
< Budayakan Like episode ini sebelum membaca agar bisa menambah semangat author dalam berkarya dan bila kamu menyukai novel ini silakan masukkan ke daftar favorite kamu agar kamu yang pertama menerima notifikasi ketika author update episode terbaru (~_^) >
"Maaf," ucap Rendra memeluk Eva. "Kau memang gadis bodoh, apa aku akan meninggalkanmu malam malam begini? Kau masih istriku dan tidak kubiarkan orang lain menyentuhmu,"
Eva terdiam lalu tersenyum bahagia, hatinya terasa lebih hangat sekarang karena kini ia tau bahwa suaminya masih mengkhawatirkannya.
Sementara itu Rendra mempererat pelukannya sebelum akhirnya ia merasakan kesakitan yang teramat di bagian belakang badannya sebelum hingga ia merasa semuanya gelap dan tidak mengingat apa apa.
---
Rendra terbangun dalam keadaan pusing dan rasa sakit di kepalanya, ia membuka matanya dan mendapati dirinya di sebuah ruangan serba putih.
Ia mencoba lagi mengingat memori kejadian semalam, pelukan bahkan pernyataan itu sampai ia tidak mengingat apa apa lagi.
"Ren? Kamu sudah sadar?" tanya Wisnu yang sedari tadi sudah di samping Rendra.
"Papah?" ucap Rendra lemah. "Hmmm dimana Eva?"
Sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Rendra sukses membuat Wisnu terdiam cukup lama sampai Nissa, Andrew dan Ay masuk kedalam ruangan tersebut.
"Rendra sudah sadar mas?" tanya Nissa berjalan ke arah Wisnu dan Rendra.
"Mamah? Eva mana?" tanya Rendra sekali lagi.
Nissa kemudian ikut terdiam dan tak tahu harus menjawab apa sampai Rendra beralih bertanya ke Andrew dan Ay.
"Tante? Om? Dimana Eva?"
Ay terdiam dan tak tahu harus menjawab apa sementara Andrew mengambil ponselnya dan menberikan sebuah rekaman suara ke Rendra.
Rendra kemudian mengambil ponsel tersebut dan mendengarkan rekaman tersebut, badan Rendra lemas dan seketika ia ingin menangis kenapa ini bisa terjadi? Dan dia tidak bisa membantu Eva padahal dia ada di situ.
"Aku harus menyelamatkan istriku," ucap Rendra berdiri dari duduknya.
"Eh tunggu, kamu belum pulih," cegah Ay.
"Aku tidak peduli, ini semua salahku bahkan ketika aku harus mengorbankan nyawa sekalipun aku rela," ucap Rendra yakin.
__ADS_1
"Ta ... Tapi," ucap Nissa yang kini mencoba mencegah putranya.
Rendra sudah kekeuh pada pendiriannya ia tidak mungkin mau menyerah secepat itu dan apapun resikonya ia harus lakukan.
"Tunggu Rendra," ucap Reza yang entah kapan datangnya menahan langkah Rendra.
"Pak? Pak Reza," ucap Rendra gugup.
"Sudahlah jangan terlalu panik," ucap Reza memegang kedua buah pundak Rendra.
"Tapi Pak!"
"Kau tidak yakin denganku?" tanya Reza mengimtimidasi.
"Ma ... Maaf Pak,"
"Aku akan membantumu ini bukan lawan yang bisa dilawan sendiri tapi mereka adalah geng mafia kau tidak mungkin bisa mengalahkannya," ucap Reza berjalan ke arah jendela ruangan tersebut dan menatap keluar.
"Ta ... Tapi Pak,"
"Tenanglah, pertama aku mengintrogasimu dulu untuk mendapatkan info terakhir dan setelah itu kita akan memulai investigasinya," ucap Reza menjelaskan. "Percayalah padaku,"
Dan lagipula siapa yang berani melawan Reza kepala kepolisian tempatnya bekerja.
Reza kemudian menepuk pundak Rendra sekali lagi sebelum akhirnya ia berjalan keluar ruangan dan tampak menelepon seseorang.
"Halo? siapkan semuanya," ucap Reza mematikan ponselnya.
"Rendra, sebenarnya kau tidak harus begini hanya saja kenapa kau terjebak oleh permainan bodoh para mafia itu, dan jalan satu satunya hanya ada padamu," ucap Reza tersenyum sinis.
---
"Rendra? Bisa kau jelaskan kronologi yang terjadi semalam?" tanya Reza pada Rendra yang kini sudah ada di sebuah ruangan Reza dengan meja dan juga dua kursi yang saling berhadapan.
Rendra pun mulai mengingat kembali memorinya namun sia sia ia bahkan tidak mengingat apapun kecuali pelukan dan pernyataan.
"Semalam? Aku tidak tahu apa yang terjadi,"
__ADS_1
Reza menhela napas panjang kemudian kembali mengajukan pertanyaan pada Rendra.
"Hmmm, kalau orang yang terakhir bersama Eva siapa?"
"Selain aku siapa lagi,"
"Tidak bisakah kau mengingat ngingat lagi?" ucap Reza pada Rendra.
Rendra tampak berpikir mencoba mengingat siapa yang bersama Eva selain dirinya dengan siapa Eva semalam dan dari mana dia Rendra benar benar lupa, sampai ia mengingatnya kembali.
"Ali,"
"Hah? Ali?" ucap Reza tak percaya. "General manager di sebuah perusahaan telekomunikasi itu?"
"Aku tidak tahu? Tapi kurasa mungkin ia orangnya," ucap Rendra ragu.
"Apa seperti ini wajahnya?" ucap Reza memperlihatkan sebuah foto pada Rendra.
"Yah! Ini orangnya," ucap Rendra yakin.
"Oke sepertinya kita harus memulai menjalankan protokol misi," kata Reza sembari berpikir serius. "Tapi kita perlu seorang mata mata yang bisa masuk je perusahaan itu,"
"Mungkin aku bisa bantu," ucap seorang pria yang berdiri di ambang pintu.
"Kak Amri?" ucap Rendra tersenyum simpul.
"Tenanglah jika hanya menjadi mata mata aku bisa membantu kalian,"
"Bagaimana caranya?" tanya Rendra pada Amri.
"Kau lupa? Aku seorang Ceo dan Ceo perusahaan telekomunikasi aku sangat dekat dengannya jadi aku bisa dengan mudah keluar masuk perusahaan itu,"
"Ide yang bagus," ucap Reza berdiri dari duduknya. "Aku percaya padamu dan jangan mengecewakan,"
Amri hanya tersenyum simpul dan menganggukkan kepalanya yakin dengan apa yang ia rencanakan.
"Halo? Sekretaris Zain? siapkan janji temu saya dengan pak Darius pemilik perusahaan telekomunikasi yang kita ajak kerjasama minggu lalu," ucap Amri dalam sambungan telepon.
__ADS_1
"Oke siapkan rancangan selanjutnya untuk protokol misi ini," ucap Reza kembali duduk di kursinya.
- Bersambung -