
"Kan nanti kita bisa bertemu dirumah. Mungkin dia merindukan papanya, makanya sampai menendang"
"Hanya dia saja yang merindukan papanya? Ibunya tidak?"
"Maksudmu?"
"Aku juga sangat merindukanmu dan anak kita. Sampai jumpa nanti" Ucap Fajar dengan nada lirih dan tatapan yang sangat mendalam, sebelum panggilan video itu ditutup.
Menyisakan Tari yang menatap ponselnya dengan tercengang. Mencoba mencerna ucapan suaminya yang membuatnya terenyuh, dan seakan terbang melayang. Apa dia tidak salah dengar? Lelaki merindukannya? Hatinya serasa berbunga-bunga!
Gerald yang sedari tadi berdiri menguping percakapan mereka, seakan merasa panas melihat kemesraan yang ditampakkan oleh sepasang suami istri itu melalui ponsel. Entah kenapa dia merasa emosi melihat pemandangan itu. Ternyata pasangan yang menikah karena jebakannya dulu, kini sudah bahagia dengan pernikahan itu.
Tapi, kenapa sekarang malah dia yang merasa seperti kebakaran jenggot? Apalagi saat mendengar Tari menyebut bayi dalam kandungannya sebagai anak Fajar. Padahalkan itu adalah anaknya! Karena dialah yang pada malam itu melecehkan wanita itu. Bukan Fajar!
Gerald yang sedang termenung dengan emosinya yang naik turun, tidak menyadari saat Tari bangkit dari kursinya dan berjalan dengan sumringahnya memikirkan Fajar. Sehingga perempuan itu juga tidak menyadari keberadaan Gerald yang sedari tadi berdiri diruangan itu, dengan posisi yang tak terlalu jauh dari kursi mejanya.
Saat posisi Tari sudah hampir dekat dengan Gerald, pria itu berbalik tanpa menyadari kehadiran Tari yang berjalan dibelakangnya. Spontan keduanya pun bertabrakan hingga Tari kehilangan keseimbangan, dan tubuhnya terpelanting kebelakang.
"Aauw!" Sebelum Tari terjatuh menghantam lantai dengan keras, Gerald sudah lebih dulu menangkap tangan dan merangkul bahunya. Sehingga tubuh Tari berada dalam pelukan lelaki itu.
Keduanya saling bertatapan dalam diam.
Dengan perasaan yang masih dibalut kekesalan, Gerald menatap Tari dalam-dalam. Menatap wajah cantik yang tampak sangat menarik dimatanya. Jantung Gerald terasa berdegup kencang.
__ADS_1
Kenapa baru sekarang dia menyadari betapa cantiknya wanita ini? Padahal dia sudah pernah menjamah tubuh wanita ini, dan merenggut keperawanannya.
Apa karena saat itu dia sedang dikuasai oleh amarah dan nafsu yang sedang naik diubun-ubun? Tapi sekarang, kenapa rasanya berbeda?
Dia beralih pada bibir seksi Tari. Bibir ranum dan menggoda yang pernah dicicipinya. Dan dia masih mengingat rasanya dengan jelas hingga saat ini. Bibir itu seperti memiliki magnet yang menarik Gerald untuk mendekat. Darahnya terasa berdesir.
Tari terbelalak terkejut melihat wajah pria itu yang semakin mendekati wajahnya. Adegan itu mulai membuatnya risih dan takut. Sehingga dia langsung melepaskan dirinya dari pelukan pria itu.
"Mmm.... Maaf Pak, terima kasih sudah menolong saya" Ucap Tari dengan jengah dan sedikit gemetar.
Dia menatap kesekelilingnya, semua karyawan yang berada diruangan itu menatap mereka dengan terperangah. Bahkan ada yang berbisik-bisik.
Tari hanya berharap semoga insiden ini tidak sampai menjadi bahan gosip atau cibiran untuknya nanti. Apalagi dia seorang wanita bersuami, dan sedang hamil. Ditambah lagi statusnya diperusahaan itu yang hanya seorang karyawan magang.
"Iya Pak, saya minta maaf" Jawab Tari dengan wajah menunduk.
"Oh ya, tadi saya sempat melihat kamu sedang berbicara melalui video call. Bukankah ini masih jam kerja? Apa kamu tidak mengerti peraturan diperusahaan ini? Jangan mentang-mentang karena kamu karyawan magang dan kamu juga sedang hamil, jadi kamu berpikir kalau kamu akan mendapatkan perlakuan khusus disini. Bagi saya, semua karyawan sama saja. Tidak ada yang diistimewakan"
"Saya minta maaf Pak. Tadi saya bicara dengan Fajar, suami saya, adik Bapak" Ucap Tari menekankan.
