
Setelah menempuh perjalanan cukup jauh akhirnya mereka sampai disebuah taman kecil yang sudah tak terawat.
Anna tampak binggung mengapa zen mengajaknya ditempat seperti ini, sedangkan zen sendiri sedikit kecewa melihat keadaan taman yang tidak terawat, padahal ditaman ini awal pertemuan mereka , ya awal pertemuan zen kecil dan anna kecil waktu itu.
"Kok kita kesini zen ???, tempat apa sih ini, hawanya serem gini ya" ucap anna lugu membuat zen tersenyum.
"Aku juga kaget kok tempatnya jadi gini padahal dulu bagus banget " ucap zen sambil memandangi area taman.
"Kamu sering kesini zen ???" tanya anna.
"Dulu disini ada anak laki laki dari panti yang sering dibully teman temannya , trus ada gadis kecil yang dengan berani melawan mereka untuk membantu anak laki laki itu, dia gadis yang cantik dan pemberani" ucap zen yang tak dimengerti oleh anna.
"jadi seperti ini, aku pikir ini tempat kenangan kamu dulu"ucap anna.
"Ini memang tempat kenangan kita anna, andai kamu ingat semuanya, andai kamu enggak lupa ingatan, mungkin aku nggak bakalan ngelakuin hal hal sejauh ini" batin zen sedikit tersiksa.
Anna tampak mengeryit heran melihat perubahan wajah zen yang terlihat sedih.
"Kamu enggak apa apa sayang???" tanya anna lembut yang membuat zen sedikit sadar dari lamunannya.
"Enggak sayang, aku cuma keinget sesuatu aja" ucap zen sambil tersenyum.
"Keinget siapa hayooo,???, jangan jangan mantan ya!!" ucap anna sebal sambil memanyunkan bibirnya.
"Enggak sayang, mana mungkin masih mikirin mantan sih, orang aku aja udah punya kamu yang segalanya buat aku" ucap zen sambil memegang tangan anna membuat anna tersipu malu.
"Liat dek, mama kamu kalau dirayu pipinya langsung merah semua" ucap zen terkekeh sambil mengelus perut anna yang membuncit.
Seketika zen mendapatkan cubitan mesra dari anna, membuat zen semakin terkekeh.
"Cium kek, masa dicubit sih yank" goda zen membuat anna semakin kesal saja.
"Udah zen , kamu kalau godain aku terus , aku marah!!!" ucap anna kemudian menelungkupkan kedua tangannya.
"Iya iya sayang, duh kalau devilnya udah jadi takut papa dek" ucap zen lagi sambil mengelus perut anna membuat anna malah terkekeh mendengar ucapan zen.
"Habis ini aku bakalan ngajak kamu kemakam ya , nggak jauh dari sini kok" ucap zen .
"Makam siapa zen ??".tanya anna.
"Orangtua aku, " ucap zen. "orang tua kita anna" batin zen.
__ADS_1
"Ya udah yukk sekarang aja , " ucap anna tampak semangat.
Bagaimana tidak ?? anna akan ke makam orang tua zen yang berarti orangtua anna juga.
Keduanya pun berjalan menyusuri jalan yang tampak asri karena hanya ada beberapa rumah.
Hingga mata anna tertuju pada sebuah rumah yang tampak mewah, dan seketika anna berhenti didepan rumah itu.
"Kenapa sayang??" tanya zen ikut berhenti berjalan.
"Aku kok ngerasa nggak asing sama rumah ini ya zen??" tanya anna sedikit heran.
"karena ini memang rumah kamu dulu sayang" batin zen .
"Emang kamu pernah kesini kok ngerasa nggak asing??" tanya zen juga.
"Belum sih ," ucap anna tampak nyengir.
Zen hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang istri kemudian mengandeng tangan istrinya, sebelum melanjutkan perjalanan zen melihat rumah itu, ya rumah penuh kenangan yang sekarang sudah menjadi milik zen.
Hanya ada mang ujang yang tinggal disana untuk merawat dan membersihkan rumah itu, zen juga tak mengubah bentuk rumah ataupun merenovasi karena zen ingin merasakan kehangatan rumah itu seperti dulu saat ia diterima hangat oleh sebuah keluarga yang tinggal dirumah itu dulu.
Sebenarnya zen ingin mengajak anna tinggal dirumah itu setelah menikah tapi niatnya itu diurungkan karena zen takut ingatan anna kembali dan membuat anna malah menjadi shock jika tau kejadian yang sebenarnnya.
