
Darren meringis sembari memegang pipinya yang terasa panas akibat tamparan keras yang diberikan oleh Tari. Raut wajahnya masih terlihat sinis.
"Jadi kamu percaya pada semua yang dikatakan Moza, tanpa bertanya dulu padaku bagaimana kebenarannya?! Kamu pikir aku sudi tidur dengan lelaki yang tidak ada hubungan pernikahan denganku, dan melakukan perbuatan menjijikkan seperti itu dengan mereka semua?!! Jadi serendah itu kamu menilai aku?!!"
Tari meraung-raung dengan mata berkaca-kaca dan tatapan berapi-api. Dia tidak pernah menyangka jika lelaki yang sudah empat tahun menjadi pemilik hatinya itu, bisa tega melontarkan kata-kata kotor yang sangat menginjak-injak harga dirinya sebagai seorang wanita!
"Sudahlah sayang, kamu tidak perlu teriak atau menyangkal. Buktinya sudah jelas kok. Dan semua anak dikampus juga sudah tau semuanya. Apa sih tinggal susahnya mengakui saja? Nanti kita bisa melakukannya bersama. Tidak perlu ditutupi lagi"
Darren terus saja mempertahankan opininya, tanpa mempedulikan perasaan Tari yang sudah sangat terkoyak-koyak dengan setiap perkataan yang didengarnya.
"Mulai detik ini kita putus! Jangan pernah kamu berani temui aku lagi! Karena aku tidak butuh lelaki mesum dan tidak punya hati sepertimu!" Tari berujar dengan suara rendah dan nafas memburu. Dia menatap Darren dengan mata memerah dan tatapan penuh kemarahan. Kemudian dia kembali meneruskan langkah lebarnya.
"Oke fine, kita putus! Masih banyak kok, wanita yang mau denganku!" Seru Darren dengan santainya dan tanpa merasa sedih sedikitpun.
Membuat hati Tari semakin terasa tersayat-sayat. Ingin rasanya dia berbalik dan menghampiri lelaki itu, untuk kemudian menghajarnya habis-habisan dengan sekuat tenaga.
Namun pikiran waras berhasil mencegahnya. Dia tidak butuh lelaki yang tidak berperasaan seperti itu! Waktunya terlalu berharga untuk dia sia-siakan hanya demi meladeni lelaki tidak setia itu.
Moza yang ternyata ikut menyusul mereka sedari tadi berdiri agak jauh dari posisi keduanya. Dengan jelas dia bisa melihat dan mendengar perseteruan dua sejoli itu, dengan senyum puas dan sumringah yang merekah diwajahnya, melihat kehancuran hidup Tari yang telah ditinggalkan oleh orang-orang tercintanya.
Dan mereka semua lebih memilih dirinya. Dia tidak akan pernah membiarkan mereka kembali lagi pada Tari. Karena sekarang semuanya telah menjadi miliknya.
🍁🍁🍁🍁🍁
__ADS_1
Tari tiba dikos-kosan dengan perasaan yang hancur lebur akibat perlakuan Darren terhadapnya. Dia tidak pernah menyangka jika lelaki yang sudah empat tahun menjadi orang spesial dalam hatinya, sekarang tega mencampakkan dan menghinanya tanpa ampun karena termakan hasutan wanita licik itu!
"Eh Tar, sudah pulang? Bagaimana, sudah bertemu dengan Darren? Apa katanya? Apa beberapa hari ini dia sibuk sampai tidak ada waktu untukmu? Memang apa kesibukannya? Sibuk kuliah atau apa? Cerita dong aku kepo nih"
Ranty langsung membombardir Tari dengan segala macam pertanyaan saking keponya. Entah Tari tidak mendengar atau tidak menggubris lantaran pikirannya yang sedang berkecamuk, dia terus berjalan dengan tatapan kosong menuju kamarnya.
"Lho Tar, Tari!" Seru Ranty dengan kebingungan. Namun Tari tetap tidak menggubrisnya. Dia terus saja berjalan masuk kedalam kamar. Karena penasaran, khirnya Ranty menyusul gadis itu kekamarnya untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
Didalam kamar dia menemukan Tari sedang duduk memeluk guling diatas kasur, sembari menangis terisak-isak. Ranty duduk didepan Tari dan bertanya dengan penuh perhatian.
"Tari, kamu kenapa menangis? Tidak ketemu ya dengan Darren? Apa mungkin dia terlalu sibuk ya?"
