
Andai saja yang mengatakan hal seperti itu bukan seorang perempuan, dan juga tidak sebaya dengan almarhumah ibunya, mungkin dia sudah menampar dan merobek mulutnya.
Bisa-bisanya perempuan itu masih bersilat lidah dan menyalahkan ibunya hingga saat ini. Padahal jelas-jelas dia sendiri yang memulai perselingkuhan itu, hingga membuat Papanya murka dan mengakhiri pernikahan mereka.
Fajar berusaha keras menahan diri agar tidak terpancing emosi, dengan kata-kata kotor yang keluar dari mulut perempuan yang berstatus sebagai ibu tirinya itu. Dia berusaha untuk tetap bersikap tenang.
Setiap tindakan sebaiknya dibalas dengan tindakan. Begitu pula dengan Ucapan yang sebaiknya dibalas dengan ucapan. Tidak ada gunanya membuang-buang tenaga untuk mereka.
"Begini ya Tante Astrid, aku lebih percaya jika hidup dan mati semua orang ada ditangan Tuhan. Kan memang pada dasarnya kita semua akan meninggal kalau sudah waktunya. Tante juga tidak mungkin akan hidup untuk selamanya kan? Lagipula hal yang paling aku takutkan bukan kematian istriku. Melainkan perselingkuhan yang bisa saja akan dia lakukan dibelakangku.
Aku takut jika nanti aku akan bernasib sama seperti Papaku. Kalau nanti istriku akan menghianatiku dengan rekan bisnisku sendiri. Tapi dia malah menuduhku yang melakukannya. Dengan kata lain, memfitnahku untuk menutupi keburukannya. Aku sangat takut jika sampai memiliki istri seperti itu Tante"
Sindir Fajar sembari tersenyum sinis dan geram. Yang membuat Astrid langsung mengkretakkan giginya, dan menatap Fajar dengan tatapan marah karena merasa tersinggung dengan apa yang dia katakan.
Begitupun dengan Gerald yang langsung naik pitam, mendengar ucapan Fajar yang jelas-jelas sedang menyindir ibunya. Gerald bangkit berdiri dan menatap Fajar dengan tatapan membunuh.
"Maksudmu apa bicara seperti itu?! Kamu masih berani menuduh Mamaku sebagai tukang selingkuh?! Jaga ucapanmu ya. Jangan pernah sekalipun kamu berani menghina Mamaku dihadapanku!! Apalagi aku tau betul seperti apa Mamaku! Dia tidak seperti yang kamu tuduhkan!!"
"Kalau begitu tolong katakan pada Mamamu, tolong jaga juga ucapannya tentang Mamaku. Jika kamu tidak terima ada orang yang berani bicara buruk tentang wanita yang telah melahirkanmu, lalu apakah kamu pikir aku bisa terima?
Jika kamu lebih memilih untuk mempercayai Mamamu, itu hakmu. Kamu bebas untuk mempercayai siapapun yang kamu mau. Begitupun dengan aku, yang lebih memilih untuk mempercayai kedua orang tuaku. Dan itu juga hakku.
__ADS_1
Lagipula bukankah kita sama-sama sudah sepakat, akan menjalani kehidupan kita masing-masing tanpa saling ikut campur? Dan aku sudah melakukannya kan? Lalu kenapa kalian harus ikut campur dengan pernikahanku?
Lagipula aku mengundang kalian sebagai tamu. Bukan sebagai keluarga. Jadi aku tidak butuh pendapat kalian tentang hal ini. Selamat siang"
Fajar berkata dengan datar dan tatapan menantang. Kesabarannya semakin lama semakin menipis menghadapi orang-orang arogan itu. Dengan membawa kemarahan dihatinya, dia berbalik dan enyah dari hadapan keluarga yang tak ubahnya musuhnya itu.
"Dasar sombong! Tidak tau diri!" Rutuk Oma Violet yang semakin merasa muak dan benci terhadap anak itu, yang semakin bersikap kurang ajar terhadap keluarganya.
🍁🍁🍁🍁🍁
Selama satu minggu Fajar membiarkan Tari untuk tinggal dihotel dalam pengawalan para bodyguardnya.
Sejak membawa Tari kerumah sakit dan mendapat persetujuan gadis itu untuk menikah dengannya, dia sudah tidak pernah lagi menemui gadis itu, demi menghindari konfrontasi yang mungkin saja masih belum usai diantara mereka berdua.
