Mentari Untuk Fajar

Mentari Untuk Fajar
BAB 86- Perlengkapan Bayi


__ADS_3

"Queen, kamu kenapa sih? Dari tadi diam saja. Dan aku perhatikan, wajahmu juga murung. Ada masalah dikantor? Coba cetitakan padaku. Atau kamu ingin sesuatu?" Fajar yang sedang menyetir mobil heran melihat istrinya hanya terdiam melamun dengan wajah murung sedari tadi. Padahal biasanya wanita itu selalu bersikap ceria didepannya.


"Tadi aku ketemu papa dikantor" Lirih Tari bercerita tanpa menoleh pada suaminya yang berada disampingnya.


Kejadian hari ini berhasil membuat moodnya memburuk. Masih terbayang jelas wajah sedih papanya yang masih meyakini kenakalannya, serta fitnah yang dirangkai oleh kedua ular betina itu!


Wajah arogan dan angkuh nenek dan ibu tiri suaminya, yang menghinanya habis-habisan didepan papanya yang tidak memiliki keberanian untuk membelanya, karena malu memiliki anak seperti dirinya.


"Papamu datang keperusahaannya Gerald?" Tanya Fajar penasaran.


"Iya. Katanya sih, perusahaan mereka sudah melakukan kerja sama"


"Oh" Fajar manggut-manggut.


"Kenapa? Kamu dimarahi lagi? Atau, papamu mengatakan hal yang membuatmu kembali merasa sakit hati?" Tanya Fajar dengan suara lembut. Khawatir jika istrinya kembali berkonfrontasi dengan papanya sendiri.


"Tidak. Papa terlihat sangat merindukanku. Dan dia menyesal karena sudah mengusirku dari rumah. Dan dia juga terlihat sedih, saat bertemu denganku. Tidak seperti dulu. Dimana dia selalu marah-marah dan berbuat kasar setiap kali melihatku" Ungkap Tari dengan tatapan menerawang.


"Bagus dong kalau begitu. Itu artinya, papamu masih sayang padamu. Dan hatinya mulai melunak. Mungkin ini kesempatanmu untuk memperbaiki hubungan kalian. Dan menyelesaikan perseteruan dan kesalah pahaman yang terjadi" Ucap Fajar dengan wajah berbinar-binar mendengar cerita istrinya.


"Tapi aku belum siap, karena papa sendiri masih mempertahankan asumsinya. Bahwa aku ini adalah wanita nakal, sesuai dengan fitnah istri dan putri sambungnya itu. Papa masih belum bisa mencoba untuk percaya padaku, meskipun hanya sedikit. Bahkan dia malu, mengakuiku sebagai anaknya didepan Oma Violet dan Tante Astrid" Lirih Tari yang masih merasa kecewa.


"Kamu bertemu Oma Violet dan Tante Astrid juga?"


"Iya. Tadi mereka tiba-tiba saja datang kesana. Dan menghinaku habis-habisan didepan Papa. Mereka menudingku menjeratmu dengan kehamilanku. Dan sekarang aku merencanakan untuk menjerat Gerald juga" Ungkap Tari dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Aku minta maaf ya, atas sikap mereka padamu" Lirih Fajar merasa bersalah dan tidak enak.

__ADS_1


"Kenapa kamu harus minta maaf? Kan yang menghinaku mereka, bukan kamu"


"Iya. Tapi bagaimanapun juga kan, mereka keluargaku. Nenek dan ibu tiriku. Jadi jika mereka melakukan kesalahan, pada siapapun itu, aku juga punya kewajiban untuk mewakili mereka meminta maaf"


"Tapi kan mereka tidak pernah mengakui dan menganggapmu. Jadi mereka bukan urusanmu"


"Tapi didalam darahku mengalir juga darah mereka. Dan itu tidak bisa dirubah oleh siapapun. Termasuk mereka sendiri yang sangat menginginkannya. Sama halnya dengan kamu dan papamu. Meskipun kalian sudah jauh karena ibu dan saudara tirimu. Tapi satu hal yang harus kamu ingat. Beliau tetaplah ayah kandungmu. Didalam darahmu mengalir darahnya. Sekalipun Moza dan Mamanya ingin merubah hal itu, supaya mereka bisa memiliki papamu seutuhnya, namun mereka tetap tidak bisa. Karena darah itu lebih kental dari air"


Tari terdiam mendengar kata-kata bijak dari suaminya. Dia semakin kagum dengan kedewasaan suaminya, yang masih tetap bisa bersikap bijak dalam menghadapi keluarga yang membuangnya, karena mengingat hubungan darah.


