Menikahi Dokter Dingin

Menikahi Dokter Dingin
My Cold Police : Epilog


__ADS_3

Woy pembaca! Apa kabar nehhh? Baek kan? Alhamdulillah Baek Author cuma pen bilang jangan lupa like yah! Ingat like kalau berkenan para readers bisa mampir di novel baru Author judulnya Om? Nikah Yuk! Hehehehe yaudah lanjut baca dah tapi ingat likenya yah! Likenya :)


---


"Reza? Bisa kau bawah Han kesini?" ucap Andrew pada Reza yang berada di sambungan teleponnya.


"Han?.Bukankah dia Rayn?" ucap Wisnu dengan wajah serius.


"Dia Han, dan dia hanya di manipulasi agar melupakan semuanya dan sebentar lagi kita akan membongkar kejahatan Angga," ucap Andrew menaruh kembali ponselnya kedalam saku jas putihnya.


---


Brumm!


Suara deru mesin mobil Reza nampak berbunyi memasuki halaman kediaman Andrew, dengan raut wajah yang panik juga langkah yang tergesa gesa ia turun dari mobilnya dan hendak masuk ke rumah Andrew


Reza berjalan masuk ke dalam ruangan Andrew yang dimana ada Wisnu dan Andrew yang sedang menunggunya dengan raut wajah penuh kepanikan karena ia tidak bisa menemukan Han di manapun bahkan Dian tidak tahu dimana suaminya itu sekarang.


"Han tidak ada di tempatnya, aku sudah mencarinya dimanapun namun tetap saja aku tidak menemukan batang hidungnya," tutur Reza dengan napas yang masih terengah engah.


"Apa maksudmu tidak ada?" tanya Andrew dengan wajah seriusnya.


"Yah dia tidak ada di rumahnya,"


"Apakah Han tidak datang menemui Angga," celetuk Wisnu yang tiba tiba membuat Andrew memikirkan sesuatu.


"Bersiap sekarang kita harus menemui Angga sekarang juga," perintah Andrew dengan wajah datar.


Wisnu dan Reza pun segera bergegas keluar dari ruangan Andrew berjalan menuju mobil mereka masing masing untuk berangkat menuju lokasi yang sudah di share oleh Adnan tadi.


Mobil mereka kini semakin menjauh dari rumah Andrew meninggalkan kediaman Andrew dan tanpa mereka sadari ada sebuah mobil putih yang mengikuti mereka dengan laju kendaraan yang sangat pelan.


"Buruan mah! Aku takut mas Amri kenapa napa," ujar Della pada Ay yang sedang menyetir mobil mengikuti ketiga pria itu.


"Sabar sayang kita jalannya pelan aja nanti ketahuan sama papah kamu," ujar Ay menenangkan.


"Om Rendra gak apa apa kan?" ucap Eva dengan air mata berlinang.


"Tenang, mereka pasti gak apa apa soalnya mereka semua kan kuat," tutur Nissa menghangatkan hati kedua menantunya itu.


"Aku gak mau kehilangan kak Adnan dia satu satunya kakakku di Indonesia, aku takut, Tan,"


"Sudah kalian jangan berpikir macam macam mereka semua tidak apa apa, ingat itu," ujar Ay yang mencoba menenangkan walaupun dirinya sendiri panik akan keadaan anak anak menantunya itu.


---


Sementara di sana Rendra tampak terbangun dari pingsannya dan mendapati Adnan dan Amri yang juga sudah sadarkan diri.


"Dimana kita?" tanya Rendra pelan.


Rendra mengerjakan matanya tidak ada jawaban namun hanya sebuah isyarat dari Adnan untuk tetap diam dan jangan berkata apapun atau melakukan tindakan yang membahayakan nyawa kita sendiri.


Pok! Pok! Pok!


Angga terlihat bertepuk tangan berjalan masuk kedalam ruangan dimana mereka bertiga di sekap, masih dengan senyum sinisnya ia menatap ketiga pria tersebut.


"Rupanya kalian sudah bangun," ujar Angga berjalan ke depan Rendra. "Bagaimana apakah kalian mengalami mimpi yang indah?"


"Ahhh! Lepaskan kami!" teriak Rendra sudah tak tahan lagi. "Dasar penjahat!"


"Apa? Melepaskanmu?"


Angga kemudian tertawa jahat menatap Rendra sedangkan Rendra sudah tidak tahan lagi dengan kekuatan dan tenaganya yang sedikit ia kemudian mengarahkan kakinya ke arah wajah Angga


Buk!


Satu tendangan dari bawah membuat Angga terlempar kebelakang dan membentur tembok ruangan itu, Amri dan Adnan hanya membulatkan mata sempurna menatap kejadian yang ada di depannya itu.


"Arghhh!" jerit Angga meringis kesakitan.


