
Mereka yang sedang larut dalam pertarungan sengit itu tidak mengindahkan teriakan Oma Violet. Membuat wanita sepuh itu semakin murka, dan berjalan mendekati orang-orang yang sedang terlibat dalam pertarungan sengit itu.
"Apa kalian semua tuli?! Aku bilang berhenti!!" Teriak Oma Violet dengan kencang saking marahnya. Teriakannya berhasil menghentikan perkelahian para lelaki berbadan kekar itu.
"Maaf nyonya. Kami sudah berusaha melarangnya. Tapi Tuan Fajar memaksa untuk masuk" Ungkap salah satu pengawal itu dengan takut melihat wajah garang nyonya besarnya.
Mendengar hal itu Oma Violet menatap Fajar dengan berapi-api, dan melangkahkan kakinya mendekati cucu yang sangat dibencinya itu.
"Berani sekali kamu datang kerumahku dan membuat keributan disini! Dasar anak tidak tau diri. Apakah ini yang diajarkan oleh ibumu yang murahan itu!" Tanpa ampun Oma Violet mencaci maki Fajar, bahkan ikut membawa ibunya yang sudah tiada. Tentu saja hal itu membuat emosi Fajar yang sedang membumbung kini semakin meledak, mendengar hinaan untuk mendiang ibunya.
"Oma!!!" Teriak Fajar dengan wajah memerah. Bahkan tanpa sadar tangannya terangkat hendak didaratkan kewajah neneknya itu saking murkanya.
Untung saja dia masih bisa mengendalikan tangannya hingga tertahan diudara. Semarah apapun dia, pantang baginya memukul seorang wanita. Apalagi yang ada didepannya adalah wanita lanjut usia, yang telah melahirkan ayahnya sendiri.
"Tutup mulutmu wanita tua! Tolong jangan menguji kesabaranku, setidaknya untuk kali ini saja! Tolong jangan membuatku lupa, jika anda adalah seorang wanita yang tidak lain adalah ibu dari ayahku. Sekarang cepat katakan dimana cucu kesayanganmu. Sebelum aku mengobrak-abrik rumah mewahmu ini" Seru Fajar dengan mata memerah dan nafas memburu, berusaha keras menurunkan emosinya yang sedang meledak.
Sikap dan ancaman yang dilontarkan pria itu membuat Oma Violet jadi takut hingga tubuhnya gemetar. Selama ini anak itu memang selalu marah pada apapun yang dia katakan tentang ibunya yang sudah mat* itu. Namun belum pernah dia melihatnya semarah ini. Bahkan hampir menamparnya.
__ADS_1
Oma Violet tidak berani bicara apapun lagi karena takut kali ini anak si*lan itu benar-benar akan menamparnya, dan tidak ada yang bisa membantunya termasuk para pengawalnya sendiri, yang mungkin saja juga bisa dihajar oleh cucunya yang sedang kesurupan itu. Oma Violet bergidik ngeri.
Astrid yang sedari tadi mengekor dibelakang mertuanya pun maju kedepan, dan menatap Fajar dengan gusar melihat sikap kasar anak tirinya terhadap mertuanya.
"Berani sekali kamu bersikap kurang ajar seperti itu pada Mama! Apa kamu tidak belajar tata krama dan etika?!" Hardiknya.
"Tidak usah banyak bicara! Karena aku tidak ada waktu untuk berdebat dengan kalian! Sekarang cepat panggil putramu kesini. Katakan padanya, sudah cukup selama ini dia menjadi pengecut, dan bersembunyi dari perbuatan bejatnya!" Seru Fajar yang kini berhadapan dengan ibu tirinya
"Tutup mulutmu! Berani sekali kamu menyebut cucuku seperti itu!" Teriak Oma Violet dengan mata melotot, seraya maju dan berdiri didepan Astrid. Hinaan yang dilontarkan Fajar terhadap cucu kesayangannya, membuat rasa takut Oma Violet atas kemarahan Fajar seketika sirna.
"Lalu apa sebutan yang pantas untuk pria yang sudah melecehkan seorang wanita? Dan bukannya mempertanggung jawabkan perbuatan bejatnya. Tapi malah melempar kesalahannya pada orang lain" Sela Fajar.
