Mentari Untuk Fajar

Mentari Untuk Fajar
BAB 21- Benarkah Aku Telah Menodaimu??!!


__ADS_3

"Nona. Nona tunggu" Seru Fajar yang juga ikut turun dari mobil dan mengejar Tari.


Sesampainya diluar dia berhasil menangkap lengan Tari. Membuat gadis itu mau tidak mau harus berhenti dan melihatnya. Rasa sakit ditubuhnya membuat Tari tidak bisa berlari dengan cepat. Sehingga Fajar sangat mudah untuk menangkapnya.


"Nona, tolong dengarkan dulu. Saya benar-benar...."


PLAK!!


Fajar yang sedang mencoba untuk menjelaskan, langsung bungkam saat tangan wanita itu mendarat dengan keras diwajahnya.


"Dasar lelaki brengsek!! Lelaki kurang ajar!! Kamu pasti orang suruhan Moza kan?! Berapa banyak dia membayarmu untuk memperkosaku?!! Kalian jahat!! Kalian berdua sama biadabnya!! Arrgghhh!!" Berbagai tuduhan dilontarkan Tari yang meraung-raung dan menjerit histeris.


Dengan berderai air mata, dia berlari dengan cepat sembari meringis menahan sakit yang mendera tubuhnya.


"Nona" Fajar kembali berseru, namun dia sudah tidak mampu lagi menahan perempuan itu untuk enyah dari hadapannya.


Dia menatap kepergian wanita itu dengan termangu. Apapun yang dikatakan oleh perempuan itu, tidak ada yang bisa dicernanya. Karena dia sendiri pun masih sangat bingung dan shock dengan apa yang terjadi. Sebenarnya dia sudah melecehkan wanita itu atau tidak?


Tapi kalau tidak tidak, bagaimana caranya wanita itu bisa berada dalam mobilnya dengan pakaian yang terbuka seperti itu? Dan dari ekspresinya, wanita itu juga terlihat sangat frustasi dan murka melihatnya. Tubuhnya pun tampak kesakitan. Bahkan ada darah pada bagian *******nya! Apa jangan-jangan?!!


Tapi siapa Moza? Kenapa perempuan itu juga menuduhnya dibayar oleh orang itu? Dia benar-benar tidak mengerti apa maksudnya. Sebenarnya ada apa ini?


🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


"Eh Tuan, Tuan sudah kembali dari Jakarta? Bagaimana acara di...." Bu Zaitun menyambut kepulangan Fajar dengan senyum simpul. Rasa penasaran membuatnya ingin tau dan bertanya.


"Aku sangat lelah Bu. Aku ingin istirahat. Tolong jangan menggangguku. Aku ingin sendiri sekarang" Tukas Fajar dengan lirih dan dingin. Dia kembali berjalan menuju tangga dengan tatapan hampa dan langkah gontai.


Bu Zaitun menatap tuan mudanya dengan terpana. Gestur tubuhnya memancarkan kesedihan dan kekecewaan yang mendalam. Entah apa yang terjadi selama dia di Jakarta. Tapi dia sangat yakin, bahwa ini pasti berhubungan dengan Nyonya Zahra dan suaminya.


Tentu saja karena Tuan Fajar bertemu dengan mereka selama disana. Bu Zaitun tau betul jika sampai saat ini, tuan mudanya masih sangat mencintai Nyonya Zahra. Entah sampai kapan hal itu akan berlangsung?


Entah kapan perasaan itu akan menguap dengan sendirinya? Kasian Tuan Fajar jika dia terus tersiksa dengan perasaan yang tidak akan pernah bersambut itu.


🍁🍁🍁🍁🍁


Fajar membuka pintu dan menatap kamar yang besar, luas dan mewah itu dengan perasaan hampa dan penuh kekecewaan. Itu adalah kamar yang ditempati Zahra dulu, ketika masih diakui sebagai istrinya dirumah itu. Namun kini keberadaan wanita itu dirumah ini hanya tinggal kenangan semata.


Fajar memasuki kamar itu, kemudian dia duduk dipinggir ranjang dan kembali termenung. Memikirkan apa saja yang sudah terjadi padanya hari ini sungguh membuatnya stress dan frustasi. Sekarang yang menjadi beban pikirannya bukan hanya Zahra. Tapi juga wanita itu.


Fajar memegang kepalanya dan memijat-mijatnya. Dia berusaha mengumpulkan ingatannya. Tetap saja tidak ada bayangan apapun mengenai perempuan itu yang muncul dibenaknya.


Samar-samar dia seperti melihat bayangan dirinya bertemu dengan Gerald. Dia seperti melihat pria itu sedang bercinta dengan seorang wanita. Kemudian dia menertawakannya hingga membuat Gerald marah dan memukulnya.


