Mentari Untuk Fajar

Mentari Untuk Fajar
BAB 49- Foto


__ADS_3

Tari masih memiliki semangat yang besar untuk meneruskan pekerjaannya. Apalagi ruang keluarga juga sudah hampir selesai dibersihkan. Mungkin dia masih bisa melanjutkan dengan membersihkan ruangan satu ini.


Tari membuka pintu secara perlahan-lahan. Setelah memasukkan semua peralatan kebersihan yang digunakannya untuk membersihkan ruangan, dia kembali menutup pintu tanpa ada seorangpun yang melihatnya.


Sesampainya didalam, dia tercengang menatap ruangan yang didominasi dengan warna putih yang tampak seperti ruangan dokter. Dugaannya kuat, ternyata ini adalah ruangan Fajar. Terdapat meja dan kursi berwarna abu-abu. Lemari besar sebagai tempat penyimpanan arsip. Serta beberapa peralatan medis yang dia sendiri kurang tau fungsinya.


Sudah hampir dua bulan dia menikah dengan Fajar. Namun baru sekarang dia mengetahui ruangan kerja lelaki itu. Mungkin karena dia masih belum begitu hafal setiap sudut ruangan yang ada dirumah sebesar ini.


Tari mendekati meja kerja. Matanya langsung tertuju pada pigura mini berisi potret suaminya. Dia mengambil pigura itu dan menatapnya berlama-lama. Senyum cerah merekah diwajahnya melihat pose Fajar. Pria ini benar-benar tampan, sekalipun hanya dari fotonya saja. Apalagi aslinya.


Sepertinya dia sudah tidak bisa memungkiri lagi, kalau pria tampan ini sudah berhasil membuatnya jatuh cinta. Sekalipun dia tidak tau, apakah cintanya bersambut. Tapi kalau dilihat dari sikap lelaki itu terhadapnya, tampaknya dia biasa-biasa saja. Tidak tampak ada tatapan Lebih seperti yang dia berikan untuk Zahra.


Entahlah, dia tidak ingin terlalu banyak berharap. Sudah banyak kekecewaan yang selama ini dia dapatkan dari orang-orang dia sayangi dan percayai. Sebaiknya dia fokus saja pada pekerjaannya.


Tari mulai merapikan ruangan itu. Dia mengambil kemoceng untuk membersihkan debu yang menempel pada setiap sisi ruangan, maupun perabotan yang ada diruangan itu. Mulai dari meja, kursi hingga lemari arsip. Semua dia bersihkan.


Setelah itu dia merapikan satu persatu arsip dan berkas-berkas yang ada dalam lemari itu dengan hati-hati.


Namun tiba-tiba saja dia tertegun melihat selembar foto yang terselip diantara salah satu berkas yang sedang dia rapikan. Tari mengambil foto itu dan menatapnya. Itu adalah foto Fajar bersama seorang perempuan cantik dan elegan. Mereka berpose dengan mesra. Raut kebahagiaan pun terpancar jelas diwajah mereka.


Tari mencoba menerka-nerka siapa wanita ini sebenarnya. Kalau dugaannya tidak salah, sepertinya ini adalah Fajar bersama istri pertamanya yang sudah tiada. Dengan kata lain, madunya. Mereka tampak sangat serasi. Memang terlihat jelas pasangan yang menikah karena cinta, dan karena terpaksa.


Tari tersenyum kecut dan kembali meletakkan potret itu pada tempatnya. Lalu dia memasukkan lagi berkas-berkas itu kedalam arsip.

__ADS_1


Namun dia malah menemukan selembar foto lain dalam arsip. Tari tertegun melihat potret Zahra yang cantik, natural dan sederhana. Perasaan cemburu mulai singgah dihati Tari melihat foto itu.


Apakah Fajar sangat mencintai Zahra seperti dia mencintai mendiang istrinya? Tapi, bukankah perempuan ini sudah bersuami, bahkan sudah memiliki anak? Apa yang membuat suaminya bisa jatuh hati pada wanita yang berstatus sebagai istri dari sahabatnya sendiri?


🍁🍁🍁🍁🍁


Sekitar jam 18.39 Fajar tiba dirumahnya. Sudah dua hari sejak Tari masuk rumah sakit, dia selalu usahakan untuk pulang lebih awal, karena memikirkan kondisi perempuan itu masih membuatnya was-was.


Dia khawatir jika insiden seperti kemarin sampai terulang kembali. Padahal biasanya dia akan pulang sekitar jam sepuluh malam keatas.


