
Tari tersenyum geram dan menjawab perkataan Gerald dengan suara lembut, namun terdengar sangat menusuk dan blak-blakan.
Membuat Gerald meradang hingga mengkretakkan giginya! Entah kenapa hatinya terasa panas mendengar wanita itu memuji-muji Fajar!
Ahk, alasannya tentu saja karena dia sangat membenci Fajar! Sehingga dia tidak terima, saat mendengar pujian yang dilontarkan untuk adik tirinya itu. Iya, pasti karena alasan itu. Tidak mungkin ada alasan lainnya.
Gerald menghela nafas berat dan berlagak cuek. "Ya sudah terserah kamu, kalau kamu ingin membela suami kamu ataupun memuji-mujinya layaknya malaikat. Saya sama sekali tidak peduli ataupun mau tau, karena itu memang bukan urusan saya. Ayo, sekarang saya antar kamu pulang" Ajaknya.
"Hah? Bapak serius?" Tari terkejut seakan kurang yakin mendengar perkataan atasannya itu.
"Kamu pikir saya orang yang suka bercanda? Dan kamu pikir saya ada waktu untuk bercanda, dengan orang yang menurut saya tidak penting?" Gerald balik bertanya dengan dingin.
"Mmm.... Terima kasih Pak sebelumnya atas tawarannya. Tapi, Bapak tidak perlu repot-repot. Fajar sudah mengirim supir kok, untuk menjemput saya" Tolak Tari.
"Oh ya, lalu mana supirnya? Sudah berapa jam kamu menunggu disini?" Tanya Gerald sinis.
"Mmm.... Sudah dari dua jam yang lalu Pak" Jawab Tari ragu.
"Kamu sudah menunggu selama itu, dan supir suruhan suamimu itu masih belum datang juga? Kamu mau menunggu berapa lama lagi? Sampai besok pagi? Sekarang sedang hujan deras. Bagaimana kalau supirnya tidak akan datang? Kamu tidak kasian pada bayi ki.... Mmm, maksud saya.... Bayimu" Sadar dirinya hampir keceplosan, Gerald langsung berkilah dengan gugupnya. Dia lega karena Tari tampak biasa saja, dan tidak menatapnya dengan curiga.
"Bagaimana kalau supirnya tidak bisa datang untuk menjemputmu, lalu kamu harus menginap disini semalaman? Semua karyawan sudah pada pulang, kecuali para petugas keamanan. Kamu yakin, mau menemani mereka menjaga gedung kantor ini? Karena saya rasa, hujannya tidak akan berhenti dalam waktu cepat. Bisa jadi baru besok pagi redanya"
Lanjut Gerald yang seketika membuat Tari menjadi risau. Kalau dipikir-pikir, perkataan lelaki itu memang ada benarnya juga. Hujan sederas ini sepertinya tidak akan reda dalam waktu cepat. Apalagi perutnya juga sudah keroncongan dan kram.
__ADS_1
Tapi, haruskah dia pulang bersama lelaki yang berstatus sebagai atasan dan kakak dari suaminya sendiri? Apa kata orang nantinya? Dan apa yang akan dipikirkan oleh Fajar nanti? Apalagi hubungan suaminya dengan lelaki ini kurang baik, sekalipun status mereka kakak adik.
Sebaiknya dia tetap bertahan disini. Dia yakin Fajar pasti akan menjemputnya. Mungkin saat ini lelaki itu masih sibuk dengan pekerjaannya.
Apalagi dia juga memiliki feeling yang tidak enak terhadap pria ini. Entah kenapa dia merasa takut dan tidak nyaman, dengan sikap dan tatapan lelaki ini terhadapnya.
"Kamu tidak perlu khawatir, saya tidak akan menculik, ataupun melecehkanmu. Saya tidak mau sampai masuk penjara, hanya demi orang sepertimu" Gerald kembali berkata dengan arogannya.
Tari mulai ragu apakah dia sanggup menunggu disini entah sampai kapan. Sedangkan perutnya semakin lama semakin terasa kram. Dan dia tidak tau kapan Fajar maupun suruhannya akan datang untuk menjemputnya.
Ya sudahlah, dia melakukannya demi bayinya. Nanti dia akan berusaha menjelaskan semuanya pada Fajar. Yang terpenting sekarang adalah, dia bisa segera sampai dirumah, supaya dia bisa istirahat. Akhirnya dengan menekan rasa takut dan keraguannya, Tari menerima tawaran lelaki itu untuk mengantarnya.
