
Sesampainya diruang keluarga, matanya langsung tertuju pada sosok lembut yang meringkuk dan tertidur pulas diatas sofa. Perasaan Fajar terasa hangat begitu melihat istrinya. Setelah seharian ini hatinya terasa tidak tenang, karena terus memikirkan perempuan itu. Akhirnya sekarang dia bertemu juga.
Fajar mendekati sofa dimana istrinya berada. Dimeja nampak sebuah nampan berisi sepiring nasi lengko dan segelas minuman, yang sepertinya dihidangkan oleh Bu Zaitun begitu pesanannya sampai oleh kurir yang mengantarnya.
Fajar berlutut didepan sofa, dan menatap wajah yang sedang tertidur pulas itu. Wanita ini memang cantik. Tapi kenapa semakin lama dilihat, wajahnya semakin tampak menggoda? Apalagi bibirnya. Tampak begitu seksi. Membuatnya ingin mencium bibir itu.
Fajar menggeleng-gelengkan kepalanya. Berusaha menyingkirkan pikiran kotor yang merasuki.
Dia beranjak dan membopong tubuh istrinya dengan lembut menuju kamar. Sesampainya didalam kamar, dia langsung membaringkan Tari diatas ranjang lalu menyelimutinya.
Namun tiba-tiba saja perempuan itu tampak bergerak dan menggeliat. Lalu mengucek-ucek matanya yang masih terasa berat untuk terbuka.
"Kamu sudah pulang?" Tanya Tari begitu dia membuka matanya dan melihat Fajar didepannya.
"Iy-iya" Jawab Fajar gugup.
"Aku lapar.... Aku ingin makan sekarang juga" Rengek Tari sembari bangkit duduk dan hendak turun dari kasur. Namun Fajar langsung mencegahnya.
"Tunggu-tunggu. Kamu tunggu disini. Biar aku saja yang mengambilnya. Tunggu sebentar" Fajar beranjak keluar dari kamar lamanya, yang kini telah menjadi kamar istrinya itu.
Tak lama kemudian dia kembali dengan membawa sebuah nampan berisi sepiring nasi lengko dan segelas minuman, yang sebelumnya berada diatas meja diruang keluarga.
"Ini, nasi lengko yang kamu inginkan kan? Makanlah" Fajar meletakkan nampan itu diatas nakas. Lalu meraih piring berisi nasi yang ada diatasnya, dan menyerahkannya pada Tari. Tari mengambil nasi itu dengan cepat dan langsung melahapnya hingga habis tak bersisa.
"Sudah kenyang?" Tanya Fajar memastikan.
"Iy-iya" Tari menjawab dengan malu.
__ADS_1
Dia baru sadar, kalau cara makannya barusan melebihi orang yang sudah berpuasa selama berhari-hari. Pria itu pasti akan menganggapnya norak. Rasanya dia ingin menyembunyikan dirinya dibawah kolong tempat tidur saja saking malunya.
"Ya sudah, sekarang lanjutkan tidurmu. Jangan begadang ya?" Kata Fajar lembut.
"Iya"
Fajar meninggalkan kamar istrinya dengan membawa kembali nampan berisi piring dan gelas yang telah kosong.
Tari menatap kepergian suaminya dengan bingung. Sikap lelaki itu terhadapnya tampak biasa saja. Padahal baru kemarin lelaki itu marah besar padanya, yang sudah lancang masuk kedalam ruangannya, dan melihat foto yang disimpannya.
Tapi sekarang, sikap lelaki itu malah begitu lembut dan penuh perhatian terhadapnya. Apa suaminya itu sudah tidak marah lagi, dan sudah memaafkannya atas insiden tempo hari?
Tari tersenyum cerah memikirkan hal itu. Dia menarik selimutnya dan kembali tertidur dengan nyenyak.
🍁🍁🍁🍁🍁
Moza tampak sedang berdiri dengan riangnya merias wajahnya didepan cermin meja rias, ketika mamanya masuk kedalam kamarnya.
"Eh Mama" Moza tersenyum ceria melihat kehadiran mamanya.
"Sudah mau berangkat?" Tanya Claudia melihat putrinya yang sudah terlihat cantik dan modis, dengan blazer berwarna hitam dipadukan dengan kemeja berwarna putih sebagai **********. Serta celana kain panjang berwarna krem, yang mencetak bentuk pinggulnya yang bulat.
"Iya nih" Jawab Moza yang masih asik merias wajahnya dengan berbagai make up.
