Mentari Untuk Fajar

Mentari Untuk Fajar
BAB 46- Tari Masuk Rumah Sakit


__ADS_3

"Tadi Nyonya ijin katanya mau kerumah temannya. Katanya Nyonya muda bosan dirumah terus. Oh ya, Tuan mau saya buatkan teh atau kopi?"


"Teh saja ya Bu. Tolong diantar keruang kerjaku. Aku mau mandi dulu"


"Baik Tuan" Bu Zaitun mengangguk.


Fajar pun berjalan menuju kamarnya. Usai mandi dan berpakaian santai, dia langsung menuju ruang kerjanya untuk kembali berkutat pada pekerjaannya yang belum usai.


Entah kenapa hari ini dia memutuskan untuk pulang ke awal. Tadinya dia pikir bahwa dia akan bertemu dengan istrinya. Namun ternyata. Tidak mungkin jika dia merindukan wanita itu kan? Dia menikahi Tari bukan atas dasar cinta. Begitu juga sebaliknya.


Ah, mungkin dia merindukan anaknya yang ada dalam kandungan istrinya itu.


Saat pikirannya sedang melantur memikirkan Tari, tiba-tiba saja ponselnya berdering. Fajar mengambil ponselnya dimeja dan melihat siapa yang menghubunginya. Ternyata Ranty. Fajar mengernyitkan keningnya.


Ada apa gadis ini menghubunginya? Apa ini menyangkut masalah Tari? Kata Bu Zaitun, saat ini dia sedang bersama Tari. Tapi kenapa bukan Tari sendiri yang menghubunginya? Tak ingin berasumsi terlalu jauh, Fajar pun mengangkat panggilan suara itu.


"Iya Ranty? Tari masih bersamamu kan? Apa dia baik-baik saja? Kapan dia akan pulang? Ini sudah malam lho. Apa perlu aku menjemputnya?"


"Maaf Dok, tapi.... Sekarang kami sedang menuju kerumah sakit?" Suara Ranty diseberang sana yang terdengar panik.


"Rumah sakit? Memangnya siapa yang sakit? Kalian berdua baik-baik saja kan?" Tanya Fajar yang terkejut mendengar pernyataan dari sahabat istrinya itu.


"Saya baik-baik saja Dok. Tapi Tari..."


"Tari kenapa? Dia baik-baik saja?" Fajar menjadi sangat cemas saat mendengar nama Tari disebut-sebut.


"Tari terjatuh saat kami sedang ditaman bermain Dok. Dan dia pingsan" Jawab Ranty dengan pelan-pelan.


"Baiklah, kalian akan kerumah sakit mana? Saya akan segera kesana sekarang"


Ranty memberi tau alamat rumah sakit yang sedang mereka tuju. Ternyata itu adalah rumah sakit milik Fajar sendiri. Fajar langsung mematikan ponselnya dan menuju rumah sakit dengan perasaan ketar-ketir. Dia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


Disepanjang perjalanan, pikirannya hanya tertuju pada Tari dan bayinya. Mendapat kabar bahwa mereka mengalami kecelakaan, membuatnya sangat takut. Bayangan kala dulu dia mendapat kabar bahwa istrinya yang sedang hamil mengalami kecelakaan, kembali muncul dibenaknya.


Dia sangat takut membayangkan jika kejadian naas itu sampai terulang kembali. Semoga hal itu tidak akan terjadi lagi, saat dia sudah mulai belajar untuk move on dan menerima takdirnya bersama Tari. Sekalipun untuk saat ini, dia masih belum bisa mencintai wanita itu.


🍁🍁🍁🍁🍁


Sekitar sepuluh menit kemudian, akhirnya Fajar tiba dirumah sakit. Sesampainya disana, Fajar langsung mencari Ranty. Dia tidak akan bisa tenang sebelum mengetahui keadaan istrinya.


"Ranty" Seru Fajar saat melihat gadis itu berada didepan ruang UGD. Dia langsung berjalan dengan langkah lebar kearah Ranty.


"Dok"


"Tari dimana?" Tanya Fajar dengan penuh kekhawatiran.


"Sedang diperiksa oleh dokter didalam" Ranty menunjuk pintu ruang UGD.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Kok bisa sampai masuk kerumah sakit segala?" Fajar kembali bertanya dengan tidak sabaran.


