Mentari Untuk Fajar

Mentari Untuk Fajar
BAB 80- Tidak Akan Meninggalkanmu


__ADS_3

"Iya King, aku percaya padamu. Aku bisa melihat kejujuran dimatamu. Tapi...." Lirih Tari yang tampak ragu melanjutkan ucapannya.


"Tapi....?" Tanya Fajar dengan suara lembut, sambil menatap Tari dengan intens, penasaran apa yang ingin dikatakan oleh istrinya itu.


"Tapi apakah kamu yakin, kalau kamu benar-benar mencintaiku? Kamu yakin kamu tidak akan pernah terpengaruh untuk menendangku dari hidupmu?" Tanya Tari pilu, mempertanyakan hal yang sangat ditakutinya.


Apa yang dilakukan oleh papanya dan juga Darren sebelumnya, telah berhasil menyisakan trauma yang mendalam dihatinya. Sehingga dia takut jika Fajar juga akan bersikap seperti itu, setelah mengenal Moza.


"Queen, kok kamu bicaranya seperti itu? Kamu tidak percaya, kalau aku benar-benar mencintaimu?" Lirih Fajar yang sedikit kecewa mendapat pertanyaan seperti itu dari istrinya, yang seakan-akan meragukan cintanya.


"Dulu juga Papa selalu mengatakan, kalau dia sangat mencintai dan menyayangiku. Kalau aku adalah satu-satunya yang dia miliki setelah kepergian Mama untuk selamanya. Begitu juga dengan Darren. Selama empat tahun dia selalu mengatakan cinta padaku. Selalu mengatakan tidak akan pernah meninggalkanku. Tapi buktinya? Dengan mudah dia terpengaruh oleh Moza dan Mamanya. Dua pria yang saat itu aku pikir akan selalu ada untukku. Ternyata mereka malah memilih untuk meninggalkanku, tanpa mencoba untuk mencari tau dulu kebenaran, akan fitnah yang dijatuhkan terhadapku" Lirih Tari dengan tatapan menerawang sendu. Matanya mulai berkaca-kaca.


Fajar terenyuh melihat dan mendengar hal itu. Ternyata masa-masa sulit yang telah dialami oleh istrinya membuatnya trauma dan insecure. Dia bisa memahami perasaan istrinya. Karena dia sendiri juga sudah dua kali kehilangan wanita yang dicintainya.


Dengan lembut Fajar menyeka air mata yang mulai menggenang dipelupuk mata istrinya.


"Aku mengerti penderitaan dan trauma yang kamu rasakan, karena perbuatan orang-orang terdekatmu. Tapi kamu tenang saja, karena aku janji, aku tidak akan pernah seperti Darren dan Papamu. Aku sangat mencintaimu. Dan aku akan selalu ada untukmu. Kamu taukan kalau aku juga punya trauma? Aku sudah dua kali kehilangan wanita dan anak yang aku cintai. Dan sekarang, aku tidak mau kehilangan lagi untuk ketiga kalinya. Kalau kamu masih ragu, aku bisa mengeluarkan Moza dari perusahaan ini. Lagipula, sebentar lagi masa magangnya juga akan berakhir kok" Lirih Fajar dengan tatapan dalam dan serius. Tari terdiam mendengar perkataan suaminya.


"Tidak King. Aku tidak mau hanya karena rasa insecureku ini, kamu sampai bersikap tidak profesional, dengan mencampur adukkan masalah pribadi dengan masalah perusahaan. Apalagi status dia disini sebagai karyawan magang. Aku tidak ingin mengganggu kuliahnya. Meskipun dia sudah menghancurkan hidupku, tapi bukan berarti aku akan menghancurkan pendidikannya juga. Biar bagaimanapun juga, dia adalah putri sambung papaku" Ucap Tari.


Dia tidak mungkin bersikap kekanak-kanakan, dengan mencampur adukkan masalah pribadi dengan masalah pekerjaan suaminya. Meski dia tidak bisa mempercayai Moza, tapi dia bisa mempercayai suaminya yang selama ini selalu ada untuknya.

__ADS_1


"Kamu yakin tidak masalah, dia tetap berada disini sampai masa magangnya selesai?" Dengan tatapan lekat, Fajar bertanya dengan suara lembut, memastikan keseriusan dari ucapan istrinya.


"Aku percaya dia tidak akan bisa merebutmu dariku" Tari tersenyum yakin sambil membelai wajah suaminya.


"Tentu saja. Tidak ada wanita manapun yang bisa membuatku berpaling darimu. Karena Queenku ini adalah wanita yang sangat cantik dan sempurna bagiku. Apalagi sekarang dia sudah membuatku tegang" Fajar menempelkan hidungnya pada hidung istrinya dan berkata dengan nakalnya. Perkataan suaminya membuat Tari menatap bagian ************ suaminya yang mengacung.


