
Claudia kembali memasang wajah sedihnya. Berusaha menunjukkan pada suaminya, bahwa dia sangat prihatin dengan kehidupan Tari yang sekarang.
Tidak ada pilihan lain selain dia harus berpura-pura mendukung suaminya. Padahal dalam hatinya sibuk mencari cara supaya rencana Tristan bisa dibatalkan.
"Terima kasih banyak ya Ma, atas pengertian dan kesabaran Mama terhadap Tari. Padahal dia sudah bersikap sangat buruk pada Mama. Tapi Mama masih tetap menyayanginya. Tari sangat beruntung memiliki ibu sambung seperti Mama.
Mungkin saat ini dia khilaf dan tidak menyadarinya. Tapi nanti setelah dia kembali kerumah, Papa akan mencoba membuat dia sadar secara perlahan-lahan, kalau dia sudah salah menilai Mama"
Tristan menatap istrinya dengan penuh kekaguman. Jawaban wanita itu membuatnya merasa sangat puas dan lega.
Dia berharap untuk kedepannya, keluarganya bisa kembali damai dan rukun. Terlepas dari segala pertikaian dan kesala pahaman yang pernah terjadi.
"Iya Pa. Ya sudah kalau begitu, tunggu apalagi? Ayo kita jemput Tari sekarang. Mama sudah sangat merindukannya" Claudia mencoba menunjukkan sikap antusiasnya, sekalipun dalam hatinya merasa enggan.
"Iya Ma, ayo kita berangkat"
🍁🍁🍁🍁🍁
Setelah sebulan mencari, akhirnya Fajar berhasil menemukan informasi yang dia butuhkan, mengenai perempuan yang akhir-akhir ini selalu menghantuinya dengan rasa bersalah.
"Mentari Senja Pratama?" Fajar dengan fokus membaca data yang berisi tentang wanita yang dicarinya selama ini.
"Benar Pak. Alamat lengkapnya juga ada disana"
"Baik, terima kasih banyak atas bantuanmu"
"Sama-sama Pak. Kalau begitu saya permisi dulu"
"Iya"
__ADS_1
Setelah kepergian anak buahnya, Fajar menjadi galau. Dia menatap berkas-berkas ditangannya dengan perasaan bimbang.
Akhirnya dia menemukan wanita yang selama ini dicarinya. Dia lega karena bisa menyampaikan permintaan maafnya pada perempuan yang telah dia rusak masa depannya itu.
Tapi disisi lain, dia juga merasa gelisah. Bagaimana jika nanti wanita itu sampai meminta pertanggung jawabannya, dengan cara harus dinikahi? Sanggupkah dia melakukan itu? Menikahi wanita yang tidak dicintainya. Wanita yang bahkan baru dua kali ditemuinya.
Apa yang harus dilakukannya
sekarang? Apa sebaiknya dia tidak perlu memui wanita itu, dan melupakan saja apa yang sudah pernah terjadi diantara mereka? Dengan begitu, dia tidak perlu berurusan dengan perempuan itu. Apakah itu keputusan yang bijak?
Tapi.... Bukankah itu sikap terlalu pengecut? Arrgghhh!! Memikirkan masalah ini lama-lama bisa membuat kepalanya pecah! Kenapa hidupnya semakin lama menjadi semakin rumit seperti ini?!
Fajar menutup wajah dengan telapak tangannya, dan mengusapnya dengan kasar. Dia juga menghela nafas berat, saking frustasinya dengan kehidupannya.
🍁🍁🍁🍁🍁
"Ranty! Ranty!! Buka pintunya!! Ranty!! Keluar kamu!!" Tari dan Ranty yang sedang sarapan terkesiap saat tiba-tiba mereka mendengar suara-suara teriakan yang menggelegar diluar rumahnya, disertai dengan suara pintu yang digedor-gedor dengan kerasnya.
Apalagi mereka semua dengan keras berteriak-teriak memanggil Ranty. Feeling Tari menjadi tidak enak. Dia takut jika masalah baru akan terjadi. Sedangkan masalah yang sudah ada saja, sudah sangat besar dan belum ada jalan keluarnya.
"Aku juga tidak tau Tar. Kenapa mereka menggedor-gedor pintu kos kita sekencang itu?" Ranty yang juga sama bingungnya balik bertanya.
"Ya sudah kamu lanjutkan saja makannya. Biar aku saja yang melihat ya" Ranty bangkit dan beranjak kepintu depan, lalu dia membukanya.
