Menikahi Dokter Dingin

Menikahi Dokter Dingin
My Cold Police : Cinta Han Dan Dian


__ADS_3

< Budayakan Like episode ini sebelum membaca agar bisa menambah semangat author dalam berkarya dan bila kamu menyukai novel ini silakan masukkan ke daftar favorite kamu agar kamu yang pertama menerima notifikasi ketika author update episode terbaru :) >


---


"Woy kampret!" teriak Andrew pada Reza yang sedang sibuk dengan laptop di depannya.


Reza tak menghiraukan kedatangan sahabatnya dan berpura pura tidak tahu dan memilih mengabaikan hama dan virus yang ada di depannya.


"Woy! Pikun yah kau?" teriak Andrew menutup laptop Reza.


Reza terdiam kemudian menarik napas panjang dan menatap lesu ke arah Andrew yang kini sudah ada di hadapannya.


"Ada apa?" tanya Reza lemah.


"Gak ada apa apa," ucap Andrew cuek seakan tidak peduli dengan apa yang telah di perbuat olehnya.


"Terus maksudnya gangguin itu apa, Dok?" tanya Reza kembali.


"Ya terserah aku dong!"


"Woy patung cibodas mending kau pergi sebelum ku tendang dari sini," ucap Andrew kesal.


"Rujak cianjur! Gak usah ngegas kali," sewot Andrew kesal.


"Andrew, sahabatku, dokter idaman dan juga selalu di hati, hari ini aku sibuk jadi tolong hari ini kamu pergi aja kalau kau ada di sini kita bisa berantem dan kita udah tua jadi gak pantas berantem, okey?" ucap Reza memegang pundak Andrew.


"Kita? Kau aja kali yang tua!" tolak Andrew. "Udahlah ikut aku yuk!"


"Kemana?"

__ADS_1


"Ikut aja ah, cerewet banget nih polisi!" sewot Andrew menarik tangan Reza keluar dari ruang kerjanya.


"Aku polisi lo! Aku bisa tangkap kau atas kasus pemaksaan,"


"Etdah! Gaya kau dasar aku sleding kaya raya kau," ucap Andrew berjalan di susul Reza menuju mobilnya.


Reza berjalan lesu menyusul Andrew yang entah akan membawanya kemana dia hanya bisa pasrah dan menuruti kemauan Andrew kalau tidak akan tercipta suatu debat yang hakiki.


"Eh tower monas! Kau gak usah mikir macam macam deh aku tahu pikiranmu," celetuk Andrew membuyarkan pikirannya.


"Yaudah jelasin kita mau kemana?" tanya Andrew.


"Makan siang!"


"Apa? Cuma makan siang kau sampai memaksaku begini?"


Sementara itu Han dan Dian sudah tiba di sebuah butik untuk memesan baju pengantin mereka dan juga sekalian melakukan prewedding sementara menunggu Wisnu, Nissa, Andrew, Ay dan Reza yang akan menyiapkan susunan acara pernikahan mereka.


Han dan Dian berjalan menuju sebuah butik eksklusif tempat yang sudah di pesan oleh Han untuk membuatkan satu stel baju pengantin bernuansa pink untuk mereka yang akan menikah beberapa hari lagi


Dian tersenyum simpul begitu pula dengan Han yang dengan raut wajah bahagia menggandeng tangan calon istrinya menuju ke dalam butik tersebut.


"Kamu udah siap belum?" tanya Han lembut pada Dian.


Kini Han sudah bisa bersikap hangat terhadap Dian tidak seperti awal pertemuan mereka yang berawal dari ancaman sampai akhirnya mereka bisa membuka hati masing masing.


Dian yang sudah puas dengan isi hatinya pada Zain kini Dian sudah mulai melupakan Zain dan membuka hati untuk Han yang akan menjadi suaminya.


"Udah siap kok mas!" ucap Dian menatap lembut mata Han.

__ADS_1


Dian kemudian melangkahkan kakinya mengikuti pemilik butik itu untuk memcoba gaun pengantin mereka, Han menatap sekilas jam yang ada di pergelangan tangannya dan duduk pada sofa yang ada di ruangan itu.


Sembari menunggu Dian, Han lebih memilih mengecek ponselnya yang terdapat banyak panggilan tak terjawab dari Wisnu yang mungkin sudah menunggu untuk membicarakan rancangan pernikahan Han dan Dian.


"Mas?" panggil Dian lembut.


"Yah?" ucap Han membalikkan badannya menatap calon istrinya itu yang sudah berdiri dengan anggunnya dengan balutan gaun berwarna pink.


Han tidak bisa memalingkan wajahnya dari Dian, ia berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah Dian dan tersenyum simpul dan kini jarak mereka sudah sangat dekat.


"Apa aku bermimpi?" tanya Han lemah.


Dian tersenyum kemudian mengalungkan tangannya di leher Han dan menempelkan kepalanya di dada milik Han.


"Menurutmu ini mimpi bukan?" ucap Dian.


Han perlahan meneteskan air mata kebahagian dan juga raut wajah senang akan apa yang sedang terjadi saat ini merupakan anugerah terindah baginya.


"Lebih mirip mimpi bagiku," ucap Han lemah yang belum membalas pelukan dari Diam. "Bolehkah aku memelukmu?"


Dian tersenyum dan melepas pelukannya dan menatap lembut dalam dalam wajah Han yang tampan itu ia mengedipkan matanya kemudian kembali memeluk Han dan kali ini dibalas pelukan hangat dari Han.


"Aku takkan melepaskanmu sayang," ucap Han memejamkan matanya sembari mempererat pelukannya.


"Aku mengerti bahwa mungkin aku sudah di takdirkan bersama mas Han dia adalah milikku dan yang akan jadi milikku akan tetap jadi milikku dan Zain semoga kau menemukan cinta yang lain di luar sana," batin Dian bahagia.


- Bersambung -


Eitth tekan dulu tombol likenya dan tinggalkan komentarmu di kolom komentar makasih!

__ADS_1


__ADS_2