
Namun tidak ada salahnya kan dia ingin mengetahui jenis kelamin bayinya dari sekarang, supaya bisa mempersiapkan perlengkapannya sesuai dengan jenis kelamin bayi.
"Untuk jenis kelaminnya dapat dipastikan.... Bahwa bayi bapak dan ibu adalah perempuan...." Jawab dokter setelah menatap layar monitor selama beberapa saat.
"Dokter serius, bayi saya perempuan?" Dengan senyum sumringah yang merekah diwajahnya, Fajar bertanya dengan antusiasnya. Dokter menjawab pertanyaannya dengan anggukan kepala disertai senyum lebar.
"Alhamdulillah" Fajar mengusapkan telapak tangan kewajahnya. Perasaan bahagia dan terharu membuncah didadanya.
Rasanya seperti mimpi sebentar lagi dia akan menjadi ayah dari seorang putri yang sangat cantik pastinya. Meski tidak pernah menargetkan ingin memiliki anak perempuan, namun perasaan bahagia memiliki anak perempuan baginya jauh lebih besar daripada memiliki anak lelaki.
"Kamu kenapa terlihat senang sekali? Memangnya kamu sangat ingin anak perempuan?" Tanya Tari.
"Ya.... Sebenarnya dari dulu sih, aku ingin sekali punya anak perempuan. Dan sekarang kesampaian. Tapi sebenarnya aku tidak pernah mempermasalahkan jenis kelaminnya. Yang penting bayiku lahir dengan selamat dan sehat. Itu sudah lebih dari cukup bagiku" Jawab Fajar.
"Kok bayiku? Bayi kita. Jangan lupa, dia akan berada diperutku sampai empat bulan lagi. Kalau tidak ada aku, dia tidak akan pernah ada" Tari mengoreksi ucapan suaminya.
"Jangan sombong dulu Nyonya Fajar, dia tidak akan pernah ada kalau tidak ada aku yang membuatnya" Fajar tak mau kalah, dia berkata dengan mengerlingkan matanya dengan nakal.
"Ehem" Dokter yang merasa dijadikan sebagai obat nyamuk oleh sepasang suami istri itu pun berdehem, hingga membuat mereka berdua tersentak. Tari mencubit pinggang Fajar dengan kesalnya.
"Aauuw" Fajar mengaduh kesakitan saat merasakan cubitan keras dari tangan istrinya.
__ADS_1
"Sakit sayang" Desisnya.
"Makanya jangan mesum" Gerutu Tari menatap suaminya dengan tajam.
Fajar tersenyum gemas melihat sikap istrinya. Tidak disangka jika kini hubungan mereka sudah semakin mencair setelah dia mengungkapkan perasaannya. Mereka sudah menjadi pasangan seutuhnya dengan diselingi canda tawa.
Tinggal menunggu sekitar empat bulan lagi, buah hatinya dengan Tari akan lahir. Hidupnya pasti akan semakin bahagia dan semarak, dengan kehadiran sikecil yang akan menjadi pelengkap kebahagiaannya. Rasanya dia sudah tidak sabar menunggu kehadiran malaikat kecil yang sudah lama dia nantikan dalam hidupnya.
Sementara Gerald yang sedari tadi berdiri dibalik pintu, dan menyaksikan aktivitas mereka secara diam-diam hanya bisa mengepalkan tangannya dengan tatapan membunuh, mendengar Fajar menyebut dirinya sebagai ayah dari bayi yang dikandung Tari, dan mengakui dirinya sebagai penyebab anak itu hadir dalam rahim perempuan itu membuat hati Gerald serasa berapi-api!
Padahal adik tirinya itu tidak pernah melakukan apapun terhadap wanita itu hingga dia bisa hamil! Dialah yang melakukan itu semua! Tapi kenapa sekarang malah Fajar yang merasakan kebahagiaan menjadi seorang ayah?! Sedangkan dia sendiri?? Dia malah terancam tidak akan pernah bisa merasakan hal itu!!
Gerald memandangi layar monitor itu dari kejauhan, karena kamar VVIP Tari yang lumayan besar membuatnya tidak bisa melihat layar itu dengan dekat dan jelas. Namun dia bisa melihat gerakan bayi melalui monitor itu. Hatinya terasa hangat.
Perlahan-lahan dia menutup pintu kamar itu sebelum kehadirannya diketahui oleh penghuni didalamnya. Gerald menyandarkan tubuhnya pada dinding. Vonis dokter tentang kondisinya yang tidak akan pernah bisa memiliki keturunan terus terngiang-ngiang dibenaknya.