Tidak seperti dirinya yang sama sekali tidak peduli dengan hal itu. Tapi apa yang dikatakan Fajar ada benarnya menurutnya. Darah lebih kental dari air. Meski dibalik kemarahan, dia tetap bisa merasakan rasa sayang papanya terhadapnya.


Sebenarnya sejak dulu hubungan dia dan papanya baik-baik saja, dan tidak pernah ada masalah. Hingga kedatangan Moza dan Mamanya menjadi awal malapetaka.


Apakah sudah saatnya dia untuk menghentikan kedua wanita itu, dan mencoba memperbaiki hubungannya dengan papanya?


"Ya sudah. Sebaiknya sekarang kita tidak perlu lagi membahas tentang keluargamu maupun keluargaku. Karena sekarang, aku ingin mengajakmu kesuatu tempat"


"Kemana?"


"Nanti kamu juga tau sendiri" Fajar tersenyum penuh arti.


"Curang. Bisanya main rahasia-rahasiaan segala" Sungut Tari.


"Bisanya main ngambek segala" Balas Fajar bergurau.


Keduanya pun tertawa terbahak-bahak. Fajar senang karena berhasil mengembalikan senyum dan tawa lepas istrinya.

__ADS_1


Fajar mengarahkan mobilnya kesebuah mall. Dia memegang dan menarik tangan istrinya, menelusuri sudut mall yang super luas dan dipenuhi oleh jutaaan manusia yang berlalu lalang. Hingga mereka tiba disebuah babyshop.


Tari tercengang memandangi setiap penjuru toko yang menyajikan segala macam keperluan bayi. Mulai dari pakaian mungil, mainan, kereta dorong, box bayi, susu dan lainnya. Baru kali ini Tari datang ketoko seperti ini. Dia tersenyum gemas memandangi perlengkapan sikecil yang lucu-lucu itu.


"King, kita ngapain kesini?"


"Kok ngapain sih? Memangnya kamu tidak tau ini tempat apa?" Celetuk Fajar.


"Ya jelas taulah. Ini toko perlengkapan bayi. Maksudku, ngapain kita ketoko ini?" Ucap Tari sedikit kesal dengan sikap suaminya yang tidak bisa serius.


"Ya tentu saja untuk membeli perlengkapan princess. Kan nanti saat dia lahir dia butuh baju, popok, bedak, tempat tidur, botol susu. Masak nanti dia tidak punya apa-apa? Kan kasian princess kita" Ucap Fajar mengelus-elus perut bulat istrinya dengan penuh kelembutan.


"Tapi kan dia belum lahir King. Usia kehamilanku saja belum genap tujuh bulan. Apa tidak terlalu cepat mempersiapkan semuanya?"


"Kok telalu cepat sih? Coba kamu pikirkan, sekarang usia kehamilanmu sudah enam bulan kan? Itu artinya apa? Tinggal tiga bulan lagi princess akan lahir. Tiga bulan itu bukan waktu yang lama lho. Nanti tanpa terasa, tiga bulan akan berlalu. Makanya kita perlu mempersiapkan segala sesuatunya dari sekarang"


"Iya deh, terserah Kingku saja" Ucap Tari mengalah.


"Nah gitu dong. Itu baru namanya istri yang penurut pada suami" Fajar tersenyum puas sembari mengacak-acak rambut istrinya, yang hanya mendumel atas kelakuan suaminya.


Mereka pun menyusuri toko itu. Memilih dan membeli apa saja yang dibutuhkan oleh sikecil nanti. Seperti baju dan celana, kain bedong, selimut, popok, botol susu, perlengkapan tidur, mandi dan sebagainya.


Mereka tampak sangat gembira dengan aktivitas memilih-milih perlengkapan yang sesuai dengan calon bayi. Yaitu barang-barang bernuansa pink, karena bayi mereka berjenis kelamin perempuan. Tanpa terasa mereka telah menghabiskan waktu selama berjam-jam ditoko itu.


Pada saat yang bersamaan, Gerald memasuki toko itu sambil berbincang-bincang diponsel dengan salah seorang rekan bisnisnya. Hari itu dia berencana untuk menjenguk istri salah seorang kolega bisnisnya yang melahirkan.


Kebetulan lelaki itu adalah kolega terbaiknya yang berasal dari luar negri. Yang mana selama bekerja sama dengannya, saham perusahaannya semakin meningkat pesat. Karena itulah dia berencana untuk menjenguk dengan membawa buah tangan untuk sikecil.

__ADS_1


__ADS_2