Menikahi Dokter Dingin

Menikahi Dokter Dingin
My Cold Police : Makan Siang


__ADS_3

< Budayakan Like episode ini sebelum membaca agar bisa menambah semangat author dalam berkarya dan bila kamu menyukai novel ini silakan masukkan ke daftar favorite kamu agar kamu yang pertama menerima notifikasi ketika author update episode terbaru :) >


---


Lama mereka dalam posisi seperti ini sampai akhirnya ...


"Rendra bangun!" teriak Amri masuk kedalam kamar Rendra dan tanpa sengaja melihat adegan tersebut. "Ups! Sorry silakan dilanjutkan anggap saja saya tidak ada,"


Amri lalu berlari keluar dari kamar Rendra dan disambut tawa lepas dari Eva dan Rendra yang melihat tingkah kakaknya yang sedikit salting atas apa yang barusan dilihatnya.


"Kayaknya kita butuh bulan madu deh," ucap Rendra pada Eva.


Sementara itu Amri berlari keluar dengan perasaan malu karena tidak mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk.


Amri segera masuk ke kamarnya dan melihat Dela tengah duduk di tepi ranjang kaget melihat suaminya dalam keadaan pucat dan napas terengah engah.


"Mas kamu kenapa?" tanya Dela berjalan ke arah suaminya.


Amri berdiri sejenak mengatur napasnya kemudian berjalan ke arah ranjang dan merebahkan tubuhnya sejenak.


"Gak ada apa apa," ucap Amri berbohong.


"Lah kok pucat gitu," tanya Dela kembali.


"Cuma tadi liat sesuatu yang aneh aja makanya agak kaget," ucap Amri kembali.


Dela kemudian menatap lekat suaminya dengan tatapan menyelidik dan penuh pertanyaan, bahkan beribu pikiran negatif menghinggapi kepalanya namun cepat di tepis olehnya.


"Mas udah siang, pesan makanan gih," ucap Dela pada Amri.


"Telpon Zain aja suruh beli," ucap Amri membalikkan tubuhnya sehingga ia kini dalam keadaan tengkurap.


"Enak yang punya asisten dan sekretaris apa apa tinggal suruh, jadi bosnya tinggal rebahan aja kek siput," sindir Dela.


"Itulah gunanya dia," ucap Amri singkat.


Dela menggelengkan kepalanya lalu mengambil ponselnya dan menelepon Zain untuk memesankan makanan untuk mereka.


---


Rendra dan Eva terduduk di meja makan dengan keadaan diam sementara itu Amri dan Dela yang sengaja menginap sehari ikut terdiam terutama Amri yang gugup ketika ia melihat kejadian tadi.


Rendra menatap lekat kakaknya lalu berdeham pelan yang membuat Amri mengangkat kepalanya menatap wajah Rendra.

__ADS_1


"Makanannya mana?" tanya Rendra di tengah keheningan itu.


"Hmmm makanannya ada di beli sama Zain," ucap Amri lemah.


Mendengar penuturan Amri, Rendra hanya ber oh ria lalu kembali terdiam dan menatap lekat semua yang ada disana, sementara itu Dela lebih memlih mengajak adiknya Eva pergi kedapur untuk membicarakan sesuatu.


"Dek ikut kakak yuk!" ajak Dela sebelum akhirnya beranjak ke dapur.


Eva berdiri dari duduknya dan menyusul kakaknya menuju ke dapur dan seperti ingin membicarakan hal penting wajahnya tampak tegang dan sedikit lesu.


Mereka berdua pun meninggalkan suami mereka yang duduk di meja makan dengan keadaan bertatap tatapan, Rendra yang menatap lekat dan Amri yang tertunduk malu.


"Kak?" panggil Rendra pada Amri.


Amri yang sedari tadi menunduk kemudian mengangkat kepalanya menatap adiknya itu.


"Ada apa?" tanya Amri.


"Kakak liat tadi yah?" tanya Rendra balik.


"Liat apa?"


"Aku sama Eva," ucap Rendra menjelaskan.


Rendra menganggukkan kepalanya mengerti kemudian mengambil ponsel dari sakunya.


"Dek! Kita liburan yuk!" ajak Amri pada Rendra.


"Hmmm, liburan?" ucap Rendra berpikir. "Boleh! Emangnya mau kemana?"


