
Halo!! Sebelum lanjut baca mending kalian tekan tombol like itu dan berikan supportnya kepada Author! Mau hujat? Silakan di hujat Karya hancur Author tapi jangan lupa di like yah! Okey :) Awas kalau gak like nanti tak Santet lo :)
---
Rendra berdiri di depan teras rumahnya memandang ke kiri dan ke kanan seolah mencari sesuatu, wajahnya panik dan penuh guratan kekhawatiran berdiri dengan tampang wajah gelisah.
Brummmm!!
Tampak suara dari mesin mobil yang kini ada di hadapannya memecah keheningan di tengah kegelisahan Rendra, yah itu Adnan ia masih memakai seragam dokternya yang bernuansa putih bersama Amri turun dari mobil membuat Rendra bisa sedikit tersenyum tenang.
"Dari mana saja kalian?" tanya Rendra melipat kedua tangannya. "Kok lama sekali sih?"
"Iya maaf," ucap Adnan mengaruk kepalanya canggung.
"Hmmm, gimana dek? Udah dapat belum?" tanya Amri pada adiknya itu.
"Dapat Kak, tapi yakin kalau hal ini aman?"
Amri nampak berpikir sejenak begitupun dengan Adnan yang membuat Rendra hanya berdiri sembari menatap malas ke arah mereka berdua.
"Pasti aman!" celetuk Adnan yang membuat Rendra mengangkat alisnya sebelah.
L
"Kenapa kau begitu yakin?" tanya Amri yang kini menatap serius ke arah Adnan.
"Kan hanya kita bertiga yang tahu, selebihnya tidak ada yang lain kan?"
"Jadi? Ayah mertua dan papahku belum tahu?" ucap Amri dan Rendra.
"Yah begitulah," ucap Adnan dengan wajah santainya.
Mereka bertiga terdiam sejenak dan saling pandang satu sama lain mengenai rencana yang akan mereka lakukan dan tanpa mereka sadari Angga sudah dengan pistol yang dia todongkan ke arah tiga pria itu.
__ADS_1
Dor! Dor! Dor!
Tiga tembakan tepat melesat mengenai tubuh ketiga pria sehingga mereka semua nampak jatuh tak sadarkan diri, Angga tampak tersenyum puas dan berjalan ke arah Rendra, Adnan dan Amri yang kini sudah tak sadarkan diri.
Angga tampak tersenyum sinis kemudian mengambil ponsel milik Rendra dan menghapus semua video yang Rendra rekam sewaktu Angga menjalankan aksinya.
"Inilah akibat berani bermain main denganku," ucap Angga kemudian memanggil beberapa anak buahnya untuk menbawa tubuh ketiga pria ini masuk kedalam mobilnya.
Sementara itu Angga kemudian masuk ke mobilnya sendiri dan berangkat menuju tempat di mana ia akan menyembunyikan tubuh ketiga pria ini sampai ia berhasil menjebak Wisnu dan Andrew untuk dibunuh bersama nantinya.
---
Adnan membuka perlahan matanya manakala dia merasakan sakit yang teramat di bagian punggungnya, ia ingat betul bahwa kamu tadi dia merasakan bunyi tembakan sebelum akhirnya ia tak sadarkan diri.
Setelah dokternya yang putih kini penuh dengan darah yang mengalir dari luka tembakannya, ia bingung harus melakukan apa sementara itu Rendra dan Amri masih tak sadarkan diri, Adnan kemudian kembali pura pura pingsan mana kala Angga dan beberapa anak buahnya masuk kedalam ruangan ini.
"Apa kita tidak bunuh saja dia?" ucap salah satu anak buah Angga yang tampak membawa sebilah kapak.
Di saat semua orang itu keluar Adnan kembali membuka matanya dan mengingat bahwa ia membawa ponsel di sakunya, dengan hati hati Adnan segera menghubungi Andrew dan mengirim lokasi padanya agar bisa segera datang menyelamatkannya.
Sementara itu di lain tempat Andrew benar benar marah, wajahnya memerah dan mengepal memukul meja mana kala dia menerima pesan darurat dari Adnan untuknya.
"Dasar kurang ajar! Berani beraninya dia melakukan hal itu pada anak anak kita,: ucap Andrew pada Wisnu.
"Kalau Angga melakukan ini berarti dia tahu kalau kita sudah mengetahui semua rahasianya," ucap Wisnu pelan.
"Yah seperti itu," ucap Andrew mengambil ponsel genggamnya.
"Kita harus memberi dia pelajaran!" teriak Wisnu emosi.
"Jangan gegabah! Kita tidak tahu siapa yang kita lawan itu bisa jadi mereka duluan yang melumpuhkan kita," cegah Andrew pada Wisnu. "Kita akan melawannya dengan cara yang mudah,"
"Apa?"
__ADS_1
Wisnu menatap bingung sahabatnya itu sementara Andrew hanya tersenyum sinis lalu tampak menelepon seseorang.
"Reza? Bisa kau bawah Han kesini?" ucap Andrew pada Reza yang berada di sambungan teleponnya.
"Han?.Bukankah dia Rayn?" ucap Wisnu dengan wajah serius.
"Dia Han, dan dia hanya di manipulasi agar melupakan semuanya dan sebentar lagi kita akan membongkar kejahatan Angga," ucap Andrew menaruh kembali ponselnya kedalam saku jas putihnya.
---
"Kau sudah sangat keterlaluan!" teriak Han pada Angga. "Kau hanya menjebakku!"
"Oh! Jadi kau sudah tahu?" tanya Angga sinis.
Angga kemudian berjalan kedepan Angga dengan senyum sinisnya menatap tajam penuh dengan kekejaman.
"Apa maksud semua ini! Kau hanya memperalatku untuk menjadi Rayn sementara aku ini Han!"
"Siapa yang memperalatmu? Kau saja yang bodoh,"
Han benar benar sangat emosi atas perlakuan Angga yang sudah menggunakan dirinya hanya untuk menguras harta dari kakaknya sendiri dan saat ini semua rencana itu buyar dan Angga tidak ada pilihan lain selain membunuh semua anggota keluarga Dreantama.
Dan akan dimulai dari Amri Dreantama Rendra Dreantama dan Hanif Devano Dreantama bersama Adnan akan menjadi korbannya sebelum kekayaan keluarga Dreantama benar benar jatuh ketangannya.
"Kau benar benar pembunuh!" teriak Han pada Angga.
"Yah aku memang pembunuh!" ucap Angga menusuk perut Han dengan pisau yang ada ditangannya.
Han membulatkan mata sempurna merasakan sakit yang ada di perutnya dan ia hanya dapat meringis menahan sakit.
Angga semakin memperdalam pisau itu sampai benar benar merobek perut Han dan akhirnya Han sudah tak sadarkan diri dengan bersimbah darah.
- Bersambung -
__ADS_1