"Mama perhatikan, kok sejak magang kamu jadi happy sekali? Apakah disana ada pria tampan yang kamu taksir? Cerita dong sama Mama" Claudia menatap putrinya dengan menyelidik seraya tersenyum penasaran.
"Mama kepo deh urusan anak muda" Seloroh Moza.
__ADS_1
"Ya.... Mama kan penasaran, dengan apa yang sedang terjadi dengan anak Mama sekarang. Gelagatmu terlihat jelas seperti orang yang sedang kasmaran. Memangnya siapa sih, lelaki yang sekarang sedang kamu sukai? Lalu bagaimana dengan Darren? Setau Mama, kamu sudah resmi jadian dengannya. Masak sekarang ada lelaki lain lagi?"
"Udahlah Ma, tidak perlu membahas Darren lagi. Aku sudah bosan dengannya. Dia bukan tipeku lagi sekarang. Lagipula aku juga sudah puas kok, membuat dia putus dengan Tari. Jadi aku sudah tidak membutuhkannya lagi sekarang. Lagipula kalau dibandingkan dengan Pak Fajar, dia tidak ada apa-apanya" Moza berkata dengan enggannya.
"Pak Fajar? Jadi itu orang yang sedang kamu taksir? Namanya Fajar? Siapa dia?" Claudia bertanya dengan penasaran.
"Dia pemilik perusahaan tempatku magang Ma. Orangnya tampan, tinggi, atletis, kaya. Dan dia juga memiliki beberapa perusahaan diluar negeri. Bahkan, dia juga seorang dokter yang memiliki beberapa cabang rumah sakit. Hebatkan? Darren mah tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan dia?"
Moza tersenyum kagum menceritakan pesona dan kehebatan Fajar. Namun raut wajahnya tampak sinis saat menceritakan Darren.
"Mama sih tidak peduli ya, kamu mau jadian dengan siapa. Mau Darren atau Fajar, terserah. Tapi masalahnya, lelaki itu menyukaimu tidak? Atau, dia sudah punya pacar atau belum?"
"Aduh Mama. Itu saja dipikirkan. Mama taukan, anak Mama ini adalah orang yang sangat ambisius. Apapun yang dia inginkan, harus menjadi miliknya. Dia pasti akan berusaha menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. Kalaupun Fajar sudah punya pacar, lalu urusannya denganku apa?
Jangankan pacar, istri saja bisa aku singkirkan. Sama seperti aku menyingkirkan Tari dari kehidupan Papanya sendiri. Yang penting, Fajar harus menjadi milikku" Moza menanggapi pertanyaan mamanya dengan santai dan liciknya.
"Kamu itu jangan gila ya Moza. Kamu taukan, kalau kamu itu adalah anak Mama satu-satunya? Kamu pikir Mama sudi, sampai melihatmu dituding sebagai pelakor? Jangan kamu samakan permasalahan Fajar dengan Tari. Jelas beda. Sudahlah kamu jangan macam-macam" Panjang lebar Claudia mengomeli dan memperingatkan anak semata wayangnya.
"Ya.... Ma. Masalahnya aku sudah terlanjur menyukai Dokter Fajar. Bukan suka lagi. Tapi aku sudah jatuh cinta. Belum pernah aku merasakan seperti ini. Termasuk pada Darren sekalipun. Sudahlah, aku malas membahas masalah ini"
Sungut Moza yang tidak bisa menerima perkataan mamanya, karena dia benar-benar sudah jatuh cinta pada atasan tampannya.
Beda dengan Darren dulu, yang hanya cinta sesaat. Atau lebih tepatnya rasa takjub atau iri terhadap Tari. Hingga membuatnya terobsesi untuk mendapatkan apapun yang dimiliki oleh saudara tirinya itu, termasuk kekasihnya. Tidak seperti Fajar sekarang, yang ingin dia miliki murni karena cinta.
Tak ingin mendengar ocehan mamanya lagi yang tidak sependapat dengannya, Moza pun meraih tasnya lalu keluar dari kamarnya sembari bersungut-sungut.
"Moza Mama belum selesai bicara" Seru Claudia yang tidak dihiraukan oleh Moza yang terus saja berjalan menjauhi kamarnya.
__ADS_1
"Dasar keras kepala. Susah dikasih tau. Hobinya cari penyakit terus" Gerutu Claudia bermonolog dan menghela nafas berat.
🍁🍁🍁🍁🍁