Karena baginya itu bukanlah pernikahan impiannya. Melainkan hanya bentuk tanggung jawabnya semata. Dan dia yakin jika perempuan itu juga tidak pernah menganggap ini sebagai sebuah pernikahan. Melainkan hanya sebagai tabir untuk melindunginya dan bayi dalam kandungannya dari gunjingan dan cibiran orang.
Satu minggu telah berlalu. Tanpa terasa hari pernikahan yang tidak diinginkan itupun akhirnya tiba. Vera menemui Tari dihotel tempat gadis itu tinggal selama ini, bersama MUA untuk merias dan mendandani gadis itu selaku mempelai wanita.
Setelah siap dia langsung membawa Tari menuju venue acara, yang digelar dikediaman mewah Fajar. Acara itu diadakan secara sederhana dan hanya dihadiri oleh beberapa teman dan kerabat dekat saja.
Ketika tiba ditempat itu bersama para rombongannya, Tari terpana melihat ruangan yang telah didekor dengan tema ala shubby chic itu. Yang didominasi dengan dua warna utama yaitu putih dan hijau. Membuat suasana terkesan feminim dan romantis.
__ADS_1
Dari dulu Tari selalu bermimpi jika suatu saat nanti dia akan menjadi pengantin. Menjadi ratu sehari yang duduk diatas pelaminan bersama raja tercintanya. Mendampingi pria itu mengucapkan kata-kata sakral, untuk menjadikan dirinya sebagai miliknya. Sungguh mimpi yang indah dan bertabur kebahagiaan serta cinta.
Namun mimpi hanyalah mimpi. Karena pernikahannya ini terasa begitu hampa tanpa adanya cinta dan kehadiran keluarganya. Papa yang sangat disayangi dan menyayanginya.
Namun kini membencinya karena kesalah pahaman dan fitnah.
Sebenarnya dari pihak Fajar sudah menawarkan untuk ikut mengundang keluarga Tari. Namun gadis itu bersikukuh menolak ide itu.
Untuk apa dia mengundang keluarga yang tidak bisa mendukungnya? Melainkan hanya bisa menjatuhkannya, hingga dia bisa sampai pada titik seperti sekarang. Lagipula mereka juga sudah tidak peduli lagi padanya.
Fajar dan Tari berdiri berdampingan diatas pelaminan yang didekor dengan bunga-bunga bervariasi, serta pencahayaan lampu emas yang memancarkan kesan kemewahan dalam desainnya.
Keduanya tampak sangat serasi sebagai sepasang mempelai. Tari terlihat sangat cantik dengan balutan gaun pengantin berwarna pink, dan berpotongan dibawah lutut yang dikenakannya.
Ditambah lagi dengan flower crown serta veil panjang, yang menjuntai sebagai hiasan kepalanya. Make upnya pun tampak natural dan tidak berlebihan. Membuat penampilannya tampak kasual namun elegan.
Begitupun dengan Fajar yang tampak begitu tampan dalam balutan jas formal berwarna hitam yang dikenakannya. Keduanya bak putri dan pangeran yang membuat para tamu menatap mereka dengan takjub.
Sedangkan Fajar dan Tari sendiri hanya berdiri dengan terdiam tanpa saling memandang satu sama lain. Yang bisa mereka lakukan hanyalah berusaha memperlihatkan senyum palsu mereka, saat menyalami para tamu undangan yang hadir.
Berusaha menyembunyikan perasaan mereka yang sesungguhnya. Menjelang siang hari, rombongan keluarga Dirgantara hadir dalam acara itu. Terlihat Rahul dan Zahra bersama putra kecil serta orang tua mereka.
__ADS_1
Perhatian Fajar langsung tertuju pada Zahra yang berjalan menggandeng tangan Rahul yang menggendong baby Chand, putra semata wayang mereka. Zahra masih menjadi wanita tercantik dimatanya, yang membuat Fajar tidak mampu menguasai perasaannya.
Fajar langsung memalingkan pandangannya dari Zahra, dan menggeleng-gelengkan kepalanya dengan gugup. Dia benar-benar sudah gila. Tidak seharusnya dia melirik wanita lain dengan menggunakan perasaan dihari pernikahannya sendiri.