Mentari Untuk Fajar

Mentari Untuk Fajar
BAB 44- Mulai Menerima


__ADS_3

Tari terbangun saat jam menunjukkan pukul sembilan pagi. Usai mencuci mukanya, dia langsung bergegas menuju ruang makan, karena merasakan perutnya keroncongan dan butuh untuk segera diisi.


"Eh, Nyonya sudah bangun? Nyonya mau sarapan? Biar saya siapkan. Katakan saja Nyonya ingin makan apa?" Bu Zaitun menyapa Tari dengan ramah dan sopan, saat melihat kehadiran Nyonya barunya itu yang mendekati meja makan.


"Terserah Ibu saja. Aku pasti makan kok. Oh ya maaf ya Bu, aku bangunnya kesiangan. Tadi aku pikir hanya ingin istirahat saja setelah menyiapkan sarapan. Ternyata aku malah ketiduran" Ucap Tari dengan malu.


"Tidak apa-apa Nyonya, saya mengerti kok. Namanya juga bawaan ibu hamil" Bu Zaitun tersenyum maklum.


Tari terkejut mendengar ucapan pelayan paruh baya itu tentang kehamilannya. Dia pikir tidak ada satupun orang dirumah ini yang mengetahui hal itu selain Fajar. Apa Fajar sudah memberi tau semua pekerja dirumahnya mengenai kehamilannya?


Entah apa yang sekarang orang-orang pikirkan tentang dirinya yang sudah langsung hamil, padahal mereka baru saja menikah.


"Apa dia sudah cerita semuanya pada Ibu, tentang apa yang terjadi diantara kami?" Tari bertanya dengan datar dan tanpa menatap Bu Zaitun. Dia terlalu malu karena perempuan itu mengetahui aibnya.


"Tuan Fajar tidak pernah menyembunyikan apapun dari saya. Dia sudah menganggap saya seperti ibunya sendiri. Sejak kedua orang tuanya meninggal, hanya saya orang yang paling dipercaya oleh Tuan Fajar untuk menjaga rahasianya.


Tapi Nyonya Tari tidak perlu khawatir, saya tidak akan pernah berpikir yang tidak-tidak kok tentang kalian. Saya tau Nyonya adalah perempuan baik-baik. Begitu juga dengan Tuan Fajar. Saya tau kok, jika kalian berdua hanya terjebak dalam tempat dan waktu yang salah.


Saya harap apa yang dilakukan Tuan Fajar, sudah cukup untuk menebus kesalahannya terhadap Nyonya. Apalagi saya tau, kalau Tuan Fajar tidak sengaja melakukan itu semua pada Nyonya" Tutur Bu Zaitun dengan lembut dan bijaknya.


Tari terdiam. Dari lubuk hatinya yang terdalam, dia juga mengakui bahwa Fajar adalah lelaki yang baik dan sangat menghargainya. Rasanya kebencian yang tertanam dihatinya terhadap pria itu, perlahan-lahan mulai goyah.


"Iya Bu, aku akan berusaha untuk memaafkannya. Tapi, apa aku boleh tanya sesuatu pada Ibu?"


"Nyonya ingin tanya apa?"

__ADS_1


"Mmm, sebenarnya.... Kak Zahra itu punya hubungan apa ya, dengan Fajar?" Tari bertanya dengan ragu.


Dia tau kalau pertanyaannya ini memang terkesan lancang. Karena ini menyangkut kehidupan pribadi suaminya yang seharusnya tidak dia campuri. Namun dia tidak bisa menahan diri, untuk mengetahui masalah yang sangat mengganjal dihatinya.


"Kenapa Nyonya.... Tiba-tiba jadi bertanya tentang Nyonya Zahra?" Bu Zaitun balik bertanya dengan heran.


"Karena.... Aku merasa kalau Fajar itu seperti memiliki perasaan lebih terhadap Kak Zahra. Aku juga pernah, mendengarnya mengigau menyebut nama wanita itu" Ujar Tari lirih. Rasanya dia malu karena harus mengutarakan isi hatinya.


"Maaf Nyonya, kalau masalah itu sebaiknya Nyonya tanyakan sendiri saja pada Tuan Fajar. Karena saya tidak ingin ikut campur terlalu jauh. Saya pernah terlalu dalam mencampuri urusan Tuan Fajar dengan Nyonya Zahra. Saya pikir tindakan saya itu akan membuat Tuan Fajar bahagia. Ternyata saya salah.


