Mentari Untuk Fajar

Mentari Untuk Fajar
BAB 40- Ada Hubungan Apa??


__ADS_3

...Selamat menunaikan ibadah puasa ya kakak-kakak Readers sayang. Semoga sehat ya dalam menjalankan ibadah puasa. Dan semoga amal ibadah kita dibulan suci ini mendapat berkah dan pahala dari Allah SWT. Aamiin.......


...Mohon dukungannya supaya saya tetap semangat nulisnya sambil puasa 🙏😘...


...Happy reading 😘...


🍁🍁🍁🍁🍁


Gerald yang tidak diketahui oleh siapapun sebagai penyebab terjadinya pernikahan itu, duduk mematung menyaksikan pernikahan antara dua orang yang sangat dibencinya itu.


Tidak disangka, jika ide liciknya yang menjebak mereka berdua malah berakhir seperti ini. Ini sangat jauh dari perkiraan dan ekspektasinya. Padahal tadinya dia berpikir, jika pelecehan yang dia lakukan akan membuat kondisi mental dan psikologis Tari terguncang, hingga dia menjadi gila.


Sedangkan Fajar akan mendekam dalam penjara karena hal itu. Namun ternyata? Kenapa dia merasa sudah seperti menjadi mak comblang dalam pernikahan mereka? Apa-apaan ini?


🍁🍁🍁🍁🍁


Bu Zaitun tampak sedang sibuk membantu dan mengatur para pelayan dalam bekerja melayani para tamu undangan.


"Bu Zaitun" Tiba-tiba suara lembut seorang wanita yang menyapanya dengan ramah membuat wanita sepuh itu sedikit terkejut. Hingga spontan Bu Zaitun menoleh kebelakang.


"Eh Nyonya Shre.... Mmm.... Maksud saya Nyonya Zahra. Bagaimana kabar Nyonya sekarang" Bu Zaitun tergagap saking terkejut dan gugupnya melihat Zahra, yang sedang berdiri dihadapannya dengan menggendong anaknya yang masih bayi.


"Alhamdulillah aku baik-baik saja Bu. Ibu sendiri apa kabar?" Ujar Zahra dengan senyum ramah yang terpancar diwajah ibu satu anak itu.


"Seperti yang Nyonya lihat. Saya juga baik-baik saja. Saya dengar ingatan Nyonya sudah kembali. Selamat ya Nyonya. Saya ikut senang melihat Nyonya sekarang sudah bisa berkumpul lagi dengan Tuan Rahul dan.... Sikecil ini" Bu Zaitun melirik Chand dan mengelus-elus kepala kecilnya dengan lembut.

__ADS_1


"Apa boleh saya menggendongnya sebentar Nyonya?"


"Tentu saja boleh. Ibu juga neneknya. Selama ini Ibu juga sudah turut merawatku, saat aku masih tinggal disini dalam keadaan hamil. Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah melupakan kebaikan Ibu dan juga Fajar" Celoteh Zahra sembari menyerahkan anaknya ketangan wanita paruh baya itu dengan senang hati.


Pada saat yang bersamaan, Tari lewat dan tanpa sengaja melihat dua wanita berbeda generasi yang sedang berbincang itu. Melihat mereka yang tampak begitu akrab membuat Tari langsung menghentikan langkahnya, dan mengurungkan niatnya yang sebelumnya hendak menuju toilet dan lebih memilih untuk mengawasi mereka saja.


"Tapi biar bagaimanapun juga, saya pernah membuat kesalahan. Saya pernah membohongi Nyonya. Bahkan saya sempat memanfaatkan kondisi Nyonya saat itu, untuk membuat Nyonya Zahra melupakan suami Nyonya dan bersatu dengan Tuan Fajar.


Semua itu saya lakukan karena saya dibutakan oleh rasa sayang saya terhadap Tuan Fajar, yang sudah saya anggap seperti anak saya sendiri. Karena saya tau, bahwa Tuan Fajar sangat mencintai Nyonya. Hanya Nyonya yang mampu membuatnya bahagia, setelah kematian Nyonya Shreya. Sampai saya lupa, kalau cinta tidak bisa dipaksakan"


Tutur Bu Zaitun dengan lirih dan raut wajah yang sendu. Perasaan bersalah menerjangnya, atas sikap dan tindakan egois yang dulu pernah dia lakukan terhadap perempuan itu.


