Mentari Untuk Fajar

Mentari Untuk Fajar
BAB 25- Aku Akan Mencarimu


__ADS_3

Selepas kepergian Tari, Tristan berkumpul bersama istri dan putri sambungnya diruang keluarga.


"Tolong kalian jawab dengan jujur, sebenarnya ada masalah apalagi ini? Kenapa tiba-tiba Tari datang kesini dan mengamuk seperti itu? Apa kalian ada melakukan sesuatu terhadapnya?" Tristan mencecar ibu dan anak itu dengan tatapan menyelidik.


Rasanya dia mulai ragu siapa yang bersalah disini. Entah yang dikatakan Tari memang ada benarnya, atau dia sendiri yang tidak memberinya kesempatan untuk membela diri?


"Maksud Papa apa bicara seperti itu? Papa mau bilang, kalau semua yang dikatakan Tari itu benar? Mama dan Moza yang sudah memfitnahnya, hingga dia bisa berada didiskotik dan hotel itu? Itu maksud Papa?"


Claudia kembali memulai dramanya. Wanita paruh baya itu menanggapi pertanyaan suaminya dengan suara dan raut wajah sedih.


"Bukan begitu Ma maksud Papa. Tapi...." Jawab Tristan dengan ragu. Ucapan istrinya membuatnya mulai kembali terpengaruh.


"Kalau memang menurut Papa Tari yang berkata jujur dan kami yang berbohong, lalu kenapa Papa harus mengusir dia dari rumah ini? Kenapa bukan Mama dan Moza saja yang diusir dan kita akhiri semua ini? Mama juga sudah capek Pa, selalu dituduh dan disalahkan terus.


Padahal Mama tidak tau apa-apa. Mungkin dengan Mama pergi dari sini, Tari akan merasa bahagia dan dia bisa kembali lagi menjadi Tari yang dulu. Karena sikap dia yang sekarang membuat Mama sangat sedih dan sakit hati.


Mama sadar, sampai kapanpun Mama tidak akan pernah bisa menggantikan almarhumah Mamanya. Tapi Mama sudah berusaha menjadi Mama yang baik untuknya" Claudia pun menggunakan air matanya untuk melancarkan ektingnya. Dia bersikap layaknya orang yang teraniaya.


"Mama benar Pa. Mungkin memang sebaiknya aku dan Mama pergi saja dari sini. Karena aku juga sudah lelah menghadapi sikap Tari. Padahal yang mengusir dia dari rumah ini adalah Papa. Tapi kenapa aku dan Mama yang disalahkan? Padahal kami sudah mencegah Papa saat itu.


Padahal dulu kami berdua adalah sahabat. Aku pikir setelah menjadi saudara, hubungan kami akan semakin dekat layaknya saudara pada umumnya. Tapi ternyata aku salah. Tari malah berubah setelah kami menjadi saudara. Dia jadi kasar. Bahkan dia datang kesini dan menamparku begitu saja, tanpa aku ketahui apa kesalahanku"


Moza ikut menimpali dengan memasang wajah yang tak kalah sedih dari Mamanya. Ibu dan anak itu memang sangat mahir dalam bersilat lidah.

__ADS_1


"Ma, Moza, kalian tenang dulu ya. Bukan begitu maksud Papa. Papa hanya bingung saja. Papa seperti punya feeling kalau... Tari tidak bersalah. Tapi ya sudahlah, kita tidak perlu membahas masalah ini lagi. Biarkan saja Tari hidup diluar. Supaya dia bisa belajar dari kesalahannya. Dan dia bisa memperbaiki dirinya. Kita tidak perlu terpengaruh dengan ucapannya"


Nada bicara Tristan yang sebelumnya terdengar tegas, kini mulai melunak melihat kesedihan dan air mata kedua wanita itu. Membuat Moza dan Claudia tersenyum licik.


🍁🍁🍁🍁🍁


Pasca insiden malam itu, hidup Fajar menjadi tidak tenang. Setiap hari, setiap malam bahkan setiap detik bayangan wanita itu selalu muncul dibenaknya. Perasaan bersalah senantiasa menghantuinya.


Meski hingga sekarang tidak ada satupun bayangan tentang apa yang dia lakukan pada wanita yang bisa dia ingat, namun tetap saja kenyataan tidak bisa dirubah. Keperawanan wanita itu sudah hilang ditangannya.


Rasanya hidupnya tidak akan pernah bisa tenang, sebelum dia bisa menemukan perempuan itu, dan menyampaikan permohonan maafnya. Walaupun tampaknya hal itu terlalu sulit. Masih jelas dalam ingatannya, tatapan penuh kemarahan dan kebencian yang diberikan gadis itu untuknya.


