MENJADI ISTRI TUAN ZEN

MENJADI ISTRI TUAN ZEN
66


__ADS_3

Zen memasuki kamar dan melihat anna sudah terlelap.


Setelah kejadian malam dimana anna mengetahui segalanya memang anna mejadi sering murung dan tak banyak bicara.


Zen pun paham mungkin anna masih merasa terkejut dengan kenyataan yang ada, maka dari itu zen juga tak menganggu anna.


Bukan zen tak peduli dengan anna tapi terkadang kita butuh sendiri untuk menenangkan pikiran, itulah yang zen pikirkan tentang anna.


Zen berharap anna segera bisa menerima kenyataan dan kembali bahagia bersama zen lagi, karena zen juga khawatir jika anna terus saja terpuruk dan sedih akan menganggu kesehatan janin yang sebentar lagi akan dilahirkan anna.


Inilah yang zen takutkan selama ini jika anna mengetahui segalanya.


Zen tampak mengelus pipi anna penuh kasih sayang, kemudian mengecup dahi anna dan berbaring disamping anna.


.....


Pagi hari zen terbangun dan melihat anna sudah tak disampingnya, dliriknya jam disamping tempat tidur sudah pukul 7 pagi, dan hari ini dia juga akan menemui hendra.


Zen tampak mencari diseluruh kamar hingga memasuki kamar mandi ,tak menemukan anna.


Zen keluar dari kamar dan mencium aroma masakan yang sepertinya sangat lezat.


Zen kedapur dan melihat anna sedang memasak, zen tersenyum melihat anna mengaduk ngaduk nasi goreng menggunaka spatula.


Zen mendekati anna dan memeluknya dari belakang, masa bodoh dengan anna yang masih fase diam, ia sudah sangat merindukan kehangatan istinya itu.


"Zen... kamu sudah bangun??' tanya anna tanpa menghentikan aktifitas memasaknya.


"Hmmm ... kemana para maid kita ??? mengapa mereka membiarkan istriku memasak" tanya zen sambil celinggukan mencari.


"Apa kamu lupa jika kamu meliburkan susi ???" ucap anna pada zen.


"Ahh aku ingat mereka sedang berlibur, lalu kemana maid yang lain??" tanya zen.


"Mereka sibuk dengan pekerjaan, lagi pula aku sudah lama tak memasak, dan aku juga ingin sekali sekali memasak sarapan untuk suamiku" ucap anna tersenyum membuat zen bernafas lega.


"Apa tidak melelahkan, sini biar aku ganti yang menganduk " ucap zen melihat anna mengaduk nasi goreng.


"Sudah matang" ucap anna kemudian mematikan kompornya.


"Sekarang lebih baik kamu mandi dan bersiap siap kekantor, dan aku akan menyiapkan sarapannya dimeja makan" ucap anna.


"Hmm sbentar lagi, aku masih ingin seperti ini" ucap zen tampak masih memeluk istrinya dari belakang.


"Zen...." ucap anna terdengar kesal.


"Baiklah ,, baiklah, aku akan segera mandi sebelum istri cantikk ini berubah jadi singa" ucap zen sambil terkekeh kemudian kembali kekamarnya untuk mandi.

__ADS_1


Anna hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah usil suaminya itu.


Ya meskipun setelah mengalami banyak hal dihidupnya yang sama sekali belum anna ingat setidaknya sekarang anna memiliki zen, ya memiliki zen yang akan menemani sisa hidupnya.


Dan anna juga berencana menemui orangtuanya untuk meminta penjelasan tentang apa yang telah mereka lakukan.


Selesai sarapan, anna mengantar zen sampai didepan mansion, terlihat roni dan lisa juga sudah kembali, seperti janji roni jika ia hanya mengantar alenna dan akan kembali lagi waktu pagi.


"Apa kamu akan pulang larut malam ini??" tanya anna sebelum zen memasuki mobilnya dimana sudah ada roni didepan untuk menyetir.


"Sepertinya aku akan pulang awal , karena hari ini kita harus memeriksakan dedek kedokter kan??" tanya zen mencoba mengingatkan anna.


"Aku pikir kamu melupakan nya " ucap anna.


