
< Budayakan Like episode ini sebelum membaca agar bisa menambah semangat author dalam berkarya dan bila kamu menyukai novel ini silakan masukkan ke daftar favorite kamu agar kamu yang pertama menerima notifikasi ketika author update episode terbaru (~_^) >
Ponsel Wisnu bergetar menerima pesan dari seseorang yang ia tidak kenal.
[Anakmu dalam bahaya jika engkau ingin anakmu selamat silakan datang ke alamat ini dan jangan membawa polisi atau nyawa anakmu dalam bahaya]
"Anak?" ucap Wisnu dalam hati. "Amri?"
Wisnu panik kemudian segera keluar mengecek Amri namun nihil Amri sudah tidak ada di tempatnya, setelah itu Wisnu masuk lagi ke ruangan dan menarik Andrew pergi dari tempat itu.
"Ikut aku," ajak Wisnu setengah berlari.
Andrew ikut berlari mengikuti Wisnu keluar dari area rumah sakit dengan keadaan bingung dan tak tahu apa yang terjadi.
Wisnu kemudian mengajak ke Andrew naik kedalam mobilnya dan segera memacu mobilnya meninggalkan area rumah sakit.
"Ada apa Nu?" tanya Andrew bingung.
"Kamu baca saja ini," ucap Wisnu menyerahkan ponselnya kepada Andrew.
Andrew kemudian menerima ponsel tersebut dan membaca pesan yang ada dalam ponsel Wisnu, seketika wajahnya berubah pucat dan akhirnya menghela napas panjang.
"Ini kan?" ucap Andrew ragu. "Ini nomor telpon Gea!"
"Gea?" guman Wisnu bingung.
"Kenapa nomor ini masih aktif?" tanya Andrew pada Wisnu. "Bukannya nomor ini sudah di nonaktif kan?"
"Memang siapa Gea?" tanya Wisnu pada Andrew.
"Dia adalah adik kembar Dea," ucap Andrew dengan suara merendah.
"Apa!?"
__ADS_1
"Kita harus berhati hati padanya," lanjut Andrew masih dengan suara yang terkesan menakutkan.
"Kenapa?" tanya Wisnu kembali.
"Dia adalah psycopat!" ucap Andrew menekan kata "psycopat"
"Jadi?"
Andrew menghela napas panjang kemudian menyandarkan tubuhnya ke job mobil Wisnu.
---
"Tapi ..."
"Pergi Au!" ucap Han yang ikut berteriak dan menarik Amri kedalam dekapannya. "Kau harus selamat untuk mencari bantuan,"
"Ah tidak mungkin karena kalian semua akan mati di sini," ucap Gea mengarahkan pistol kembali ke arah Au.
Melihat kesempatan itu Au segera berlari pintu keluar dan akhirnya menemukan sebuah pintu belakang rumah tersebut.
"Mau kemana kau?" ucap Gea dengan cangkul ditangannya.
"Jangan Gea, aku mohon!" ucap Au memohon.
Au sangat panik dan hanya bisa pasrah ia ingin lari namun bisa saja Gea melemparkan cangkul itu namun jika ia diam nasibnya akan sama saja.
"Aku mohon jangan!" ucap Au kembali memohon.
"Jangan? Kau sudah lupa yah!" ucap Gea mengayunkan cangkul tersebut. "Kau terlalu memaksaku dan inilah saatnya,"
Dor!
Suara tembakan terdengar di iringi oleh jatuhnya Gea akibat terkena tembakan di bagian lengan kanannya.
__ADS_1
"Pergi kak!" perintah Puput yang baru saja melepaskan tembakan kepada Gea.
"Tapi ..."
"Pergi kak!" perintah Puput kembali.
Au pun segera pergi dari tempat itu dan berlari ke arah jalan raya dengan langkah sempoyongan.
"Argghhhh! Dasar kurang ajar!" teriak Gea menyeringai kemudian menatap Puput penuh kebencian. "Dasar! Beraninya kau padaku?"
Gea kemudian mengambil cangkulnya lalu berjalan ke arah puput.
"Rasakan ini!"
Brakk!
Darah mengucur deras dari kepala Puput sehingga membuat genangan penuh darah di sekitarnya.
"Kau terlalu mengujiku dan sekarang temui ajalmu," ucap Gea kemudian menyeret tubuh Gea masuk kedalam rumah tua tersebut.
Sementara itu Au terus berlari mencari bantuan namun nihil karena tidak mungkin ada orang di hutan seperti ini.
Au terus berlari ke arah jalan raya dan berhenti ditengah jalan dengan air mata yang mengalir deras.
"Aku sudah kehilangan adikku," ucap Au menangis tersedu sedu.
Pitttt!
Suara klakson panjang dan sinar cahaya mobil menyilaukan mata Au dan membuatnya tidak melihat apapun lagi.
"Ahhh!"
< Happy Reading 😊 .>
__ADS_1