Mentari Untuk Fajar

Mentari Untuk Fajar
BAB 23- Orang Yang Akan Bertanggung Jawab


__ADS_3

"Iya Oma, Oma tenang saja, nanti kalau sudah ketemu wanita yang cocok, aku pasti akan menikah kok" Gerald menjawab dengan pasrah. Bermaksud agar Omanya diam dan tidak mengoceh lagi tentang pernikahan.


Karena jujur saja, hingga saat ini dia masih belum tertarik dengan yang namanya pernikahan. Karena baginya, pernikahan itu hanya sesuatu hal yang sangat menyusahkan dan membuatnya tidak bisa bebas.


Tidak seperti sekarang. Dia bebas bersenang-senang dan meniduri wanita manapun yang dia mau, tanpa adanya ikatan apapun. Seperti apa yang baru saja dia lakukan malam ini. Rasa nikmat bibir wanita ****** itu masih sangat terasa dibibir dan lidahnya. Begitupun dengan miliknya. Rasanya dia masih belum puas dan masih ingin mencobanya lagi.


Seandainya tadi Fajar tidak datang, pasti sekarang dia masih melanjutkan. Tapi ya sudahlah, toh kehadiran Fajar juga untuk menyelamatkannya dari masalah besar kedepannya.


"Kapan, kamu temukan wanita yang cocok itu? Nunggu Oma keburu menyusul Papamu?" Gerutu Oma Violet tanpa dipikir.


"Oma, kok Oma bicaranya begitu sih?" Tegur Gerald.


"Iya Ma, tidak baik bicara seperti itu. Pamali" Timpal Astrid.


"Mama ini hanya ingin anakmu ini menikah. Supaya dia bisa menjadi lelaki yang bertanggung jawab dan lebih dewasa. Tidak seperti kemarin, marah-marah dalam acara pesta orang hanya karena masalah sepele. Membuat malu saja. Seolah-olah dia tidak pernah belajar attitude" Oma Violet kembali mengomel panjang lebar dan mengungkit insiden dihotel tempo hari.


"Itu kan bukan salahku Oma. Kan salah pelayan bodoh itu yang menumpahkan makanan pada pakaianku hingga aku malu. Ditambah lagi temannya yang sok-sokan jadi pahlawan, dan ikut campur. Untung saja aku sudah....."


"Sudah apa Rald?" Astrid bertanya dengan bingung saat tiba-tiba Gerald tidak melanjutkan ucapannya.


"Gerald, itu Mamamu bertanya kok tidak dijawab? Kamu sudah apa?" Oma Violet menimpali.


"Mmm.... A-aku sudah....." Gerald menjadi gelagapan saat menyadari jika dirinya sudah hampir keceplosan.


Suara ponselnya yang tiba-tiba berdering menyelamatkan Gerald dari cecaran dua wanita dihadapannya itu. Gerald mengambil ponselnya. Ternyata panggilan masuk dari Moza.


Mau apalagi perempuan itu menghubunginya? Bukankah urusan mereka sudah selesai setelah dia membantunya untuk mendapatkan wanita sombong itu? Astrid yang duduk disebelahnya ikut membaca nama kontak yang menghubungi anaknya.

__ADS_1


"Moza? Itu Moza anaknya Pak Tristan dan Bu Claudia? Ngapain dia malam-malam begini menghubungimu?" Tanya Astrid penasaran.


"Mmm.... Aku juga tidak tau Ma. Aku angkat ponselnya dikamar dulu ya" Jawab Gerald gugup. Dia bangkit dari posisi yang sebelumnya menduduki tanganan sofa disebelah ibunya.


Astrid terpana menatap putra tunggalnya yang berjalan menuju tangga untuk sampai dikamarnya.


"Astrid, kenapa kamu, melihat Gerald seperti itu?" Tanya Oma Violet.


"Menurut Mama, Moza itu gimana orangnya?"


Oma Violet tampak berpikir sebelum memberi jawaban. "Menurut Mama sih dia anaknya cantik, baik, ramah dan humble. Dan yang paling penting, dia berasal dari kalangan orang terpandang. Memangnya kenapa kamu menanyakan tentang gadis itu?"


"Tidak apa-apa, hanya ingin tau saja pendapat Mama. Karena menurutku, Moza itu adalah perempuan yang cocok untuk Gerald. Bagaimana menurut Mama?"


Oma Violet manggut-manggut. "Ide yang bagus. Tapi Geraldnya menyukai Moza tidak?"


