
Fajar sedang berkutat dengan pekerjaannya. Sekarang sudah tidak ada lagi yang perlu dia risaukan. Tari dan bayinya sudah dalam keadaan baik-baik saja. Jadi dia bisa kembali fokus pada pekerjaannya. Tiba-tiba saja pintu ruangan Fajar diketuk dari luar.
"Masuk" Seru Fajar memberi perintah tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop dimeja.
Pintu terbuka. Seorang wanita muda berpakaian modis, yang berprofesi sebagai sekretarisnya memasuki ruangan dan mendekati Fajar.
"Maaf Pak, saya hanya ingin memberitahukan, mahasiswi yang mengajukan diri sebagai karyawan magang diperusahaan ini sudah sampai. Dia akan mulai bekerja hari ini" Ucap wanita itu dengan sopan dan penuh hormat.
"Oh ya sudah, suruh masuk saja" Fajar masih fokus pada laptopnya.
"Baik Dok" Sekretaris bernama Rima mengangguk, lalu berbalik dan berjalan mendekati pintu dan membukanya.
"Silahkan masuk Nona" Rima berkata pada orang yang ada dibalik pintu. Mempersilahkannya untuk masuk.
"Terima kasih" Suara lembut seorang wanita yang berkata dengan ramahnya. Beberapa detik kemudian, sipemilik suara pun masuk kedalam ruangan itu.
Fajar mengalihkan pandangannya untuk melihat calon karyawan magangnya. Tampaklah seorang gadis cantik mengenakan kemeja berwarna marun yang dibalut blazer berwarna coklat tua, pencil skirt berwarna hitam serta flat shoes dengan warna yang senada dengan roknya. Rambutnya dikepang dua sisi dibagian atas, sedangkan sisanya dibiarkan tergerai.
Gadis itu berjalan dengan anggun mendekati Fajar, sembari melempar senyum ramah dan hormat. Wanita itu tak lain adalah Moza.
"Silahkan duduk" Fajar mempersilahkan dengan suara ramah. Moza menurut, dia duduk dikursi didepan Fajar.
"Oke, Nona Moza Almira?" Fajar membaca dan memastikan nama yang tertera dalam surat rekomendasi magang milik gadis itu.
"Iya Pak benar" Moza mengangguk.
"Jadi kamu mahasiswi difakultas farmasi, dengan prodi drug development?"
__ADS_1
"Iya" Moza tersenyum cerah. Hatinya serasa berdebar-debar. Dia tidak pernah menyangka, jika pemilik perusahaan yang menjadi tempat magangnya setampan ini. Kalau seperti ini, dia pasti akan betah magang ditempat ini selama bertahun-tahun sekalipun.
"Perkenalkan, saya Fajar Lazuardi. Pemilik perusahaan ini. Selamat bergabung diperusahaan kami sebagai karyawan magang. Semoga kamu betah ya. Jangan khawatir, kami pasti akan membantumu" Fajar mengulurkan tangannya dengan seulas senyum ramah.
"Iya Dokter Fajar. Terima kasih banyak atas kesempatan dan bantuannya" Moza membalas uluran tangan pria tampan itu dengan gugup dan grogi.
"Rima, tolong antar Nona Moza kemejanya ya. Dan katakan juga pada karyawan yang lain, kalau dia ini adalah karyawan magang yang masih membutuhkan bimbingan" Fajar melirik sekretarisnya dan memberi perintah.
"Baik Dok. Mari Nona, silahkan ikut saya" Rima mengangguk dengan hormat, lalu dia mengajak Moza dengan ramah.
"Iya Bu" Moza bangkit dari kursinya, dan berjalan mengikuti Rima yang berjalan lebih dulu meninggalkan ruangan atasannya itu.
Sesampainya diambang pintu, Moza berhenti dan menoleh kebelakang. Menatap Fajar yang kembali fokus pada laptopnya. Senyum takjub terpancar diwajahnya.
Pria ini benar-benar membuatnya terpesona. Badannya yang tinggi, atletis, berotot serta wajahnya yang tampan melebihi aktor Bollywood membuat Moza berdecak kagum. Jika dibandingkan dengan Darren, tentu saja lelaki ini adalah pemenangnya.
Moza terkejut saat orang yang sedang dia perhatikan secara diam-diam ternyata menyadari kelakuannya. "Tidak ada Dok. Permisi" Dengan salah tingkah Moza berbalik dan meninggalkan ruangan itu.
