Mentari Untuk Fajar

Mentari Untuk Fajar
BAB 63- Tidak Bisa Menjemputmu


__ADS_3

"Hallo" Ucap Tari dengan cerianya.


"Hallo, Tari. Kamu sedang sibuk?" Tanya Fajar diseberang sana.


"Ya.... Lumayan sih. Kenapa memangnya?"


"Mmm.... Begini, maaf ya, sepertinya hari ini aku tidak bisa menjemputmu lagi. Soalnya hari ini aku ada jadwal operasi. Lalu nanti dilanjut dengan meeting diperusahaan. Tapi kamu tenang saja, aku sudah menyuruh supir untuk menjemputmu. Tidak apa-apa kan?" Fajar berkata dengan ragu.


"Oh, tidak apa-apa kok. Kamu fokus saja pada pekerjaanmu. Kan nyawa pasienmu lebih penting. Lagipula.... Ada supir juga kan yang akan menjemputku?" Tari menjawab dengan cepat.


"Terima kasih banyak ya atas pengertianmu. Aku usahakan besok aku sendiri yang akan menjemputmu. Karena aku juga ingin mampir kekantormu" Ucap Fajar dengan nada suara lirih dan terdengar dalam. Tampaknya pria itu sangat ingin menjemputnya. Namun halangan yang dihadapinya terlalu urgent, sehingga dia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Iy-iya. Sudah dulu ya. Aku masih sibuk" Ucap Tari dengan sedikit gugup.


"Oke, selamat bekerja. Sampai jumpa"


Tari mematikan ponselnya dengan sedikit rasa bersalah atas ketidak jujurannya terhadap suaminya. Padahal mereka sudah berjanji, akan saling jujur dalam segala hal.


Namun sekarang malah dia yang tidak bisa jujur pada Fajar, kalau dia magang diperusahaan kakaknya yang tidak pernah menganggapnya sebagai adik. Karena dia takut membuat suaminya emosi jika mendengar tentang keluarganya yang arogan.


Tapi dia tidak bisa seperti ini terus. Apapun alasannya, dia tidak ingin melanggar kepercayaan antara mereka berdua. Nanti sesampainya dirumah, dia akan mencoba bicara baik-baik dengan suaminya. Semoga Fajar bisa mengerti, dan tidak akan mempermasalahkan dirinya yang menjadi anak magang ditempat ini.


Tak ingin terlalu banyak berasumsi, atau berprasangka buruk terhadap suaminya, Tari kembali memfokuskan diri pada pekerjaannya supaya dia bisa cepat pulang dan bertemu dengan suami tampannya.

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁🍁


Tari tampak berjalan mondar-mandir dengan gelisah diteras kantor. Berkali-kali dia menyalakan ponselnya, menghubungi supir yang ditugaskan oleh Fajar untuk menjemputnya. Namun nomor abdi setia suaminya itu selalu saja tidak aktif atau berada diluar jangkauan.


Tari mendengus kesal. Sudah hampir dua jam dia menunggu jemputannya, ditengah-tengah curahan hujan yang turun dengan lebat, serta petir dan kilat yang saling menyambar seperti sedang bertarung saja. Membuat udara dan suasana terasa sangat dingin dan mencekam.


Jujur dia merasa takut, namun dia enggan menunggu didalam. Percikan-percikan air hujan sedikit demi sedikit menerpanya akibat hembusan angin, meskipun dia berlindung dibawah atap teras gedung yang kokoh.


Bahkan blazer lengan panjang yang dikenakan Tari pun tak mampu melindunginya dari hawa dingin, sehingga dia harus berpangku tangan, agar bisa merasakan kehangatan, walaupun hanya sedikit.


Tampaknya hujan lebat inilah yang menjadi penyebab supir tak kunjung datang untuk membawanya pulang. Entah lelaki itu terjebak kemacetan atau bagaimana. Sehingga dia harus menunggu dalam ketidak pastian seperti ini. Semua karyawan yang lain sudah pulang dari dua setengah jam yang lalu, saat hujan masih belum terlalu deras.


Hari ini pekerjaan Tari lumayan padat. Sehingga dia terlalu asik dan larut dalam mengerjakannya. Sehingga tanpa sadar semakin lama hujan sudah semakin lebat, saat dia sudah usai mengerjakan semuanya.


