Mentari Untuk Fajar

Mentari Untuk Fajar
BAB 84- Bertemu Papa Dan Keluarga Suami


__ADS_3

Apa lelaki itu sedang ada masalah serius yang membuatnya menjadi begitu emosi? Kenapa Tari jadi merasa takut ya, jika membayangkan kemarahan pria itu? Masih dia ingat dengan jelas bagaimana kemarahan atasannya itu, terhadap Ranty saat dihotel dulu. Serta kebenciannya terhadap Fajar.


Tapi apapun itu, dia tetap berharap semoga masalah lelaki itu bisa cepat diselesaikan. Biar bagaimanapun juga, dia tetaplah kakak dari suaminya. Selain itu, dia juga tidak pernah mengganggunya selama ini.


🍁🍁🍁🍁🍁


Sebuah mobil mewah berhenti didepan gedung perusahaan Lazuardi group. Supir yang duduk dijok depan turun dan membukakan pintu untuk tuan besarnya, yang tak lain adalah Tristan Pratama. Dengan penuh karismatik, lelaki paruh baya itu berjalan memasuki gedung megah itu. Sedangkan supir membawa mobilnya ketempat parkir.


BRUK


Sesampainya didalam, tanpa sengaja Tristan bertabrakan dengan seorang perempuan yang sedang berjalan dengan langkah buru-buru, hingga berkas-berkas yang ada ditangan perempuan itu jatuh berserakan dilantai.


"Eh! Maaf-maaf Pak. Saya tidak sengaja" Ucap perempuan itu dengan perasaan bersalah, sembari membungkuk dan berjongkok perlahan-lahan untuk memunguti berkas-berkasnya yang berserakan dilantai itu. Perut buncit perempuan itu membuatnya tidak bisa bergerak dengan cepat. Segingga dia harus berhati-hati.


"Iya-iya, tidak apa-apa. Saya juga tidak sengaja" Jawab Tristan sembari ikut berjongkok, untuk membantu perempuan itu memunguti berkas-berkasnya yang berserakan dilantai. Melihat perut besar perempuan itu membuat Tristan juga ikut merasa bersalah, karena telah menabrak seorang wanita hamil.


Sembari membantu memunguti lembaran berkas-berkas itu, Tristan memperhatikan wajah wanita itu dengan seksama. Betapa terkejutnya Tristan mengetahui bahwa wanita yang ada dihadapannya saat ini adalah putrinya sendiri. Putri semata wayangnya yang telah diusirnya beberapa bulan yang lalu, dan sudah lama tidak bertemu dengannya.


"Tari?" Lirih Tristan menatap perempuan itu dengan tatapan sendu.


Tari yang sedari tadi terlalu fokus memunguti berkas-berkas hasil pekerjaannya, sehingga tidak memperhatikan lelaki yang telah ditabraknya. Dia sangat terkejut saat tiba-tiba mendengar suara papanya. Untuk memastikan pendengarannya, Tari menatap lelaki paruh baya dihadapannya itu.

__ADS_1


Dan ternyata memang benar, lelaki itu memang ayahnya sendiri. Tari menatap pria itu dengan tatapan pilu, marah dan kecewa.


Dengan cepat dia memunguti berkas-berkas yang berserakan itu. Dengan satu tangan mengapit berkas dan tangan satunya lagi memegang perut bulatnya, Tari bangkit berdiri dari posisi jongkoknya. Begitupun dengan Tristan yang juga ikut berdiri didepan putrinya itu.


"Sekali lagi saya minta maaf Pak, atas ketidak sengajaan saya barusan" Ujar tari dingin dan enggan menatap papanya.


Hatinya masih terasa sakit dan tercabik-cabik bila kembali mengingat bagaimana perlakuan pria itu terhadapmya dulu, yang lebih mempercayai istri dan putri tirinya, hingga tega mengusirnya dengan begitu kejam dan membuatnya hidup nelangsa.


Untung saja dulu ada Ranty, sahabatnya yang bersedia menampungnya, hingga dia bisa memiliki tempat untuk berteduh dari hujan dan panasnya matahari. Hingga takdir mempertemukannya dengan Fajar, hingga sekarang dia bisa merasakan hidup bahagia kembali.


"Ka-kamu sedang apa disini? Apa yang kamu lakukan? Dan...." Lirih Tristan.


Sikap Tari yang dingin terhadapnya membuat hatinya begitu sakit dan tersiksa. Putri yang sedari dulu dimanjakannnya dan dibesarkan dengan penuh kasih sayang, yang selama ini selalu menatapnya dengan penuh hormat, kebanggaan dan kekaguman.


