
Fajar mencoba menerka-nerka apa yang sedang dilakukan istrinya saat ini. Apakah wanita itu sudah makan malam? Atau dia sudah tidur? Entah kenapa dia merasa begitu merindukan istrinya itu. Dia mengambil ponselnya dan menghubungi Bu Zaitun.
"Iya Tuan" Ucap Bu Zaitun diseberang sana.
"Bu, bagaimana keadaannya? Apa dia sudah tidur?"
"Iya Tuan, Nyonya Tari sudah tidur. Tapi...."
"Tapi kenapa? Ada masalah?" Ucapan Bu Zaitun yang menggantung, membuat Fajar mulai merasa cemas.
"Begini Tuan.... Nyonya belum makan apa-apa malam ini"
"Lho, kenapa? Apa dia masih marah dan sedih dengan sikapku kemarin, makanya dia sampai tidak mau makan?"
"Bu-bukan Tuan. Bukan karena itu. Tapi, Nyonya Tari sedang ngidam. Beliau ingin makan nasi lengko Cirebon. Saya sudah minta tolong supir dan bodyguard untuk mencarikannya sedari beberapa jam yang lalu. Tapi sudah jam segini, mereka belum kembali juga.
Mana ponselnya susah dihubungi. Kasian Nyonya Tuan. Kan wanita hamil itu keinginannya harus dituruti. Kalau tidak kasian bayinya" Tutur Bu Zaitun dengan suara yang terdengar prihatin.
"Ya sudah Ibu tenang dulu ya. Biar aku usahakan untuk ikut mencarikannya. Ibu jaga dia saja ya"
"Baik Tuan. Hati-hati Tuan"
Percakapan Fajar dengan Bu Zaitun melalui panggilan suara pun berakhir. Fajar meletakkan ponselnya kembali diatas meja.
Sekarang yang harus dia pikirkan adalah, segera mendapatkan makanan yang diinginkan oleh istrinya yang sedang ngidam. Tapi, bagaimana dia bisa mendapatkan nasi lengko Cirebon itu malam-malam begini?
Fajar meraih ponselnya. Membuka aplikasi pesan antar makanan. Namun dia masih belum juga menemukan makanan yang dicarinya. Fajar menghela nafas panjang. Dimana dia bisa mendapatkan makanan itu? Menyuruh anak buahnya untuk mencarinya kecirebon?
Kata Bu Zaitun, beliau juga sudah melakukannya. Tapi orang yang disuruh masih belum kembali juga selama berjam-jam. Fajar hendak beranjak dari kursi putarnya, saat pintu ruangannya diketuk dari luar.
"Masuk" Seru Fajar yang sedang bersiap-siap untuk pergi.
Pintu terbuka. Moza masuk dengan mengapit sebuah map plastik berisi dokumen hasil pekerjaannya.
__ADS_1
"Selamat malam Pak Fajar" Moza tersenyum dengan manisnya.
"Eh, Moza. Silahkan masuk?"
Mendapatkan lampu hijau, Moza mengangguk. Dia berjalan dengan anggun mendekati Fajar.
"Ada apa ya?"
"Ini Pak, saya ingin menyerahkan hasil laporan saya hari ini. Coba diperiksa. Mungkin ada bagian yang harus dikoreksi" Moza menyerahkan berkas ditangannya.
Sebenarnya dia tidak terlalu peduli, bagaimana penilaian lelaki itu nantinya terhadap hasil kerjanya. Karena yang terpenting adalah, dia bisa bertemu dan mencari perhatian dari atasan tampannya itu.
"Maaf ya Moza. Tapi sekarang kamu serahkan saja dulu laporannya pada asisten atau sekretaris saya. Karena sekarang saya harus pergi. Ada urusan penting" Ucap Fajar dengan tergesa-gesa. Dia hendak melangkahkan kakinya. Namun Moza langsung mencegahnya.
"Pak tunggu. Maaf kalau saya boleh tau, Bapak mau kemana? Memangnya ada urusan apa ya? Kok sampai buru-buru sekali?"
"Mmm... Begini, jadi ada saudara saya yang sedang hamil. Dan.... Sekarang dia lagi ngidam ingin makan nasi lengko Cirebon. Tadi saya sudah menghubungi pelayan dirumah saya. Beliau bilang katanya sudah menyuruh supir, dan bodyguard untuk mencarikannya.
Tutur Fajar yang lantas hendak kembali melangkahkan kakinya dengan terburu-buru. Namun lagi-lagi, Moza berhasil mencegah kepergiannya.
