
"Jadi maksudnya, kamu takut dengan ibu dan saudara tirimu itu?" Fajar menatap Tari dengan intens.
"Bukan itu maksudku. Aku hanya ingin hidup tenang" Tari menggeleng-gelengkan kepalanya dengan gelisah.
"Dengan cara mengalah dan membiarkan dirimu tertindas? Queen, selama kamu yakin kalau kamu tidak salah, kamu tidak perlu takut. Ada aku kan? Aku pasti akan selalu menjaga dan melindungimu, dari siapapun yang berani menyakitimu" Fajar merangkum wajah Tari dengan lembut, dan menempelkan hidung mancung mereka.
"Kamu janji?"
"Janji" Jawab Fajar mengacungkan jari kelingkingnya. Dengan senyum haru, Tari menautkan jari kelingkingnya pada jari Fajar.
"Oh ya, ayo ikut aku. Ada yang mau aku tunjukkan" Fajar turun dari ranjang dan menarik tangan Tari.
"Apa?" Tari bertanya penasaran.
"Ayo ikut saja" Bukannya menjawab, Fajar malah semakin menarik tangan istrinya agar beranjak mengikutinya.
"King, kita sedang berada diruangan mana? Dan kenapa mataku harus ditutup lagi sih?" Tari bertanya saat Fajar membuka pintu, dan memasukkannya kesebuah ruangan yang Tari sendiri tidak tau itu ruangan apa, karena matanya sedang tertutup kain panjang.
"Sudah jangan terlalu cerewet. Biar aku buka kainnya sekarang. Siap ya. Satu, dua, tiga! Taraaa!!" Seru Fajar dengan girangnya setelah dia membuka kain yang menutupi mata Tari dengan perlahan-lahan.
"King, ini..." Tari tertegun melihat ruangan yang telah disulap menjadi kamar bayi yang didominasi warna pink dan krem, yang membuat suasana kamar itu tampak feminin dan manis.
__ADS_1
"Bagaimana? Apa kamu menyukai kamar untuk princess?" Tanya Fajar dengan sumringahnya karena dia yakin bahwa istrinya akan sangat menyukai kejutan darinya.
"Kamar yang sangat cantik dan menggemaskan. Ini untuk princess?" Tari tersenyum takjub menatap kamar berisi semua perabotan sikecil yang berjenis kelamin perempuan.
"Tentu saja. Memangnya untuk siapa lagi?" Jawab Fajar asal.
"Kamu, menyiapkan ini semua sendiri? Kenapa tidak memberi tauku?"
"Kan aku ingin memberi kejutan. Kalau dikasih tau, bukan kejutan lagi namanya"
"Aku sudah tidak sabar, ingin mendengar tangisannya, saat dia menepati kamar ini nanti" Tari mengelus-elus perut bulatnya dengan bahagia sembari memandangi setiap sudut kamar itu, membayangkan saat nanti sikecil yang masih berada dalam kandungannya menepati kamar itu. Tentunya itu akan menjadi masa-masa yang yang sangat membahagiakan dalam hidupnya.
"Apalagi aku. Kehadirannya akan melengkapi kebahagiaan keluarga kecil kita. Dan aku rasa, tidak ada orang yang bisa menandingi kebahagiaanku saat dia lahir nanti" Fajar merangkul Tari dan berkata dengan membanggakan diri. Tari tersenyum gemas mendengar perkataan suaminya.
Pagi itu Gerald bertandang keperusahaan Tristan untuk membahas tentang kerjasama perusahaan mereka, dengan didampingi oleh asisten pribadinya.
"Pagi Om" Sapa Gerald dengan ramah begitu dia masuk kedalam ruangan itu dengan diantar oleh sekretaris pribadi Tristan.
"Pagi Gerald. Ayo masuk" Tristan membalas senyum ramah Gerald dan menunjuk sofa yang ada diruangannya itu, mempersilahkan Gerald untuk duduk disana.