"Saya tidak peduli kamu mau bicara dengan siapa. Termasuk dengan Fajar sekalipun. Saya rasa adik tiri saya itu sudah cerita semuanya padamu, bagaimana hubungan kami dengannya? Kan kamu istrinya? Jadi jangan sampai karena hal itu kamu jadi berpikir, akan mendapat perlakuan istimewa disini. Karena bagi saya dan keluarga, Fajar itu bukan siapa-siapa dalam hidup kami" Gerald menekankan dengan teganya.
Membuat Tari tercengang. Ternyata semua cerita Fajar benar adanya. Dia memang tidak pernah dianggap oleh keluarganya sendiri. Kasian sekali suaminya, harus memiliki keluarga yang arogan dan tidak berperasaan seperti mereka.
__ADS_1
Tari menghela nafas berat dan berkata sambil tersenyum menahan kesal. "Iya Pak, Fajar sudah menceritakan semuanya pada saya. Dan saya tidak pernah ingin ikut campur dalam permasalahan keluarga kalian. Dan Bapak juga tidak perlu khawatir, saya tidak akan pernah menjadikan status saya sebagai istrinya Fajar, ataupun kondisi saya yang sedang hamil untuk menuntut perlakuan istimewa dikantor ini. Karena saya bukan tipe orang yang suka menjilat. Saya lebih suka diistimewakan karena kemampuan saya, bukan karena status ataupun keadaan saya. Jadi saya pasti akan bersikap profesional" Tari menekankan dengan tegas.
"Bagus kalau begitu. Saya pegang ucapan kamu" Ucap Gerald sebelum berjalan meninggalkan wanita itu dengan angkuhnya.
Membuat Tari kembali menghela nafas berat dan mengelus-elus dadanya. Berusaha sabar agar tidak terpancing emosi menghadapi atasannya yang arogan itu. Bagaimanapun juga sekarang dia sedang mengandung.
Kata orang, bila kita marah besar pada seseorang dalam keadaan hamil, maka anak kita nanti akan mirip dengan orang itu. Jangan sampai nanti anaknya malah jadi mirip dengan lelaki angkuh itu! Dia hanya ingin anaknya mirip dengan suaminya.
Dia heran, kenapa suaminya bisa memiliki saudara seperti itu. Padahal jelas-jelas mereka sangat berbeda. Seperti bumi dan langit. Mungkin karena beda ibu?
Tari memegang perut besarnya. Untung saja lelaki itu bukan suaminya, maupun ayah dari bayi yang dikandungnya. Untung saja bayi ini hadir karena kekhilafan Fajar malam itu. Tidak terbayang bagaimana hidupnya, seandainya memiliki hubungan dengan pria arogan dan kasar seperti itu. Tari bergidik ngeri.
🍁🍁🍁🍁🍁
Gerald kembali ke ruangannya dengan perasaan tak menentu. Entah kenapa Tari dan bayi dalam kandungannya terus membuat emosinya naik turun! Ada apa dengannya?! Entah kenapa dia merasa semakin membenci Fajar yang mengaku, dan menyebut dirinya sebagai ayah dari bayinya?!
Padahal dia sendiri yang sudah membuat skenario itu. Karena dia ingin membuat Fajar dan Tari menderita dalam ikatan pernikahan yang terjadi karena paksaan. Dan dia juga tidak pernah menganggap anak itu sebagai darah dagingnya. Apalagi dia juga belum siap untuk punya anak.
Tapi sekarang, melihat mereka bahagia dengan kehadiran bayi itu diperut Tari, kenapa dia merasa tidak rela?! Arrgghhh!!! Sebenarnya apa yang terjadi padanya?!! Gerald menggebrak mejanya dengan gusar.
🍁🍁🍁🍁🍁
Tari sedang sibuk mengerjakan laporan tentang strategi pemasaran dan penjualan produk yang akan diluncurkan bulan ini, saat ponselnya berdering. Dia meraih ponsel yang terletak diatas meja didepannya.
__ADS_1
Senyum sumringah langsung terpancar diwajahnya, saat melihat nama suaminya tertera pada layar ponsel. Hingga dia langsung mengangkatnya tanpa ragu.