"Ih! Apaan sih? Dasar mesum" Sungut Tari sambil mendorong tubuh suaminya agar menjauh darinya.


"Ayolah sayang, sebentar saja. Aku tidak tahan" Pinta Fajar sambil kembali mendekati tubuh Tari dan menempelkan bibir mereka. Sedangkan tangannya mulai bergerilya kebagian-bagian sensitif istrinya.


"Nanti saja dirumah. Kamu sadar tidak sih?sekarang kita sedang berada diruanganmu. Bagaimana kalau nanti ada karyawanmu yang masuk, lalu melihat perbuatan kita? Kan malu" Tari memperingatkan sembari menunjuk pintu.


Meski sikap suaminya mulai membuatnya terangsang, namun sangat memalukan jika mereka sampai melakukannya ditempat umum seperti ini. Meskipun bukan ditempat terbuka. Tapi dibalik pintu itu ada ribuan orang yang berlalu lalang.


Tidak memiliki pilihan lain selain menurut, Tari hanya bisa pasrah dan mendesah menikmati kecupan, belaian dan sentuhan dari suaminya. Mereka pun kembali mengulang pertempuran panas diruangan itu.


🍁🍁🍁🍁🍁


"Selamat pagi Pak" Dengan senyum ramah yang menghiasi wajah cantiknya, Moza menyapa Fajar yang berpapasan dengannya saat mereka hendak memasuki gedung perusahaan itu.


Mendengar sapaan yang ditujukan untuknya, Fajar menghentikan langkahnya dan menatap gadis itu.

__ADS_1


"Selamat pagi Moz. Kamu baru sampai?" Tanya Fajar yang tak kalah ramahnya.


"Iya Pak" Jawab Moza. Melihat sikap Fajar yang tampak biasa saja, Moza tidak bisa menebak apa saja yang sudah dikatakan Tari padanya. Dan hal itu membuat Moza menjadi was-was. Takut kalau Tari telah mempengaruhi lelaki pujaan hatinya itu dengan cerita lebaynya.


"Oh ya sudah kalau begitu, saya duluan ya" Fajar hendak meneruskan langkahnya kembali, namun Moza menghentikannya.


"Pak tunggu sebentar"


Sesuai dengan keinginan Moza, Fajar membatalkan niatnya untuk melangkah.


"Iya kenapa? Ada yang ingin kamu sampaikan?" Fajar menatap bawahannya itu dengan tatapan seperti biasanya. Dia berusaha bersikap biasa saja terhadap gadis itu, demi profesionalitas.


"Mmm.... Ini soal Tari Pak. Saya baru tau kalau ternyata Bapak adalah suami dari saudara tiri saya itu" Moza memulai dengan gugup.


"Iya saya paham kok. Karena memang tidak banyak karyawan disini yang mengetahui tentang pernikahan kedua saya ini. Karena pernikahan kami memang bisa dibilang sedikit mendadak. Dan hanya dihadiri oleh keluarga inti saja. Dan itupun.... Akibat dari kesalahan saya, sehingga saudara tirimu itu hamil. Jadi saya harus mempertanggung jawabkan perbuatan saya. Saya rasa kamu juga sudah tau tentang hal ini, karena pada malam itu kamu juga ada disanakan?"


Fajar berkata dengan suara lembut. Namun tatapan serta ucapan diakhir kalimatnya membuat jantung Moza serasa mencelos. Tatapan lelaki itu seperti mengintimidasi, dan mengatakan bahwa dia terlibat dalam insiden pelecehan yang dialami Tari pada malam itu.


Benar feelingnya, Tari pasti sudah menceritakan semuanya pada Fajar. Dan sekarang pria ini pasti sudah kehilangan respek terhadapnya. Sial! Sepertinya Tari ingin mencari masalah lagi dengannya!


Dia akan mengurus wanita itu nanti. Sekarang yang harus dia pikirkan adalah, bagaimana membangkitkan kembali kepercayaan Fajar terhadapnya.

__ADS_1


"Pak, saya tidak tau apa yang sudah diceritakan oleh Tari kepada Bapak tentang saya. Dan saya juga paham kalau Bapak lebih mempercayai Tari, karena dia adalah istri Pak Fajar. Tapi saya harap Bapak tidak dulu menelan mentah-mentah cerita Tari. Karena semua yang dia katakan juga tidak sepenuhnya benar. Sa...."


Moza kembali memainkan drama yang sudah lama tidak dia lakoni, memasang wajah sedih dan berkata dengan suara pilu.


__ADS_2