
Kucuran air dingin itu hanya mampu mendinginkan tubuhnya saja. Tidak dengan tubuhnya yang tetap terasa panas. Insiden pemerkosaan yang telah merenggut kesuciannya tak kunjung berhenti membayanginya. Hingga membuatnya merasakan trauma yang amat sangat.
Dia mengusap tubuhnya dengan kasar. Perasaan jijik, sedih dan benci menjadi satu. Dia jijik pada tubuhnya sendiri yang sudah kotor dan hina!
Bahkan sekalipun dia menghabiskan seluruh air yang berasal dari dalam shower itu, tetap saja dia tidak akan pernah bisa membersihkan tubuhnya dari sentuhan lelaki brengsek itu! Dia benci pada dirinya sendiri yang tidak mampu melindungi mahkota berharganya. Sehingga berhasil direnggut secara kejam darinya.
Dia sangat berharap agar apa yang terjadi padanya tidak sampai membuahkan hasil. Semoga lelaki itu tidak meninggalkan benihnya didalam rahimnya. Jika hal itu sampai terjadi, rasanya lebih baik dia mati saja. Karena dia tidak sudi mengandung anak dari pria brengsek itu! Pria bejad yang telah menghancurkan dan mengoyak-ngoyak kehormatannya!
Berjam-jam Tari duduk menangis dibawah guyuran air shower yang dingin itu. Meratapi nasib malangnya. Memikirkan apa sebenarnya dosa besar yang telah dia lakukan, sehingga Tuhan memberinya hukuman seberat ini.
🍁🍁🍁🍁🍁
Tari mencoba mengumpulkan ingatannya kembali pada peristiwa malam itu. Feelingnya tetap yakin jika Moza terlibat dalam hal ini. Karena pada saat kejadian itu, dirinya sedang bicara dengan wanita itu diparkiran. Saat tiba-tiba mata dan mulutnya ditutup dari belakang.
Setelah itu Moza menghilang begitu saja. Apa wanita itu tidak mencari, atau merasa panik melihatnya diperlakukan seperti itu dihadapannya? Sikap Moza juga aneh saat itu.
Dan jika memang dugaannya tentang keterlibatan Moza benar, maka wanita itu bukan hanya licik. Tapi juga kejam dan tidak memiliki hati nurani! Padahal dia juga seorang wanita. Tidak seharusnya dia melakukan perbuatan semenjijikkan itu pada wanita lainnya!
Dan dia bersumpah tidak akan pernah mengampuni wanita itu, jika sampai dugaannya terbukti! Dengan dada bergemuruh, Tari menyambar tas selempangnya dan berjalan keluar dari kamar dengan langkah lebar. Diluar dia bertemu dengan Ranty yang sedang menyiapkan sarapan.
"Tar, kamu mau kemana?"
Entah Tari tidak mendengar, atau tidak mengindahkan saking emosinya memikirkan Moza. Dia terus saja berjalan keluar dari kos. Meninggalkan Ranty yang menatapnya dengan melongo. Sampai sekarang dia masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada sahabatnya itu.
Sejak pulang setelah berjanji ketemu Moza malam itu, Tari jadi terlihat pendiam. Sering melamun tidak jelas seperti orang stress, tertekan dan banyak pikiran!
__ADS_1
Entah kelicikan apalagi yang sudah dilakukan Moza terhadap Tari kali ini. Bertanya pun percuma. Sudah berkali-kali dia melakukannya, namun Tari tetap saja bungkam.
🍁🍁🍁🍁🍁
"Moza!! Keluar kamu!! Dasar wanita ******!! Ayo sini hadapi aku!! Jangan beraninya main cara licik terus untuk menjatuhkanku!! Moza!! Dimana kamu perempuan busuk?!!"
Dengan kemarahan yang meledak-ledak, Tari mendatangi rumahnya dan berteriak-teriak dengan keras memanggil Moza, tanpa mengindahkan dua petugas keamanan yang berusaha mencegah dan menahannya untuk masuk kedalam rumahnya sendiri.
"Nona, kami mohon maaf sekali. Tapi Tuan besar sudah melarang kami untuk menerima Nona disini. Jadi saya mohon Nona, tolong jangan buat keributan disini. Tolong tinggalkan rumah ini ya Nona. Ini perintah Tuan besar"
Salah satu dari dua pria itu berusaha memberinya pengertian dengan suara lembut dan perasaan takut. Sebisa mungkin mereka berdua berusaha agar jangan sampai melakukan kekerasan pada gadis itu.
