
"Permisi Pak, ini sop buah pesanan anda" Sekretaris Santi meletakkan kantong berisi dua gelas plastik sop buah pesanan Gerald diatas meja didepan atasannya itu.
"Oke terima kasih. Kamu boleh keluar sekarang" Titah Gerald datar sambil meraih bungkusan itu.
"Baik Pak, saya permisi dulu" Santi mengangguk dan membungkukkan badannya dengan hormat, sebelum dia meninggalkan ruangan Gerald.
"Heuh" Jawab Gerald singkat tanpa menghiraukan sekretarisnya berbalik dan berjalan menuju pintu keluar.
Dengan perasaan berbunga-bunga Gerald menatap bungkusan kantong itu. Dia membayangkan Tari akan memakan sop buah itu dengan lahap, karena tadi dia lihat wanita itu sedang ngidam ingin makan makanan ini.
Meskipun masih belum bisa berterus terang bahwa dia adalah ayah dari bayi itu, namun setidaknya untuk pertama kalinya dia bisa menunjukkan perhatiannya pada darah dagingnya itu. Dia berharap bayi itu bisa merasakan kasih sayangnya, ayah kandungnya. Begitupun dengan Tari.
Hah! Kenapa dia tidak bisa berhenti memikirkan ibu dari anaknya itu? Seharusnya dia hanya fokus pada bayinya saja. Tidak perlu pada adik iparnya juga. Tapi kenapa sangat sulit mengabaikan perempuan itu?
Gerald bangkit dari kursi kebesarannya dan berjalan meninggalkan ruangannya, sambil menenteng bungkusan plastik ditangannya menuju ruangan divisi pemasaran, tempat dimana Tari berada.
Sesampainya dia diruangan divisi itu, Gerald tertegun melihat Tari yang sedang asik melahap sop buah yang ada dalam gelas plastik diatas mejanya sambil tertawa-tawa.
Dengan seksama Gerald memperhatikan perempuan itu, yang tampaknya sedang bercengkrama ria dengan seseorang melalui sambungan video call. Hal itu terlihat dari ponsel ditangannya yang mengarah kewajahnya.
Hati Gerald dipenuhi dengan berbagai pertanyaan. Darimana perempuan itu mendapatkan sop buah itu? Bukankah dikantin maupun pada pedagang gerobak depan kantor tidak ada? Apa dia memesannya sendiri?
Gerald yakin itu bukan dari Fajar. Karena tadi Tari sudah berusaha menghubungi suaminya itu. Namun sibedebah itu tidak bisa dihubungi.
Gerald berusaha mendekat tanpa diketahui keberadaanya oleh Tari, supaya dia bisa mengintip dengan siapa perempuan itu sedang bicara, hingga membuatnya sesumringah itu.
Darah Gerald serasa mendidih, saat mengetahui bahwa orang yang sedang melakukan video call dengan perempuan itu adalah Fajar!
__ADS_1
"Bagaimana Queen? Sop buahnya enak?" Tanya Fajar dengan wajah tampannya yang terlihat melalui layar ponsel Tari.
"Enak sekali. Saking enaknya, dua gelas hampir ludes" Jawab Tari sambil melahap irisan buah-buahan basah dan dingin itu dengan antusiasnya, disertai senyum lebar diwajahnya.
"Sepertinya princess benar-benar ingin makan itu ya. Tapi makannya pelan-pelan dong. Nanti kesedak lagi" Fajar memperingati.
"Eum. Terima kasih ya King. Untung saja ada kamu. Kalau tidak, entah bagaimana denganku. Pasti princess akan sangat rewel kalau keinginan ngidamnya dituruti"
"Tidak perlu berterima kasih. Aku melakukannya untuk putriku. Mana tega aku membiarkan princess kesayanganku kelaparan? Tidak mendapatkan makanan yang dia inginkan. Dan nantinya saat lahir, dia bisa ileran" Gurau Fajar.
"Iya deh. Pokoknya Kingku ini adalah suami terbaik sedunia. Mentari Senja memang tidak pernah salah pilih suami"
"Heum.... So sweet. Tau gak sayang? Dipuji oleh istri tercinta seperti ini tu rasanya, seperti terbang keawang-awang. Ibaratnya, ada angin segar yang berhembus dan menyejukkan seluruh tubuhku"
Fajar tersenyum tipis sembari menengadah dengan tatapan menerawang. Hatinya terasa begitu damai mendengar pujian dan gombalan dari istrinya.
