Mentari Untuk Fajar

Mentari Untuk Fajar
BAB 66- Perasaan Lega


__ADS_3

"Jadi begini Pak, Alhamdulillah kondisi ibu Mentari baik-baik saja, begitu pula dengan bayi dalam kandungannya. Bayinya kuat dan bisa bertahan. Benturan yang dialami oleh istri anda tidak sampai keperutnya. Sehingga hanya kepalanya saja yang mengalami luka.


Tapi meski begitu, kondisi ibu Mentari tetap tidak bisa disepelekan. Beliau tetap harus dirawat disini selama beberapa hari kedepan, hingga kondisinya benar-benar membaik. Apalagi untuk saat ini ibu Tari belum siuman"


Tutur dokter menjelaskan dengan sabar dan panjang lebar. Kemudian dia melirik Oma Violet dan Astrid untuk menyampaikan kondisi Gerald.


"Dan untuk Pak Gerald, kondisi beliau lebih parah dari ibu Mentari. Luka yang dialaminya lumayan parah, hingga mengakibatkan luka dalam. Kami akan melakukan pemeriksaan secara menyeluruh, untuk dapat memastikan kondisinya, apakah cedera yang dialami Pak Gerald parah atau tidak...."


"Dok, tapi cucu saya bisa disembuhkan kan?! Gerald itu cucu saya satu-satunya! Dan saya tidak mau dia sampai kenapa-kenapa, apalagi sampai cedera parah! Dokter harus sembuhkan dia. Pokoknya saya tidak mau tau!" Tukas Oma Violet yang semakin mencemaskan keadaan Gerald begitu mendengar penjelasan dokter.


Perkataan wanita sepuh itu yang menyebut Gerald sebagai cucu satu-satunya membuat Fajar terhenyak. Meskipun selama ini dia tau bahwa dia memang tidak pernah dianggap sebagai cucu oleh Omanya sendiri. Namun hatinya tetap terasa sakit mendengar ucapan seperti itu.


Tapi ya sudahlah, dia tidak perlu terlalu memikirkan sikap Omanya yang memang sudah seperti itu sejak dia lahir. Yang terpenting istri dan anaknya baik-baik saja. Itu jauh lebih penting.


Saking leganya memikirkan Tari dan bayinya yang selamat, tanpa sadar mulut Fajar melontarkan kata-kata syukur.


"Alhamdulillah ya Allah, istri dan anakku baik-baik saja. Terima kasih sudah menjaga dan melindungi mereka" Fajar tersenyum lega sambil mengusapkan telapak tangan kewajahnya. Oma Violet terkejut dan mendelik marah mendengar perkataan cucu keduanya itu.


"Kamu bilang apa barusan?! Alhamdulillah?! Kurang ajar ya kamu! Tidak punya perasaan! Bisa-bisanya kamu malah bersyukur atas apa yang terjadi pada Gerald!!" Oma Violet memaki-maki Fajar dengan nada tinggi dan tatapan tajam.


Fajar terkejut melihat kemarahan Omanya. Dia baru sadar kalau kondisi Gerald masih mengkhawatirkan. Dan dia malah mengucapkan Alhamdulillah, hingga membuat Omanya salah paham.


Sepertinya dia sudah salah. Biar bagaimanapun juga, Gerald tetaplah saudaranya. Saking terbuainya dengan perasaan lega karena Tari selamat, dia sampai melupakan Gerald.

__ADS_1


"Ya begitulah lah Ma, yang namanya anak pelakor. Mana mungkin punya perasaan pada orang lain?" Astrid menimpali dengan sinis.


Perkataan wanita itu membuat Fajar mengkretakkan giginya dengan geram. Moodnya yang masih belum sepenuhnya stabil semakin memburuk, saat Astrid kembali membawa-bawa ibunya dalam perdebatan mereka.


Rasa bersalah atau tak enak hati atas ucapannya sebelumnya menguap seketika! Digantikan oleh rasa kesal dan emosi!


"Tante tolong jangan dimulai lagi. Jangan memaksaku untuk melontarkan kata-kata kasar terhadap kalian, dengan anda kembali membawa-bawa ibuku dalam perdebatan kita. Aku bersyukur karena istri dan Calon anakku selamat. Masalah Gerald, aku rasa itu bukan urusanku. Bukankah Oma sendiri yang bilang, kalau Oma hanya memiliki satu orang cucu? Lalu siapa Gerald? Kenapa aku harus merasa sedih atau senang, dengan apa yang terjadi padanya....?!"


