
Iya dia ingat. Semalam dia menawarkan diri untuk mengantar Tari. Lalu saat didalam mobil hasratnya terhada wanita itu bangkit, hingga dia ingin mencumbu dan menjamah tubuh adik iparnya itu. Namun naas, tiba-tiba saja sebuah truk besar melaju didepan mobilnya. Dan kecelakaan pun terjadi.
"Iya Oma, aku ingat" Dengan terkejutnya Gerald bangkit dari posisinya yang sedang berbaring. Ekspresinya tampak sangat panik.
"Lho, kamu mau kemana? Kamu kan baru saja siuman. Kamu belum boleh bangun dulu. Harus istirahat" Tegur Oma Violet yang langsung memegang lengan Gerald dan melarangnya untuk bangun.
"Oma, Mama, aku ingat, semalam aku sedang bersama Tari saat kecelakaan itu terjadi. Dia dimana sekarang? Bagaimana keadaannya? Dia dan kandungannya baik-baik saja kan?" Tanya Gerald menatap Oma dan mamanya secara bergantian.
Mengingat saat itu dia sedang bersama Tari, dan wanita itu juga ikut menjadi korban dalam kecelakaan yang menimpanya, membuatnya tidak bisa tenang dan sangat gelisah. Biar bagaimanapun juga, perempuan itu sedang mengandung anaknya. Bagaimana jika sampai terjadi sesuatu padanya maupun bayinya?
"Astaga Gerald, ngapain kamu memikirkan perempuan yang tidak penting itu? Mau dia kenapa-kenapa juga itu bukan urusanmu" Oma Violet mengomel dengan kesalnya mendengar Gerald menyebut nama istri dari cucu yang dibencinya.
"Iya sayang, untuk apa kamu memikirkan perempuan pembawa sial itu? Kamu jadi seperti ini juga kan gara-gara dia" Astrid menimpali.
"Kok Mama jadi menyalahkan dia? Inikan kecelakaan" Tanya Gerald yang tidak mengerti isi pikiran mamanya.
"Mamamu itu benar Gerald. Perempuan itu memang pembawa sial. Buktinya kamu sampai celaka seperti ini, gara-gara bersama dia. Dasar perempuan tidak benar. Sama saja dengan suami dan mertuanya. Sama-sama Oma benci. Dulu ibu mertuanya membuat papamu celaka sampai meninggal. Sekarang menantunya yang membuatmu celaka. Untung saja kamu tidak kenapa-kenapa" Oma Violet mengomel tak karuan dengan menggebu-gebu.
"Oma sudah. Aku mengerti kemarahan dan kebencian Oma terhadap ibunya Fajar. Tapikan semua itu tidak ada hubungannya dengan istrinya Fajar. Apalagi sekarang dia sedang hamil" Gerald mencoba menenangkan Omanya dengan suara lembut.
"Lalu kenapa kalau dia sedang hamil? Urusannya denganmu apa? Kan yang dia kandung itu juga bukan anakmu. Jadi untuk apa kamu peduli?" Kecam Oma Violet dengan tajam.
"Iya, apalagi Mama juga curiga, jangan-jangan kehamilan itu sudah terjadi sebelum mereka menikah. Membayangkan hal itu membuat Mama jadi semakin ilfil dan jijik pada pasangan itu" Astrid menimpali dengan nyinyir. Dan seperti biasa, Oma Violet selalu sependapat dengan menantunya kesayangannya itu.
__ADS_1
Gerald terdiam dengan perasaan was-was. Dia tidak berani lagi menjawab karena takut bisa keceplosan tentang Tari dan bayinya.
Sebenarnya apa yang dipikirkan oleh mama dan Omanya tidak seratus persen salah. Kehamilan Tari memang sudah terjadi sebelum mereka menikah. Namun bukan oleh Fajar, melainkan oleh dirinya yang telah meruda paksa wanita itu tanpa sepengetahuannya.
Andai Mama dan Omanya tau bahwa dialah ayah dari bayi yang dikandung oleh Tari, apa mereka akan tetap bersikap cuek dan acuh terhadap bayi itu? Tapi bukankah sejak awal Mama dan Omanya memang tidak pernah menyukai Tari, dan hubungan mereka memang sudah memanas sejak insiden pertemuan pertama mereka saat dihotel dulu?
