
< Budayakan Like episode ini sebelum membaca agar bisa menambah semangat author dalam berkarya dan bila kamu menyukai novel ini silakan masukkan ke daftar favorite kamu agar kamu yang pertama menerima notifikasi ketika author update episode terbaru :) >
---
Kring! Kring! Kring!
Suara ponsel dari Zain yang berbunyi membuyarkan lamunan kesedihannya dan mengambil ponsel tersebut dan mengangkatnya tanpa mengecek nama si penelepon.
[Halo?]
[Halo? Zain? ini aku Han, apa kita bisa bertemu pagi ini di cafeku? Ada sesuatu hal penting yang ingin aku katakan]
Zain terdiam cukup lama mendengar suara penelepon barusan adalah Han, orang yang sangat ia benci dan menyimpan dendam namun ia tak mau menampakkan dendamnya karena semua hanya akan berakhir dalam penyesalan yang tak di duga.
[Oke! saya akan segera kesana]
Zain kemudian mematikan telepon sepihak setelah menyelesaikan kalimatnya, kini ia terlarut dalam pikiran serta opininya sendiri yang serta merta membawanya terhadap beberapa pikiran yang nyaris menekan batinnya saat itu juga.
Lama Zain terdiam dalam duduknya kemudian ia berdiri dan berjalan mengambil jasnya dan segera berangkat untuk menemui Han untuk sekedar menanyakan ada keperluan apa Han memanggilnya untuk bertemu.
Zain kemudian segera memasuki mobilnya kemudian menancap gas menuju cafe tempat Han ingin menemuinya dengan menyimpan sedikit kekesalan yang tak ingin dia ungkapkan namun segera di tepisnya jauh karena dia ingat bahwa dirinya itu siapa.
Di dalam perjalanan Zain hanya berusaha untuk diam dan bersikap santai ia tidak mau memikirkan apapun karena ini bisa sangat berpengaruh dalam kehidupan pribadi bahkan pekerjaannya, hampir tak lama kemudian kini mobil yang di kendarai Zain sudah sampai di depan Cafe milik Han.
Zain kemudian memarkirkan mobilnya sembarang sebelum masuk ke dalam cafe tersebut ia sudah melihat Han menunggunya di salah satu meja. Tak mau membuang "waktu lagi Zain memilih untuk segera menemui Han.
"Selamat Pagi," ucap Zain yanh datang menyapa Han.
"Pagi, eh Zain silakan duduk," ucap Han mempersilakan Zain untuk duduk.
"Makasih," Zain kemudian mengambil ku rsi dan duduk di meja yang sama di depan Han. "Jadi ada perlu apa nih?"
__ADS_1
"Hmmmm, begini Zain, aku tau kalau kau adalah cinta pertama dari Dian dan bahkan mungkin cinta terakhirnya, kau jangan membencinya harusnya kau membenci aku karena aku yang sudah merebutnya darimu dan kau tahu dalam waktu dekat ini aku akan menikah dengannya jadi aku akan mengizinkanmu bicara Dian untuk terakhir kalinya," ucap Han menjelaskan. "Diaz!"
Han tampak memanggil Dian dari dalam ruangan dalam cafe tersebut dan tak lama kemudian Diaz keluar dengan raut wajah yang sedih dan menunduk pasrah.
"Silakan kalian berbicara dan aku takkan menganggu kalian," ucap Han berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah ruangan tempat Dian keluar tadi.
Kini di tempat ini hanya ada Dian dan Zain mereka saling menatap pasrah dengan air muka kesedihan yang terpancar hanya menanti satu jawaban yang tidak pasti dengan sebuah harapan yang tak mungkin ada.
"Kak Zain?" panggil Dian lemah.
Zain menunduk tak mau menatap wajah Dian yang kini sudah ada di depannya masih terbayang semua kenangan itu di kepalanya namun hanya tersisa kepingan kecewa tak terduga.
"Maafkan aku kak, aku tahu ini semua berat dan jujur aku masih sangat mencintai kak Zain, tapi ..."
"Tapi apa!?" tanya Zain memotong dengan nada yang tinggi.
"Tapi ini takdir dan aku bukan jodohmu," ucap Dian berlalu pergi meninggalkan Zain yang nista tak bergerak dan terdiam pasrah.
---
"Waalaikusalam, siapa yah?" tanya Eva membukakan pintu untuk tamunya.
"Siapa sa...?" tanya Rendra ikut melihat siapa tamu yang datang sepagi ini.
Belum sempat Rendra menyelesaikan kata katanya kini terdiam melihat seorang wanita cantik dengan balutan pakaian syari dengan nuansa putih, Rendra serasa kehilangan kemampuan berbicaranya karena kini ia sedang di hadapkan oleh cinta dari masa lalunya.
"Sya ... Syafa?" ucap Rendra gugup.
"Hai mas Rendra, lama tidak bertemu," ucap Syafa penuh dengan senyuman.
"Silakan masuk," ajak Eva pada Syafa.
__ADS_1
"Eh makasih," ucap Syafa melangkahkan kakinya memasuki rumah Rendra dan duduk di sebuah sofa di ruang tamu. "Selamat yah! Maaf waktu kalian nikah aku gak bisa datang,"
"Ma ... Makasih, Fa," ucap Rendra gugup.
"Kenapa kamu gugup begitu mas?" tanya Syafa pada Rendra.
Rendra terdiam sementara Eva hanya terdiam menatap bingung dengan apa yang terjadi bahkan dia tidak tahu apa hubungan antara Syafa dan suaminya
"Pasti kau bingung kan?" ucap Syafa menatap ke arah Eva. "Aku ini adalah mantan pacar dari suamimu, kami bahkan hampir menikah jika saja aku memilih tidak melanjutkan kuliahku di cairo, tapi sudahlah itu hanya masa lalu dan aku takkan menganggu hubungan kalian,"
Rendra kini beralih menatap Syafa yang masih dalam keadaan tersenyum walaupun dia tahu bahwa hati Syafa kini sedang terguncang janji suci dulu hanya angan karena sudah ternodai.
"Hmmmm kalian percaya jodoh?" tanya Syafa kembali.
Rendra terdiam dan Eva mengangguk sembari menatap serius ke arah Syafa.
"Seperti yang pernah di katakan suamimu bahwa setiap manusia memiliki jodohnya masing masing, dan kurasa, kamu dan mas Rendra itu berjodoh," ucap Syafa berdiri dari duduknya. "Senang yah kalau kita bisa menemukan jodoh yang diberikan allah dari hati dan aku harap aku bisa menemukan jodohku,"
"Apa maksudmu?" tanya Eva bingung.
Syafa tak langsung menjawab melainkan hanya tersenyum simpul lalu mengambil tasnya dan pamit dari tempat itu.
"Kalau gitu aku permisi dulu yah, Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam," ucap Rendra dan Eva tertegun dengan apa yang dikatakan Syafa.
Sementara itu Syafa berjalan keluar dari rumah Rendra dengan senyuman lega walaupun ada setetes air mata kecewa karena telah mengikhlaskan cintanya untuk orang lain dan ini takdir allah yang tidak bisa diubah.
- Bersambung -
Maaf yah lama Up soalnya author banyak kegiatan dan kuota author sekarat wkwkwkw.
__ADS_1