
Namun sesampainya didalam toko perlengkapan bayi itu, dia harus kembali melihat pemandangan yang membuat darahnya mendidih. Dia melihat Tari dan Fajar yang sedang berbelanja keperluan bayi, sembari bercengkrama ria dengan mesranya.
Lagi-lagi dia harus menjadi obat nyamuk yang menyaksikan kemesraan pasangan itu. Sampai kapan hidupnya akan seperti ini terus?
"Perasaan tadi ada yang bilang kalau princess lahirnya masih lama. Tapi sekarang malah dia sendiri yang keasikan belanja" Sindir Fajar melihat istrinya yang kecanduan dalam memilih pakaian dan mainan bayi yang lucu-lucu.
"Aduh King, ini masalahnya bajunya lucu-lucu sekali. Coba lihat. Bajunya, sepatunya, topinya. Apalagi yang warna pink. Aku jadi tidak sabar, ingin melihat princess memakai semua ini. Pasti dia akan sangat cantik dan menggemaskan" Jawab Tari dengan hebohnya memperlihatkan beragam pakaian, aksesoris dan mainan anak-anak yang terpajang.
"Iya, seperti Mommynya. Cantik dan menggemaskan" Fajar memeluk istrinya dari belakang sembari mengulum senyum.
"Apaan sih? Sudahlah jangan bikin malu. Banyak orang disini" Omel Tari berusaha melepaskan diri dari suaminya.
"Makanya belanjanya udah cukup. Ayo kita pulang. Supaya kita bisa kembali berada ditempat yang sepi" Fajar tersenyum nakal. Membuat Tari kesal hingga dia kembali memberikan cubitan dipinggang suaminya itu.
"Aauw" Fajar mengadih kesakitan. "Sakit Queen" Keluhnya.
"Rasain. Makanya kalau mau mesum lihat-lihat tempat" Gerutu Tari dengan wajah garangnya.
Sembari tersenyum gemas melihat tingkah istrinya, perhatian Fajar tiba-tiba saja teralihkan pada salah seorang pengunjung yang sangat familiar dimatanya.
"Gerald?" Fajar sedikit tercengang melihat kakak tirinya ada didepannya, dan tidak terlalu jauh dari posisinya dan istrinya. Tari ikut menoleh memandangi pria itu.
"Eh, pak Gerald? Anda disini juga?" Tari menyapa dengan seramah mungkin, meski dia merasa canggung berada diantara kedua saudara yang berselisih paham itu.
"Iya. Saya sedang mencari hadiah untuk istri rekan bisnis saya yang melahirkan" Jawab Gerald dingin seraya memalingkan wajahnya dengan angkuh.
"Oh" Tari manggut-manggut.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu, kamu duluan" Timpal Fajar sembari menarik tangan istrinya untuk enyah dari toko itu.
Meninggalkan Gerald yang menatap kepergian mereka dengan hati yang berapi-api. Seharusnya saat ini dialah yang sedang menemani Tari untuk berbelanja keperluan bayi mereka! Bukan Fajar! Dia benar-benar bodoh! Bisa-bisanya dulu dia menyerahkan wanita itu ketangan Fajar! Bahkan saat tau kehamilannya pun, dia malah membiarkan Fajar menikahinya.
Dan sekarang, seluruh dunia taunya lelaki itu adalah ayah dari anak kandungnya! Apa yang harus dia lakukan sekarang, untuk memperbaiki kebodohannya? Dia tidak rela nanti anaknya akan tumbuh dan mengganggap sibr*ngs*k itu sebagai ayahnya! Apa mungkin dia harus membongkar semuanya?
🍁🍁🍁🍁🍁
"Moz, sayang. Tunggu" Seru Darren mengejar-ngejar Moza yang hendak masuk kedalam rumahnya. Namun wanita itu tak kunjung menghentikan langkahnya. Sikapnya begitu acuh terhadap kekasihnya itu.
Dengan kesal Darren mencekal tangan Moza, dan membuat wanita itu menghadapnya.
"Ada apa sih Ren? Aku capek" Ujar Moza acuh.
"Kamu itu kenapa sih? Sekarang sikapmu terhadapku jadi berubah. Kamu selalu bersikap dingin dan cuek. Memangnya apa salahku?" Cecar Darren meminta penjelasan kekasihnya yang semakin hari semakin dingin dan cuek terhadapnya.
