Mentari Untuk Fajar

Mentari Untuk Fajar
BAB 47- Perhatian Fajar


__ADS_3

Malam kembali berlalu, digantikan dengan pagi. Fajar terbangun saat mendengar suara-suara yang membuat tidurnya terganggu. Dia mengucek-ucek matanya yang masih terasa berat untuk terbuka.


Setelah terbuka, matanya langsung tertuju pada ranjang yang dibalut sprei putih yang terpampang didepannya. Fajar terkejut karena tidak mendapati Tari diatas ranjang kosong itu. Dia menatap kesekelilingnya. Mencari-cari keberadaan istrinya. Telinganya kembali mendengar suara yang tampaknya berasal dari kamar mandi.


Dia bangkit dan berjalan menuju kamar mandi dengan langkah lebar, untuk melihat apa yang terjadi.


Ueek.... Ueek.... Ueek....


Sesampainya didalam sana, dia melihat Tari yang sedang memuntahkan isi perutnya.


"Kamu baik-baik saja?" Fajar mendekati Tari dan memijat-mijat punggungnya dengan penuh perhatian.


Tari tidak menghiraukan kehadiran suaminya. Dia tetap fokus memuntahkan makanan yang membuat perutnya bergejolak dan sakit.


Fajar dengan setia menunggu hingga istrinya menjadi lebih baik. Perasaan bersalah kembali menyergapnya. Dialah yang sudah membuat wanita itu sakit seperti ini. Andai dia tidak pernah membuat perempuan itu mengandung anaknya, mungkin kondisinya tidak akan seperti ini.


Beberapa menit kemudian Tari berhenti muntah. Dia terduduk lemas dibawah westofel sembari memegang perutnya.


"Sudah baikan? Atau masih ingin muntah lagi?" Fajar berjongkok disamping Tari. Dia memegang pundak perempuan itu dan bertanya dengan lembut.


"Sudah cukup" Jawab Tari dengan lemah.


"Ya sudah, ayo kembali ketempat tidur. Kamu harus istirahat lagi" Fajar membopong tubuh Tari, dan membawanya kembali keatas tempat tidur. Dia membaringkan tubuh istrinya diatas ranjang lalu menyelimutinya. Karena kelelahan, Tari pun tertidur pulas kembali.


🍁🍁🍁🍁🍁


Sekitar jam satu siang Tari terbangun. Dia menatap kesekelilingnya. Ternyata dia masih berada dirumah sakit yang sama.


"Selamat siang"

__ADS_1


Tari terkejut mendengar suara seorang pria menyapanya dengan lembut dan bersahabat. Dia menoleh dan langsung bertatapan dengan suami tampannya yang duduk dikursi disamping tempat tidurnya.


"Bagaimana perasaanmu sekarang? Sudah merasa jauh lebih baik?" Tanya Fajar.


"Iy-iya" Jawab Tari dengan malu dan salah tingkah.


Dari tadi setiap kali dia membuka matanya, selalu wajah tampan itu yang pertama kali dilihatnya. Apa pria ini sudah menungguinya dari semalam disini, sejak dia belum sadarkan diri? So sweetnya! Benar-benar sikap seorang suami idaman.


"Perutmu masih terasa mual?" Tanya Fajar dengan lembut. Membuat Tari tersentak dari lamunannya yang sedang mengagumi lelaki itu.


"Sedikit" Jawab Tari jujur. Karena dia memang masih merasa sedikit mual. Meskipun tidak separah sebelumnya.


"Ya sudah, ayo sekarang coba kamu hirup aroma minyak lavender ini. Minyak esensial ini bisa membuat perasaanmu menjadi lebih rileks. Perlahan-lahan bisa membuat rasa mualmu berkurang. Cobalah" Fajar mengambil gelas berisi minyak lavender diatas nakas, lalu menyerahkannya pada Tari.


"Terima kasih" Tari menerima gelas minyak esensial itu dan mencoba untuk menghirup aromanya.


Tiba-tiba pintu terbuka, seorang wanita berpakaian perawat masuk dengan membawa sebuah nampan berisi semangkuk bubur, segelas air putih serta obat yang harus diminum Tari. Perawat itu mendekati mereka


"Selamat siang Dokter Fajar, Ibu Tari. Bu, sekarang waktunya anda makan ya. Setelah itu minum obat" Ucapnya dengan ramah sambil meletakkan nampan itu diatas nakas.


"Terima kasih sus" Fajar melemparkan senyum ramah pada bawahannya itu. Perawat itu membalas senyum ramah Fajar sembari mengangguk, sebelum menjauhi mereka dan meninggalkan ruangan itu.


