Mentari Untuk Fajar

Mentari Untuk Fajar
BAB 89- Bertemu Direstoran


__ADS_3

Siang itu Moza mengajak Gerald bertemu, karena dia ingin membicarakan hal yang menurutnya sangat penting.


Sebenarnya Gerald sudah malas dan bosan berurusan dengan gadis itu. Karena saat ini dia pun sedang dalam masalah rumit.


Namun Moza terus mendesak dan memaksanya. Hingga Gerald pun setuju untuk bertemu direstoran. Mereka memesan ruang privat agar bisa bicara lebih privasi.


"Mau apalagi kamu mengajakku ketemuan? Bukankah urusan kita sudah lama selesai?" Tanya Gerald dingin.


"Kamu pikir aku mau bertemu denganmu, kalau tidak ada hal yang penting dan sangat mengusik pikiranku?" Balas Moza ketus.


"Maksudmu? Soal apa?"


"Soal Tari dan Fajar" Jawab Moza geram.


"Kamu kenal Fajar juga?" Gerald bertanya dengan kening mengernyit. Dia sedikit terkejut mendengar Moza menyebut nama Fajar.


"Ya tentu saja. Dia adalah atasan ditempat magangku" Jawab Moza cepat.


"So?" Gerald bertanya dengan santainya.


"Jadi lelaki yang kamu jadikan tumbal dari perbuatan bejatmu terhadap Tari adalah Fajar? Adik tirimu sendiri?"


"Kamu tau darimana, kalau aku dan Fajar adalah saudara tiri?" Gerald bertanya dengan heran.


"Itu bukan hal yang penting untuk dibahas. Yang jelas sekarang adalah, apa maksudmu menjadikan orang lain sebagai kambing hitam atas perbuatanmu?"

__ADS_1


"Lalu apa pedulimu? Kenapa kamu sangat marah, Fajar bertanggung jawab menikahi Tari? Memangnya apa untung rugimu?" Gerald balik bertanya dengan santainya.


Moza terdiam mendapat pertanyaan itu. Dia tidak tau harus menjawab apa. Ekspresi gadis itu membuat Gerald terbelalak. Sepertinya dia mulai membaca dan memahami Apa yang dirasakan gadis didepannya itu. Karena dia bukan orang bodoh.


"Tunggu dulu. Jangan bilang, kalau kamu jatuh cinta pada adik tiriku itu?" Gerald menatap mata Moza dengan lekat. Moza masih terdiam tidak menjawab, ataupun membalas tatapan lelaki dihadapannya itu.


"Moza, kamu diam saja? Apakah semua yang aku pikirkan itu benar?" Gerald semakin tertegun dengan apa yang dilihatnya.


Kenapa masalah ini menjadi serumit ini? Disaat dia mulai menyukai Tari dan ingin merebutnya dari Fajar, disaat yang bersamaan Moza juga menyukai Fajar. Entah ini hukuman untuknya dan Moza, atau sebuah keberuntungan untuknya.


"Kalau iya kenapa? Dan sekarang gara-gara rencana gilamu yang membuat mereka berdua menikah, aku jadi tidak bisa lagi mendapatkan Fajar" Jawab Moza dengan gusar. Wajahnya yang tadi sedikit menunduk, kini menatap Gerald dengan tajam dan gusar. Dia sudah tidak tahan lagi untuk diam.


Lagipula tidak ada gunanya menutupi perasaannya pada Gerald, yang sudah pasti akan mengerti segalanya.


"Tapi aku tidak pernah memberimu ide untuk melibatkan orang lain dalam rencana kita. Menjadikan orang lain sebagai kambing hitam untuk mempertanggung jawabkan perbuatanmu terhadap Tari. Aku bahkan tidak pernah tau kalau orang itu adalah Fajar" Ketus Moza yang semakin gusar melihat sikap Gerald yang begitu tenang dan santai.


"Lalu sekarang apa maumu? Kamu ingin merebut Fajar dan membuat mereka bercerai?" Tanya Gerald yang masih dengan sikap santainya tanpa terpengaruh dengan emosi Moza yang mulai meledak-ledak.


"Maksudmu apa, menanyakan hal itu?" Moza menatap Gerald dan mengernyitkan keningnya. Nada suaranya yang sebelumnya sedikit keras, kini mulai menurun.


"Sebenarnya aku bisa saja membantumu, untuk memisahkan mereka?" Ucap Gerald dengan liciknya sembari melipat tangannya didada.