Karena terlalu lelah ditambah lagi dengan cuaca dingin akibat hujan deras, Tari mengantuk dan tertidur didalam mobil. Gerald memperhatikan Tari yang tertidur dijok disampingnya. Wanita ini memang benar-benar cantik dan menarik. Apalagi saat tertidur seperti ini. Ibu dari anaknya ini semakin tampak menggoda dan menggairahkan.
Sembari terus menyetir, Gerald melepaskan salt beltnya dan mendekatkan wajahnya pada wajah Tari yang masih terlelap. Darahnya berdesir melihat bibir seksi milik Tari. Membuatnya Ingin menerkamnya detik ini juga. Apalagi aroma tubuh wanita ini benar-benar sangat menggoda.
Tiba-tiba Tari membuka matanya, dan mengerjap-ngerjapnya dengan perlahan. Gerald yang tidak menyadari bahwa Tari sudah mulai terjaga, terus melanjutkan aksinya untuk memuaskan hasratnya yang sudah diubun-ubun sambil menyeringai.
"Awas Pak!!!" Teriak Tari terkejut melihat truk besar yang melaju didepan mobilnya. Teriakan Tari membuat Gerald terkesiap dan langsung mengalihkan pandangannya kedepan. Dia tidak sadar ternyata mobilnya sudah keluar jalur. Begitu sadar, dengan terkejut Gerald langsung membanting setir kekiri.
"Ahhhkkkkk!!!" Tari berteriak dengan sangat keras saat mobil yang ditumpanginya kehilangan kendali dan oleng, hingga menabrak pohon besar yang ada diseberang jalan, ditengah-tengah hujan yang masih mengguyur dengan derasnya, serta petir dan halilintar yang masih saling menyambar.
BRUKK!!
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁🍁
Malam itu Fajar tiba dirumahnya pukul 22.30 WIB, saat hujan sudah tidak terlalu deras lagi. Hanya menyisakan gerimis serta guntur yang sesekali masih terdengar bergemuruh.
"Tuan baru pulang? Nyonya Tari kemana? Kok tidak ikut pulang bersama Tuan?" Tanya Bu Zaitun begitu Fajar masuk kedalam rumahnya. Perkataan wanita paruh baya itu membuat Fajar sedikit terkejut.
"Lho, memangnya Tari belum pulang Bu?" Fajar bertanya dengan bingung.
"Belum Tuan. Saya pikir beliau dijemput oleh Tuan, dan kalian terjebak kemacetan dijalan karena hujan lebat"
"Lalu Ahmad kemana? Dia belum pulang juga?" Tanya Fajar yang mulai merasa cemas.
Ahmad adalah supir yang ditugaskan untuk menjemput Tari ditempat magangnya. Dan setaunya dia sudah menyuruh lelaki itu untuk menjemput istrinya sedari sore tadi. Tapi sudah hampir tengah malam seperti ini, mereka masih belum sampai dirumah juga?!
"Belum Tuan" Jawab Bu Zaitun.
"Padahal saya sudah menyuruhnya untuk menjemput Tari sejak tadi sore" Lirih Fajar yang mulai merasa tidak tenang, memikirkan istrinya yang dia percayakan pada supir pribadinya. Dengan perasaan ketar-ketir Fajar mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya, untuk menghubungi supirnya.
"Ha-hallo Tuan...." Jawab suara lelaki muda diponsel, yang tak lain adalah supirnya yang bernama Ahmad.
"Hallo Ahmad, kamu dimana? Kenapa istri saya masih belum sampai dirumah juga jam segini?" Cecar Fajar dengan serius dan tanpa basa-basi. Ada sedikit rasa kesal dihatinya lantaran supir itu tidak menjalankan perintahnya dengan baik, untuk membawa istrinya pulang kerumah tepat waktu.
"Maaf Tuan, saya telat menjemput Nyonya. Soalnya tadi hujannya sangat deras. Tadi ada pohon besar tumbang dijalan. Jadi saya terpaksa putar balik, hingga harus menempuh jalan yang lebih jauh. Eh tidak taunya, mobil malah mogok. Dan ponsel saya juga lowbat. Sehingga saya tidak bisa menghubungi Nyonya Tari ataupun bengkel Tuan" Jawab supir Ahmad dengan suara yang terdengar ragu dan takut.
__ADS_1