Mentari Untuk Fajar

Mentari Untuk Fajar
BAB 41- Terpaksa Tidur Sekamar


__ADS_3

Usai mengurus keluarga Dirgantara, Fajar langsung menuju kamarnya untuk menemui Tari. Begitu membuka pintu, matanya langsung menangkap sosok gadis yang baru beberapa jam yang lalu resmi dipersuntingnya, sedang duduk termenung ditepi ranjang yang empuk, dengan tubuh yang masih dibalut gaun pengantin serta aksesorisnya. Entah pikiran gadis itu sedang kemana.


"Sebelumnya aku minta maaf, aku tidak bermaksud untuk mempermainkanmu. Aku sudah pernah bilangkan, bahwa setelah menikah kita akan tidur dikamar yang terpisah? Tapi sepertinya untuk malam ini.... Aku masih belum bisa memenuhi janji itu. Aku harap kamu bisa mengerti.


Karena Om dan Tanteku, serta keluarganya malam ini menginap disini. Masalahnya aku sudah menganggap mereka seperti keluargaku sendiri. Jadi rasanya tidak sopan, jika aku sampai membiarkan mereka kembali ke Jakarta malam-malam begini. Apalagi ada bayi diantara mereka. Aku harap kamu bisa memaklumi"


Fajar mencoba menjelaskan dan memberi pengertian dengan wajah datar, dan tanpa menatap ataupun mendekati istrinya. Dia masih berdiri diambang pintu.


"Iya tidak apa-apa, aku mengerti kok. Lagipula inikan rumahmu. Jadi kamu berhak untuk menentukan siapa yang boleh tinggal disini, dan siapa yang tidak" Tari menjawab dengan wajah yang juga datar, dan tanpa menatap wajah pria yang kini telah resmi menjadi suaminya itu. Tidak ada sedikitpun rasa marah dihatinya. Karena penjelasan dan tindakan pria itu menurutnya memang tidak salah.


"Hanya untuk malam ini saja. Mereka bilang, besok mereka semua akan kembali lagi ke Jakarta. Jadi besok, kita sudah bisa tidur dikamar yang terpisah. Kamu silahkan tidur diatas ranjang. Aku akan tidur disofa" Imbuh Fajar yang takut jika gadis itu akan kembali marah dan merasa dipermainkan olehnya.


"Tidak perlu. Kamu saja yang tidur diranjang. Biar aku yang tidur disofa. Lagipula inikan juga kamarmu" Tari bangkit dari ranjang dan menatap Fajar.


"Tapi kamu sedang hamil. Bagaimana jika nanti kamu jatuh? Sofanya sempit. Lagipula


aku juga tidak bisa enak-enakan tidur diatas ranjang, dan membiarkan wanita yang sedang mengandung anakku tidur disofa. Tidak apa-apa, tidurlah. Jangan khawatir, aku tidak akan melakukan apapun terhadapmu. Kita sudah membuat perjanjian kan?"


Fajar menutup pintu dan berjalan mendekati ranjang. Mengambil bantal serta selimut. Kemudian dia berjalan menuju sofa dan meletakkan bantalnya diatas sofa itu.


Setiap gerak gerik lelaki itu tak luput dari perhatian Tari. Mulai dari dia menjatuhkan pinggulnya diatas sofa, melepaskan jas serta dasinya. Hingga saat dia berbaring diatas sofa dan menyelimuti tubuhnya.


Tari berdiri mematung menatap suaminya yang mulai terlelap itu. Sikap dan perkataan lelaki itu membuat hatinya terasa tersentuh.


Sepertinya apa yang dikatakan Ranty memang ada benarnya. Sekalipun pernikahan mereka terjadi karena sebuah kesalahan, namun pria ini bisa memperlakukannya dengan baik. Rasanya hatinya mulai lemah untuk membenci lelaki itu.

__ADS_1


Tak ingin berlarut-larut dalam pikirannya yang mulai tidak jelas, Tari memutuskan berjalan menuju kamar mandi untuk melepas pakaian dan aksesoris pengantin yang masih membalut tubuhnya.


🍁🍁🍁🍁🍁


"Jadi.... Gerald itu kakak tirinya Fajar? Anak dari hasil pernikahan Papanya dengan dengan Tante Astrid, dan diceraikan karena berselingkuh?" Tanya Zahra yang sedang menyusui anaknya, sembari menyandarkan tubuhnya pada dada bidang suaminya.


"Ya.... Kira-kira begitulah" Jawab Rahul seraya mengelus-elus rambut istrinya dengan lembut.