"Tunggu dulu. Kali ini apalagi yang kamu rencanakan, sampai mau membantuku? Aku yakin, tidak mungkin kamu tidak memiliki tujuan" Moza menatap Gerald dengan penuh kecurigaan.


"Aku tidak ada waktu untuk memberi penjelasan yang tidak berguna padamu. Kamu mau, ayo. Kalau tidak, ya terserah. Aku masih banyak urusan" Ujar Gerald yang masih dengan santainya, sebelum dia bangkit dan berjalan meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


"Gerald! Gerald tunggu!" Teriak Moza sambil beranjak mengejar Gerald, karena dia masih belum merasa puas dengan pembicaraan mereka yang menurutnya belum usai.


Sedangkan diruangan yang berbeda namun masih direstoran yang sama, Tari dan Tristan tampak sedang berbincang dengan serius dalam satu meja.


Ditengah-tengah keramaian para penghuni meja lain, namun suasana hening sangat terasa diantara ayah dan anak itu. Dimana keduanya masih terbalut dalam perasaan sedih, dan kecewanya masing-masing.


"Terima kasih banyak ya Nak, karena kamu mau ikut kesini bersana Papa. Kamu tau? Papa sangat merindukanmu. Merindukan Tari yang dulu. Anak Papa yang baik, lemah lembut, penyayang dan penurut. Bisa menjaga harga diri dan kehormatan keluarganya. Dan juga selalu menatap papanya dengan senyuman. Bukan dengan kemarahan. Papa tau mungkin kamu kecewa dengan sikap papa yang mengusirmu dari rumah. Tapi semua itu Papa lakukan, karena papa sedang kalut. Papa sedang dikuasai emosi. Papa begitu marah dan malu saat melihat video yang...."


Lirih Tristan menatap putrinya dengan tatapan pilu. Dia tidak mampu melanjutkan perkataannya. Dia sangat berharap Tari mau memahami ucapan dan perasaannya. Dan dia bisa berubah menjadi lebih baik. Dan hubungan mereka bisa kembali mencair seperti dulu lagi. Karena dia sangat merindukan putrinya.


Tari membalas tatapan sedih papanya. Meski dia merasa kecewa karena papanya masih berada dalam pengaruh kedua wanita ular itu, namun dia juga bisa melihat kesedihan dan kerinduan lelaki itu terhadapnya.


Mungkin dia juga bersalah karena selama ini selalu membalas kemarahan papanya dengan kemarahan juga. Sehingga hubungan mereka semakin memanas. Mungkin jika dia bicara baik-baik dan dengan lembut, papanya bisa mengerti dan luluh.


Tari memegang tangan papanya dengan lembut. Membuat Tristan terkejut dan terpana saat melihat dan merasakan sentuhan hangat putrinya.


"Dan Papa sangat yakin, kalau aku seperti yang ada dalam video itu? Bukankah aku ini putri papa? Dan papa sudah mengenalku sejak aku lahir? Bukankah seharusnya Papa bisa melihat, kapan aku berbohong, dan kapan aku bicara yang sebenarnya? Jika menurut Papa aku ini sudah mempermalukan papa dan keluarga, dengan kelakuanku yang tidak bermoral, hingga membuat Papa malu, marah dan kecewa, apa Papa pikir aku juga tidak marah dan kecewa, dengan sikap Papa terhadapku? Apakah Papa sudah mencari tau, kebenaran tentang tuduhan yang diberikan kepadaku? Bahkan Papa tidak memberiku kesempatan untuk membela diri. Papa langsung memukul dan mengusirku. Apakah Papa pikir Papa tidak menyakitiku?"


Lirih Tari dengan air mata yang tidak bisa dibendung lagi, hingga membasahi pipinya.


Perkataan dan isakan tangis Tari membuat Tristan tercengang dan terenyuh. Benarkah Tari tidak seburuk yang dipikirkannya? Benarkah dia sudah bersikap tidak adil terhadap putrinya sendiri, dengan tidak memberinya kesempatan untuk membela diri?


Apakah dia sudah menjadi orang tua yang jahat, karena tidak mengenal anaknya sendiri? Apalagi sekarang hatinya mengatakan bahwa Tari tidak berbohong.


"Gerald! Gerald tunggu dulu! Pembicaraan kita belum selesai" Suara teriakan Moza yang sedang mengejar-ngejar Gerald membuat Tari maupun Tristan terkejut. Spontan mereka langsung mengalihkan pandangannya pada suara yang telah mengganggu keheningan diantara mereka.

__ADS_1


__ADS_2