Fajar mengambil mangkuk bubur diatas nampan itu, lalu menyendok isinya dan dan menyodorkannya kedepan mulut Tari. Bermaksud untuk menyuapinya. "Ayo buka mulutmu"


"Mmm.... Tidak perlu. Aku bisa makan sendiri" Tari menolak dengan gugup. Pria itu akan menyuapinya? Yang benar saja. Yang ada dia akan membuatnya semakin merasa grogi dan sesak. Karena akhir-akhir ini, perasaannya semakin membara terhadap pesonanya.


"Tanganmu sedang diinfus. Kamu pasti akan kesulitan makan sendiri. Tenang saja, aku tidak ada maksud apapun kok. Aku hanya ingin melakukan kewajibanku sebagai suami dan ayah dari bayimu. Nanti setelah kamu sembuh, kamu bisa kok makan sendiri lagi. Sekarang biarkan aku yang membantumu. Ayo makan" Fajar bersikeras untuk menyuapi Tari.


Membuat perempuan itu akhirnya pasrah membuka mulutnya, dan menerima suapan demi suapan yang diberikan oleh suaminya dengan hati yang berdebar-debar. Dari lubuk hatinya yang terdalam, perasaannya begitu sumringah bagai terbang keawang-awang atas perhatian yang dia terima dari suaminya itu.

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁🍁


Sesuai dengan saran dokter Jenar, Tari diopname selama tiga hari dirumah sakit demi memulihkan kondisi tubuhnya. Sebagai seorang suami, Fajar dengan sabar dan setia menemani istrinya. Selama tiga malam dia menginap dirumah sakit. Dia tidur disofa yang ada dikamar Tari.


Dia menjaga dan mengurus istrinya dengan sangat baik. Mulai dari menyuapinya makan bubur dan minum obat, mengupas buah-buahannya, mengantarkannya kekamar mandi dan segala bentuk perhatian lainnya.


Dia tidak pernah meninggalkan istrinya tanpa ada urusan yang mendesak, misalnya ada pasien yang sedang dalam kondisi darurat atau harus dioperasi segera. Setelah itu, dia pasti akan langsung kembali menemani istrinya.


Segala bentuk perhatiannya itu membuat perasaan Tari terhadapnya semakin membesar. Dia merasa sedang menjadi wanita yang sangat beruntung, karena diperlakukan dengan sangat baik dan perhatian oleh suaminya.


Sekalipun dia tidak yakin jika semua perhatian lelaki itu murni untuknya. Melainkan hanya demi bayi yang dikandungnya.


Namun pemikiran itu tetap tidak mengurangi kadar kebahagiaannya, setelah dia kehilangan cinta dan perhatian dari orang-orang yang telah meninggalkannya dan kembali mendapat perhatian dari suami yang sudah mulai membuatnya merasa nyaman. Meskipun hingga saat ini, keduanya masih berada dalam suasana canggung.


Setelah tiga hari, akhirnya dokter mengijinkan Tari untuk meninggalkan rumah sakit. Kepulangannya disambut dengan hangat oleh Bu Zaitun.


"Alhamdulillah akhirnya Nyonya sudah bisa pulang dari rumah sakit. Bagaimana keadaan Nyonya sekarang? Sudah jauh lebih baikkan?" Bu Zaitun tampak lega melihat nyonya mudanya yang akhirnya bisa kembali pulang kerumah.


"Iya Bu. Aku sudah baikan kok. Terima kasih atas perhatiannya" Tari tersenyum simpul.


"Bu, saya harus kembali lagi kerumah sakit. tolong jaga Tari ya. Dokter bilang dia masih harus banyak istirahat, dan tidak boleh terlalu kecapekan" Fajar menimpali.


"Iya Tuan. Tuan jangan khawatir. Saya pasti akan menjaga Nyonya Tari dengan baik" Bu Zaitun mengangguk dengan hormat.


"Terima kasih Bu. Ya sudah kalau begitu, saya pergi dulu" Ucap Fajar yang dijawab dengan anggukan kepala dari kedua perempuan berbeda generasi itu, sebelum dia berlalu kembali meninggalkan rumahnya.


Tari menatap kepergian suaminya dengan terperangah. Sepertinya pria itu sangat sibuk. Apalagi selama tiga hari menjaganya dirumah sakit. Mungkin banyak pekerjaannya yang terbengkalai. Dia jadi merasa bersalah karena telah membebani suaminya dengan sakitnya kemarin.


🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2