Justru yang saya lakukan itu malah membuatnya jatuh kedalam jurang penderitaan dan kehancuran. Saya juga tidak tau, apa sebenarnya maksud Nyonya mengajukan pertanyaan seperti itu pada saya.


Tapi saya hanya ingin mengatakan. Jika memang Nyonya sudah mulai bisa menerima Tuan Fajar, saya harap Nyonya bisa menjadi wanita yang bisa membuatnya bahagia. Saya harap, Nyonya Tari tidak akan pernah meninggalkannya. Apapun yang terjadi"


Menerima? Benarkah dia sudah mulai bisa menerima Fajar? Benarkah dia sudah mulai bisa membuka hatinya, untuk lelaki yang kini telah berstatus sebagai suaminya itu?


🍁🍁🍁🍁🍁


Hari itu Fajar mengajak Tari kerumah sakit untuk memeriksakan kandungannya, sesuai dengan jadwalnya.


"Sekarang usia kehamilan Ibu Tari sudah memasuki minggu kedelapan ya Dok. Retina sudah mulai mengembangkan pigmen. Sehingga mata janin sudah terlihat lebih jelas. Begitu juga dengan bentuk wajahnya. Mulai dari telinga, bibir dan ujung hidungnya"


Dokter Jenar menjelaskan dengan ceria, sembari menggerakkan alat probe pada perut Tari yang telah dilapisi gel.


"Lalu bagaimana dengan kondisinya Dok? Keduanya baik-baik saja kan?" Fajar yang berdiri disamping brankar tempat Tari berbaring bertanya dengan antusiasnya.

__ADS_1


"Sejauh ini, kondisi Ibu Tari maupun janinnya sehat-sehat saja Dok. Tampaknya Ibu Tari benar-benar menjaga kesehatannya dengan baik"


"Syukurlah kalau begitu. Saya senang mendengarnya" Fajar tersenyum lega. Dia menatap layar monitor dengan perasaan hangat dan sumringah. Melihat gambar janin yang bergerak-gerak melalui layar monitor USG 4D itu.


Dia kembali teringat kenangan kala dirinya menemani Shreya dan Zahra saat melakukan USG beberapa waktu silam. Yang pada akhirnya dia harus menerima kenyataan pahit, karena bayi dari kedua perempuan itu tidak bisa dia miliki.


Meskipun kepergian kedua bayi itu dengan cara yang berbeda. Namun tetap menyisakan luka yang mendalam dihatinya. Dan sekarang, untuk ketiga kalinya dia menyaksikan pertumbuhan janin melalui USG seperti ini. Ingin rasanya dia meraih malaikat kecil itu, untuk kemudian digendong, dipeluk dan digendongnya.


Dia sangat berharap, kali ini dia tidak akan merasakan kehilangan anak lagi untuk ketiga kalinya. Semoga bayi ini bisa mengobati rasa kehilangannya selama ini. Semoga bayi ini tidak akan direnggut lagi darinya.


Tari juga ikut menatap layar monitor itu dengan seulas senyum haru. Matanya tampak berkaca-kaca. Rasanya dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan bayi yang masih berada dalam perutnya itu. Entah mengapa dia merasa sangat bahagia, dan hidupnya kini telah lengkap.


Padahal dulu dia sangat berharap, supaya bayi ini tidak akan pernah lahir. Atau mati saja bersama dengannya. Namun sekarang perasaannya itu rasanya sudah menguap. Dia ingin tetap hidup bersama dengan anaknya.


Mungkin bayi ini memang sudah ditakdirkan untuk menggantikan orang-orang yang telah meninggalkannya selama ini. Dan tampaknya, Fajar juga sangat bahagia dengan keberadaan bayi ini. Apakah sebesar itu, rasa sayang lelaki itu terhadap bayinya?


🍁🍁🍁🍁🍁


Usai melakukan pemeriksaan dan mendengarkan penjelasan serta saran dokter mengenai kehamilan Tari, akhirnya mereka meninggalkan ruangan itu.


"Nanti sampai rumah kamu langsung istirahat ya. Aku harus keperusahaan" Ujar Fajar saat mereka berdua sedang berjalan dikoridor rumah sakit.


"Iya" Jawab Tari singkat. Dari raut wajahnya, tampaknya perempuan itu ingin mengatakan sesuatu. Namun dia juga merasa bimbang dan malu.


"Kenapa? Ada yang ingin dikatakan? Katakan saja" Fajar yang menyadari sikap istrinya, berkata dengan lembut dan kening mengernyit.

__ADS_1


__ADS_2