
"Kamu tau, saat aku mendengar kabar kecelakaanmu, aku merasa sangat takut. Pikiranku begitu kalut, hingga aku tidak bisa berpikir dengan jernih. Aku merasa dejavu dengan apa yang terjadi pada istri dan anak pertamaku dulu. Aku sangat takut jika kamu dan anak kita juga mengalami hal yang sama. Meninggalkanku untuk selamanya. Rasanya aku tidak akan sanggup jika hal itu sampai terjadi lagi. Karena aku merasa, kalau aku sudah sangat mencintai kalian berdua. Dan aku takut kehilangan kalian"
Lirih Fajar menatap Tari dengan dalam. Fajar kembali memegang tangan Tari dan mengecupnya selama beberapa saat.
Tari yang perlahan-lahan mulai mendapatkan kesadarannya, mendengar dan merasakan apa yang ada disekitarnya.
"Entah sejak kapan hal ini bermula. Tapi aku yakin, kalau aku mencintaimu istriku. Dan aku juga mencintaimu, anakku. Kalian berdua adalah segala-galanya bagiku" Fajar mencium perut buncit Tari.
"Kamu bilang apa barusan?" Lirih Tari dengan suara lemah dan mata yang belum terbuka lebar.
Fajar tersentak dan menegakkan tubuhnya menatap istrinya. Meski gelagapan, namun perasaan lega dan senang menyelimutinya karena Tari akhirnya sadar.
"Ta-Tari? Kamu sudah sadar? Alhamdulillah. Kamu baik-baik saja kan? Mana yang sakit? Katakan padaku. Biar aku panggilkan dokter" Fajar bertanya dengan penuh perhatian.
"Apa barusan aku tidak salah dengar? Kamu bilang, kamu mencintaiku? Ka-kamu serius dengan ucapanmu?" Bukannya menjawab pertanyaan suaminya yang mencemaskannya, Tari malah mempertanyakan ucapan lelaki itu. Ucapan yang dia harap adalah kenyataan dan sangat ingin didengarnya lagi.
"A-aku.... Aku...." Fajar tergagap. Dia begitu gugup untuk menjawab.
Sikap Fajar membuat Tari menarik nafas kecewa. Perasaannya yang seakan terbang melayang, seketika bagai terjatuh dengan telak. Harapannya untuk mendengar lelaki itu mengucapkan cinta padanya seketika sirna.
Sepertinya dia terlalu berharap Fajar akan mengucapkan kata-kata seperti itu padanya, hingga dia sampai berhalusinasi atau bermimpi? Entahlah, yang jelas apa yang didengarnya barusan pasti tidak nyata. Dia tidak boleh terlalu banyak berharap.
__ADS_1
"Mmm, ma-maafkan atas pertanyaanku. Mungkin barusan aku hanya berhalusinasi saja, karena aku masih belum sepenuhnya sadar" Ucap Tari terbata-bata saking malunya, hingga dia memalingkan wajahnya.
Sikap wanita itu membuat Fajar tersenyum gemas. Sepertinya dia bisa mengerti apa yang istrinya rasakan. "Memangnya, barusan kamu berhalusinasi apa? Aku.... Menyatakan cinta padamu?" Goda Fajar yang membuat Tari terkesiap dan menatapnya dengan terbelalak.
"Mmm.... A-aku...."
"Bagaimana jika apa yang aku katakan tadi adalah kenyataan? Bagaimana tanggapanmu?" Lirih Fajar menatap istrinya dengan intens. Berusaha mencari tau bagaimana perasaan Tari melalui sorot matanya.
"A-aku..." Pertanyaan Fajar membuat Tari gelagapan. Bingung harus menjawab apa. Sama bingungnya dia apakah perkataan suaminya sungguh-sungguh, atau hanya sekedar gurauan.
"Bagaimana jika aku katakan, kalau aku sangat mencintai istriku? Istri yang saat ini sedang mengandung anakku. Apakah kamu bisa menerima perasaan itu? Atau.... Aku masih belum memiliki tempat dihatimu?" Ungkap Fajar yang masih berusaha mendapatkan jawabannya melalui sorot mata Tari.
Pernyataan Fajar membuat Tari semakin terkejut hingga rasanya dia tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Benarkah Fajar mencintainya? Sejak kapan? Atau perasaan lelaki itu hanya sekedar cinta untuk bayinya saja?