"Kalau masalah itu gampang Ma. Nanti kita bisa atur semuanya. Bisa kita bicarakan juga dengan Pak Tristan dan Bu Claudia. Bereskan?" Astrid tersenyum dengan yakinnya.


🍁🍁🍁🍁🍁


"Iya, ada apa Moz?" Gerald mengangkat panggilan suara itu begitu dia masuk kedalam kamarnya.


"Bagaimana kencanmu dengan Tari? Sudah kamu apakan dia?" Moza balik bertanya diseberang sana.


"Menurutmu apa yang akan dilakukan oleh seorang Gerald Lazuardi, saat mangsa ada didepannya? Terima kasih banyak ya Moza, berkatmu aku bisa kembali merasakan tubuh wanita perawan. Rasanya sangat nikmat sekali. Sudah lama aku tidak mencicipinya" Gerald tersenyum puas.


"Aku tidak butuh ucapan terima kasihmu. Yang aku butuhkan hanyalah janjimu"

__ADS_1


"Janji apa?" Gerald bertanya dengan bingung.


"Ya janji, kalau kamu tidak akan pernah bicara apapun tentang keterlibatanku dalam hal ini. Terserah mau kamu apakan Tari. Tapi ingat ya, aku tidak mau namaku sampai disebut-sebut, jika polisi sampai turut andil dalam kasus ini"


"Sepertinya kamu takut sekali ya, tertangkap polisi? Tapi berani melakukan tindakan kriminal? Hehehe Moza- Moza... Kamu ini lucu sekali ya" Gerald tertawa mencemooh.


"Aku serius ya Gerald. Aku sudah membantumu untuk membalaskan dendammu pada perempuan yang sudah menghina dan mempermalukanmu. Jadi timbal baliknya, kamu juga harus bisa melindunguku. Mengerti?" Ujar Moza dengan nada tegas dan serius.


"Dan kamu pikir aku mau berurusan dengan polisi gara-gara wanita itu? Aku sudah puas dengannya malam ini. Ibaratnya minuman segar yang sudah aku habiskan semua isinya. Dan sekarang yang tersisa hanya kalengnya saja. Jadi aku sudah tidak membutuhkannya lagi.


Lagipula kamu tidak perlu khawatir, baik kamu maupun aku, kita berdua akan sama-sama aman dan lolos dari masalah ini. Karena ada orang lain yang akan mempertanggung jawabkan semua ini. Dan menyelamatkan kita dari segala tuduhan atas apa yang terjadi pada perempuan itu. Oke?" Tutur Gerald dengan santainya.


"Hah? Orang lain? Siapa? Bukankah hanya kita berdua saja yang terlibat dalam rencana pemerkosaan ini? Kok ada orang lain lagi? Aku jadi bingung" Moza bertanya dengan bingung.


"Sudahlah, kamu tidak perlu banyak tanya. Kamu hanya perlu duduk manis yang kalem. Anggap saja tidak pernah terjadi apapun. Karena kalau nantinya wanita.... Siapa namanya?


Oh ya, Mentari itu akan melaporkan kejadian pemerkosaan yang dialaminya pada polisi, dia akan melaporkan orang lain. Kamu tidak perlu tau alasannya dan apa yang sudah aku lakukan. Yang jelas aku jamin, kamu akan baik-baik saja. Oke? Baiklah Nona, selamat malam"


Gerald mengakhiri percakapan mereka dan mematikan ponselnya, tanpa menghiraukan ocehan Moza yang masih belum bisa memahami apapun yang dia katakan.


"Gerald tunggu dulu. Gerald"


🍁🍁🍁🍁🍁


Kejadian naas yang dialaminya pada malam itu terus membayangi dan menghantui Tari, hingga menyelinap kealam mimpinya yang terasa begitu nyata dan mengerikan. Tari terkesiap hingga dia terjaga dari tidurnya.


Dengan keringat dingin yang bercucuran disekujur tubuhnya, dia berusaha mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Tubuhnya terasa sangat lelah. Rasa sakit yang diberikan oleh pria br*ngsek itu masih terasa mendera tubuhnya, bahkan sampai keulu hatinya.

__ADS_1


Dia melirik Ranty yang terlelap disebelahnya. Tidur sahabatnya itu tampak sangat nyenyak. Tidak ada tanda-tanda jika Ranty terganggu olehnya. Kemudian dia menengadah, menatap jam dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul tiga dini hari.


Dia beranjak menuju kamar mandi. Menyalakan shower, dan membiarkan cairan bening yang berasal dari dalam shower itu mengguyur dan membasahi seluruh tubuhnya.


__ADS_2