Mentari Untuk Fajar

Mentari Untuk Fajar
BAB 33- Mencoba Mengakhiri Hidup


__ADS_3

"Oke Ranty, kamu tenang dulu ya. Tolong jangan terlalu panik. Saya janji akan berusaha untuk mencari Tari sampai ketemu. Saya akan kerahkan seluruh anak buah saya. Jadi kamu tenang saja ya. Doakan saja semoga dia baik-baik saja dan cepat ditemukan"


"Terima kasih banyak ya Dok. Untuk saat ini hanya Dokter, satu-satunya orang yang bisa saya andalkan"


"Iya sama-sama. Ini juga bagian dari tanggung jawab saya" Fajar mengakhiri panggilan suara itu.


Huh! Dia menghela nafas berat. Jadi gadis itu minggat dari kosannya lantaran tidak ingin menikah dengannya? Ya Tuhan! Kenapa permasalahannya dengan perempuan itu semakin lama semakin menuai drama yang tiada usai?! Yang mulai membuatnya muak!


Apakah wanita itu berpikir bahwa dirinya senang dengan pernikahan itu?! Andai dia bisa memutar waktu, dia juga tidak pernah ingin pelecehan itu terjadi. Dia tau dia memang sudah melakukan kesalahan besar.


Tapi apakah kesalahannya tidak patut untuk dimaafkan?! Lagipula dia juga tidak pernah lari dari tanggung jawabnya! Tapi kenapa masalah ini malah menjadi semakin rumit?! Mengapa wanita itu tidak bisa mengerti posisinya, yang tidak sadar saat melakukan itu?!


Apalagi yang harus dilakukannya sekarang, untuk menyelesaikan masalahnya dengan perempuan itu?!


🍁🍁🍁🍁🍁


Tari berjalan dengan langkah gontai dan tatapan kosong dipinggir jembatan. Seperti patung yang berjalan ditempat yang agak jauh dari keramaian orang, maupun kendaraan yang berlalu lalang. Wajahnya tampak pucat dan tidak fokus.


Dia berhenti lalu memegang dan melihat perutnya, yang masih belum ada tonjolan. Frustasi dengan kehidupannya. Entah dosa besar apa yang sudah dia lakukan, hingga dia terus mendapatkan hukuman yang bertubi-tubi seperti ini.


Hidupnya benar-benar sudah hancur! Tidak ada lagi yang tersisa. Semua yang dia miliki kini menghilang dan meninggalkannya. Papanya, cintanya, kesuciannya! Dan sekarang dia mengandung anak diluar pernikahan! Haruskah dia menerima semua ini dan tetap bertahan? Atau memilih menyerah dan pergi untuk selamanya?!


Jujur dia tidak pernah membenci anak ini. Karena semua yang terjadi bukanlah kesalahannya.


Tapi rasanya dia juga tidak mungkin bisa melahirkan dan membesarkan anak ini. Dia takut akan memberikan penderitaan yang berat untuk anak yang tidak berdosa ini. Dia takut anak ini akan mendapatkan hinaan dan cacian, seperti yang didapatkannya saat ini.

__ADS_1


Tari memandangi sungai dengan arus deras yang berada dibawah jembatan tempatnya berdiri itu dengan pandangan nanar. Dia melihat perutnya.


Dia tau bahwa yang dia lakukan ini memang salah. Karena dia akan melenyapkan dua nyawa yang berada dalam satu tubuhnya. Tapi mungkin memang inilah yang terbaik untuk mereka berdua! Karena dia sudah lelah menghadapi semua ini!


Tari melangkahkan kakinya. Menaiki besi yang menjadi dinding jembatan itu, sembari terus menatap kebawahnya. Sesuai dengan niatnya, dia pun hendak melompat kedalam sungai yang berada dibawah sana.


Namun sebelum niatnya berhasil terealisasi, sebuah tangan kokoh milik seorang pria sudah terlebih dulu menangkap dan menarik tubuhnya. Hingga mereka berdua kehilangan keseimbangan, dan jatuh tersungkur diatas permukaan jembatan beraspal itu.


"Aauw!"


"Apa yang kamu lakukan?! Apa kamu sudah kehilangan akal sehatmu?! Kamu pikir mati itu gampang?! Kamu pikir dengan kamu mati, semua masalah ini akan selesai begitu saja?! Kamu justru malah menambah masalah yang sebenarnya masih bisa diselesaikan secara baik-baik!!" Teriak Fajar dengan gusar merutuki kebodohan gadis itu.


