
"Astaga Gerald, seharusnya aku yang bertanya, ngapain kamu disini? Habis kamu apakan wanita malang itu? Kamu habis bersenang-senang dengannya, hingga dia tertidur? Kalian habiskan berapa ronde? Ya Tuhan..... Aku tidak habis pikir, kenapa aku bisa memiliki kakak tiri sepertimu.
Sudah berapa banyak wanita yang kamu tiduri? Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Oma, jika dia sampai melihat kelakuan cucu kesayangannya ini. Aku rasa wanita tua itu akan langsung terkena serangan jantung. Atau bisa jadi.... Tensi darahnya yang akan kambuh. Hahahaha"
Fajar kembali meracau. Meledek dan menertawakan Gerald habis-habisan. Terlalu banyak minum membuatnya mabuk berat, hingga dia terus bicara tanpa dipikir.
Membuat Gerald muak dan murka hingga tangannya mengepal, mendengar ocehan dan tawa penuh ejekan yang dilontarkan oleh adik tiri yang sangat dibencinya itu.
BUGGHH!!
Dengan rahang mengeras dan tatapan penuh kebencian, Gerald melayangkan kepalan tangannya kewajah Fajar dengan kuat. Membuat lelaki itu jatuh terpelanting hingga pingsan.
"Dasar tidak berguna! Kamu pikir aku juga sudi, memiliki adik tiri sepertimu?! Adik dari wanita yang telah menghancurkan rumah tangga orang tuaku?! Cih!" Rutuk Gerald dengan benci menatap adiknya yang tergeletak diatas paving blok.
Dia kembali menatap Tari yang masih belum sadarkan diri didalam mobilnya, setelah mengalami pelecehan seksual olehnya. Gerald tau jika saat ini Fajar sedang mabuk berat, karena dia bisa mencium bau minuman keras yang berasal dari mulut lelaki itu. Tentunya dia tidak akan menyadari, ataupun mengingat apapun yang terjadi saat ini.
Begitu pula dengan wanita ****** itu, yang belum sempat melihat wajahnya sebagai orang yang telah meruda paksanya. Gerald menatap dua orang yang baru saja menjadi korban kebrutalannya itu secara bergantian. Dia tampak berpikir selama beberapa saat. Sebuah gagasan licik muncul dikepalanya.
"Mungkin inilah yang dikatakan dengan.... sekali tepuk, dua nyamuk mati. Sebenarnya ini bukan salahku. Tapi kamu sendiri yang datang kekandang serigala. Jadi sekarang rasakan sendiri akibatnya" Gerald berkata dengan liciknya. Dia mengambil ponselnya dan menghubungi anak buahnya, yang sedang bertugas sesuai dengan perintahnya.
"Yang lain tetap jaga disana. Dua orang datang kemari. Saya butuh bantuan kalian" Gerald menutup panggilan suara itu.
"Aku tidak pernah menyangka, kalau ini akan jauh lebih menyenangkan dari yang aku bayangkan dan rencanakan sebelumnya. Terima kasih banyak Fajar, adikku sayang. Karena kamu sudah datang kesini dan membantuku"
__ADS_1
Gerald kembali berbicara pada Fajar yang masih pingsan, sehingga tidak mungkin bisa mendengar ataupun merespon setiap perkataan yang dilontarkannya.
🍁🍁🍁🍁🍁
Gerald membopong tubuh Tari. Sedangkan kedua anak buahnya mengangkat tubuh Fajar. Mereka bersama-sama membawa dan memasukkan kedua orang yang masih dalam keadaan pingsan itu kedalam mobil Fajar. Gerald melucuti pakaian Fajar.
Dia menatap kedua orang yang terbaring dalam satu mobil itu, dengan senyum menyeringai licik. Sejak dulu dia sangat membenci Fajar. Dan dia sangat ingin menghancurkan hidup pria itu. Membalaskan dendamnya pada wanita pelakor, yang telah menghancurkan rumah tangga orang tuanya. Membuatnya jauh dari ayahnya sejak kecil!
Namun sayang, keinginannya tidak pernah terlaksana sedari dulu. Karena Fajar terlalu lihai dan cerdik untuk dihancurkan. Namun malam ini, entah apa mimpinya semalam.
Tanpa dia rencanakan, pria itu malah datang sendiri padanya dalam keadaan mabuk berat. Sama seperti dirinya yang habis minum beberapa gelas, saat menunggu Moza membawa wanita sialan itu padanya.