Langkah zen berhenti pada dua buah makam yang berdampingan, makam yang terlihat bersih dan terawat.
Anna tampak membaca nama makam itu.
*Yahya herawan bin akbar herawan.
Ayuni sheila putri bin agung cahya.
Deg*..... entah perasaan apa ini , anna merasakan tidak asing dengan nama nama itu, dan seketika tangis anna pecah tak bisa ia tahan, anna sendiri binggung dengan apa yang ia rasakan.
Zen yang melihat anna menangis hanya mendekap erat anna dan mencoba menenangkan.
Zen cukup paham, jikapun anna masih lupa ingatan mungkin inilah yang dimaksud naluri anak pada orangtua kandungnya.
"Sayang , kok malah kamu yang nangis sih" ucap zen mencoba menenangkan.
Anna hanya diam sambil masih terisak tak menjawab ucapan zen.
__ADS_1
"ma ... pa... gimana kabar kalian??? aku harap mama sama papa tenang disurga, sekarang aku udah sama anna , udah nebus janji aku buat selalu ngejagain anna , udah jauhin orang jahat yang udah jahatin mama sama papa, jadi mama sama papa tenang ya disana. ohh iya ma, pa , bentar lagi kalian punya cucu, doain ya anna sehat terus dan dilancarkan segalanya . maaf ya baru bisa bawa anna jenguk mama sama papa sekarang" batin zen yang kemudian sebulir air mata zen jatuh.
"Aku kok ngerasa nggak asing ya sama nama mereka" ucap anna ketika tangisnya mereda.
"Mereka orangtua ku , mereka yang selalu baik sama aku disaat orang orang enggak nerima aku, mereka nerima aku dengan baik" ucap zen lirih "bahkan mereka mempercayakan putri mereka padaku" batin zen.
"Ya iyalah zen , orangtua mana sih yang enggak sayang sama anaknya , kamu ini aneh aneh aja" ucap anna yang membuat zen tersenyum simpul.
"Bahkan orangtuaku sendiri membuangku dipanti, sedangkan mereka menerimaku dengan baik, kamu memang beruntung anna memiliki mereka, andai kamu mengingat semuanya" batin zen lagi.
"tuh kan ngalamun lagi" ucap anna sedikit kesal membuat zen sedikit tersentak.
"Maaf sayang, " ucap zen manja dan menampilkan puppy eyes yang membuat anna tertawa.
"Ohh iya , sini duduk dulu, aku bakalan kenalin kamu sama mereka." ucap zen menarik tangan anna dan mereka tampak duduk disebuah batu.
"Ma , pa , gimana kabar kalian??? maaaf zen baru datang kesini, ohh iya zen bawa anna buat kalian, anna istri zen, andai mama sama papa masih ada pasti bahagia ngeliat kita bareng" ucap zen sambil memegang tangan anna.
"Dan apa yang papa harapin dulu bisa terwujud, zen udah sukses sekarang udah menikah dengan anna , zen janji bakalan selalu jagain anna" batin zen yang tak ingin didengar anna.
Anna yang mendengar ucapan zen hanya bisa menangis haru, ia merasa sangat bahagia.
"Halo mama mertua , papa mertua, aku anna istri zen, doain anna ya biar selalu sabar ngadepin zen " ucap anna disela sela tangisnya dan malah terkekeh sendiri dengan ucapanya.
"Sayang kok kamu gitu sih" ucap zen tak terima dengan ucapan anna.
Anna hanya terkekeh melihat zen sedikit cemberut tak terima.
Setelah cukup lama dimakam , zen mengajak anna pulang karena memang hari sudah mulai sore.
🌺🌺🌺🌺
"Apa kamu gila tania, kamu ingin cerai???!!!" bentak papa tania yang tampak emosi.
"Pikirkan lagi tania, siapa yang akan memberi kemewahan jika bukan kai dan apa kamu juga tega jika melihat rumah kita disita bank dan kita akan menjadi gelandangan!!!" bentak mama tania juga tampak marah.
Tania tampak menangis mendengar ucapan kedua orang tuanya.
"*jika kalian tau apa yang sudah kai lakukan pada ku, apa kalian masih membelanya dan mempertahankan pernikahan sial ini" batin tania semakin terisak.
🐾🐾🐾*
__ADS_1
Bersambung.....
Teka teki sudah mulai terbukaa readerss...