Mentari Untuk Fajar

Mentari Untuk Fajar
BAB 88- Kedatangan Tristan


__ADS_3

"Ya apalagi? Kalau bukan masalah putri kesayangannya itu?" Jawab Claudia malas dan kesal bila mengingat anak tirinya.


"Tari?" Tanya Moza sedikit terkejut.


"Ya siapa lagi?"


"Memangnya Tari kenapa?" Tanya Moza kesal karena lagi-lagi harus mendengar nama Tari! Kekesalan dan kebenciannya terhadap Tari semakin meningkat, setelah dia bertemu saudara tirinya itu sebagai istri dari Fajar. Lelaki pujaan hatinya!


"Katanya kemarin papamu bertemu dengannya, sewaktu dia mampir keperusahaan Gerald"


"Papa, ketemu Tari diperusahaannya Gerald? Kok bisa?" Seru Moza terkejut.


"Karena menurut papamu, sekarang gadis itu menjadi karyawan magang diperusahaan itu"


"Tari magang diperusahaan Gerald?" Moza semakin terkejut.


"Iya. Kenapa kamu? Terkejut sekali" Tanya Claudia heran melihat sikap putrinya.


"Ya jelas aku terkejut lah Ma. Memangnya Mama lupa? Apa yang sudah pernah dilakukan Gerald pada Tari hingga dia bisa hamil seperti sekarang? Dan sekarang dia malah menerima Tari diperusahaannya. Memangnya menurut Mama itu tidak aneh?"


Claudia terbelalak mendengar penjelasan anaknya. Kenapa dia tidak pernah kepikiran sampai kesitu?


"Iya juga ya sayang. Oh ya, kamu tau tidak? Yang lebih mengejutkannya lagi adalah, ternyata pria yang bertanggung jawab atas pelecehan yang dialami Tari adalah, adiknya Gerald sendiri"


"Apa?! Jadi pak Fajar itu adiknya Gerald?" Seru Moza yang semakin terkejut dengan semua info demi info yang dia dengar dari mamanya.


"Fajar? Kamu kenal suaminya Tari?" Claudia menautkan alisnya.

__ADS_1


"Masak Mama lupa sih, tentang atasanku ditempat magang yang pernah aku ceritakan"


"Oh iya Mama baru ingat. Atasan yang katanya kamu taksir itu namanya Fajar ya? Kok Mama bisa lupa ya. Jadi sekarang ceritanya, kamu menyukai suaminya Tari. Begitu?" Goda Claudia yang tentunya ingat bagaimana putri semata wayangnya bercerita dan memuji-muji sosok Fajar, yang menurutnya sangat sempurna itu.


"Ya mana aku tau kalau pria itu adalah suaminya dia. Aku juga baru tau kemarin" Jawab Moza jujur dengan kesalnya. Lagi-lagi dia harus kembali berurusan dengan Tari dalam permasalahan orang yang ingin dia miliki!


"Terus, sekarang kamu mau apa setelah tau? Kamu mau mundur, dan tidak akan menjadi pelakor?"


"Dan mama percaya, kalau aku sealim itu? Mama taukan aku seperti apa? Kalau aku sudah menginginkan sesuatu, maka harus tetap aku dapatkan dengan cara apapun juga. Sama seperti saat aku menginginkan papa Tristan, Darren, dan kahidupan sebagai princess satu-satunya dirumah ini, tanpa adanya Tari" Moza menekankan dengan tajam.


"Jadi maksudnya, kamu akan tetap mendekati Fajar dan merebutnya dari Tari? Aduh Moza.... Mama kan sudah berkali-kali bilang, jangan jadi pelakor. Apalagi terus-terusan mengusik Tari. Sudahlah, cukup kamu merebut Darren dulu. Jangan cari masalah lagi dengan Tari. Jangan sampai perbuatanmu itu malah menggali lubang kuburan kita sendiri. Apalagi sekarang papamu sudah mulai lemah soal Tari. Bagaimana kalau nanti papamu lebih mempercayai Tari ketimbang kita. Semarah-marahnya dia pada Tari, tetap saja wanita itu anak kandungnya. Lebih baik kamu serius saja dengan Darren. Mama lihat, sepertinya dia sudah benar-benar serius dan kepincut denganmu. Kan dulu juga kamu sangat mendambakan lelaki itu. Dan sekarang sudah kamu dapatkan"


Claudia berusaha menceramahi anaknya karena takut akan terkena batunya. Namun nasehatnya sama sekali tidak mempan dikepala Moza, yang tetap akan maju dengan ambisinya sendiri. Karena dia memang benar-benar mencintai Fajar.


