Mentari Untuk Fajar

Mentari Untuk Fajar
BAB 55- Pertemuan Yang Menyakitkan


__ADS_3

"Apaan sih Ma?" Gerutu Moza dengan kesal, karena dia yakin kalau mamanya sedang menyindirnya dengan persoalan yang kemarin dia ceritakan.


"Ada apa sih ini? Kok kalian seperti sedang saling menggoda begitu?" Tristan menatap istri dan anak tirinya secara bergantian dengan bingung.


"Tidak ada apa-apa kok Pa. Kalau diberi tau, takutnya nanti Moza jadi malu lagi" Kicau Claudia yang kembali melempar senyum menggodanya pada Moza.


"Pa, aku ketoilet dulu ya"


"Iya-iya sayang" Jawab Tristan dengan lembut seraya mengangguk.


Kesal dengan kejahilan mamanya, Moza memutuskan untuk ketoilet tanpa berpamitan pada Claudia.


"Ada apa sih Ma, dengan anak itu?" Setelah Moza pergi, Tristan kembali bertanya dengan bingung. Karena dia masih belum mengerti sedikitpun, masalah apa yang dibicarakan oleh kedua wanita itu.


"Biasa Pa, anak muda. Tidak akan jauh-jauh dari masalah asmara" Claudia menjawab pertanyaan suaminya dengan senyum jahil.


"Oh" Tristan manggut-manggut mendengar penjelasan singkat istrinya. Sedikit banyak dia sudah mulai paham apa yang sebenarnya terjadi.


Sedangkan beberapa meter dari posisi mereka yang sedang bercengkrama, tampaklah Tari yang baru saja memasuki restoran itu bersama Fajar, dan sedang dituntun oleh waiter yang bertugas mengantar mereka keruangan yang telah dipesan oleh Fajar.


"Tari" Ucap Tristan lirih dengan mata yang tak berkedip. Kehadiran putrinya yang tiba-tiba saja berada didepannya membuatnya tercengang, hingga dia langsung bangkit berdiri tanpa sadar.


Bingung melihat sikap suaminya yang tiba-tiba saja aneh, Claudia pun menoleh kearah yang dipandang oleh suaminya. Dia terkejut melihat kehadiran putri sambungnya ditempat itu, hingga dia juga bangkit dari kursinya.


Tari yang masih berjalan mengikuti sang waiter semakin mendekati meja ayah dan ibu sambungnya itu. Hingga akhirnya dia menyadari kehadiran mereka, setelah pandangan mereka semua saling bertemu. Tari sedikit terkejut melihat papanya.


Mereka semua saling bertatapan dalam diam. Tristan menatap Tari dengan tatapan sendu. kilatan rasa rindu tampak dimatanya. Hati Tari kembali terasa sakit melihat kedua orang itu. Bayangan saat dirinya difitnah dan diusir dengan kejam dan kasar, kembali muncul dan menari-nari dalam ingatannya.

__ADS_1


"Mari Tuan, Nyonya" Waiter yang tidak memahami apapun yang terjadi antara tamunya itu, membuka suara melihat Fajar dan Tari yang tiba-tiba berdiri mematung.


Tari berbalik dan berniat untuk enyah dari tempat itu. Hatinya tidak siap bertemu dan harus berada satu tempat dengan keluarga, yang telah menorehkan luka dan kekecewaan yang mendalam dihatinya.


"Kamu mau kemana?" Tanya Fajar setelah menangkap dan mencekal lengan Tari yang hendak pergi.


"Aku mau pulang" Jawab Tari ketus.


"Tapi kan kita baru sampai"


"Kalau kamu ingin tetap disini, silahkan saja. Tapi aku tidak sudi berada satu tempat dengan orang yang sudah memperlakukanku seperti binatang!" Seru Tari dengan marah sebelum dia membalikkan badannya, dan berjalan keluar dari restoran itu dengan langkah lebar.


"Tapi...." Fajar yang tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencegah kepergian Tari, menatap Tristan dan Claudia sesaat sebelum dia juga ikut keluar dari restoran itu untuk menyusul istrinya.


Tristan yang berniat untuk menyusul Tari hendak melangkahkan kakinya. Namun dengan cepat Claudia sudah menahan lengannya.