"Tadi sewaktu kami sedang bermain ditaman, ada anak-anak kecil yang berlari hingga menabrak Tari. Tari terjatuh dan perutnya kesakitan. Setelah itu dia pingsan. Saya minta maaf ya Dok, karena tidak bisa menjaga Tari dengan baik" Tutur Ranty dengan perasaan cemas dan bersalah.


Beberapa saat kemudian, pintu terbuka. Tampaklah Dokter Jenar yang keluar dari ruangan itu. Fajar langsung mendekati bawahannya itu dan mencecarnya dengan tidak sabaran. Perasaan cemasnya masih belum bisa dia kendalikan.


"Dok, bagaimana? Apa dia baik-baik saja?"


"Dokter jangan khawatir. Ibu Tari baik-baik saja kok. Janinnya pun cukup kuat. Cuma saya harap, agar hal seperti ini jangan sampai terulang lagi ya. Kehamilan Ibu Tari masih trimester pertama. Janinnya pun masih terlalu rentan" Dokter Jenar menjelaskan dan menyarankan.


Pernyataannya membuat Fajar akhirnya bisa bernafas dengan lega. Segala bentuk pikiran negatif dan rasa khawatirnya perlahan-lahan mulai berkurang, mengetahui istri dan anaknya baik-baik saja.


"Iya Dok, saya pasti akan menjaganya dengan lebih baik lagi. Lalu sekarang bagaimana? Dia sudah bisa pulang atau.... Perlu diopname?" Tanya Fajar.


"Iya Dok, Ibu Tari harus diopname sekitar dua sampai tiga hari. Supaya kami bisa terus memantau kondisinya selama 24 jam. Takutnya nanti beliau drop lagi"

__ADS_1


"Lakukan apa saja yang terbaik untuknya. Saya percayakan semuanya pada anda Dokter Jenar"


"Baik Dok, kalau begitu saya permisi dulu"


"Iya silahkan"


Dokter Jenar pun berlalu dari hadapan mereka. Fajar melirik Ranty yang sedari tadi berdiri disampingnya.


"Ranty, sekarang kan sudah malam. Sebaiknya kamu pulang saja. Kamu jangan khawatir, Tari akan baik-baik saja kok disini. Ada saya dan tim medis yang akan menjaganya dengan baik"


"Iya Dok. Kebetulan saya juga harus kerja. 15 menit lagi waktunya shif saya"


"Perlu diantar oleh supir saya"


"Tidak perlu Dok. Saya bisa pergi sendiri kok. Kebetulan letak restoran tempat saya bekerja dengan rumah sakit ini lumayan dekat. Jadi Dokter tidak perlu repot-repot. Kalau begitu saya duluan"


"Iya, hati-hati ya"


"Iya Dokter Fajar" Ranty berbalik dan berlalu meninggalkan Fajar.


Setelah Tari dipindahkan keruang rawat, Fajar langsung menemuinya. Dia duduk dikursi yang berada disamping ranjang dimana istrinya sedang berbaring dalam keadaan tak sadarkan diri.


Dokter mengatakan jika wanita itu masih berada dalam pengaruh obat bius. Mungkin pengaruhnya akan hilang besok pagi. Karena untuk sekarang perempuan itu harus beristirahat.


Fajar mengambil tangan Tari dan menggenggamnya dengan lembut. Perasaannya terasa hangat. Kalau dilihat dari dekat dan dalam keadaan tertidur pulas seperti ini, wajah wanita ini semakin terlihat cantik dan enak dipandang.


Fajar tanpa sadar mencium buku jemari Tari. Dia juga mencium kening istrinya itu dengan penuh kelembutan selama beberapa saat, dia menempelkan bibirnya pada kening yang lembab itu. Sebelum akhirnya dia tersentak dan langsung menjauhkan tubuhnya dari wanita itu.


Fajar menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kesal. Dia kesal pada dirinya sendiri. Bisa-bisanya dia berpikiran kotor disaat genting seperti ini. Padahal dia sendiri yang sudah berjanji, tidak akan pernah menyentuh wanita itu.


Untung saja istrinya ini sedang tidak sadar. Jika tidak, dia yakin akan kembali mendapatkan makian dan tamparan keras dari perempuan itu.

__ADS_1


Karena takut tidak bisa menahan dirinya lagi, dan nanti bisa terjadi hal yang tidak diinginkan, Fajar bangkit dari kursi dan beranjak kesofa lalu menjatuhkan tubuhnya. Dia menatap istrinya. Semakin lama matanya semakin terasa berat. Sehingga perlahan-lahan dia mulai terbuai kealam mimpi.


🍁🍁🍁🍁🍁


__ADS_2