
"Aduh, apasih? Jahil banget. Pakai acara tutup-tutup mata segala. Lepasin. Kamu pikir aku tidak tau kalau ini kamu?" Seru Tari mengomel dengan santai, lantaran dia tau bahwa orang iseng yang sedang menutup matanya saat ini adalah suaminya. Karena dia tau tidak mungkin ada pelayan dirumah itu, yang berani berbuat jahil terhadapnya selain Fajar.
"Kok kamu bisa tau, kalau ini aku? Padahal aku ingin memberi kejutan" Gerutu Fajar kecewa setelah melepaskan mata istrinya.
"Kejutan yang sangat tidak romantis. Tapi norak" Ledek Tari yang kembali meneruskan aktivitas memasaknya. "Oh ya, tumben jam segini sudah pulang?" Tanyanya tanpa menoleh menatap Fajar.
"Karena aku ingin bertemu dengan istri tercintaku yang sangat cantik ini. Baru beberapa jam tidak bertemu denganmu saja, sudah membuatku sangat rindu. Hatiku rasanya terus saja tertuju pada bidadariku ini" Ucap Fajar sembari memeluk istrinya dari belakang.
"Gombal" Cibir Tari.
Fajar melepaskan pelukannya dan menatap istrinya dengan kecewa. "Memangnya kamu tidak merindukanku? Padahal aku setiap saat selalu merindukanmu, merindukan princess kecil" Fajar mengelus-elus perut bulat Tari.
"Aku bahkan tidak bisa fokus memikirkan hal lain, karena terlalu memikirkan kalian" Imbuhnya yang hanya ditanggapi dengan gelengan kepala oleh Tari yang menurutnya, ucapan suaminya itu terlalu lebay.
"Tapi ya sudahlah kalau begitu, aku pergi saja lagi, mencari istri baru diluar sana" Gurau Fajar yang lantas berbalik, pura-pura ingin pergi dari tempat itu. Tari yang kesal mendengar ucapan Fajar langsung mencubit pinggang suaminya dengan keras.
"Aauw" Fajar mengaduh kesakitan. "Sakit sayang"
"Biarin, makanya jadi suami jangan mata keranjang. Kamu berani, selingkuhin aku?" Omel Tari sembari melototi Fajar dengan mata besarnya.
"Tidak sayang" Fajar kembali memeluk istrinya dari belakang dengan gemas. "Untuk apa aku mencari wanita lain? Kalau aku sudah punya istri secantik ini" Ucapnya yang lantas mencium pipi istrinya dengan penuh cinta.
Tari sedikit gugup dan malu mendapatkan ciuman dari lelaki itu. Dia masih belum terbiasa dengan perlakuan romantis lelaki itu. Perasan bahagia menggelora dihatinya, merasakan cinta yang begitu besar dari suaminya.
"Kamu tau? Aku bahkan sudah menyiapkan kejutan romantis untuk istri tercintaku ini"
"Kejutan apa?" Tari menoleh menatap suaminya dengan mata berbinar-binar. Mendengar kata kejutan membuatnya begitu penasaran dan antusias.
"Penasaran ya?" Fajar menatap istrinya dengan senyum menggoda.
"B aja" Tari memalingkan wajahnya dengan malu dan kesal karena mendapat godaan seperti itu.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu tidak jadi. Lupakan saja" Seloroh Fajar.
"Kok gitu sih? Curang" Sungut Tari kesal.
"Kan kamu bilang b aja. Gak penasaran" Jawab Fajar dengan santainya. Dia sangat puas melihat ekspresi malu dan kesal diwajah istrinya.
"Iya deh, aku penasaran. Apa kejutannya?" Tari pun terpaksa mengalah. Meski kesal karena sadar bahwa suaminya sedang mempermainkannya, namun dia sangat penasaran tentang kejutan yang dimaksud oleh lelaki itu.
Fajar tersenyum puas. "Nah, gitu dong. Ayo" Dia menarik tangan istrinya.
"Mau kemana?" Tanya Tari.
"Ikut saja" Jawab Fajar singkat. "Eh tunggu dulu" Dia melepaskan tangan Tari untuk mengambil sesuatu dari dalam saku celananya.
"Apalagi" Tanya Tari yang semakin tidak mengerti apa yang dilakukan oleh suaminya itu.
"Sebentar" Jawab Fajar sambil mengeluarkan kain panjang berwarna hitam dari dalam saku celananya, lalu menggunakannya untuk menutup mata Tari.
"Sudah diam" Titah Fajar yang sedang berusaha mengikat kain itu dibelakang kepala istrinya.