"Papa harus menemui Tari Ma. Papa harus bicara dengannya. Papa tidak mau hubungan kami seperti ini terus"


"Sudah Pa, percuma. Papa tidak lihat, seperti apa sikap Tari barusan? Melihat wajah Papa saja dia tidak mau. Kalau kalian berdua sampai bertemu, Mama yakin ujung-ujungnya pasti akan terjadi keributan lagi. Sudah, biarkan Tari tenang dulu dengan suaminya. Ayo kita duduk lagi"


Claudia berkata dengan sok bijak. Padahal dia merasa cemas melihat suaminya yang mulai lemah dan bersalah atas sikapnya terhadap Tari.


Tristan menatap kearah dimana Tari berada sebelumnya. Anak itu sudah tidak terlihat lagi. Dengan sedih Tristan kembali duduk sesuai dengan perkataan istrinya. Claudia menghela nafas lega, karena berhasil mencegah suaminya untuk bertemu dengan anaknya.


Jika Tristan sampai berhasil menemui Tari lalu mereka bicara dengan baik-baik dari hati kehati, dia khawatir hubungan mereka akan kembali mencair dan membaik. Bisa-bisa hal itu akan menjadi bumerang untuk dirinya dan Moza, yang telah menjebak dan memfitnah Tari sejak awal.


Sementara itu Tari dan Fajar sudah sampai diluar restoran. Fajar masih berusaha mengejar Tari yang berjalan dengan langkah lebar saking emosinya. Hingga akhirnya dia berhasil meraih lengan istrinya. Hingga mau tidak mau wanita itu menghentikan langkahnya dan menoleh menatap suaminya.

__ADS_1


"Tunggu-tunggu. Tari, kamu kenapa sih? Tiba-tiba jadi uring-uringan seperti ini?"


"Kamu mau tau jawabannya apa? Kalau aku tau mereka juga ada disini, aku tidak akan pernah mau untuk datang ketempat ini, dan bertemu dengan mereka!" Seru Tari dengan berapi-api sambil menunjuk-nunjuk kedalam.


"Aku tau kamu ada masalah dengan keluargamu, tapi mau sampai kapan kamu seperti ini terus? Menyimpan dendam dan amarah. Biar bagaimanapun juga mereka adalah orang tuamu. Apa kamu tidak ingin berdamai dan memperbaiki hubunganmu dengan mereka?" Fajar mencoba menasehati dengan suara lembut dan bijaknya.


"Kamu tidak tau apapun tentang masalahku dan keluargaku! Jadi berhentilah untuk bersikap sok tau! Sama seperti kamu yang tidak suka aku mencampuri urusanmu dengan wanita-wanita itu!"


Fajar terdiam mendengar perkataan istrinya yang sedang emosi. Hatinya serasa tertampar. Entah kenapa dia merasa sakit hati, saat istrinya sendiri tidak ingin berbagi masalah dengannya. Dia pikir hubungan mereka sudah mulai ada kemajuan.


Apakah memang ini salahnya juga, yang masih belum bisa berbagi cerita dengan wanita itu? Bahkan dia sendiri tidak terima, wanita itu mencampuri masalah masa lalunya.


Fajar menarik nafas panjang dan berkata dengan lirih. "Baiklah, kita pulang sekarang"


🍁🍁🍁🍁🍁


Fajar melajukan mobilnya selama kurang lebih 25 menit, hingga akhirnya dia berhenti ditepi pantai yang sunyi. Tari memandangi gulungan ombak yang saling berkejaran dilautan lepas sana melalui kaca mobil.


"Kamu.... Kenapa mengajakku kesini? Kenapa kita tidak pulang?" Tari menatap Fajar dan bertanya dengan bingung.


"Ayo turun" Bukannya menjawab pertanyaannya, Fajar malah membuka pintu mobil. Melihat suaminya keluar dari mobil, Tari pun mengikutinya dengan ikut keluar juga.


"Kenapa sih kamu mengajakku kesini? Kan aku sudah bilang, aku ingin pulang"


"Kamu ingin pulang dalam keadaan emosi seperti ini? Bagaimana tanggapan orang-orang dirumah nanti? Bisa-bisa mereka semua akan berasumsi kalau kita habis bertengkar, dan aku habis menyakitimu"


Tari terdiam dan termenung sejenak mendengar penjelasan suaminya, sebelum dia kembali bertanya. "Lalu kita mau apa kesini?"

__ADS_1


"Coba deh kamu perhatikan. Tempat ini suasananya sangat nyaman, damai dan tenang. Kamu bisa meluapkan segala perasaan marah dan emosimu disini. Aku jamin, setelah itu perasaanmu pasti akan sedikit lega dan membaik"


__ADS_2