Sedangkan disini dia sudah memiliki anak yang tidak diketahui oleh siapapun. Dan semua orang taunya itu adalah anaknya Fajar. Memikirkan hal itu membuat hatinya terasa terbakar, hingga rasanya dia ingin membunuh adik tirinya itu!
Dia tidak terima lelaki itu menyebut dirinya sebagai ayah dari anak kandungnya! Dia tidak rela bila nantinya anak itu akan mengenal Fajar sebagai ayahnya, bukan dirinya!! Padahal dulu dia sendiri yang merencanakan penjebakan itu.
Apa itu artinya sekarang dia menyesali siasat dan keputusannya sendiri, yang telah menyerahkan Tari dan anaknya pada Fajar? Karena sekarang dia malah menginginkan mereka berdua. Apalagi bayi itu akan menjadi anak tunggalnya, seandainya vonis dokter itu benar adanya.
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁🍁
Setelah empat hari diopname dirumah sakit, akhirnya Tari diperbolehkan untuk pulang. Namun dokter mewanti-wanti supaya wanita itu tetap bedrest selama beberapa hari kedepan, meski sudah berada dirumah.
Fajar menuruti apapun yang dikatakan dokter, mengingat istrinya yang sudah dua kali mengalami kecelakaan hingga harus diopname, membuatnya tidak bisa menyepelekan perkataan dokter tentang kondisi Tari dan calon putrinya.
Kini dia semakin ekstra dan over protective dalam menjaga istrinya. Andai saja bukan karena kerjaan, dia tidak akan pernah meninggalkan istrinya walau hanya satu detik saja. Namun apa boleh buat? Apapun alasannya dia harus tetap bersikap profesional, meski pikirannya terus terpusat pada istri dan anaknya saat sedang bekerja.
Selama dia tidak ada, Fajar selalu menyerahkan pengawasan Tari pada Bu Zaitun. Dia juga sedikit lega karena dirumahnya terpasang CCTV yang terhubung keponselnya. Sehingga dia bisa selalu memantau aktivitas istrinya dengan mata kepalanya sendiri, saat sedang jauh darinya.
Meski dia sangat percaya bahwa Bu Zaitun bisa menjaga istrinya dengan sangat baik, namun tidak ada salahnya kan berjaga-jaga?
"Nyonya, nyonya sedang apa disini? Seharusnya nyonya istirahat. Kan kata Tuan, Nyonya harus bedrest selama beberapa hari" Tegur Bu Zaitun saat melihat Tari memasak didapur. Padahal Fajar sudah mengingatkannya agar menjaga istrinya untuk istirahat, dan jangan sampai melakukan aktivitas apapun yang melelahkan.
"Tidak apa-apa kok Bu. Kan aku hanya masak saja untuk Fajar. Yang penting kan aku tidak melakukan pekerjaan yang melelahkan. Masak aku hanya tidur-tiduran saja? Kan bosan" Jawab Tari dengan santainya dan tanpa menghentikan aktivitasnya yang sedang memotong sayur.
Fajar yang baru saja pulang langsung menuju kedapur, karena dia tau istrinya sedang berada disana.
Sesampainya diambang pintu dapur, Fajar tersenyum sumringah melihat istrinya yang keras kepala itu. Padahal dia sudah berulang kali mengingatkan perempuan itu supaya jangan melakukan aktivitas apapun. Tapi ya sudahlah, yang penting sekarang dia sudah berada disini. Dan dia akan menjaga istrinya sendiri.
Bu Zaitun yang masih berdebat dengan Tari, tanpa sengaja menoleh dan melihat Fajar yang sedang memperhatikan Tari. Tau bahwa Bu Zaitun menyadari kehadirannya, Fajar langsung memberi kode pada wanita sepuh itu supaya jangan bersuara atau menyadarkan istrinya tentang keberadaannya.
__ADS_1
Bu Zaitun tersenyum kecil melihat kelakuan tuannya sebelum dia meninggalkan ruangan itu, agar tidak mengganggu kebersamaan tuan dan nyonya mudanya.
Sepeninggalnya Bu Zaitun Fajar berjalan mendekati istrinya yang masih asik dengan aktifitasnya, sehingga tidak menyadari kedatangan suaminya. Fajar berdiri dibelakang Tari. Dia menggunakan kedua telapak tangannya untuk menutup mata istrinya sembari tersenyum jahil.