Mentari Untuk Fajar

Mentari Untuk Fajar
BAB 92- Pengakuan Gerald


__ADS_3

Perkataan Tristan membuat Gerald meradang. Kenapa semakin lama keberuntungan semakin berpihak pada Fajar? Bahkan Tristan yang dia pikir tidak menyukai Fajar dan akan membantunya memisahkan Tari dengan adik tirinya itupun, sekarang dengan mudahnya mengatakan akan merestui mereka!


Sedangkan dirinya divonis tidak akan bisa memiliki keturunan. Padahal dia sudah memiliki keturunan, dan sekarang berada dalam kandungan Tari. Dialah ayah dari bayi itu! Bukan Fajar!


Apa yang harus dilakukannya sekarang untuk mendapatkan keduanya? Bagaimana cara dia menyingkirkan Fajar dari kehidupan mereka?


🍁🍁🍁🍁🍁


Fajar sedang berkutat dengan pekerjaannya ketika pintu ruang prakteknya diketuk dari luar.


"Masuk!" Seru Fajar yang masih saja fokus dengan berkas-berkas berisi bahan obat-obatan ditangannya, dan tanpa menoleh kepintu.


Pintu pun terbuka. Vera, asistennya pun masuk dan mendekati Fajar.


"Maaf Dok, diluar ada Pak Gerald. Beliau bilang ingin bertemu dengan anda"


Mendengar nama Gerald membuat fajar langsung mengalihkan pandangannya pada asistennya itu. "Gerald? Mau apa dia kesini?" Tanyanya dengan kening mengernyit.


"Saya juga kurang tau Dok. Jadi sekarang bagaimana? Dokter ingin menemuinya, atau saya menyuruhnya pergi saja?"


"Tidak usah. Suruh saja dia masuk" Jawab Fajar datar.


"Baik Dok" Vera mengangguk lalu berbalik dan keluar dari ruangan atasannya.


Fajar menghela nafas panjang. Dia berpikir dengan keras. Mau apa Gerald menemuinya? Bahkan sampai datang kerumah sakitnya. Padahal selama ini kakaknya itu tidak pernah mau mendatanginya. Entahlah apa tujuan Gerald sekarang.

__ADS_1


Tapi tidak mungkin juga dia menolaknya. Meskipun dia sedang sangat sibuk dan enggan jika sampai kembali berkonfrontasi dengan kakak tirinya itu.


Beberapa menit setelah Vera keluar, pintu pun kembali terbuka.


"Selamat siang adikku sayang. Apa kabar? Sepertinya kamu sangat bahagia ya? Aura kebahagiaan sangat jelas terpancar dari wajahmu. Apa ini karena pengaruh istrimu...?" Sapa Gerald dengan senyum ramah saat dia membuka pintu dan berjalan mendekati meja adik tirinya itu.


"Tidak usah basa-basi apalagi bawa-bawa istriku. To the poin saja, apa maksudmu datang kesini? Karena kamu tidak mungkin akan menemuiku tanpa ada tujuan kan? Cepat katakan apa maumu, dan setelah itu kamu bisa meninggalkan tempat ini, karena aku sedang sibuk" Jawab Fajar dingin sembari beranjak dan berjalan mendekati sofa, lalu menghenyakkan duduk diatas sofa itu.


"Hey tenanglah adik. Kenapa sikapmu sangat ketus? Apa kamu lupa, kamu sendirikan yang bilang? Kita berdua tetaplah saudara. Beginikah caramu menyambut kedatangan saudaramu?" Gerald pun ikut berjalan mendekati sofa dimana Fajar berada.


"Dan aku tau, apapun yang aku katakan, tidak akan pernah membuatmu menganggapku sebagai saudara. Dan selama ini, kamu juga tidak pernahkan, menyambutku dengan baik? Jadi sudahlah, kita tidak perlu berlagak sok naif. Katakan saja, apa tujuanmu menemuiku?"


"Baiklah. Dengan senang hati akan aku katakan, apa yang aku inginkan. Aku hanya ingin, kamu tinggalkan Tari" Ucap Gerald yang sontak membuat Fajar tertegun dan menatap kakak tirinya itu dengan tatapan heran dan aneh.


Tidak mengerti apa maksud Gerald datang dan memintanya meninggalkan istrinya sendiri. Entah dia sedang memainkan lelucon atau apa? Dan sejak kapan Gerald ikut campur dalam kehidupan pribadinya? Bahkan sampai dalam rumah tangganya.


"Apakah ucapanku masih kurang jelas? Aku ingin, kamu tinggalkan Tari. Dengan kata lain, ceraikan dia" Gerald menekankan dengan tajam.


