Mentari Untuk Fajar

Mentari Untuk Fajar
BAB 54- Acara Makan Malam


__ADS_3

Tari tersenyum sumringah membaca surat yang ternyata dari Fajar. Dia kembali menatap paper bag didepannya. Dengan hati berdebar-debar dia meraih paper bag itu, lalu mengeluarkan isinya.


Sepasang mata indah Tari terbelalak takjub, melihat of the shoulder dress berwarna putih yang elegan dengan tekstur dan motif bordirannya. Dress yang sangat indah. Senyum lebar merekah diwajahnya.


Sebenarnya bukan karena dress itu. Melainkan karena kejutan yang tidak pernah disangkanya, akan dia dapatkan dari suaminya. Entah kenapa dia merasa jika sikap lelaki itu terhadapnya mulai tampak romantis, dengan memberinya hadiah dress ini, dan mengajaknya makan malam!


Ditambah lagi, lelaki itu tau tentang ulang tahunnya saat ini. Entah darimana Fajar mengetahuinya. Dia sama sekali tidak peduli. Yang jelas hal itu membuatnya seakan terbang. Mungkinkah ini akan menjadi awal yang baik bagi hubungannya dengan suaminya itu?!


🍁🍁🍁🍁🍁


Fajar sedang berdiri didepan kamar Tari. Dia tampak dengan sabar menunggu istrinya yang sedang didandani oleh Bu Zaitun didalam sana.


"Tuan" Setelah sekitar 30 menit menunggu, akhirnya terdengar suara lembut Bu Zaitun menegurnya. Spontan dia langsung berbalik.


Seketika Fajar dibuat terperangah oleh istrinya, yang tampak sangat cantik dengan dress pemberiannya yang menempel ditubuhnya. Rambutnya ditata dengan gaya updo, dengan headpiece floral berwarna silver yang memberikan kesan glamor. Make upnya pun tampak natural dan tidak berlebihan.


Ditambah lagi dengan seulas senyum manis yang terukir diwajahnya, membuat kecantikannya semakin nampak sempurna. Mata Fajar tak mampu berkedip. Pesona perempuan itu seakan-akan telah menghipnotisnya.


Dan nampaknya bukan hanya Fajar saja yang terkesima dengan kecantikan Tari. Wanita itu sendiri menatap suaminya dengan tatapan terpesona. Pria itu semakin terlihat tampan dengan setelan jas berwarna hitam, yang membuat penampilannya tampak rapi, gagah dan sempurna.


Tatapan mereka saling bertemu dan bertaut. Keduanya menatap dalam diam, dengan tatapan saling mengagumi satu sama lain.


"Tuan" Bu Zaitun kembali menegur Fajar, melihat gelagat aneh yang sedang ditampakkan oleh tuannya itu.


Namun Fajar yang masih terlena dengan pesona istrinya menjadi tidak fokus pada sekitarnya. Sehingga suara Bu Zaitun hanya seperti angin lalu saja.


"Tuan Fajar?" Merasa tak ada tanggapan, Bu Zaitun kembali memanggil dengan sedikit takut dan lebih mendekat. Kali ini suaranya mampu membuat Fajar tersentak, hingga dia langsung melepas kontak mata dengan istrinya.


"Iya" Ucap Fajar yang tampak gugup dan salah tingkah.

__ADS_1


"Tuan. Tuan baik-baik saja?" Bu Zaitun bertanya memastikan.


"Mmm, iy-iya. A-aku baik-baik saja" Jawab Fajar yang masih belum bisa mengatasi rasa gugupnya.


"Lalu kenapa Tuan sampai terperangah seperti itu? Apa Nyonya Tari sangat cantik, sehingga Tuan terpesona?" Bu Zaitun tersenyum menggoda. Membuat Fajar semakin salah tingkah. Sedangkan Tari hanya tersenyum kecil melihat tingkah kedua orang itu.


"Ibu bicara apasih?" Tegur Fajar yang merasa malu dengan gurauan wanita paruh baya itu.


"Sudahlah Tuan, tidak usah malu-malu. Kan sekarang Nyonya Tari sudah menjadi istrinya Tuan. Jadi tidak masalah, terpesona pada istri sendiri. Itu sah-sah saja" Bu Zaitun masih belum puas menggoda Fajar. Membuat Tari ikut tersipu malu.


"Ibu sudah cukup" Fajar yang mulai kesal menatap Bu Zaitun lekat-lekat. Membuat perempuan itu langsung mengatupkan mulutnya dengan rapat. Namun senyum jahil masih belum lenyap dari wajahnya.


