejujuran kamu," ucap Wisnu berdiri dari duduknya kemudian berjalan ke depan Han. "Kau tau kan? Kakak gak suka menunggu jadi jangan buat kakak menunggu oke?"
Han kembali terdiam dengan kata kata Wisnu yang sangat mengimtimidasinya. Ia ingin sekali jujur namun semua memori tentang kronologi kejadian itu sudah terhapus dari kepalanya.
Han memcoba mengingat namun semakin ia mengingat semakin ia merasakan sakit di kepalanya yang teramat sakit sehingga membuatnya drop seketika.
__ADS_1
"Yaudah yuk kita cari Andrew dan Reza habis itu kita pulang lagian Nissa dan yang lainnya udah nungguin," ucap Wisnu berjalan meninggalkan Han dalam keadaan linglung dan nista.
< Happy Reading! >