Angga kemudian berdiri dan berjalan ke arah Rendra dengan satu kali tinjuan dari Angga segera membuat Rendra pingsan kembali.


"Dasar kurang ajar!" teriak Angga kesal.


Tidak puas dengan itu Angga kemudian segera mengambil balok kayu tertanam beberapa paku tajam dari samping pintu.


Sthhhh sthhhhh sthhhh


Suara sereta balok itu sangat memilukan dan membuat pendengarnya akan bergidik ngeri jikalau benar benar mendengar sereta balok yang diadu dengan paku dan lantai keramik berdebu.


"Seharusnya aku tidak membunuhmu tapi kau yang meminta ini jadi terima saja nasibmu!"


Angga kemudian mengayunkan balok kayu itu ke arah Rendra dengan sekuat tenaga, sementara Amri dan Adnan hanya menutup matanya tak ingin melihat kejadian itu


"Rasakan ini!" teriak Angga yang sudah di rasuki oleh iblis.


Duk!


"Arghhh!"


Angga tampak jatuh tersungkur setelah menerima pukulan di punggungnya itu, Amri dan Adnan yang merasakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres langsung membuka matanya dan tersenyum lega melihat Wisnu dan Andrew sudah ada di depan mereka.


"Apakah kalian tidak apa apa?" tanya Wisnu melepaskan ikatan mereka.


"Tidak apa apa, Pah!" ujar Amri berdiri dengan dibantu oleh Wisnu.


"Yasudah mending kalian duluan biar Rendra nanti aku yang bawah soalnya dia masih pingsan," ucap Andrew merangkul tubuh Rendra yang masih dalam keadaan tak sadarkan diri.


Sementara di luar sana, Nissa, Ay, Della, Eva dan Syafa tampak panik dengan raut wajah khawatir di atas mobil karena pasalnya belum ada tanda tanda bahwa ada seseorang yang akan keluar dari rumah itu.


Mereka masih terus menunggu di mobil sampai mereka akhirnya memilih untuk masuk kedalam rumah itu setidaknya bisa membantu para pria itu yang mungkin sedang dalam bahaya.


Ay dan Nissa jalan terlebih dahulu sementara tiga lainnya berjalan dibelakang mereka, sesampainya di sebuah ruangan yang terdengar suara orang berbicara Ay langsung mengintip dan mendapati para pria itu sedang tersudut dengan Angga yang menodongkan pistol kearah mereka.

__ADS_1


"Sekarang mau kemana kalian!" ucap Angga menyeringai kecil.


Kini kondisi mereka benar benar tersudut terlebih lagi kini Rendra sudah sadarkan diri dan harus ditahan emosinya yang sudah meluap luap untuk tidak melakukan hal di luar nalar mereka.


Angga kemudian menyeringai dan mengarahkan pistol itu ke arah Rendra dan menghitung dengan suara yang dingin juga menyeramkan.


1


2


3


Doooorrr!


"Ahhhh!"


Eva jatuh kelantai dengan berlumuran darah karena berlari menahan tembakan itu yang tepat mengenai dadanya, Rendra berteriak tak karuan melihat Eva yang kini sudah bersimbah darah.


Sementara itu Ay, Nissa dan Della langsung memukuli Angga dengan balok kayu mereka sehingga kini Angga sudah tak sadarkan diri dengan darah yang mengucur akibat luka pukulan itu.


Sementara itu Syafa segera menghampiri Rendra dan Eva, ia menutup mulutnya bergetar menahan tangis melihat Eva yang kini sudah tidak berdaya di depannya.


Eva kemudian membuka matanya perlahan dan memegang pipi Rendra pelan dan dengan bibir yang bergetar mengucapkan sesuatu.


Ia kemudian mengambil tangan Syafa dan tangan Rendra kemudian menyatukannya. "Jika kalian ingin aku bahagia maka menikahlah dan untukmu Syafa jadilah istri untuk suamiku,"


Setelah mengucapkan kata katanya Eva kemudian kemhali menutup matanya dan takkan membukanya lagi untuk selamanya.


"Eva!!!!!!!!" teriak Rendra dengan air mata berlinang.


Rendra kemudian mendekap Eva dengan tangisan yang sudah tidak dapat ia tahan begitu perih sehingga membuat semua orang yang ada di ruangan itu meneteskan air matanya.


Ay menghampirinya dan menutup wajahnya memeluk suaminya Andrew.karena kini putri bungsu mereka sudah dalam keadaan yang mengenaskan.


Tak lama kemudian Reza datang dengan beberapa anggota kepolisian meringkus Angga beserta anak buahnya dan segera menelepon tim medis untuk melakukan pertolongan gawat darurat.


Rendra tidak melepaskan dekapannya dari Eva sampai akhirnya pandangannya buram dan kini ia sudah tak sadarkan diri.