Dan itu bukanlah kesalahan gadis malang itu. Siapapun yang berada diposisnya pasti akan bersikap demikian, terhadap orang yang telah menghancurkan masa depannya. Namun dia bisa apa? Semuanya telah terjadi dan tidak bisa dirubah lagi.


Karena tidak mengenal atau mengetahui apapun tentang perempuan itu, sehingga dia merasa kesulitan untuk mencarinya, akhirnya Fajar mendatangkan seorang pelukis sketsa untuk membantunya mendapatkan sketsa atau gambar wajah perempuan itu.


Rasanya wajah wanita ini sudah tidak asing lagi baginya. Sepertinya dia sudah pernah melihatnya sebelum malam itu. Tapi dimana? Fajar mencoba berpikir dan memutar otaknya.


Dia ingat sekarang, wanita ini hampir tertabrak mobilnya dimalam setelah dia melepaskan Zahra untuk pergi bersama Rahul, yang baru dia ketahui sebagai suaminya. Entah ini hanya kebetulan semata, atau memang sudah jalannya?


Tapi wanita ini selalu muncul setiap kali dia patah hati karena Zahra. Entah permainan hidup apa yang sedang digariskan untuknya. Sehingga hidupnya harus berakhir dengan pemerkosaan yang dia lakukan terhadap gadis itu.


"Iya-iya benar. Terima kasih atas bantuanmu. Sekarang kamu bisa pergi. Nanti bayaranmu akan aku transfer kerekeningmu" Jawab Fajar sembari menerima secarik kertas berisi gambar sketsa itu.

__ADS_1


"Baik Tuan. Saya permisi"


"Kalian cari wanita ini sampai ketemu. Cari tau nama dan alamatnya secara detail. Aku ingin mendapatkan informasinya secepat mungkin" Titah Fajar seraya menyodorkan sketsa wajah wanita itu pada anak buahnya.


"Baik Tuan"


🍁🍁🍁🍁🍁


Tari berusaha keras untuk bisa melupakan peristiwa malam itu. Dia tidak ingin lagi mengingat kejadian yang sangat menyakitkan, hingga menyisakan trauma yang mendalam baginya. Dia ingin melanjutkan dan menata kembali kehidupannya yang telah hancur.


Dia hanya berharap, semoga hanya dirinya dan Tuhan saja yang tau tentang peristiwa kelam itu. Dia tidak ingin ada orang lain yang mengetahuinya termasuk Ranty sekalipun.


Selama beberapa hari, Tari berusaha menjalani kehidupannya seperti biasa. Dia bersikap seakan-akan tidak pernah terjadi apapun. Menyibukkan dirinya dengan lowongan pekerjaan, agar bisa membuatnya menghasilkan uang untuk bertahan hidup.


Setelah hampir dua minggu berjuang mengajukan lamaran kesana-kemari, akhirnya kedua sahabat itu berhasil mendapatkan pekerjaan yang lumayan untuk bekal mereka bertahan hidup sehari-hari.


Jika Ranty diterima sebagai salah seorang waitress disebuah restoran, lain halnya dengan Tari yang menjadi salah satu staf disebuah supermarket. Keduanya sangat bersyukur dan menekuni pekerjaannya dengan semangat dan gigih. Sudah dua minggu lebih mereka menekuni pekerjaannya.


"Eh, kamu sudah siap. Ayo sarapan dulu. Setelah itu kita sama-sama bertugas ditempat masing-masing" Ucap Ranty saat melihat Tari keluar dari kamar.


"Maaf ya Ran, akhir-akhir ini aku jarang membantumu. Kamu harus melakukan semuanya sendirian. Karena aku lelah sekali. Rasanya tenagaku gampang terkuras akhir-akhir ini" Kata Tari dengan perasaan bersalah. Wajah gadis itu tampak begitu pucat. Dan tubuhnya pun terlihat lemah seperti tidak bertenaga.


"Sudah tidak apa-apa. Aku tidak mempermasalahkannya kok. Meskipun...."

__ADS_1


"Meskipun?"


"Aku merasa ada yang aneh denganmu. Kamu jadi gampang kelelahan. Nafsu makanmu pun berkurang. Memangnya bekerja disupermarket seberat itu? Kalau kamu memang merasa tidak sanggup, jangan terlalu diforsir. Ingat, kesehatan itu nomor satu. Jangan sampai nanti kamu malah jatuh sakit" Ranty mencoba menasehati.


__ADS_2