"Kami bertemu kok dicaffe" Tari menyeka air matanya yang terus mengalir dengan deras membasahi kulit wajahnya.
"Kamu tau aku melihat dia bersama siapa disana?" Tanya Tari yang dijawab oleh Ranty dengan gelengan kepala.
"Dia bermesraan dengan Moza disana?"
"Apa?! Moza?! Maksudmu, Darren menghianatimu bersama Moza?" Tanya Ranty dengan terkejut.
"Bukan hanya itu, tapi dia juga tega menghina dan merendahkanku dihadapan wanita licik itu! Ternyata Moza juga sudah berhasil mempengaruhi Darren dengan menggunakan bukti rekayasa itu. Dan sekarang Dimata Darren.... Aku ini hanyalah wanita murahan yang bisa dengan begitu mudahnya menyerahkan tubuhku pada lelaki manapun!
Bagi dia aku ini tidak ada harga dirinya sama sekali. Bahkan dia tidak keberatan sedikitpun untuk putus denganku. Aku sendirian sekarang Ran. Moza sudah berhasil membuat mereka semua meninggalkanku. Papa, Darren, entah besok siapa lagi yang akan dia rebut dariku"
__ADS_1
Tari menutup wajah dengan kedua telapak tangannya, dan menaikkannya keatas kepala, menyibak rambutnya dengan frustasi. Tangisnya semakin pecah saat dia dengan panjang lebar menceritakan semua permasalahannya.
Ranty menatap Tari dengan perasaan empati. Dia tidak bisa menutupi rasa ibanya melihat nasib malang sahabatnya sekarang. Dalam sesaat kehidupan Tari berubah drastis. Kehidupan yang dulu dipenuhi dengan kebahagiaan, kini penuh dengan kesengsaraan.
Orang-orang yang dulu begitu mencintai dan memujanya layaknya dewi, kini semua meninggalkan, membenci, menghujat dan membuangnya layaknya seonggok sampah. Ranty memegang pundak Tari dengan kedua tangannya. Membuat gadis itu menatapnya.
"Aku tau kamu sedang marah, kecewa dan sedih. Aku tau semua ini tidak mudah untukmu. Tapi aku yakin kamu pasti bisa melewatinya. Percayalah, akan ada pelangi setelah hujan. Dan saat ini kamu sedang menghadapi hujan deras itu. Dan kamu tidak sendirian. Ada aku yang akan selalu menemanimu. Sebagai sahabat, aku tidak akan pernah meninggalkanmu" Ranty berusaha menghibur dan menyemangati Tari semampunya.
Tari kembali menyeka air matanya, dan mencoba untuk tersenyum meski terasa berat.
"Terima kasih ya Ran, karena kamu masih disampingku disaat-saat seperti ini. Aku tidak tau bagaimana nasibku saat ini jika tidak ada kamu"
"Iya sama-sama. Udah jangan menangis lagi. Sebaiknya sekarang kita makan siang, setelah itu istirahat. Karena nanti malam ada pesta yang menggunakan jasa katering tempat kita. Jadi kita harus bertugas seperti biasa"
"Iya, aku mandi dulu ya"
🍁🍁🍁🍁🍁
Malam itu perusahaan katering tempat mereka bekerja mendapat orderan pesta dari salah satu perusahaan properti terbesar dan ternama, dalam rangka memperingati ulang tahun perusahaan. Acara itu digelar diaula hotel bintang lima yang super luas dan megah, dengan dekorasi yang tampak mewah dan elegan.
Dan tamu undangan yang semuanya berasal dari kalangan atas dan tajir. Hal itu terlihat jelas dari penampilan mereka yang tampak rapi dan elegan, dengan stelan jas mahal sebagai outfit tamu pria, serta gaun indah dan bervariasi bagi tamu wanita.
Tari dan Ranty yang bekerja sebagai pelayan katering kembali bertugas seperti biasa, untuk ikut bertanggung jawab dalam penyajian menu hidangan pesta. Tari berusaha melupakan segala permasalahan yang sedang dihadapinya dengan pekerjaannya. Sedikit banyak pikirannya mampu teralihkan.
__ADS_1
Dia tidak ingin terlalu lama berlarut-larut dalam kesedihan, hanya demi meratapi orang yang tidak pantas masuk dalam daftar beban pikirannya. Lebih penting bekerja dengan giat demi mengumpulkan pundi-pundi rupiah, supaya dia bisa tetap bertahan hidup dan melanjutkan pendidikannya.