Kepulangan Fajar disambut dengan hormat oleh para security dan bodyguardnya. Salah satu dari mereka membantu memarkirkan mobilnya digarasi mobil.


Sedangkan Fajar sendiri langsung masuk kedalam rumah mewahnya. Dia berniat untuk mandi dan berganti pakaian terlebih dulu, sebelum keruangan kerjanya untuk menyelesaikan pekerjaan yang belum rampung.


Namun saat melewati ruang keluarga, dia tidak sengaja melihat pintu ruang kerjanya sedikit terbuka. Fajar mengernyit bingung. Sepertinya ada seseorang dalam ruangannya. Tapi siapa? Setaunya, ini bukan jadwal Bu Zaitun membersihkan ruangannya. Apa ada pelayan lain yang melakukannya?


"Iya Tuan" Bu Zaitun tampak tergopoh-gopoh menghampiri tuannya.


"Ibu menyuruh orang untuk membersihkan ruanganku? Bukankah aku sudah sering bilang, tidak ada yang boleh masuk kedalam ruanganku selain aku dan ibu saja?" Fajar menatap Bu Zaitun seraya menunjuk ruangannya.


Sedari dulu dia sudah membuat peraturan, bahwa tidak ada yang boleh masuk kedalam ruangannya selain Bu Zaitun saja, satu-satunya orang yang sangat dia percayai. Baik itu untuk membersihkan ruangan, atau untuk keperluan lainnya. Kecuali kalau dirinya sedang berada ditempat. Karena itu adalah privasinya.


"Maaf Tuan, tapi saya tidak pernah menyuruh siapapun untuk membersihkan ruangan Tuan. Saya selalu memperingatkan semua pelayan untuk tidak masuk kedalam ruangan Tuan. Saya rasa, mereka tidak mungkin akan membantah...."

__ADS_1


Sanggah Bu Zaitun menjelaskan. Feelingnya mendadak jadi tidak enak. Tadi seingatnya, Nyonya Tari sedang membersihkan ruangan. Apa mungkin....?


"Lalu, siapa yang berada didalam sana?" Tukas Fajar bingung sebelum dia berlari masuk kedalam ruangannya. Bu Zaitun pun ikut berlari mengekori tuan mudanya dari belakang.


Sesampainya didalam, dia terkejut mengetahui orang yang ternyata berada dalam ruangannya adalah Tari. Yang lebih mengejutkannya lagi adalah, perempuan itu sedang memegang sebuah arsip, dan memandangi selembar foto ditangannya.


"Sedang apa kamu disini?" Suara Fajar yang tiba-tiba saja muncul membuat Tari kaget, hingga arsip serta foto ditangannya jatuh kelantai.


BRAKK


"Ka-kamu sudah pulang?"


Fajar berjongkok, hendak memunguti arsip, berkas-berkas dan foto itu. Sedangkan Tari masih tetap berdiri dengan gelagapan melihat ekspresi suaminya.


Mata Fajar terbelalak melihat foto berisi potret Zahra yang masih dia simpan. Fajar mengambil foto itu, lalu dia bangkit berdiri dan menatap Tari dengan tajam.


"Apa yang kamu lakukan?! Siapa yang menyuruhmu untuk masuk kedalam ruanganku, dan menggeledah isi ruanganku seenaknya?!" Seru Fajar dengan berkobar-kobar.


"A-aku...." Tari menjawab dengan tergagap tanpa berani menatap suaminya yang marah.


"Aku tau, aku sudah bersalah padamu. Aku tau kalau aku sudah menghancurkan masa depanmu! Oke fine! Tapi bukankah aku sudah menebus semua kesalahanku! Bukankah aku sudah bertanggung jawab padamu?! Apalagi yang harus aku lakukan!


Apakah aku seburuk itu, hingga kamu merasa bahwa privasiku pun tidak pantas untuk dihargai?! Padahal selama ini aku selalu menghargai privasimu! Aku tidak pernah sekalipun ikut campur urusanmu dengan keluargamu! Tapi kenapa kamu malah ikut campur soal urusan pribadiku?!"

__ADS_1


Teriak Fajar dengan kemarahan yang sudah tidak dapat dikontrol menghadapi kelakuan lancang istrinya. Membuat Tari merasa takut sekaligus sedih.


Bu Zaitun yang berdiri diambang pintu dan menyaksikan pertikaian yang sedang berlangsung antara sepasang suami istri itu, merasa kasian melihat Tari yang sedang menghadapi kemarahan suaminya. Namun dia tidak ingin ikut campur.


__ADS_2