"Aku kan sudah bilang. Aku capek. Sudahlah kamu jangan lebay" Jawab Moza enggan.
"Kamu bilang aku lebay? Moz, aku ini pacarmu. Kamu lupa, bagaimana kamu mendekatiku, saat aku masih pacaran dengan Tari? Aku sampai meninggalkan Tari demi kamu...." Ucap Darren menggebu-gebu. Jelas dia tidak bisa terima gadis itu mempermainkan dan memperlakukannya seperti ini.
"Oh, jadi kamu menyesal, meninggalkan Tari demi aku?"
"Bukan begitu Moz...." Sanggah Darren gugup.
"Ya sudah kalau begitu. Kamu kembali saja lagi dengannya. Jadikan dia sebagai pujaan hatimu lagi. Lagipula aku juga sudah tidak peduli kok, kamu mau ngapain dengan saudara tiriku itu"
"Kamu serius bicara seperti itu? Kamu lupa? Dulu kamu selalu bilang cinta padaku. Tapi sejak magang, sikapmu jadi berubah begini. Jujur padaku, siapa pria yang sudah mengubahmu"
__ADS_1
Darren menatap Moza dengan tajam dan gusar. Dia berusaha mencari tau apa yang sedang dirasakan oleh gadis itu. Benarkah tuduhannya tentang pria yang sudah merubah Moza menjadi dingin seperti ini terhadapnya?
"Itu bukan urusanmu. Dan aku memang mencintaimu. Tapi itu dulu. Bukan sekarang. Lagian dulu juga aku tidak tau, apakah aku benar-benar mencintaimu, atau hanya sekedar ingin mengalahkan Tari" Ucap Moza dengan santai dan arogannya, sebelum berbaik dan masuk kedalam rumah mewah Pratama.
Meninggalkan Darren yang menatapnya dengan tertegun. Tidak menyangka akan mendengar perkataan seperti itu dari wanita yang masih berstatus sebagai kekasihnya itu. Perkataan yang seperti bom yang membuat tubuhnya meledak seketika.
Jadi selama ini gadis itu mempermainkannya? Dia tidak pernah serius mencintainya? Semua itu dilakukannya hanya karena ingin menang dari Tari saja?
Kurang ajar!! Ternyata gadis itu benar-benar sudah mempermainkannya! Dia tidak terima diperlakukan seperti ini! Dia bersumpah akan membalas semua ini! Jika wanita itu berpikir bahwa dia adalah lelaki bodoh yang bisa diperlakukan semena-mena, maka dia salah orang!
🍁🍁🍁🍁🍁
Pagi itu Tristan sedang sarapan bersama istri dan putri sambungnya yang menyantap menu didepan mereka dengan lahap dan ceria.
Namun sangat berbeda dengan Tristan yang terlihat sangat bermuram durja dan tidak berselera pada makanannya. Nasi goreng dalam piringnya pun tidak berkurang, karena sedari tadi dia hanya mengaduk-aduknya. Dan menyendokkan kedalam mulutnya sepuluh menit sekali dengan termenung.
"Pa, mau buah? Mama kupasin ya" Dengan suara lembut Claudia mengambil buah apel dari dalam piring. Kemudian hendak mengupasnya dengan pisau. Dia tau suasana hati suaminya sedang tidak baik. Karena itulah dia berusaha menghibur dan mengalihkan perhatiannya dari putrinya yang tidak penting itu.
"Tidak usah. Papa mau langsung berangkat saja. Hari ini ada meeting pagi. Papa jalan dulu ya" Tolak Tristan yang lantas bangkit berdiri, dan mengambil jas hitamnya yang disampirkan pada sandaran kursi yang didudukinya. Kemudian dia berjalan keluar dari ruangan makan itu.
"Iya Pa, hati-hati" Kata Claudia.
Moza menatap kepergian ayah sambungnya itu dengan kebingungan dengan sikap lelaki itu yang tampak stress dan murung. Kemudian dia melirik ibunya yang duduk dikursi sebelahnya.
"Ma, papa kenapa? Kok kelihatan sedih dan lesu begitu? Ada masalah dikantor?" Tanyanya penasaran.
"Kalau masalah kantor sih baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tapi ini ada masalah yang jauh lebih ribet dari masalah perusahaan" Celetuk Claudia memutar bola matanya dengan malas.
__ADS_1
"Masalah apa itu ma?"