Benarkah dia bertemu dengan Gerald? Tapi itu mustahil. Karena Gerald tidak ada disana. Memang saat ini kakaknya itu berada di Magelang bersama Oma dan Mamanya. Tapi bukan ditempat kejadian itu. Apa mungkin itu hanya mimpinya saja?


Bila mengingat hubungan dia dengan Gerald yang selama ini tidak pernah akur, bahkan bisa dibilang seperti musuh, mungkin bisa saja dia sampai terbawa mimpi. Fajar memegang pipinya yang terasa sakit.

__ADS_1


Dia bingung bagaimana pipinya bisa terasa sakit dan perih. Apakah ini akibat pukulan Gerald? Atau jangan-jangan memang benar dia bertemu dengan Gerald dalam keadaan mabuk. Tapi kalau membahas tentang pukulan, bukankah tadi wanita itu juga menamparnya dengan keras?


Ya sudahlah. Dia tidak perlu terlalu memikirkan Gerald. Karena sekarang ada masalah yang jauh lebih besar daripada kakak tirinya itu. Yaitu masalah wanita asing tadi. Jika benar dia sudah melecehkannya, lalu apa yang harus dia lakukan sekarang? Dia bahkan tidak mengenal perempuan itu.


Dia tidak tau darimana asalnya, dan dimana tempat tinggalnya. Arrgghhh!! Kenapa permasalahan hidupnya jadi semakin pelik?! Andai dia bisa mengulang waktu, dia tidak akan pernah datang kecafe itu dan mabuk-mabukan. Sehingga tanpa sadar, dia sudah merusak kehidupan anak gadis orang!! Dia tidak pernah menyangka, kalau akhirnya akan menjadi sefatal ini!!


🍁🍁🍁🍁🍁


Ranty membuka pintu kosnya dengan perasaan sumringah, karena dia yakin jika yang mengetuknya adalah Tari. Dan keyakinannya pun terbukti, saat pintu terbuka dan dia langsung berhadapan dengan sahabatnya itu.


"Syukurlah akhirnya kamu pulang juga. Dari tadi aku menghubungimu, tapi ponselmu tidak aktif terus. Membuat panik saja. Bagaimana? Apa Mo...." Ranty terus mengoceh. Sepertinya dia sangat mengkhawatirkan sahabatnya yang sudah pergi selama dua jam lebih.


Tari tidak menghiraukannya. Dia terus berjalan menuju kamar dengan tatapan kosong. Tubuhnya pun terasa lemah dan gontai.


"Lho Tar, kamu kenapa? Kok aku bicara malah dicuekin? Tari" Seru Ranty yang kebingungan melihat sikap Tari yang tidak menggubrisnya. Tidak biasanya dia bersikap seperti itu terhadapnya. Sebenarnya apa yang sudah terjadi saat dia bertemu dengan Moza?


Begitu sampai didalam kamar, Tari langsung naik keatas tempat tidur. Dia memeluk tubuhnya dengan gemetar. Kejadian naas yang baru saja dialaminya kembali terngiang-ngiang dibenaknya. Bagaimana tubuhnya dijamah dan kesuciannya dirampas oleh lelaki brengsek itu, tanpa dia bisa melakukan perlawanan untuk melindungi dirinya!


Dan sekarang kehormatannya sudah tidak ada lagi. Sudah tidak ada lagi yang tersisa dalam dirinya! Semuanya sudah hancur lebur! Apa yang harus dilakukannya sekarang? Ini terlalu berat untuknya! Apalagi jika Papanya sampai mengetahui tentang masalah ini.


Dia sangat yakin, jika Papanya tidak akan pernah mempercayainya sebagai korban. Melainkan sebagai wanita murahan, yang sudah terbiasa memberikan tubuhnya untuk dijamah oleh banyak pria dengan sukarela!


Ranty membuka pintu dan memasuki kamarnya. Dia heran melihat Tari yang duduk diatas ranjang dengan termangu, seperti orang shock atau stress. Sebenarnya apa yang terjadi pada Tari? Perasaan tadi saat pergi, sikap Tari biasa saja.

__ADS_1


Tapi kenapa dia malah pulang dalam keadaan seperti ini? Seperti orang depresi. Apa ini semua gara-gara Moza? Memangnya apalagi yang dilakukan oleh wanita ular itu, hingga membuat Tari seperti ini?!


Ranty mendekati Tari, kemudian dia duduk dipinggir ranjang disamping sahabatnya itu. Dia memegang pundak Tari dengan pelan-pelan dan lembut.


__ADS_2