Betapa terkejutnya dia melihat halaman depan kosnya sudah ramai, dengan kehadiran para warga yang sedang berkumpul dan berkerumun. Seperti sedang melakukan aksi unjuk rasa saja.
"Ibu-ibu bapak-bapak, ini ada apa ya ramai-ramai seperti ini dikosan saya?" Ranty bertanya dengan bingung.
"Heh Ranty, mana temanmu yang pelacur itu?! Suruh dia keluar!! Dan suruh dia untuk segera angkat kaki dari kos-kosan saya sekarang juga! Saya tidak mau ya, sampai dituding sebagai seorang germo, karena menyewakan kos-kosan saya untuk perempuan nakal seperti temanmu itu!!"
__ADS_1
Hardik seorang wanita paruh baya yang berpenampilan elegan, yang tidak lain adalah pemilik kosan itu. Suara lantang wanita itu mendapat dukungan serempak dari semua orang yang ada ditempat itu.
"Mmm, maksud kalian apa ya? Pelacur? Siapa yang kalian maksud? Saya tidak mengerti" Ranty semakin bingung. Namun perasaannya semakin tidak enak.
"Alaaah udahlah! Kamu pikir kami semua disini begok, sampai tidak tau kalau temanmu itu sedang hamil? Padahal dia belum menikah?" Timpal seorang pria dengan suara yang tak kalah lantangnya.
Ranty terkesiap mendengar penjelasan pria itu. Ya Tuhan, ternyata semua orang disini sudah mengetahui tentang kehamilan Tari! Tapi bagaimana bisa? Tau darimana mereka? Ranty menjadi cemas. Entah apa yang akan terjadi pada Tari setelah ini!
"Mmm.... Ka-kalian tau darimana....?" Ranty bertanya dengan bingung dan suara yang terbata-bata.
"Mau kami tau darimana, itu tidak penting! Yang jelas sekarang saya minta, usir temanku itu dari sini! Atau silahkan kamu juga angkat kaki dari kos-kosan saya. Saya tidak mau ya, nama baik saya sebagai pemilik kos-kosan sampai tercemar gara-gara kalian!" Pemilik kosan kembali bersuara dengan nada tinggi dan marah.
Tak lama kemudian, Tari pun ikut keluar dan berdiri diambang pintu, disebelah Ranty.
"Nah, ini dia orangnya! Dasar perempuan gak benar! Saya minta sekarang juga kamu enyah dari sini! Jangan sampai kamu membawa pengaruh buruk untuk anak-anak gadis kami yang ada dilingkungan sini! Dasar perempuan murahan!"
Hinaan dan cacian langsung diterima Tari. Semua orang yang ada ditempat itu menatapnya dengan tatapan antipati dan setengah jijik. Seakan-akan dia adalah sebutir kotoran.
"Bu, maaf ya, saya mohon tolong dijaga ucapannya. Teman saya ini wanita baik-baik. Dia tidak seburuk yang kalian pikirkan. Memang saat ini dia sedang hamil, tapi semua yang terjadi bukan kesalahannya. Dia diruda paksa oleh lelaki yang tidak bertanggung jawab. Jadi tolong jangan salah paham, dan menjudgenya dengan tuduhan yang tidak benar" Ranty mencoba menjelaskan dan meluruskan fakta yang sebenarnya.
Ditengah-tengah kegaduhan yang sedang terjadi, sebuah mobil Daihatsu Gran max berwarna silver berhenti didepan kosan sederhana yang sedang dipadati oleh puluhan warga itu.
Supir turun terlebih dulu, kemudian membukakan pintu untuk tuan dan nyonya besarnya, yang tak lain adalah Tristan dan Claudia.
"Pa, Papa yakin ini alamatnya?" Claudia menatap orang-orang yang sedang berkerumun didepan bangunan sederhana itu dengan bingung.
"Ya.... Menurut orang suruhan Papa sih benar ini tempatnya" Tristan menjawab dengan setengah yakin melihat situasi tempat itu.
"Tapi kenapa ramai sekali ya didepan kos-kosan itu? Apa jangan-jangan ada masalah yang sedang terjadi?"
__ADS_1
"Papa juga tidak tau Ma. Ya sudah, ayo kita lihat saja dulu" Ajak Tristan.
"Sudahlah, kamu tidak perlu mencari alasan untuk membela temanmu itu!! Sekarang pilihannya hanya ada dua, kamu suruh dia pergi dari sini, atau silahkan kamu ikut enyah dengannya, dan cari kos-kosan lain!!"