"Aku mencintaimu dan sampai kapanpun akan selalu mencintaimu,"


- The End -


Dirga Afdarianto, seorang pria beristri yang pernikahannya juga buruk mengetahui bahwa istrinya berselingkuh dengan sosok Arlan sehingga ia menawarkan Arlan untuk membeli Alma sebagai bahan untuk Dirga melakukan lomba selingkuh dan balas dendam kepada istrinya selama ini sehingga membuat Alma harus menjadi istri kedua Dirga yang secara tidak langsung mendapat pandangan pelakor oleh banyak orang.


"Ridwan!"


Bianca memanggil nama Ridwan yang baru saja berlalu dari hadapannya, Ridwan menghentikan langkahnya kemudian membuka headset yang terpasang di telinganya.


"Ada apa?" tanya Ridwan membalikkan badannya kepada Bianca.


"Aku ingin mengajakmu makan malam nanti, aku harap kau mau," jawab Bianca berjalan ke arah Ridwan.


"Tidak."


Deg!


Bianca tersentak ini kedua kalinya Ridwan menolak permintaannya karena kedekatan mereka selama ini membuat Ridwan hampir tidak pernah menolak permintaan Bianca.


"K-kenapa?"


"Anjani lagi, tidak bisakah kau memberikan waktu untukku?" Bianca berdecak kesal kepada Ridwan.


"Waktu? Untukmu? Aku pernah memberikannya namun kau yang menyia-nyiakannya, orang bilang jadikan sifat kerasmu mahal dibeli sehingga tidak banyak orang yang bisa merasakannya, dan jadikan sifat lembutmu murah dibeli sehingga semua orang bisa merasakannya, tapi aku rasa aku tidak mengikuti prinsip ini lagi," jawab Ridwan.


Bianca terdiam.


"A-aku minta maaf," jawab Bianca menunduk.


"Aku memaafkan, tapi yah begitulah, akhirnya dan akhirnya aku tak sanggup lagi mendampingi mu sebagai teman setelah semua yang kau lakukan padaku," Ridwan hendak berjalan pergi namun Bianca menahan tangannya.


"Kenapa kau tidak mengatakannya dari awal?"


"Aku sudah mengatakan nya tapi kau tidak mau mendengarkan, lelah ku sembunyi, dibalik senyumku, karena apa? Karena aku tidak ingin ada pertengkaran diantara kita berdua, dan aku mungkin lupa bahwa aku hanya sahabat bagimu jadi aku berusaha bersikap sebagai sahabat."


Ridwan kali ini berjalan pergi memakai headset tanpa memperdulikan Bianca yang masih berdiri menatapnya.


"Ini semua, karena Anjani," Bianca berjalan menuju ruangan Anjani untuk menemuinya.


Dengan langkah panjang, Bianca melangkah dan menemui Anjani yang berada di ruangannya.


"Ada apa, Ca?" tanya Anjani yang membuat Bianca menatap tajam.


"Puas kamu? Membuat Ridwan benci sama aku?"


"Aku? Maksud kamu apasih?"


"Kamu suka kan sama Ridwan?"


"Hah? Kamu ngomong apa sih? Kamu datang marah-marah karena Ridwan, ada apa dengan anak itu lagi?" tanya Anjani berusaha menenangkan sahabatnya.


"Aku kira kamu sahabat yang baik An, ternyata kamu busuk, kamu tahu aku dekat dengan Ridwan dan sekarang kamu malah menjalin hubungan dengan Ridwan."


"Hubungan? Kayaknya kamu salah paham deh Ca, aku gak pernah ada hubungan dengan Ridwan, lagipula aku masih menjaga kehormatan aku sendiri dengan tidak mendekati zina atas nama pacaran."


"Persetan dengan itu An, aku benci banget sama kamu, mulai sekarang kamu bukan sahabatku lagi," Bianca berjalan keluar dari ruangan Anjani.


Anjani yang tidak tahu ada konflik friendzone diantara Bianca dan Ridwan hanya bisa menatap bingung karena Bianca tidak pernah sekasar ini selama bersahabat dengannya.


Bianca berjalan keluar dari ruangan Anjani, dan duduk dengan kesal pada kursi di koridor.


"Bagaimana? Sakit kan rasanya di abaikan oleh orang yang kita suka?" tanya Loki yang sudah berada di samping Bianca.


Bianca menatap Loki. "Ini semua karena kamu juga!"

__ADS_1


"Karena aku? Ini karena keplin-plananmu sendiri tahu," jawab Loki menatap lurus kedepan.


"Hanya karena satu pria, persahabatan kalian hancur," lanjut Loki.


Bianca berdiri dan menatap Loki tajam. "Kau yang memberiku harapan sehingga aku mengabaikan Ridwan, dan Ridwan akhirnya menjauh dariku."