Sedangkan Tari memegang perutnya seraya meringis kesakitan. Tampaknya benturan akibat terjatuh barusan berefek pada kandungannya.


"Kamu baik-baik saja? Perutmu sakit? Ayo, aku akan membawamu kerumah sakit" Fajar memegang tubuh gadis itu dengan panik, dan bertanya dengan suara yang lebih lembut.


Namun gadis itu memberontak dengan menggunakan sisa-sisa tenaganya. "Tidak. Aku tidak mau ikut denganmu. Sebaiknya kamu pergi saja. Tidak perlu sok peduli padaku" Ujar Tari lirih dan lemah disela-sela rasa sakit yang mendera tubuhnya.


Fajar mengkretakkan giginya dengan geram.


"Aku mohon untuk kali ini saja, tolong jangan keras kepala. Lagipula aku juga tidak ingin membantumu kok. Aku hanya ingin membantu anakku yang ada dalam kandunganmu" Fajar tetap bersikeras untuk membopong Tari menuju mobilnya, tanpa mempedulikan penolakan wanita itu.


Yang ada dipikirannya saat ini hanyalah kondisi janin dalam kandungannya. Karena biar bagaimanapun juga, itu adalah darah dagingnya juga.


🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


Fajar membawa Tari kerumah sakit miliknya. Sesampainya disana, dia langsung memerintahkan dokter obgyn terbaik yang ada untuk memeriksa dan menangani gadis malang itu.


"Benturannya tidak terlalu keras Dok, sehingga hal itu tidak terlalu mempengaruhi kondisi janin. Namun...."


"Namun?"


"Namun tekanan darah Ibu Tari cukup tinggi. Sepertinya hal itu disebabkan oleh stress yang berlebihan. Saya khawatir hal itu akan berisiko terjadinya preeklampsia yang bisa membahayakan keselamatan janin. Apalagi untuk kondisi janin yang masih terlalu dini, pada trimester pertama seperti saat ini" Dokter Jenar menjelaskan dengan agak khawatir.


"Lalu apa yang harus kita lakukan Dok?"


"Saya sarankan agar Ibu Tari banyak istirahat, makan-makanan yang bergizi. Dan pastinya jangan terlalu banyak pikiran. Apalagi memikirkan hal-hal yang berat"


"Terima kasih Dok" Ujar Fajar dengan nada hambar.


"Kalau begitu saya permisi Dok"


"Iya silahkan"


Dokter Jenar pun keluar, meninggalkan mereka berdua saja diruangan VVIP yang luas dan mewah itu. Fajar memandangi perempuan yang terbaring diatas ranjang empuk itu dengan perasaan hampa. Tatapan wanita itu lurus keatas. Memandangi langit-langit kamar dengan tatapan kosong.


Perasaan Fajar campur aduk antara kasian, bersalah dan juga greget. Dia merasa kasian melihat perempuan yang terlihat sangat hancur dan depresi itu. Dia merasa bersalah karena dialah yang menjadi penyebab kehancuran hidup perempuan malang itu.


Namun disisi lain, dia juga merasa greget karena sikap gadis itu yang begitu keras kepala. Bahkan sampai nekat ingin mengakhiri hidupnya sendiri.


"Sekali lagi aku minta maaf, karena aku sudah menghancurkan masa depanmu. Andai aku bisa mengulang waktu, aku pasti tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi pada kita. Aku pasti tidak akan mabuk-mabukan pada malam itu. Hingga tanpa sadar aku sampai menodai kesucianmu.

__ADS_1


Tapi nasi sudah terlanjur menjadi bubur. Yang sudah terjadi tidak akan bisa dirubah lagi. Sekalipun kita tidak bisa menerima takdir seperti itu. Dalam hal ini akulah yang bersalah. Bukan kamu. Kamu boleh melakukan apapun. Mencaci maki bahkan menghajarku sepuasnya. Karena aku memang pantas mendapatkannya.


Tapi aku mohon, tolong jangan lampiaskan kemarahan dan sakit hatimu pada bayi yang tidak bersalah itu. Seorang bayi yang tidak pernah meminta untuk dihadirkan kedunia ini, dengan cara seperti ini. Aku menawarkan untuk menikahimu, supaya aku bisa bertanggung jawab dan menjaga kalian berdua"


__ADS_2