Mungkin memang ada beberapa karyawan yang tersisa, yaitu petugas keamanan yang saat ini berada diposnya. Namun tidak mungkinkan dia bergabung dengan lelaki-lelaki itu? Apalagi harus menerobos curahan air yang jatuh dari langit dengan deras.


Tubuh Tari mulai terasa pegal. Perutnya juga kelaparan karena dia belum makan apa-apa pasca makan siang tadi.


Tari kembali menyalakan ponselnya. Kali ini bukan untuk menghubungi supirnya lagi yang sepertinya akan sia-sia saja. Tapi untuk menghubungi Fajar. Mungkin saat ini suaminya sedang sibuk entah dirumah sakit, atau diperusahaannya.


Namun dia tidak punya lain, karena dia ingin segera tiba dirumahnya. Apalagi perutnya pun mulai terasa kram. Dan dia takut hal ini bisa mempengaruhi kondisi bayi dalam kandungannya.


Namun lagi-lagi Tari harus mendengus kesal lantaran ponselnya malah lowbat, sehingga tidak mungkin bisa dia gunakan untuk menghubungi suaminya. Ingin rasanya dia melempar ponselnya ini ketengah-tengah air hujan itu. Saat sedang sangat dibutuhkan seperti ini, benda pipih ini malah tidak berguna!

__ADS_1


Sekarang tidak ada lagi yang bisa diperbuatnya, selain menunggu dengan sabar kapan hujan ini akan berhenti. Dan entah sampai kapan Fajar akan menyadari ketiadaaannya dirumah?


Gerald yang baru saja turun dari lantai paling atas dimana ruangannya berada, tercengang saat dia membuka pintu keluar lobby dan melihat Tari sedang berdiri diteras, sambil berpangku tangan dengan wajah termenung gelisah.


Dia tidak tau kalau ternyata masih ada karyawan yang tersisa dikantornya, selain para petugas keamanan yang sepertinya sedang bersantai diposnya. Setelah menutup pintu yang terbuat dari kaca, Gerald berjalan keluar mendekati Tari.


"Ehem"


Tari yang sedang melamun terkesiap, saat tiba-tiba terdengar suara deheman berat seorang pria dari sampingnya. Spontan dia menoleh, kedua matanya langsung melihat Gerald yang berdiri disampingnya dengan ekspresi dingin dan angkuh seperti biasanya.


"Eh, selamat malam Pak" Tari berusaha memperlihatkan senyum sesopan mungkin, pada atasannya yang berdiri menyampinginya itu.


Dia tidak tau kalau ternyata lelaki itu masih belum pulang. Dia pikir bos bisa datang dan pulang sesuka hatinya. Tidak perlu sampai harus semalam ini. Semoga kehadiran pria arogan ini tidak semakin memperburuk moodnya.


"Ini sudah lebih dari jam delapan malam. Kenapa kamu masih belum pulang juga ya? Kamu sengaja lembur atau.... Suami yang kamu bangga-banggakan itu, tidak ada waktu untuk menjemput istrinya sendiri? Jadi hanya sebatas itu, tanggung jawab dia terhadap wanita yang dia jadikan sebagai istrinya?"


Dengan sikap yang masih datar dan dingin, Gerald berkata dengan sinis. Membuat Tari geram mendengar lelaki itu menjelek-jelekkan suaminya, yang tak lain adalah adiknya sendiri. Ternyata tidak selamanya darah itu lebih kental dari air.


"Fajar.... Sedang sibuk Pak. Malam ini dia ada jadwal operasi yang tidak bisa ditinggalkan. Saya sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu kok Pak. Karena menyelamatkan nyawa orang lain adalah pekerjaan yang mulia. Kalau saya meminta suami saya untuk lebih memilih menjemput saya kesini, itu artinya saya tidak punya hati dan menyepelekan nyawa.


Jadi saya minta maaf, jika Bapak ingin mengutarakan kebencian Bapak terhadap Fajar kepada saya selaku istrinya, saya rasa saya tidak berminat untuk itu. Lagipula Bapak sendiri kan yang pernah menegaskan? Kalau diantara kita hanya ada hubungan antara atasan dengan bawahan. Bukan hubungan antara ipar.


Jadi apapun masalah yang ada, yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan, saya rasa tidak perlu untuk kita bahas. Apalagi masalah pribadi antara saya dengan suami saya. Karena saya rasa, itu semua tidak ada hubungannya dengan kinerja saya disini"

__ADS_1


__ADS_2