"Tapi.... Kenapa Oma Violet lebih mempercayai Tante Astrid, ketimbang anaknya sendiri? Kok dia terlihat sangat menyayangi Tante Astrid dan Gerald, tapi sangat tidak menyukai Fajar? Padahalkan dia cucunya juga"


"Ya mungkin, Oma Violet sudah terlalu dibutakan oleh rasa sayangnya terhadap Tante Astrid dan Gerald. Sehingga beliau tidak bisa melihat mana yang benar, dan mana yang salah. Kenapa kamu jadi kepo sekali sih, dengan keluarga Fajar? Penasaran, dengan kehidupan masa lalu mantan suami pura-puramu?" Goda Rahul yang membuat Zahra menatapnya dengan kesal.


"Kalau bukan karena ada Chand, aku pasti sudah mencubitmu. Bicara sembarangan" Sungut Zahra dengan nada mengancam.


"Silahkan saja. Dan aku akan membalasnya dengan menciummu" Rahul mencium bibir istrinya dengan penuh nafsu.


"Tidak masalah. Asal setelah aku menidurkan Chand, kamu menidurkan aku" Rahul mengerlingkan matanya dengan nakal.


"Dasar mesum"


"Bukan mesum sayang, tapi hanya meminta jatahku saja. Lagian pada siapa lagi aku harus memintanya, kalau bukan pada istriku sendiri? Masak aku harus memintanya pada wanita lain?" Rahul memberi alasan untuk membela dirinya. Namun perkataannya langsung membuat Zahra menatapnya dengan mata melotot tajam.


"Tidak sayang, aku hanya bercanda. Untuk apa aku mencari sentuhan dari wanita lain? Jika sentuhan istriku saja, selalu membuatku candu dan ketagihan" Rahul menggusuk-gusuk punggung istrinya. Seakan-akan sedang berusaha menenangkan istrinya, dan menyelamatkan dirinya dari amukan macan betinanya.


"Awas ya kalau kamu berani" Ancam Zahra dengan sewot.

__ADS_1


"Iya putri Belleku sayang. Kamu juga dong, jangan membahas soal Fajar terus. Aku kan jadi cemburu" Rahul memeluk istrinya dan berkata dengan wajah cemberut.


"Dasar posesif" Celetuk Zahra.


"Seandainya aku yang membahas wanita lain, bagaimana?" Goda Rahul.


"Kamu pikir aku membahas tentang Fajar karena aku tertarik padanya?"


"Tapi aku malas membahas tentang Oma Violet"


"Kenapa?"


"Kok kenapa? Kamu tidak lihat seperti apa sikapnya? Seolah-olah dia adalah maha benar dan sempurna. Sedangkan orang lain salah dan rendahan semua. Seperti saat dia menghina dan merendahkanmu. Untung saja dia wanita yang lebih tua dari Mama. Kalau tidak...."


"Sabar Sat, anggap saja melatih kesabaran kita terhadap orang tua. Lagipula kan aku juga tidak apa-apa. Chand sudah tidur. Ayo kita tidur juga. Aku sudah sangat mengantuk sekali" Zahra berkata dengan lembut. Berusaha menenangkan suaminya yang tampak mulai emosi membahas Omanya Fajar yang arogan itu.


"Dasar Fajar. Menyuruh kita untuk menginap disini, tapi tidak menyediakan box bayi" Gerutu Rahul karena harus tidur bertiga dengan anaknya, sehingga dia tidak bisa leluasa menuntaskan hasratnya pada istrinya. Lantaran tidak mungkin melakukannya didepan anak mereka yang masih bayi.


"Sabar, hanya satu malam saja. Oke suamiku sayang, good night" Zahra memijat-mijat pundak Rahul sembari cengengesan melihat tampang cemberut suaminya.


Puas menggoda suaminya, Zahra langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur dan memejamkan matanya. Mengabaikan Rahul yang masih bersungut-sungut.


🍁🍁🍁🍁🍁


"Zahra... Zahra.... Zahra..." Tari yang sedang tertidur pulas perlahan-lahan terbangun saat mendengar suara yang membuat tidurnya terganggu. Sehingga dia langsung terduduk dari posisi yang sebelumnya meringkuk diranjang.

__ADS_1


Dia menatap sosok yang masih tertidur disofa sembari mengigau menyebut nama Zahra. Tari turun dari tempat tidur dan berjalan perlahan-lahan mendekati suaminya. Dia berlutut didepan sofa. Menatap Fajar yang masih tertidur dan berada dialam lain.


__ADS_2