Padahal tujuannya mengusir putrinya itu adalah, untuk memberinya pelajaran dan efek jera. Agar dia tau kalau perbuatannya itu adalah salah dan memalukan. Supaya dia bisa belajar dari kesalahannya. Bukan untuk membangun jarak dan permusuhan diantara mereka.


"Tenang saja Pak. Apapun yang saya lakukan disini, saya pastikan hal itu tidak akan mengganggu reputasi maupun nama baik anda. Jadi anda tidak perlu khawatir dengan keberadaan saya ditempat ini" Jawab Tari dingin dan formal, seolah-olah mereka adalah orang asing yang tidak saling mengenal.


"Papa tau kamu masih marah pada Papa. Tapi asal kamu tau, sampai kapanpun, papa akan selalu menyayangimu. Semua yang papa lakukan dulu, itu semua karena papa ingin kamu menyadari kesalahanmu....." Lirih Tristan mencoba memberi pengertian pada putrinya itu.


"Memangnya apa yang saya lakukan? Saya tidak merasa melakukan kesalahan apapun. Saya merasa dalam hal ini saya sudah dijebak. Dan saya sudah mengatakan semuanya pada anda" Tukas Tari dengan keras kepalanya.

__ADS_1


Sikap dan perkataan papanya membuat perasaan Tari campur aduk. Antara sedih dan kecewa. Rasanya dia ingin menangis, melihat papa yang sangat disayangi dan dirindukannya itu bersedih karenanya.


Andai lelaki itu bisa sedikit saja mempercayainya. Dan mencoba untuk membuktikan kebenarannya bahwa dia tidak bersalah. Tidak langsung menelan fitnah itu mentah-mentah.


Mungkin saat ini dia sudah memuk ayahnya itu, untuk meluapkan kerinduan yang selama ini dipendamnya. Dan hubungan mereka pun mungkin tidak akan serenggang ini. Namun sayangnya, pengaruh dua lampir itu nyatanya lebih kuat!


"Pak Tristan?" Tristan yang sedang dibuat sedih dan melo dengan sikap putrinya, tiba-tiba tersentak mendengar suara wanita yang menegurnya. Tristan dan Tari spontan menoleh kearah suara yang tak lain adalah milik Oma Violet yang datang bersama Astrid, sang menantu kesayangan.


"Bu Violet, Bu Astrid?" Kedatangan kedua wanita itu membuat Tristan menjadi gugup dan tegang. Dia takut kalau mereka sudah mendengar pembicaraannya dengan Tari. Dan mereka jadi tau bahwa perempuan ini adalah putrinya.


Dia bukannya tidak mau mengakui Tari sebagai anaknya. Tapi dengan semua drama dan kekacauan yang telah diciptakan oleh anak itu selama ini, membuatnya merasa tidak siap jika orang-orang tau bahwa dia memiliki anak seperti Tari.


"Wah, kebetulan sekali ya kita ketemu disini. Ngomong-ngomong, bagaimana keadaan istri dan putri anda? Sudah lama saya tidak bertemu dengan mereka" Tutur Oma Violet dengan senyum ramah yang menghiasi wajah tuanya yang masih tampak elegan.


Sikap wanita paruh baya itu membuat Tristan sedikit bernafas lega, karena sepertinya pembicaraannya dengan Tari barusan, tidak didengar dan diketahui oleh sepasang mertua dan menantu ini.


"Alhamdulillah, istri dan putri saya baik-baik saja Bu. Bu Astrid dan Bu Violet sendiri, apa kabar?" Tristan tersenyum dengan sedikit gugup.


"Ya kami juga baik kok Pak. Oh ya, anda kesini, ingin bertemu Gerald?" Timpal Astrid yang tak kalah ramahnya.


"Iya Bu. Kebetulan saya sedang ada janji dengan Gerald, untuk membahas tentang rencana pembangunan proyek mall kita, yang ada di Jogja itu" Jawab Tristan.

__ADS_1


Astrid dan Oma Violet tersenyum manggut-manggut. Hingga akhirnya pembicaraan mereka yang penuh dengan kehangatan dan keramahan, berubah menjadi panas saat Oma Violet menyadari keberadaan Tari diantara mereka.


"Kamu?" Seru Oma Violet menatap Tari dengan tajam dan heran, melihat keberadaan perempuan itu didalam gedung perusahaan keluarganya.


__ADS_2