Melihat Gerald didepan matanya, Fajar langsung mengepalkan tangannya. Menatap kakak tirinya dengan penuh kebencian. Bagai seekor singa yang melihat mangsanya, Fajar berjalan dengan langkah lebar mendekati Gerald. Dan langsung memberikan pukulan bertubi-tubi pada wajah dan tubuh kakak tirinya itu dengan kalap.
"Gerald!!" Pekik Oma Violet dan Astrid secara bersamaan karena terkesiap melihat Fajar yang tiba-tiba mencari masalah dengan Gerald, hingga mata mereka membulat dan tegang.
"Hey! Berhenti!!" Teriak Oma Violet yang panik dan tidak terima melihat cucu kesayangannya menjadi korban kebrutalan cucu yang dibencinya. Namun teriakan kedua wanita itu tidak mampu menghentikan Fajar yang sedang dikuasai emosi. Dia terus saja menghajar Gerald dengan sekuat tenaga.
__ADS_1
"Ma, sepertinya anak itu sudah gila. Dia datang kesini dan membuat keributan seperti ini. Apa yang harus kita lakukan Ma? Dia bisa membunuh Gerald" Celetuk Astrid memprovokasi saking paniknya hingga tubuhnya bergetar, melihat putra semata wayangnya dihajar oleh anak tirinya.
Meskipun Gerald melakukan perlawanan, namun tetap saja dia kalah tenaga dari Fajar yang sedang dirasuki oleh kemarahan besar, hingga mendapatkan power yang tidak bisa ditandingi oleh Gerald. Kendati begitu Gerald terlihat santai dan tidak takut sedikitpun, meski dia bisa saja mati ditangan adik tirinya.
"Fajar cukup!! Kalau kamu tidak berhenti, sekarang juga saya akan telpon polisi! Dan saya pastikan kamu akan membusuk dipenjara! Kamu akan membayar semua kekacauan yang kamu buat dirumah saya! Termasuk perbuatan kamu terhadap cucu saya!" Teriak Oma Violet dengan suara yang lebih kencang dari sebelumnya, memberi ancaman agar Fajar berhenti menyakiti cucunya.
Kali ini teriakan dan ancaman wanita sepuh itu berhasil menghentikan Fajar yang sedang menggila. Fajar mengalihkan pandangannya pada Oma Violet. Dia menatap neneknya dengan dingin.
Sedangkan Oma Violet memberinya tatapan tajam dan gusar. Wanita itu berpikir Fajar takut mendengar ancamannya yang menyebutkan polisi. Namun ternyata perkiraannya meleset.
"Ide yang bagus. Lalu kenapa anda masih diam saja? Ayo telpon polisinya. Supaya aku juga bisa membuat cucu kesayanganmu ini membusuk dipenjara bersamaku. Supaya dia juga bisa membayar apa yang sudah dia lakukan padaku dan Tari" Tantang Fajar dengan senyum miris.
"Apa maksudmu bicara seperti itu? Memangnya apa yang dilakukan anak saya padamu dan juga istrimu? Ayo katakan! Jangan sembarangan kamu bicara!" Timpal Astrid dengan suara nyaring.
"Kenapa menanyakan hal itu padaku?! Tanyakan pada anak kesayanganmu ini. Apa yang sudah dia lakukan pada Tari! Bagaimana dia memperkosa wanita itu hingga hamil. Tapi bukannya mengakui dan mempertanggung jawabkan perbuatannya, dia malah menjadikanku sebagai kambing hitamnya, hingga aku aku harus menikahi wanita yang sedang mengandung anaknya, yang aku pikir itu adalah anakku!" Seru Fajar menggebu-gebu. Perkataannya membuat Oma Violet dan Astrid sangat terkejut dan saling pandang tidak percaya.
"Gerald? Apa maksud dia bicara seperti itu? Ja-jadi anak yang dikandung oleh istrinya Fajar itu, adalah anakmu? I-ini serius? Mama tidak salah dengar?" Astrid bertanya pada Gerald dengan terbata-bata saking shocknya.
__ADS_1
"Ta-tapi.... Bagaimana bisa? Jadi kamu.... Melakukan pemaksaan pada wanita itu?" Timpal Oma Violet yang tak kalah shock dari menantunya. Serangan jantungnya rasanya mau kambuh mendengar berita seperti ini.
Gerald hanya diam membisu. Tidak mengelak atau mengiyakan tuduhan yang dilayangkan padanya. Malah Fajar yang mengangguk dan menjawab pertanyaan mereka.