"Dan suruh siapa kau berharap kepadaku?"


Bianca terdiam kesal.


"Bianca, kesepian ada bukan karena kau sendirian tapi memang karena kau sudah tidak diinginkan."





TBC


Assalamualaikum


Jangan Lupa Like"Ridwan!"


Bianca memanggil nama Ridwan yang baru saja berlalu dari hadapannya, Ridwan menghentikan langkahnya kemudian membuka headset yang terpasang di telinganya.


"Ada apa?" tanya Ridwan membalikkan badannya kepada Bianca.


"Aku ingin mengajakmu makan malam nanti, aku harap kau mau," jawab Bianca berjalan ke arah Ridwan.


"Tidak."


Deg!


Bianca tersentak ini kedua kalinya Ridwan menolak permintaannya karena kedekatan mereka selama ini membuat Ridwan hampir tidak pernah menolak permintaan Bianca.


"K-kenapa?"


"Anjani lagi, tidak bisakah kau memberikan waktu untukku?" Bianca berdecak kesal kepada Ridwan.


"Waktu? Untukmu? Aku pernah memberikannya namun kau yang menyia-nyiakannya, orang bilang jadikan sifat kerasmu mahal dibeli sehingga tidak banyak orang yang bisa merasakannya, dan jadikan sifat lembutmu murah dibeli sehingga semua orang bisa merasakannya, tapi aku rasa aku tidak mengikuti prinsip ini lagi," jawab Ridwan.


Bianca terdiam.


"A-aku minta maaf," jawab Bianca menunduk.


"Aku memaafkan, tapi yah begitulah, akhirnya dan akhirnya aku tak sanggup lagi mendampingi mu sebagai teman setelah semua yang kau lakukan padaku," Ridwan hendak berjalan pergi namun Bianca menahan tangannya.


"Kenapa kau tidak mengatakannya dari awal?"


"Aku sudah mengatakan nya tapi kau tidak mau mendengarkan, lelah ku sembunyi, dibalik senyumku, karena apa? Karena aku tidak ingin ada pertengkaran diantara kita berdua, dan aku mungkin lupa bahwa aku hanya sahabat bagimu jadi aku berusaha bersikap sebagai sahabat."


Ridwan kali ini berjalan pergi memakai headset tanpa memperdulikan Bianca yang masih berdiri menatapnya.


"Ini semua, karena Anjani," Bianca berjalan menuju ruangan Anjani untuk menemuinya.


Dengan langkah panjang, Bianca melangkah dan menemui Anjani yang berada di ruangannya.


"Ada apa, Ca?" tanya Anjani yang membuat Bianca menatap tajam.


"Puas kamu? Membuat Ridwan benci sama aku?"


"Aku? Maksud kamu apasih?"


"Kamu suka kan sama Ridwan?"


"Hah? Kamu ngomong apa sih? Kamu datang marah-marah karena Ridwan, ada apa dengan anak itu lagi?" tanya Anjani berusaha menenangkan sahabatnya.


"Aku kira kamu sahabat yang baik An, ternyata kamu busuk, kamu tahu aku dekat dengan Ridwan dan sekarang kamu malah menjalin hubungan dengan Ridwan."


"Hubungan? Kayaknya kamu salah paham deh Ca, aku gak pernah ada hubungan dengan Ridwan, lagipula aku masih menjaga kehormatan aku sendiri dengan tidak mendekati zina atas nama pacaran."


"Persetan dengan itu An, aku benci banget sama kamu, mulai sekarang kamu bukan sahabatku lagi," Bianca berjalan keluar dari ruangan Anjani.


Anjani yang tidak tahu ada konflik friendzone diantara Bianca dan Ridwan hanya bisa menatap bingung karena Bianca tidak pernah sekasar ini selama bersahabat dengannya.


Bianca berjalan keluar dari ruangan Anjani, dan duduk dengan kesal pada kursi di koridor.


"Bagaimana? Sakit kan rasanya di abaikan oleh orang yang kita suka?" tanya Loki yang sudah berada di samping Bianca.


Bianca menatap Loki. "Ini semua karena kamu juga!"


"Karena aku? Ini karena keplin-plananmu sendiri tahu," jawab Loki menatap lurus kedepan.


"Hanya karena satu pria, persahabatan kalian hancur," lanjut Loki.


Bianca berdiri dan menatap Loki tajam. "Kau yang memberiku harapan sehingga aku mengabaikan Ridwan, dan Ridwan akhirnya menjauh dariku."


"Dan suruh siapa kau berharap kepadaku?"


Bianca terdiam kesal.


"Bianca, kesepian ada bukan karena kau sendirian tapi memang karena kau sudah tidak diinginkan."





TBC


Assalamualaikum

__ADS_1


Jangan Lupa Like


__ADS_2