Dengan perasaan puas, Gerald memerintahkan semua anak buahnya untuk meninggalkan tempat itu, tanpa meninggalkan jejak sedikitpun. Beberapa menit setelah kepergian kakak tirinya, Fajar mulai tersadar dari pingsannya.
Dia menatap kesekelilingnya. Ternyata dia sedang berada dalam mobilnya. Tapi, bagaimana dia bisa berada disini? Siapa yang membawanya? Apa mungkin tanpa sadar, dia berjalan masuk sendiri kesini? Ahhkk. Sepertinya efek terlalu banyak minum membuatnya tidak ingat.
Tiba-tiba Fajar tertegun, saat tatapannya menangkap sosok seorang wanita yang terbaring tak sadarkan diri diatas jok mobil didepannya. Yang membuatnya sangat terkejut adalah melihat pakaian wanita itu yang terbuka, hingga bagian sensitifnya menyembul dan terlihat jelas olehnya.
Wanita itu terasa sangat asing baginya. Fajar kembali memandangi kesekelilingnya. Memastikan apakah itu benar-benar mobilnya atau bukan. Apa jangan-jangan dia salah masuk mobil saking mabuknya?
Tapi tidak, ini memang benar-benar kendaraan miliknya. Lalu wanita ini? Siapa dia? Kenapa bisa berada dalam mobilnya dengan pakaian seperti ini? Fajar kembali memindai tubuh wanita itu dengan seksama.
"Astaga! Apa yang terjadi? Ke-kenapa dia...?" Fajar bermonolog dengan shock saat melihat ada darah pada bagian tubuh wanita itu. Sebenarnya apa yang sudah terjadi padanya dan gadis itu?!
__ADS_1
Apakah dia sudah memperkosa gadis itu dan merenggut keperawanannya?! Tapi tidak! Itu tidak mungkin!! Fajar kembali memegang kepalanya yang terasa sakit, saat dia berusaha mengingat apa sudah terjadi padanya, hingga dia bisa berakhir dengan wanita ini dalam satu mobil.
Namun tetap saja, tidak ada satupun bayangan tentang wanita ini yang muncul dibenaknya. Yang dia ingat hanyalah apa yang terjadi di Jakarta, hingga membuatnya stress dan frustasi. Lalu dia memutuskan kembali ke Magelang dan minum-minum dicafe ini.
Lalu perempuan ini? Kapan dia bertemu dengannya?! Fajar mulai panik. Berbagai macam pertanyaan dan pikiran negatif mulai berkecamuk dikepalanya.
"Nona. Nona bangun. Nona, tolong bangun Nona" Fajar mencoba membangunkan perempuan itu dengan menggerak-gerakkan tubuhnya secara lembut.
Dia berharap perempuan itu bisa memberinya penjelasan yang dia inginkan. Penjelasan yang akan memusnahkan segala kegelisahan dan prasangka buruk terhadap dirinya sendiri. Sekalipun dia sendiri kurang yakin akan hal itu.
Kepala Tari mulai bergerak. Pertanda bahwa gadis itu mulai tersadar. Dia mengerjab-ngerjabkan matanya dan memegang kepalanya yang terasa pusing. Sembari meringis dia melihat kesekitarnya. Ternyata dia sedang berada dalam mobil.
Tapi mobil siapa ini? Mengapa dia bisa berada disini? Tari mencoba mengumpulkan ingatannya. Seingatnya dia sedang bersama Moza diparkiran. Lalu tiba-tiba saja ada seseorang yang menutup matanya dari belakang dan....!!!
Tari tersentak hingga dia terduduk dari posisi awalnya yang berbaring. Dia menatap pria didepannya dengan gemetar ketakutan.
"Kamu! Jadi kamu orangnya?! Kamu pria brengs*k itu?!" Seru Tari sembari membenahi pakaiannya yang terbuka dan awut-awutan dengan tangan gemetar. Matanya tampak memerah dan berkaca-kaca.
Perasaan shock, sedih, marah dan benci menjadi satu. Dia shock dan sedih mengetahui kenyataan jika kesuciannya sudah hilang oleh pria yang bukan suaminya! Dia marah dan benci melihat pria dihadapannya, yang dia yakini sebagai orang yang harus bertanggung jawab atas hancurnya kehormatannya.
"Nona, sa-saya benar-benar tidak tau apa yang terjadi. Ini...." Fajar bingung harus memberi penjelasan apa. Karena dia sendiri saja tidak bisa ingat apa yang sudah dia lakukan!
Tari tidak ingin mendengar penjelasan Fajar yang menurutnya sama sekali tidak penting. Usai membenahi pakaiannya, dia langsung berlari keluar dari mobil itu.
__ADS_1