Tari tercekat. Entah bagaimana dia harus mengekspresikan perasaannya saat ini. Setelah cintanya direnggut oleh fitnah, kini dia mendapatkannya kembali.
"Kamu sudah lama mendapatkan tempat itu. Sejak kita menikah, aku sudah merasakan perasaan lebih terhadapmu. Tapi saat itu aku merasa, kalau aku yang tidak memiliki tempat itu dihatimu. Karena tempat itu, masih menjadi milik Kak Zahra. Wanita yang pernah kamu akui sebagai istrimu. Karena itulah aku diam saja. Karena aku tau diri. Aku hanya wanita kotor, yang kamu nikahi karena terpaksa. Bukan karena cinta, seperti saat kamu menikahi istri pertamamu dulu" Lirih Tari yang terlontar begitu saja dengan tatapan termenung sendu menatap suaminya.
Fajar membelai wajah istrinya. "Setiap hal tidak perlu diawali dengan kisah yang sama kan? Hubunganku dengan Shreya dulu dan denganmu sekarang, tentu memiliki kisah yang berbeda. Tapi perasaan yang dulu aku rasakan untuk Shreya, sekarang aku merasakannya padamu. Begitupun dengan perasaan yang pernah aku miliki untuk Zahra dan bayinya, yang saat itu aku pikir adalah bidadari dan malaikat kecil yang Tuhan kirimkan, untuk menggantikan istri dan anakku yang sudah tiada dengan tragis.
Tapi ternyata aku salah. Mereka bukanlah milikku. Dan mereka tidak dikirim untuk menjadi milikku. Dan sekarang perasaan itu sudah menguap, karena kehadiran wanita dan bayi yang aku yakini memang dikirim untuk menggantikan istri dan anakku. Dan mereka berdua sudah menjadi milikku. Aku mencintaimu, dan anak kita" Tuturnya dengan tatapan dan nada yang mendalam. Membuat Tari semakin terenyuh.
__ADS_1
"Kamu tidak ingin memeluk suamimu ini?" Seloroh Fajar yang membuat Tari tersenyum dengan perasaan haru, sumringah, malu dan gugup menjadi satu. Dia memeluk suaminya dengan perasaan bahagia yang tiada tara. Perasaan yang seolah-olah membuatnya lupa pada tubuhnya yang masih terasa sakit.
🍁🍁🍁🍁🍁
Gerald membuka matanya dan mengerjap-ngerjapnya dengan perlahan sembari melenguh. Dia menatap langit putih diatasnya, dengan rasa sakit dan pusing yang tampak menjalar dikepalanya.
"Gerald? Kamu sudah siuman sayang?" Sebuah suara lembut yang sangat dikenalnya mengagetkan Gerald. Dia menoleh dan mendapati mamanya sedang duduk disamping tempatnya berbaring.
Gerald memandangi kesekelilingnya. Dia sedikit terkejut mengetahui dirinya sedang berbaring diatas ranjang berukuran mini. Dan dia berada diruangan luas dan mewah, yang tampak seperti kamar rumah sakit.
"Ma! Mama bangun! Ma, Gerald sudah sadar" Dengan hebohnya Astrid beranjak dari sofa, dan membangunkan Oma Violet yang sedang tertidur pulas disofa.
Terkejut, wanita sepuh itu terbangun dan langsung mendekati Gerald dengan sumringahnya. "Gerald, cucu Oma. Alhamdulillah, akhirnya kamu siuman sayang. Oma lega sekali. Bagaimana perasaanmu sekarang? Bagian mana yang sakit? Biar Oma panggilkan dokter" Oma Violet bertanya dengan penuh perhatian.
"Oma, Mama, ak-aku ada dimana?" Tanya Gerald memandangi tubuhnya yang dipenuhi dengan alat-alat penunjang kesehatan seperti selang infus, oksigen dan lainnya. Bahkan kepalanya pun terluka dan dibalut perban. Tubuhnya terasa sakit semua.
"Kamu ada dirumah sakit sayang" Jawab Astrid.
"Ru-rumah sakit? Memangnya apa yang terjadi padaku?" Tanya Gerald menatap mamanya.
"Kamu mengalami kecelakaan semalam. Kamu masih ingatkan?" Jawab Oma Violet.
__ADS_1
"Kecelakaan?" Gerald mencerna perkataan Omanya dengan tatapan menerawang. Mencoba mengingat apa yang terjadi padanya.