"Pak tunggu dulu. Sepertinya Bapak tidak perlu repot-repot, untuk pergi mencarikan makanan untuk saudara Bapak itu. Saya bisa membantu kok Dok. Jadi saya punya teman yang bisnis online makanan. Dan setau saya, dia juga menyediakan nasi lengko Cirebon.
Jadi saya rasa, Bapak tidak perlu capek-capek mencarikannya. Biar saya hubungi teman saya untuk memesannya, dan langsung mengantarkannya kerumah Bapak"
Moza menawarkan dengan antusiasnya. Dia berharap bantuan yang dia berikan, bisa membuat lelaki itu bersimpati dan jatuh hati padanya.
"Kamu serius, kamu bisa membantu saya?" Fajar menatap Moza dengan intens dan wajah berbinar-binar.
"Iya Pak, saya usahakan ya"
"Ya sudah kalau begitu, sekarang saya minta cepat kamu hubungi temanmu itu. Masalah biaya kalian tenang saja. Itu bukan masalah buat saya. Yang penting makanan itu bisa sampai dirumah saya malam ini juga. Dan sekarang juga" Pinta Fajar dengan antusias dan penuh harap.
"Iya Pak, sebentar ya" Dengan cerianya Moza mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya, dan menghubungi temannya yang dimaksud, untuk memesan makanan yang diinginkan oleh Fajar.
__ADS_1
"Pak, saya sudah hubungi teman saya. Dia bilang sekarang drivernya langsung melaju kerumah Dokter, untuk mengantarkan makanan itu" Ujar Moza usai bertelepon dengan temannya, untuk menyampaikan pesanan Fajar.
Fajar menghela nafas lega. "Syukurlah kalau begitu. Sekali lagi, terima kasih banyak ya Moza, atas bantuannya" Dia menatap Moza dengan senyuman penuh rasa terima kasih. Tampaknya dia sangat terkesan dengan bantuan yang diberikan oleh karyawan magangnya itu.
"Iya Pak sama-sama. Saya juga senang kok, bisa membantu" Moza tersenyum sumringah.
Hatinya serasa berbunga-bunga, lantaran rencana pertamanya untuk mengambil hati lelaki incarannya itu berhasil. Sekarang dia tinggal menyusun langkah selanjutnya, untuk menjadikan bosnya ini sebagai miliknya.
"Ya sudah, sekarang kan sudah malam. Sebaiknya sekarang kamu pulang. Biar nanti saya suruh supir untuk mengantarmu. Ya sudah, saya pulang dulu ya. Kamu hati-hati dijalan ya" Ucap Fajar sebelum berlalu dari ruangan itu dengan terburu-buru.
"Iya, Bapak juga" Jawab Moza dengan kecewa. Dia pikir malam-malam begini lelaki itu akan menawarkan untuk mengantarnya pulang. Ternyata setelah urusannya selesai, dia malah pergi begitu saja. Dan hanya menawarkan supir untuknya?! Tari mendumel sendiri.
Dia harus bersabar. Dia yakin cepat atau lambat, dia pasti bisa membuat pria itu jatuh kedalam pelukannya. Sama seperti Darren dulu, yang katanya sangat mencintai Tari. Tapi berhasil dia rebut. Dan sekarang dia yakin, Fajar pun bisa dia taklukkan. Semua hanya masalah waktu saja.
🍁🍁🍁🍁🍁
Sekitar jam sebelas malam, Fajar tiba dirumahnya.
"Tuan" Ucap Bu Zaitun saat membukakannya pintu.
"Bu, bagaimana? Pesanannya sudah sampaikan?"
"Sudah Tuan. Baru saja"
"Lalu Tari dimana?" Mata Fajar tampak bergerilya mencari keberadaan Tari disetiap sudut rumah.
"Nyonya Tari sudah tertidur diruang keluarga. Tadi saya ingin membangunkan. Tapi... Nyonya tidurnya nyenyak sekali. Jadinya, saya tidak tega"
"Ya sudah, biar aku saja yang mengurusnya. Sebaiknya sekarang Ibu tidur saja. Inikan sudah malam"
Bu Zaitun mengangguk. "Baik Tuan. Nanti kalau ada apa-apa, panggil saya saja"
"Iya" Kata Fajar dengan seulas senyuman. Setelah Bu Zaitun berlalu dari hadapannya, Fajar langsung menuju ruang keluarga.
__ADS_1