Fajar menatap kepergian perempuan itu dengan geleng-geleng kepala.
🍁🍁🍁🍁🍁
Sudah dua hari pasca keluar dari rumah sakit, dan kini Fajar sudah kembali sibuk dengan pekerjaannya seperti biasa. Tari kembali merasa bosan tinggal dirumah itu tanpa melakukan aktivitas apapun. Setiap hari yang dilakukannya hanya tidur-tiduran, menonton televisi.
Ingin rasanya dia keluar untuk menemui Ranty. Namun perempuan itu pasti sedang sibuk dengan kuliah dan pekerjaannya. Lagipula Fajar juga sudah berpesan, supaya dia tetap bedrest selama beberapa hari. Namun lama kelamaan dia jenuh dengan rutinitas yang seperti ini terus, hingga badannya terasa pegal.
Akhirnya Tari memutuskan untuk bebersih rumah, supaya bisa sedikit mengusir kejenuhannya. Tari mengambil sapu dan perlengkapan untuk mengepel. Dia mulai menyapu dan mengepel lantai ruang tamu dengan gigih.
__ADS_1
Pelayan Rita yang kebetulan lewat diruang tamu terkejut, melihat Tari yang mengambil alih tugas para pelayan dalam menyapu lantai. Dengan cepat dia menghampiri nyonya mudanya.
"Nyonya? Nyonya sedang apa? Sini, biar saya saja" Rita mencoba mengambil sapu yang ada ditangan Tari. Namun Tari menariknya hingga sapu itu tetap tidak berpindah dari tangannya.
"Tidak usah biar aku saja. Kamu urus saja pekerjaan yang lain. Biar ini aku saja yang mengerjakan" Sanggah Tari dengan memancarkan senyuman sambil melanjutkan aktivitasnya.
"Tapi Nyonya, Bu Zaitun sudah bilang kalau kami harus menjaga Nyonya dengan baik. Katanya ini perintah dari Tuan Fajar. Saya takut nanti Nyonya Tari kelelahan" Rita berkata dengan khawatir. Mengingat Tari yang baru saja keluar dari rumah sakit.
"Tidak apa-apa kok Mbak Rita. Aku baik-baik saja. Justru aku akan kelelahan kalau tidak melakukan apapun. Tubuhku terasa pegal kalau tidak melakukan apa-apa. Hanya duduk dan tiduran saja" Tari tetap ngeyel.
"Tapi kalau nanti Nyonya sampai kenapa-kenapa bagaimana? Bu Zaitun dan Tuan Fajar pasti akan marah"
"Mbak tenang saja, aku tidak akan kenapa-kenapa. Nanti kalau aku sudah merasa kelelahan, aku pasti akan istirahat kok ya" Tari berusaha meyakinkan pelayan itu dengan suara lembut dan yakinnya.
Akhirnya dengan berat hati, Rita membiarkan perempuan itu melakukan apa yang diinginkannya, karena percuma saja dia melarang dan berdebat.
🍁🍁🍁🍁🍁
Sekitar satu jam kemudian, Tari selesai membersihkan ruang tamu. Kini dia beralih pada ruang keluarga. Lelah masih belum dirasakannya. Malah dia tampak begitu menikmati aktifitasnya.
Meskipun sejak kecil hidupnya tidak pernah melakukan pekerjaan yang keras lantaran ada pelayan yang melakukannya, namun sejak dia diusir oleh Papanya dan tinggal bersama Ranty, dia sudah belajar banyak tentang hidup mandiri dan jauh dari kemewahan.
Oleh sebab itulah, melakukan pekerjaan seperti ini sudah bukan masalah lagi baginya karena sudah terbiasa.
Tari membersihkan ruang tamu dengan semangat. Bujukan para pelayan yang ingin mengambil alih pekerjaannya tidak ada satupun yang diterimanya, termasuk Bu Zaitun.
Mau tidak mau mereka semua harus mengalah pada sikap keras kepala perempuan itu, yang menolak bantuan mereka dengan suara lembut dan ceria. Mereka hanya berharap semoga sikap keras kepala perempuan itu tidak akan membuatnya sampai masuk rumah sakit lagi.
__ADS_1
Tari yang sedang asik membersihkan ruang keluarga, tiba-tiba saja sampai didepan sebuah pintu yang tampaknya pintu menuju ruangan lain. Dia menatap pintu bercat putih itu dengan terpana.