"Mana mungkin aku melupakan hal penting seperti ini" ucap zen memeluk anna, roni tampak melirik kegiatan peluk pelukan zen dari kaca spion dan sedikit geli dengan tingkah tuan nya itu.


"Ya sudah sana berangkat, roni sudah menunggumu" ucap anna tampak malu malu karena tahu roni meliriknya.


"Baiklah, jangan kemana mana sebelum aku pulang" ucap zen kemudian mendapatkan anggukan dari anna.


Zen memasuki mobil kemudian mobil melaju meninggalkan mansion.


"Ada apa dengan senyum tenggilmu itu??" tanya zen saat melihat roni nyengir sambil menggelengkan kepalanya.


"Ahh tidak tuan" ucap roni. zen tak tau saja roni masih geli dengan tingkah manja zen yang baru saja ia lihat.


Roni tak menyangka tuannya yang terkenal garang bisa semanja itu jika bersama anna.


"Tidak tuan, saya masih belum berani" ucap roni jujur.


"Baguslah, karena rasanya akan lebih indah jika kita melakukan setelah menikah" ucap zen sambil membayangkan masa masa dulu saat ia sehabis menikah dengan anna.


"Tentu saja tuan" ucap roni.


"Lalu kapan kalian akan menikah??" tanya zen penasaran.


"Secepatnya tuan" ucap roni.


"Hmm....".gumam zen.


Roni tampak menghentikan mobilnya disebuah kafe 24jam yang masih terlihat sepi.


"Jadi apa dia sudah ada didalam??" tanya zen.


"Saya sudah menghubungi tadi dan dia sudah berada disini 15menit yang lalu tuaan" ucap roni, dan zen hanya mengangguk.


Zen keluar dari mobil dan memasuki kafe itu, tampak roni mengikuti dari belakang.

__ADS_1


"Itu tuan " ucap roni sambil menunjuk seseorang yang tengah duduk sendiri.


Zen mengangguk dan mendekati seorang pria yang tak lain adalah hendra , papah anna.


"Zen... " sapa hendra yang terlihat sedikit pucat.


"Lebih baik kita langsung pada intinya saja " ucap zen dingin kemudian duduk didepan hendra yang terlihat menunduk.


"Apa motifmu sebenarnya membawa anna kabur?? hanya ada dua pilihan, kamu mengakui atau aku mencari tau sendiri" ucap zen tegas.


"Ak..akuu minta maaf zen, aku tak bermaksud melakukan itu semua, aku hanya kesal kamu menurutku dikota kecil itu" ucap hendra.


"Bukankah begitu lebih baik karena kamu masih bisa hidup!!" ucap zen tajam.


"Setelah apa yang kalian lakukan bukanya kalian seharusnya lebih menderita dari ini" ucap zen geram.


"Apa anna sudah mengetahui segalanya??" tanya hendra tampak ketakutan.


"Tentu saja, bukanya dia berhak tau seperti apa orangtua yang selalu ia banggakan itu" ucap zen tegas.


"Aku benar benar sudah menyesal zen" ucap hendra lirih.


""Bukankah kalian seharusnya diam disana dan tak menganggu anna lagi apalagi memanfaatkan anna hanya untuk kepentingan kalian!!!" ucap zen geram.


Terlihat hendra hanya diam menunduk tak berani menatap zen.


"Jika sekali lagi kalian berulah, aku pastikan kalian tak akan bisa merasakan menghirup udara lagi!!!, bukankah kau cukup tau seperti apa aku" ancam zen kemudian berdiri dan hendak meninggalkan kafe.


"Apa aku bisa menemui anna untuk yang terakhit kalinya??" tanya hendra takut takut.


"Aku hanya ingin menjelaskan segalanya dan meminta maaf" ucap hendra lirih.


"Aku akan memikirkannya" ucap zen dingin kemudian berlalu pergi meninggalkan hendra.


Bersambung....


Halooo readersss...


maafkan author yang up nya nggak tentu...


soalnya akhir akhir ini dapet jaitan masker banyak banget ...


jadi lebih sering jait dari pada ngetik...


Tapi tenang aja... aku selalu nyempetin biar bisa up dan lanjut ceritanya..


ohh iya ... jangan lupa baca cerita aku yang satunya yaa..

__ADS_1


"Wanita kedua".


thankyouu readerss 😘😘😘


__ADS_2