"Aduh.... Kenapa mataku harus ditutup segala sih? Bagaimana aku bisa melihat jalan?" Protes Tari.
Tindakan Fajar kali ini membuatnya kembali teringat pada insiden pelecehan yang dulu dilakukan lelaki itu terhadapnya. Dulu Fajar juga melakukan hal yang sama. Menutup matanya dan menyeretnya masuk kedalam mobil, lalu meruda paksa dirinya hingga mereka berdua harus menikah.
Tapi bedanya, saat itu Fajar melakukannya dengan kasar karena dalam keadaan mabuk, hingga membuatnya ketakutan dan trauma. Tapi sekarang, entah kenapa rasanya seperti dilakukan oleh orang yang berbeda. Apa mungkin karena sekarang diantara mereka sudah tumbuh cinta? Beda dengan dulu, mereka masih menjadi orang asing.
"Sudah itu gampang. Kamu diam saja" Jawab Fajar yang kemudian menggendong Tari dilengannya.
"Ahhkk!" Pekik Tari terkejut saat tiba-tiba merasakan tubuhnya diangkat. "Kamu mau ngapain sih? Pakai acara digendong segala. "Bagaimana kalau dilihat Bu Zaitun atau pelayan lainnya? Malu-maluin aja" Desis Tari memperingatkan.
"Baru tau, ternyata istriku ini ada sisi cerewetnya juga ya. Kirain cuma galak aja" Seloroh Fajar.
__ADS_1
"Kamu ngatain aku galak?" Seru Tari kesal.
"Kan memang kenyataannya begitu. Masak aku harus bohong dengan mengatakan istriku ini adalah perempuan yang lembut, kalem dan penyabar padahal kenyataannya tidak seperti itu" Jawab Fajar dengan santainya tanpa terpengaruh dengan sikap galak istrinya.
"Ih!" Tari memukul dada Fajar saking kesalnya dengan keisengan suaminya itu. "Dasar suami ngeselin!"
"Dasar istri galak dan cerewet" Balas Fajar yang masih mempertahankan kejahilannya untuk menggoda istrinya, sambil berjalan membawa Tari keluar dari ruangan itu.
Keduanya masih saja terlibat perdebatan tidak berguna itu hingga mereka tiba dilantai paling atas.
"Bagaimana? Sudah sampai belum sih?" Tanya Tari yang masih digendong suaminya. Dia sudah tidak tahan lagi untuk membuka matanya yang masih tertutup kain panjang itu.
"Sudah" Jawab Fajar sambil menurunkan istrinya kelantai dengan pelan-pelan. "Siap ya. Ingat, jangan dibuka dulu matanya sebelum aku ijinkan. Mengerti?" Fajar memperingatkan.
"Iya-iya" Jawab Tari pasrah meski setengah menggerutu.
Fajar pun membuka kain penutup mata istrinya. Sesuai dengan aba-aba suaminya, Tari masih memejamkan matanya meski kain itu sudah ditanggalkan.
"Satu, dua, tiga. Oke, buka matanya"
Tari membuka matanya setelah mendapat persetujuan dari suaminya. Seketika Tari terbelalak melihat pemandangan didepannya begitu dia membuka matanya.
Saat ini dia sedang berada diatas rooftop yang telah disulap sedemikian rupa, hingga memancarkan vibe romantis. Dengan kain putih yang dipasang sebagai atap, dan dihiasi dengan lampu tumblr dan lampion. Suasana pun semakin tampak indah dan syahdu dengan keberadaan lampu-lampu kristal, serta lilin yang menambah pencahayaan tempat itu.
"I-ini....?" Tari menatap tempat itu dengan wajah melongo takjub. Lalu dia menatap suaminya dengan penuh tanya.
"Surprise!" Seru Fajar dengan girangnya. "Bagaimana? Kamu suka?"
"Kamu, menyiapkan semua ini, untukku?" Tanya Tari setengah tak percaya. Seharian dia berada dirumah, tapi dia sama sekali tidak tau kalau rooftop rumah ini telah disulap seindah dan seromantis ini.
"Yes. Jadi, dari jauh-jauh hari aku sudah menyuruh pelayan untuk menyiapkan tempat ini sebagai tempat candle light dinner kita berdua. Ya.... Sebenarnya aku ingin mengajakmu makan malam diluar, direstoran mewah dan romantis. Tapi kan saat ini kamu masih harus bedrest. Jadi aku tidak mungkin mengajakmu kerestoran yang jauh-jauh. Jadi, anggap saja ini restorannya. Dan malam ini aku ingin menikmati momen romantis bersama istriku"
__ADS_1