Ditambah lagi setelah perempuan itu menjadi istrinya Fajar. Mama dan Oma semakin muak terhadap Tari. Jadi kalaupun mereka tau, apakah nantinya mereka juga akan memperlakukan anaknya seperti mereka memperlakukan Fajar selama ini? Mengasingkan dan tidak mengakuinya sebagai anggota keluarga?
Arrgghhh!! Kenapa dia merasa begitu gelisah memikirkan masalah ini? Dia ingin Mama dan Omanya menerima dan mengakui anaknya sebagai cucu dan cicit mereka? Kenapa baru sekarang dia merasakan hal seperti ini?
Padahal dulu dia masa bodo dan tidak mau tau apapun yang berhubungan dengan bayi itu. Tapi makin kesini, dia semakin merasa sayang terhadap anaknya. Apalagi setiap kali merasakan kehadirannya diperut Tari yang membuncit.
🍁🍁🍁🍁🍁
Sebenarnya Bu Zaitun sudah menawarkan untuk menjaga Nyonya majikannya itu, namun Fajar tetap menolaknya. Bahkan dia menyuruh wanita itu untuk pulang dari setengah jam yang lalu.
Semua dilakukannya bukan karena dia tidak percaya bahwa Bu Zaitun bisa menjaga istrinya dengan baik, namun sebagai seorang suami, dia merasa ini adalah tanggung jawabnya, minimal hingga keadaan Tari sedikit membaik dan membuatnya sedikit tenang untuk meninggalkannya bekerja.
Jam menunjukkan pukul 7.38 WIB. Saat ini Fajar sedang menyuapi Tari makan dengan lembut dan telaten.
"Sudah cukup" Tanya Fajar saat Tari yang sedari tadi makan dengan lahap, kini menolak suapannya. Tari mengangguk.
"Yakin sudah kenyang"
__ADS_1
Tari kembali mengangguk. "He em. Aku sudah tidak kuat lagi" Jawabnya dengan sikap manja.
"Oh, ya sudah kalau begitu" Fajar meletakkan kembali mangkuk berisi bubur itu diatas nakas. Tiba-tiba dia termenung dengan ekspresi yang tampak murung. Hal terbesar yang dipikirkannya adalah Gerald.
Bagaimana istrinya bisa bersama dengan pria itu dalam satu mobil, hingga terjadinya kecelakaan itu? Jujur dia sangat ingin mempertanyakan hal ini pada Tari, agar masalah ini tidak semakin mengganjal dihatinya.
Tidak munafik, perasaan cemburu mengetahui istrinya bersama lelaki lain sangat terasa mengganggunya. Tapi, tepatkah dia menanyakan hal itu sekarang? Dan harus darimana dia memulai untuk bicara?
Tari yang menyadari ekspresi kegelisahan diwajah suaminya, menatap Fajar dengan lembut dan intens.
"Kenapa? Kok wajahmu terlihat murung seperti itu? Seperti sedang banyak pikiran. Kamu sedang ada masalah? Atau kamu ingin mengatakan sesuatu? Katakan saja"
"Ini soal..... Gerald. Kakak tiriku" Jawab Fajar dengan ragu dan menatap Tari dengan tatapan menilai.
"Oh iya, aku lupa. Saat kecelakaan itu terjadi kan, aku sedang bersama pak Gerald. Bagaimana keadaannya sekarang?" Tari sedikit terkejut mendengar nama Gerald disebut-sebut. Dia kembali teringat pada insiden kecelakaan semalam yang membuatnya harus diopname ditempat ini.
Terlalu terbuai dengan kehadiran, cinta dan perhatian suami tercintanya, dia sampai lupa pada atasannya yang juga ikut menjadi korban bersamanya pada saat musibah itu terjadi.
"Pak Gerald? Kamu memanggilnya pak? Memangnya kamu ada hubungan apa dengannya?" Fajar menatap Tari dengan penuh kebingungan.
"Mmm.... Sebenarnya, dia adalah pemilik perusahaan tempat aku magang" Jawab Tari dengan ragu dan wajah menunduk.
"Apa? Jadi selama ini kamu magang diperusahaan milik kakakku, Gerald? Dan kamu tidak pernah cerita padaku tentang semua ini?" Fajar terkejut dan kecewa mendengar pengakuan istrinya. Sedikit banyak dia merasa telah dibohongi oleh istrinya, lantaran tidak mengatakan hal ini sejak awal.
__ADS_1
Perkataan dan ekspresi kecewa suaminya seketika membuat Tari gelagapan dan merasa bersalah.