"Aku mengerti kok Bu. Setiap ibu pasti akan melakukan apapun untuk kebahagiaan anaknya. Begitu juga dengan Ibu. Aku juga minta maaf ya, karena aku tidak bisa memenuhi keinginan Ibu. Aku tidak bisa bersama dengan Fajar. Karena selain aku tidak mencintainya, aku juga tidak bisa meninggalkan suamiku yang sangat aku cintai"


Zahra berkata dengan lirih. Meski tau apa yang dilakukannya adalah benar, namun tetap saja, rasa tidak enak hati tetap ada karena telah mengecewakan Fajar dan Bu Zaitun yang sudah banyak membantunya.


"Tapi aku senang, karena sekarang Fajar sudah menemukan wanita lain sebagai istrinya. Aku lihat gadis itu cantik. Dan aku rasa dia juga gadis yang baik. Aku sangat yakin, kalau dia pasti bisa membuat Fajar bahagia" Zahra berpendapat dengan sumringahnya.


Membuat Bu Zaitun terdiam dan tidak tau harus bicara apalagi. Andai Nyonya Zahra tau, bahwa Tuan Fajar menikahi gadis itu bukan karena cinta. Melainkan karena sudah terlanjur menodai gadis itu hingga hamil.


Entah bagaimana reaksi, dan pendapatnya tentang mereka. Masih bisakah dia menganggap Fajar sebagai lelaki baik dan sempurna?


Sebelum menikahi wanita itu, Fajar sudah menceritakan semuanya padanya tentang apa yang sudah terjadi diantara mereka berdua, hingga mau tidak mau dia harus melakukan pernikahan ini.


Sebagai orang yang sudah menganggap Fajar seperti anaknya sendiri, Bu Zaitun justru merasa sangat kasian pada pria itu. Karena saat melakukannya, dia mengaku sedang dalam keadaan mabuk berat.

__ADS_1


Dan Bu Zaitun sangat tau, apa yang menyebabkan tuan mudanya sampai mabuk-mabukan pada malam itu. Tentu saja alasannya karena perempuan yang ada dihadapannya ini.


Tari yang mendengar percakapan mereka, merasa heran dan bingung dengan apa yang mereka katakan. Sebenarnya ada hubungan apa antara Fajar, Bu Zaitun dan perempuan itu? Mengapa mereka terlihat sangat akrab? Dan apa maksud dari perkataan mereka?


Rasa penasaran ini terasa sangat menggelora dihatinya. Entah kenapa dia jadi merasa begitu ingin tau tentang kehidupan Fajar sebelum menikah dengannya. Padahalkan itu bukan urusannya.


🍁🍁🍁🍁🍁


Malam setelah acara selesai, satu persatu tamu undangan mulai meninggalkan rumah itu, termasuk Gerald, Astrid, Oma Violet dan juga Ranty. Kini hanya tinggal keluarga Dirgantara saja yang masih tersisa.


"Om, Tante, Rahul, Zahra, aku minta maaf ya, atas sikap dan perkataan Oma yang kurang berkenan dihati kalian. Aku.... Benar-benar merasa tidak enak, dengan kalian" Fajar berucap dengan lirih dan wajah tertunduk malu, mengingat sikap Omanya terhadap mereka tadi siang.


"Sudahlah, tidak usah dipikirkan. Kan bukan kamu yang bersalah, jadi kenapa harus kamu yang minta maaf?" Helmi menanggapinya dengan tegas. Ekspresinya terlihat memendam kekesalan. Namun bukan untuk Fajar. Melainkan terhadap Omanya yang telah merendahkan anak dan menantunya.


"Iya Fajar, tidak perlu dibahas ya, kita lupakan saja tentang keluargamu. Ini hari bahagia untuk kalian berdua" Timpal Lesti dengan lembut.


"Oh ya, kalian tidak mungkin akan kembali ke Jakarta malam-malam begini kan? Apa tidak sebaiknya kalian semua tidur disini saja untuk malam ini?" Ucap Fajar yang membuat Helmi, Lesti, Rahul serta Zahra terdiam dan saling pandang.


"Jika kalian ingin kembali ke Jakarta besok, terserah. Tapi setidaknya jangan malam ini. Kasian Chand, angin malam tidak baik untuk bayi. Lagiankan, selama ini kalian juga belum pernah, menginap dirumahku. Sebentar ya. Bu Zaitun" Fajar memanggil Bu Zaitun yang tergopoh-gopoh memenuhi panggilannya.


"Iya Tuan"


"Bu, tolong katakan pada pelayan, supaya menyiapkan dua kamar untuk mereka. Karena malam ini, mereka akan menginap disini" Titah Fajar seraya menunjuk Rahul dan keluarganya.


"Baik Tuan" Bu Zaitun melirik keempat orang itu dan berkata dengan hormat. "Mari Nyonya, Tuan, ikut saya" Ajaknya yang dijawab dengan anggukan kepala mereka semua.

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁🍁


__ADS_2