Perbincangan mesra dan romantis mereka berlangsung ngalor ngidul. Bagai dunia milik berdua, mereka lupa pada sekitarnya. Lupa jika saat ini Tari sedang berada dikeramaian para karyawan dalam ruangan divisi itu.
Gerald yang lagi-lagi dilanda kecemburuan buta melihat kemesraan yang ditampilkan oleh sepasang suami istri itu hanya bisa mengepalkan tangannya, mencengkeram kuat-kuat bungkusan yang ada ditangannya, meluapkan api amarah yang membara dihatinya.
Lagi-lagi Fajar mendahuluinya! Bahkan saat dia ingin menunjukkan perhatian pada putri kandungnya sendiri! Kenapa dia selalu saja kalah dari adik tirinya itu?! Bagaimana caranya supaya dia merebut Tari dan putrinya, tanpa dihalangi terus oleh sibr*ngs*k itu?!
Perasaan iri, cemburu dan dengki membuncah didada Gerald. Sedangkan tangannya terus dia gunakan untuk mencengkram bungkusan sop buah itu, hingga hancur dan air berwarna pink dengan rasa dingin itu membasahi tangannya, dan menetes perlahan-lahan melalui sela-sela tangannya hingga berceceran dilantai.
🍁🍁🍁🍁🍁
Empat puluh menit kemudian Tari sudah selesai bicara dengan Fajar dan mematikan ponselnya. Dia juga sudah kekenyangan setelah menghabiskan dua gelas sop buah kiriman suaminya itu. Sekarang dia bisa fokus kembali pada pekerjaannya.
__ADS_1
Tari membereskan berkas-berkas yang berserakan dimejanya. Menatanya menjadi tiga bagian. Setelah rapi, dia mengambil berkas berisi laporan yang baru saja diselesaikannya. Dengan mengapit berkas ditangannya, Tari beranjak dari ruangan itu. Tujuannya adalah untuk menyerahkan hasil kerjanya pada Gerald atau sekretarisnya.
Namun saat akan mendekati pintu keluar, dia tercengang melihat lantai kotor oleh ceceran cairan berwarna pink, irisan-irisan buah serta bungkusannya.
Tari mengernyitkan keningnya. Bertanya-tanya dalam hatinya. Kenapa bisa ada sop buah tumpah disini? Apa ada orang lain yang memesan sop buah selain dirinya? Wah, kebetulan sekali. Tau begitu tadi dia minta saja sedikit pada orang itu. Tidak perlu sampai merepotkan suaminya segala.
Salah seorang karyawan yang hendak keluar dari ruangan itu berjalan melewatinya.
"Kak" Tari menegur seniornya itu dengan sopan, hingga wanita itu berhenti dan menatapnya dengan tatapan bertanya.
"Ini sop buah siapa ya Kak? Kok sampai berserakan dan mengotori lantai seperti ini?" Tanya Tari sembari menunjuk sop buah yang berserakan didepan mereka.
"Aku kurang tau sih Tar. Tapi tadi beberapa menit yang lalu, aku lihat yang ada disini pak Gerald. Dan beliau seperti memegang bungkusan plastik gitu" Jawab wanita itu sedikit ragu. Tari sedikit terkejut mendengarnya.
"Pak Gerald? Kakak yakin?" Tanya Tari dengan alis bertaut.
"Ya.... Tidak tau juga. Soalnya kan tadi aku buru-buru, mau menyerahkan hasil laporanku pada Bu Santi. Jadi aku tidak terlalu memperhatikan"
"Iya itu memang punyanya pak Gerald. Tadi aku lihat sendiri, pak Gerald kelihatan marah sekali. Sampai bungkusan sop buah ditangannya dia cengkram dengan sangat erat, hingga tumpah dan berceceran seperti ini" Timpal karyawan lain yang tiba-tiba muncul dan ikut nimbrung dalam percakapan mereka.
"Kira-kira pak Gerald ada masalah apa ya? Kok bisa sampai seperti ini?" Dengan penuh rasa penasaran wanita yang sedari tadi bicara dengan Tari bertanya.
"I don't know" Wanita itu hanya menggidikkan bahunya dengan sikap masa bodo.
Tari membiarkan kedua seniornya itu berspekulasi, tanpa ikut nimbrung dalam percakapan mereka yang sedang membicarakan atasan mereka dengan penasaran.
Dia hanya menyimpan pertanyaan itu dalam hatinya sendiri. Dia juga penasaran, sebenarnya apa yang terjadi dengan kakak iparnya itu? Apa yang membuatnya begitu marah hingga melampiaskannya pada sop buah ini?
__ADS_1