"Itu dulu Ma. Sekarang beda. Kan aku sudah berkali-kali bilang kemama, kalau aku sudah bosan dengan Darren. Dan yang aku inginkan sekarang adalah Fajar. Jadi apapun caranya, aku harus bisa memilikinya"


Jawab Moza dengan santainya, sebelum dia beranjak pergi meninggalkan mamanya yang resah memikirkan sikap keras kepala putri semata wayangnya, yang bisa menjerumuskan mereka kedalam masalah besar.


Tari sedang asik berkutat dengan pekerjaannya, saat seorang staf yang tak lain adalah seniornya menghampiri.


"Tari. Itu didepan ada yang ingin bertemu denganmu"


"Siapa Kak?" Tanya Tari menoleh kearah wanita muda itu.


"Pak Tristan Pratama"


"Apa? Pak Tristan?" Tari terkejut mendengar nama Papanya.

__ADS_1


"Iya, katanya beliau ada hal penting yang ingin disampaikan padamu. Sebaiknya kamu temui. Mungkin berhubungan dengan masalah perusahaan. Kamu kan tau, beliau adalah salah satu rekan bisnis penting pak Gerald"


"Iya kak, aku akan menemuinya" Tari tersenyum gugup.


"Ya sudah kalau begitu, aku duluan ya. Beliau ada diruang tunggu" Ucap wanita itu sebelum berlalu dari hadapan Tari yang menganggukkan kepalanya, mengiyakan kepergian seniornya itu.


Selepas kepergian wanita itu, Tari tampak termenung dimejanya. Kedatangan papanya hari ini kembali membuatnya terkejut.


Apa maksud pria itu ingin menemuinya? Untuk memarahi dan mencaci makinya lagi, seperti yang sudah-sudah? Terus terang dia sudah sangat lelah dengan semua ini? Tapi terakhir, sikap papanya tampaknya sudah mulai melunak.


Ya sudahlah. Sebaiknya dia temui saja dulu. Apapun yang terjadi nanti, dia pasti bisa menghadapinya.


Tari beranjak meninggalkan ruangan divisi itu, menuju ruang tunggu dimana papanya sedang menunggunya.


"Ehem" Tari berdehem begitu melihat papanya sedang duduk sembari bermain ponsel dikursi ruang tunggu. Tristan tersentak dan menoleh kearah putrinya berdiri.


"Tari. Akhirnya kamu datang juga Nak. Bagaimana keadaanmu?" Lirih Tristan menatap putrinya dengan tatapan pilu dan penuh kerinduan, sembari bangkit berdiri.


"Maaf, kalau saya boleh tau, ada keperluan apa ya, Pak Tristan Pratama ingin menemui saya? Apa ada yang bisa saya bantu?" Ujar Tari dengan nada dingin dan formal.


"Tari, apa tidak bisa, kamu bicara secara privat? Tidak perlu secara formal seperti ini. Biar bagaimanapun juga, kita ini adalah ayah dan anak. Tolong kamu jangan lupakan itu"


"Saya tidak pernah melupakan itu. Dan jujur, saya lelah bersikap seperti ini kepada papa saya sendiri. Tapi bukankah Anda yang memulainya? Bukankah Anda malu, mengakui saya sebagai anak dihadapan semua orang? Dan bukankah saat ini, saya sedang mengikuti keinginan anda?"


Tristan terdiam mendengar perkataan putrinya yang terasa sangat menusuk hatinya. Benarkah semua masalah ini bermula dari dirinya sendiri, sehingga dia harus menerima sikap dingin seperti ini dari putrinya sendiri? Apakah dia yang harus introspeksi diri, dan memperbaiki keadaan ini?


"Apa kita bisa, bicara ditempat lain? Dicafe dekat sini. Supaya kita bisa bicara lebih privat" Tanya Tristan lembut.

__ADS_1


"Baiklah. Kebetulan, ini sedang jam makan siang. Tapi maaf, waktu saya tidak banyak. Saya sedang sibuk" Tari masih saja bersikap dingin, meskipun dia menerima ajakan papanya.


"Iya nak. Papa janji tidak akan lama-lama. Terima kasih, karena kamu bersedia ikut dengan Papa" Tristan tersenyum simpul.


__ADS_2