"Kamu ini sudah gila, atau sedang mabuk? Berapa botol minuman yang kamu habiskan, sampai kamu bisa tiba-tiba datang kesini, dan memintaku untuk meninggalkan istriku sendiri? Memangnya kamu siapa? Dan apa hakmu atas kehidupan rumah tanggaku?"


Fajar menatap Gerald dengan tatapan aneh dan senyum meledek. Seakan-akan apa yang dikatakan Gerald saat ini adalah ucapan seseorang yang sedang mabuk atau ngawur.


"Kamu ingin tau siapa aku?" Gerald bertanya dengan santai. Fajar tidak menjawab. Rasanya dia mulai lelah meladeni banyolan kakaknya yang tidak jelas itu.


"Aku adalah ayah dari bayi yang dikandung istrimu" Gerald menatap Fajar dengan tajam dan berkata dengan penuh penekanan.

__ADS_1


"Hahahaha!! Kamu bicara apasih? Lelucon macam apa ini?" Fajar tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Gerald yang menurutnya sangat tidak masuk akal.


"Ini bukan lelucon Fajar. Tapi ini adalah fakta. Bayi yang dikandung Tari bukan putrimu. Tapi dia adalah putriku. Darah dagingku" Gerald berkata dengan tegas dan serius.


"Apa maumu Gerald? Kamu datang kemari hanya untuk mengatakan omong kosong seperti ini padaku?" Fajar bertanya dengan sedikit kesal. Menurutnya semua yang dikatakan Gerald adalah ngawur.


"Kamu pikir aku ada waktu untuk bicara omong kosong? Aku bicara berdasarkan kenyataan. Pada malam itu, kamu tidak melakukan apapun. Akulah orangnya. Aku yang melecehkan Tari, hingga dia hamil seperti sekarang. Jadi bayi yang dia kandung bukanlah anakmu. Tapi itu adalah anakku"


Fajar terdiam dan menatap kakaknya dengan tatapan menilai, mencoba mencari tau apakah ucapan lelaki itu serius atau hanya sekedar bualan belaka. Namun dia masih tetap tidak bisa mempercayai pengakuan Gerald. Karena menurutnya semua yang dia katakan sangat tidak mungkin.


"Apa yang kamu katakan Gerald? Jangan ngaco. Jelas-jelas malam itu aku yang melakukan pelecehan itu. Kalau memang kamu pelakunya, lalu dimana kamu saat itu?" Fajar menatap Gerald dengan tajam. Nada suaranya pun mulai naik karena kesal dan merasa sedang dipermainkan.


Gerald mengeluarkan sebuah flashdisk dari saku celananya, dan menyerahkannya pada Fajar.


"Silahkan lihat sendiri, apa yang terjadi pada malam itu. Dan setelah itu segeralah ambil keputusan yang tepat untukmu dan Tari. Karena aku hanya ingin, kamu kembalikan apa yang seharusnya menjadi milikku. Selamat siang" Ucap Gerald yang kemudian bangkit dan berlalu dari ruangan itu.


Meninggalkan Fajar dengan perasaan bergejolak, antara percaya dan tidak dengan pengakuan lelaki itu. Rasanya sangat tidak mungkin kalau bukan dia yang melakukan pelecehan itu terhadap Tari. Jelas-jelas malam itu saat dia sadar, dia melihat Tari berada disampingnya, dan dalam keadaan *********. Dan dia juga tidak melihat Gerald disana.


Lalu bagaimana bisa Gerald yang melakukan perbuatan bejat itu? Tidak-tidak! Pria itu pasti sedang mempermainkannya! Dia sendiri tau Gerald sangat membencinya, hingga pasti akan melakukan apapun untuk menghancurkan kehidupannya. Termasuk keutuhan rumah tangganya.


Semua ini pasti sengaja dilakukan Gerald untuk membuatnya meragukan Tari dan putrinya sendiri! Iya, pasti itu tujuannya! Tapi, apa mungkin pria itu bisa seberani itu mengakui perbuatan yang tidak dilakukannya?


Fajar berpikir dengan sangat keras. Berusaha mengumpulkan kepingan-kepingan ingatannya ingatannya pada malam itu. Saat itu dia bermimpi memergoki Gerald sedang bermain dengan seorang wanita. Dan pria itu juga memukulnya.


Fajar terkesiap. Tubuhnya pun menjadi tegang. Apakah yang dia kira mimpi, sebenarnya adalah kenyataan yang terjadi didalam bawah sadarnya, karena saat itu dia sedang berada dalam pengaruh alkohol?

__ADS_1


Bahkan sampai sekarang dia tidak ingat bagaimana dia melecehkan Tari. Bahkan tubuh wanita itu terasa sangat asing baginya, saat dia menyentuhnya dalam keadaan sadar.


__ADS_2