"Ya sudah kalau begitu, hati-hati ya Tuan, Nyonya. Permisi" Bu Zaitun pun berlalu dari hadapan kedua majikannya yang masih bersikap malu-malu kucing itu.


Meninggalkan Fajar dan Tari dengan perasaan canggung dan kaku. Mereka tampak saling bingung harus bersikap seperti apa, saat kini hanya tinggal berdua saja. Fajar kembali curi-curi pandang menatap kecantikan Tari yang membuatnya kembali termangu.


"Kenapa? Apa ada yang salah dengan penampilanku?" Tari bertanya dengan grogi sambil meraba dan melihat tubuhnya sendiri yang terus dipandangi oleh lelaki itu.


"Ayo berangkat" Ajak Fajar dengan kikuk.


"Iya" Tari menurut. Dia melangkahkan kakinya beriringan dengan suaminya.


"Aauw" Tiba-tiba saja kaki Tari tersandung, hingga dia kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh.


Namun sebelum hal itu terjadi, Fajar sudah lebih dulu menangkap tubuhnya. Sehingga Tari terjatuh dalam pelukannya. Dalam posisi seperti itu, tatapan mereka kembali bertemu dan saling terkunci.


Jantung Tari kembali berdegup dengan cepat, saat tangan pria itu berada dipundaknya. Seperti ada sengatan listrik yang menjalar keseluruh tubuhnya.


Fajar menatap istrinya dengan pandangan berkabut. Tatapan mata indah itu terasa begitu teduh, dan memberikan kenyamanan yang tiada tara dihatinya. Entah perasaan apa yang sedang dirasakannya. Fajar masih belum bisa menafsirkannya.

__ADS_1


Fajar menggelengkan kepalanya saat dia kembali tersadar akan dunia nyata. Perlahan-lahan dia melepaskan tubuh Tari yang berada dalam pelukannya.


"Tidak apa-apa?" Tanya Fajar sambil memalingkan wajahnya. Insiden barusan membuatnya semakin merasa gugup dan kikuk.


"Iy-iya" Tari pun sama kikuknya, sehingga dia juga begitu malu menatap suaminya. Dia takut Fajar akan menyadari perasaan yang sudah dia simpan untuknya selama ini.


"Makanya hati-hati. Ayo" Fajar menyodorkan lengannya. Tari menatapnya dengan bingung. Dia tidak mengerti maksud lelaki itu.


"Supaya tidak jatuh lagi" Fajar menjelaskan dengan singkat.


Sudah merasa mengerti maksud suaminya, Tari pun menautkan lengannya pada lengan suaminya dengan malu. Fajar pun membimbing istrinya berjalan keluar dari rumah itu.


🍁🍁🍁🍁🍁


Mobil yang dikendarai Fajar tiba disebuah restoran mewah dan elit. Fajar turun terlebih dulu, lalu membukakan pintu untuk istrinya. Seorang waitress tampak berdiri didepan pintu masuk menyambut kedatangan mereka sedari tadi. Tampaknya Fajar sudah membuat reservasi untuk acara makan malam mereka berdua ditempat itu.


"Silahkan Tuan, Nyonya" Pria berpakaian seragam hitam putih itu membungkukkan badannya sebagai tanda hormat, dan mempersilahkan mereka untuk masuk kedalam.


"Terima kasih" Ucap Fajar dengan seulas senyuman. Dia menoleh pada Tari yang berdiri disampingnya, dan kembali menyodorkan lengannya pada istrinya itu.


Tari yang masih belum terbiasa dengan perlakuan romantis dari suaminya, merasa grogi dan kikuk. Dia mengapit lengan Fajar dengan wajah memerah karena malu. Keduanya berjalan masuk kedalam restoran.


🍁🍁🍁🍁🍁


Disalah satu meja yang berada dalam restoran, Tristan tampak sedang asik menyantap makan malamnya bersama Claudia dan Moza sembari bercengkrama ria.


"Oh ya Moza, bagaimana dengan magangmu? Lancar? Apa kamu betah, dengan kegiatan magangmu saat ini?" Tanya Tristan sambil menikam makanan dalam piringnya dengan garpu, lalu menyantap dan mengunyahnya.


"Lancar kok Pa. Aku betah sekali" Moza menjawab dengan antusiasnya. Senyum lebar merekah diwajahnya.

__ADS_1


"Bukan hanya betah. Tapi juga sangat senang dan bahagia. Iya kan sayang?" Claudia menimpali sembari melempar senyum menggoda pada putrinya.


__ADS_2