Mengingat Tari tetaplah putri majikannya. Sekalipun untuk saat ini hubungan mereka sedang memburuk.
"Ada apa ini ribut-ribut?!"
Tari dan kedua pria yang sedang menahannya itu langsung menoleh kearah pintu yang baru saja terbuka, dan tampaklah Tristan beserta istrinya.
"Maaf Tuan, sedari tadi kami sudah berusaha melarang. Tapi Nona Tari memaksa untuk masuk" Salah satu dari kedua pengawal itu menjelaskan dengan ragu dan takut. Tristan dan Claudia sedikit terkejut melihat kehadiran Tari dirumah itu.
"Mau ngapain lagi kamu kesini?! Apakah ucapan Papa kemarin masih kurang jelas?! Sebelum kamu menyadari dan mengakui perbuatan memalukanmu itu, dan kamu minta maaf pada Mama dan kakakmu yang sudah kamu fitnah dan kamu hina, jangan harap kamu bisa kembali tinggal dirumah ini!" Tutur Tristan dengan wajah memerah menahan emosi melihat putrinya itu.
"Dan jangan harap jika kedatangan saya kesini adalah untuk mengemis-ngemis permohonan maaf dari anda! Lebih baik saya tidur dijalanan dan mati kelaparan daripada saya harus meminta maaf pada dua wanita iblis yang sudah menghancurkan hidup saya.....!"
Tari menanggapi tawaran Papanya dengan suara yang masih saja lantang dan penuh kemarahan. Sedikitpun dia tidak merasa tertarik ataupun sudi untuk meminta maaf, pada perempuan yang dia yakini ikut andil dalam kehancuran masa depannya.
__ADS_1
"Tari!!!" Pekik Tristan sembari mengangkat tangannya dan hendak dia layangkan kembali kewajah Tari, yang menurutnya masih saja tidak berubah dan masih tetap kurang ajar seperti sebelumnya!
Namun tangan pria paruh baya itu berhenti diudara, saat Tari kembali bersuara dengan lantang dan tanpa merasa gentar menghadapi kemarahan Papanya itu.
"Tidak perlu menggunakan tangan anda terus Tuan Tristan Pratama!! Karena anda sendiri yang sudah memutuskan hubungan diantara kita! Jadi anda sudah tidak berhak lagi menampar atau bertindak seperti orang tua saya!"
Tristan terperangah melihat Tari yang sudah tidak sedikitpun menghormatinya lagi sebagai orang tua. Entah apa yang sudah merasuki anak itu, sehingga dia bisa berubah drastis seperti ini. Padahal dulu gadis itu tidak seperti ini.
"Tari? Kamu disini?" Moza keluar dari dalam rumah, dan ikut bergabung dengan mereka yang sedang berdebat. Dengan kemarahan yang memuncak, Tari berjalan mendekati Moza dengan cepat, dan memberikan tamparan keras kewajah gadis yang berstatus sebagai saudara tirinya itu.
PLAK!!
Tristan dan Claudia terkejut melihat tindakan Tari terhadap Moza.
"Tari!! Apa yang kamu lakukan?!!" Seru Tristan.
"Ini belum seberapa dibandingkan apa yang sudah kamu lakukan padaku perempuan ular! Kamu pasti sedang sangat bahagiakan sekarang?! Karena kamu sudah berhasil merampas hal yang sangat berharga dalam hidupku! Aku tidak tau kesalahan terbesar apa yang sudah aku lakukan, sehingga kamu bisa sejahat ini.
Tapi ingatlah satu hal ini baik-baik, karma itu ada. Percaya atau tidak, cepat atau lambat, kamu pasti akan merasakannya! Tinggal tunggu waktunya saja! Mungkin saat ini kamu bisa berpikir bahwa kamu ini hebat dan cerdas.
Tapi mungkin kamu lupa satu hal ini, sepandai-pandainya tupai melompat, suatu saat pasti akan terjatuh juga. Karena kebahagiaan yang didapatkan dari hasil menghancurkan kehidupan orang lain, itu tidak akan bertahan lama. Camkan itu baik-baik. Permisi!"
Seru Tari dengan berapi-api. Puas melontarkan sumpah serapahnya, Tari langsung meninggalkan rumah mewah tempat dirinya dibesarkan itu, tanpa menghiraukan tatapan-tatapan heran yang ditujukan untuknya.
🍁🍁🍁🍁🍁
__ADS_1