Fajar berkata dengan geram dan tatapan tajam. Astrid dan Oma Violet semakin menggeram marah melihatnya.


"Tuan sudah. Jangan terpancing emosi. Kita datang kesini untuk nyonya Tari. Bukan untuk membuat keributan. Apalagi ini rumah sakit. Semua orang butuh ketenangan. Kasian pasien yang lain jika mereka sampai terganggu gara-gara kita" Desis Bu Zaitun, berusaha menenangkan emosi tuan mudanya yang sedang meledak.


Fajar menghela nafas panjang. Perkataan Bu Zaitun membuat emosinya sedikit redup. "Iya Ibu benar" Jawabnya dengan hati yang mulai melunak. Dia kembali memfokuskan perhatiannya pada dokter dan menanyakan perihal istrinya.


Dokter mengangguk dan menjawab. "Iya Pak. Setelah pasien kami pindahkan keruang rawat, anda sudah bisa menemuinya"


"Terima kasih banyak Dok" Ucap Fajar dengan seulas senyum terpaksa.


"Sama-sama Pak"


"Ayo Bu" Fajar mengajak Bu Zaitun untuk berlalu dari tempat itu, tanpa menghiraukan dua wanita yang masih menatap mereka dengan tatapan antipati. Mereka ingin fokus mengurus administrasi, supaya Tari bisa segera dipindahkan keruang rawat inap VVIP.


🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


Tari pun dipindahkan keruang rawat inap dengan fasilitas VVIP. Fajar dengan setia menjaga dan menunggui istrinya yang masih belum siuman. Dia duduk dikursi yang ada disamping ranjang Tari, sembari memegang tangan dan mengelus-elus rambut istrinya dengan lembut dan penuh cinta.


Hatinya terasa sangat hangat dan tenang melihat istrinya dalam keadaan sehat. Tanpa sadar dia megecup tangan Tari. Lalu beralih pada kening Tari yang terbalut perban.


Malam semakin larut. Semakin lama mata Fajar semakin terasa berat. Dia pun jatuh tertidur disamping istrinya yang masih terbaring tak sadarkan diri.


Jam satu malam Bu Zaitun memasuki ruangan itu, dan membangunkan Fajar dengan mengguncang-guncangkan bahunya dengan lembut. Fajar pun terjaga.


"Tuan, ini sudah tengah malam. Sebaiknya sekarang Tuan istirahat dulu. Biar saya yang gantian menjaga Nyonya"


"Tidak usah Bu. Biar aku saja. Lebih baik ibu saja yang lanjutkan istirahatnya. Ibu juga pasti lelahkan, seharian bekerja dirumah, dan sekarang menemaniku disini. Tidak apa-apa, ini sudah kewajibanku untuk menjaga istriku. Ibu tidak perlu khawatir" Tolak Fajar seraya mengucek-ucek matanya yang masih terasa berat untuk terbuka.


Dari sebelumnya Bu Zaitun sudah menawarkan supaya dia saja yang menjaga dan menemani Tari, dan menyuruh Fajar untuk istirahat. Namun Fajar begitu keras kepala. Dia bersikeras ingin menjaga istrinya seorang diri, dan menyuruh Bu Zaitun saja yang beristirahat.


Dan sekarang lelaki itu kembali bersikap demikian. Sepertinya percuma saja dia membujuk. Tuannya tetap tidak akan mau meninggalkan istrinya untuk istirahat.


Dalam hatinya Bu Zaitun merasa bahagia dengan semua ini. Dia bisa melihat kalau tuannya sudah jatuh cinta pada istrinya itu. Dan dia juga tau, bahwa nyonya mudanya juga sudah lama memiliki perasaan terhadap Fajar.


Dia bersyukur karena cinta yang tuan Fajar rasakan kali ini tidak bertepuk sebelah tangan. Dan yang terpenting perempuan itu adalah istrinya sendiri. Bu Zaitun sangat berharap, semoga kali ini tidak akan ada lagi yang menghalangi kebahagiaan tuannya bersama wanita yang dicintainya.


"Ya sudah kalau begitu, saya tinggal dulu. Nanti kalau ada apa-apa, Tuan bisa panggil atau meminta bantuan saya" Kata Bu Zaitun.


Fajar mengangguk. "Iya Bu terima kasih"

__ADS_1


Setelah Bu Zaitun meninggalkannya, Fajar kembali mengalihkan perhatiannya pada Tari.


__ADS_2