"Nanti kakak cari, tapi kita ajak Zain dan Ali juga yah!"


"Ali?"


"Eh iya, gak boleh yah? Yaudah gak usah,"


"Siapa bilang? Malahan kalau ada Ali juga rame kok," ucap Rendra setuju.


"Jadi?"


"Yah gak apa apa, lagian aku gak cemburu kok," ucap Rendra menjelaskan.


"Serius?" tanya Amri memastikan.

__ADS_1


"Yah apa aku pernah bercanda?" tanya Rendra dengan tatapan tajam.


"Eng! Cuma bercanda," ucap Amri memalingkan wajahnya.


---


[Mengapa selama ini kau bersikap seperti ini? kau terlihat seperti wanita yang haus uang]


[Apa peduli mu?]


[Apa kau tidak memikirkan orang tua mu? aih, kalau aku jadi orang tuamu mungkin aku sudah meneriaki mu setiap hari, kau tau?!]


[Memang nya kau siapa ku? berani berkata seperti itu padaku. aku tau kau ada perasaan padaku, tapi bukankah seperti ini kau menjadi terlalu ikut campur]


[Iya, dulu aku punya perasaan padamu. Tapi itu dulu. Terima kasih karena sikapmu itu sudah membantuku agar tidak tertarik padamu]


[Asal kau tau, aku sebenarnya tidak ingin menjadi diriku yang sekarang. lagipula aku tidak keberatan sama sekali kalau kau pergi dari ku]


[Memang aku mau pergi darimu!]


[Pergi saja! memang nya kau siapa, ibuku saja tega meninggalkan ku]


Zain mengendarai mobilnya dengan sangat kesal, ia melempar ponselnya ke sembarang arah setelah berbicara dengan seseorang yang tampaknya sangat berpengaruh bagi dirinya.


"Dasar! Wanita memang begitu," gerutu Zain kesal.


Ia baru saja mengalami sebuah kejadian yang sangat membingungkan bagi dirinya, selama ini ia tidak pernah terjebak cinta yang rumit pasalnya ternyata orang yang ia cinta telah mencintai orang lain dan itu adalah Om dari atasannya.


Siapa lagi kalau bukan Han, adik dari Wisnu yang memliki beberapa cabang cafe di berbagai kota dan sukses menjadi duta kuliner akibat kegiatannya tidak jauh jauh dari yang namanya kuliner.


Sungguh berbanding terbalik dengan Zain yang hanya seorang sekretaris sekaligus asisten seorang Amri yang sangat berjasa bagi hidupnya dan membantu segala perekonomiannya.


Jika ia dibandingkan dengan Han memang sangat jauh berbeda dan jauh dibawah Han yang notabenenya adalah seorang pengusaha sukses.


Namun sungguh tak disangka bahwa orang yang dia cinta dan dia sangat takut kehilangan lebih memilih pria lain yaitu Han. Zain kesal namun buat apa padahal ia sudah berencana melamar Diaz namun semua itu hanya rencana belaka dan kini dia harus bersyukur bahwa ia telah dijauhkan oleh wanita yang salah.


Sementara itu di lain sisi Dian terduduk dengan berlinang air mata, ia sangat menyesali apa yang terjadi sebenarnya dia bukan tipe wanita yang gila harta namun demi permintaan ayahnya ia terpaksa menerima pinangan dari Han yang entah pernikahan ini akan bertahan berapa lama.


"Maafkan aku kak Zain," ucap Diaz lirih dalam hati dengan di saksikan oleh Han yang tersenyum puas di setiap isak tangis Dian yang terpaksa mengorbankan cintanya demi kepuasan materi ayahnya.


- Bersambung -


Hmmmm kita bikin Part liburan aja dulu yah! Terus habis itu kita bikin part honeymoonnya plus flashbacknya biar Rendra dan Eva bisa emmm ehemmm ehemmmm hehehehehe terus kisah Zain, Diaz dan Han kita tambahin yah biar gak monoton wkwkwkwk eh terus author lagi baek yah wkwkwk mulai hari kita up pagi ama malam kalau gk up pagi biasanya up malam 2 bab okey soalnya author dh masuk kegiatan belajar lagi jadi bentar malam ada up lagi jadi tungguin yah.

__ADS_1


__ADS_2