
8 bulan sudah kepergian Ay dan dari kabar yang terdengar bahwa ia sudah melahirkan namun hal yang paling menyedihkan adalah tidaj ada Andrew disampingnya Andrew hanya bisa menatap foto bayi mungilnya yang berjenis kelamin perempuan itu.
Danesa Vadela Anwar, itu nama bayi mungil ini kadang kala Andrew menangis sendiri ketika melihat foto bayinya ingin rasanya ia menggendong dan mencium pipi bayinya namun ia harus menahannya demi sahabatnya Wisnu yang sedang berusaha di carikan pendonor.
Disaat sedang menatap diri anaknya tiba tiba ponselnya berbunyi ia mengangkat telpon tersebut yang tertera nama Wisnu.
"Halo? Ada apa Nu?"
"Andrew?" ucap Wisnu melalui sambungan telpon. "Sudah ada pendonor buat aku?"
"Hmmm, maaf Nu, kayaknya belum ada," ucap Andrew ragu.
Wisnu menghela napas lalu terduduk di sofa ruang tamu, kandungan Nissa sudah sampai dibulan akhir mungkin tinggal menunggu hari Nissa akan melahirkan namun ia tak mungkin membiarkan Nissa menderita tanpanya ia harus sembuh, tapi sayangnya tidak ada yang bersedia mendonorkan ginjalnya.
Nissa sebenarnya ingin sekali namun apalah daya, Wisnu bersikeras menahannya karena ia tak ingin Nissa terluka.
"Oke Andrew terima kasih," ucap Wisnu mematikan telpon sepihak.
---
"Nis? mas pergi kerumah sakit dulu yah?" ucap Wisnu menatap Nissa dan mencium pipinya yang bisa jadi ini yang terakhir kalinya.
"Iya mas hati hati yah?" ucap Nissa yang sudah berada di depan suaminya.
"Pasti sayang! kalau gitu mas pergi ya! Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam,"
Wisnu sudah bersiap untuk berangkat kerumah sakit menemui Andrew dan menanyakan sesuatu padanya.
__ADS_1
Wisnu mengendarai mobilnya dengan perasaan kalut dan tidak karuan pikirannya bagai melayang jauh diatas awan sehingga ia tak mampu mengendalikannya.
Mobil Wisnu sudah memasuki halaman rumah sakit. Wisnu turun dari mobilnya dan bergegas untuk menemui Andrew diruangannya.
"Pak Andrew ada?" tanya Wisnu pada seorang suster yang kebetulan lewat disana.
"Iya pak ada, silakan masuk!" ucap suster tersebut ramah.
Wisnu kemudian bergegas untuk menemui Andrew dan ketika sampai di depan ruangannya ia agak ragu dan merasa bimbang sebelum akhirnya ia memilih untuk mengetuk pintu.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk!" ucap Andrew dari dalam ruang kerjanya.
Cekrekk!
"Ada apa, Nu?" tanya Andrew membantu Wisnu berjalan ke sofa didalam ruangannya.
"Apakah kau merindukan Ay dan anakmu Dela?" ucap Wisnu menatap lekat wajah sahabatnya itu.
Andrew menghela napas panjang kemudian bersandar pada sofa tersebut.
"Untuk apa kau tau?" ucap Andrew.
"Aku mohon untuk kali ini jawab jujur," ucap Wisnu memohon.
"Hmmmm.. Aku merindukannya," ucap Andrew melepas seuntai senyuman.
Mendengar jawaban itu Wisnu tampak lega karena dia tau apa yang sedang dirasakan sahabatnya.
__ADS_1
"Andrew? Aku tahu kau sudah bersusah payah, dan untuk aku biarlah aku begini kalaupun umurku tak lama lagi setidaknya aku bisa melihat anak keduaku lahir," ucap Wisnu menepuk pundak Andrew.
"Tapi.. "
"Aku tak mau engkau menderita, jika memang takdir pasti aku akan sembuh tapi bila memang tidak.. "
"Kenapa?"
"Aku harus menceraikan Nissa dan semua hartaku akan kuberikan padanya, tapi kau harus membantuku juga setelah semua berakhir kau harus janji padaku akan menyusul istrimu, jangan mempedulikanku aku yakin Nissa pun tak bahagia bila dia hidup terus bersamaku,"
"Tapi kenapa? Bukankah kau mencintai Nissa?" ucap Andrew menatap tajam sahabatnya. "Jangan bersikap seperti orang bodoh!"
"Aku tak ingin melukai Nissa aku tak ingin melukaimu dengan menahan kerinduanmu pada istrimu, sudah! Cukup kalian tak perlu membantuku aku akan hidup bahagia sendiri bahkan bila aku mati aku lebih baik sendiri daripada harus melukai hati orang yang kusayangi,"
"Kenapa kau ini? Apakah kau ingin berubah menjadi orang bodoh? Mengorbankan semuanya?"
"Aku lebih tersiksa bila aku mengorbankan kebahagiaan kalian semua!" ucap Wisnu.
"Tapi apa yang kau akan perbuat?"
"Aku akan membuat Nissa tidak mencintaiku lagi,"
"Apa?" ucap Andrew tak percaya. "Apa kau gila?"
"Yah aku gila! Tak seharusnya Nissa mencintaiku dan aku mencintainya ini adalah sebuah kesalahan,"
"Terserah apa maumu yang pasti aku takkan membantumu untuk hal ini," ucap Andrew berdiri meninggalkan Wisnu yang sudah tidak karuan lagi.
Happy Reading♡
__ADS_1