"Om, aku kesini ingin membahas tentang pembangunan cabang perusahaan yang ada di Kuala lumpur" Tutur Gerald menghenyakkan duduk diatas sofa, sembari menunjuk berkas ditangan asistennya yang bernama Derry.
__ADS_1
Mereka pun membicarakan perihal bisnis dengan serius dan fokus selama kurang lebih tiga jam. Begitu selesai, Gerald meminta asistennya meninggalkan ruangan itu, karena dia ingin bicara berdua saja dengan Tristan secara privat.
"Oh ya Om. Aku tidak pernah menyangka kalau ternyata, Tari itu adalah putri kandungnya Om. Selama ini aku pikir, satu-satunya putri Om hanya Moza saja. Ternyata dia hanya anak, bawaan Tante Claudia dengan suami pertamanya? Maaf Om sebelumnya, padahal selama inikan, kita sering bertemu dengan Tari. Tapi Om bersikap seolah-olah, kalian tidak saling mengenal. Apa sebenarnya ada masalah serius diantara kalian, hingga kalian berselisih paham?"
Gerald bertanya dengan hati-hati agar Tristan tidak merasa tersinggung dengan pertanyaannya, yang menyinggung tentang permasalahan keluarganya yang begitu sensitif.
Dia begitu penasaran dan ingin tau lebih lanjut, permasalahan wanita yang sedang mengandung anaknya dengan partner bisnisnya ini hingga dia bisa tidak terakui sebagai anak seorang konglomerat ternama.
"Ini semua salah Om Gerald. Om yang terlalu tersulut emosi, sehingga Om berbuat tidak adil pada putri Om sendiri. Dan sekarang, Om akan berusaha untuk memperbaikinya. Om akan berusaha menyelidiki penyebab kekacauan dalam hubungan kami. Dan untuk Moza, meskipun dia bukan putri kandung Om. Tapi Om sudah menganggapnya seperti anak Om sendiri. Sama seperti Tari" Lirih Tristan dengan wajah menunduk sedih.
Gerald bisa merasakan pria paruh baya itu tampak begitu menyesal dengan apa yang terjadi antara dirinya dengan putrinya. Dan dia sangat yakin bahwa biang kerok dari semua ini adalah Moza. Karena Gerald sendiri tau, betapa liciknya gadis itu.
"Lalu bagaimana jika seandainya Moza sampai menyakiti Tari? Apa Om bisa menerimanya?" Tanya Gerald ingin tau.
"Maksudmu apa, bicara seperti itu? Memangnya apa yang dilakukan Moza pada Tari? Memangnya dia menyakiti Tari?" Tristan menatap Gerald dengan kening mengernyit bingung.
"Mmm, tidak Om. Maksudku, seandainya. Apa yang akan Om lakukan, seandainya Moza menyakiti Tari dengan sengaja?" Kilah Gerald sedikit gugup. Tidak mungkin dia mengatakan bahwa Moza pernah membantunya menjebak Tari, untuk melecehkannya.
"Ya.... Tentu saja Om akan marah besar padanya, jika Tari sampai kenapa-kenapa karena dia" Jawab Tristan tegas dan serius.
Meskipun dia sangat menyayangi Moza, namun bukan berarti dia akan diam saja jika gadis itu sampai menyakiti putrinya. Meskipun dia berharap jika semua itu hanya murni pertanyaan Gerald saja. Karena dia yakin Moza adalah gadis yang baik, dan sangat menyayangi saudaranya.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan Tari dan suaminya? Aku masih ingat, saat dulu mereka menikah, Om tidak hadir dalam acara pernikahan itu. Apa Om tidak pernah merestui mereka? Atau, Om tidak menyukai Fajar?" Gerald menatap Tristan dengan menyelidik.
"Jujur saja ya Gerald, sebenarnya Om memang tidak pernah menyukai adik tirimu itu. Sejak mereka menikah hingga sekarang, Om tidak pernah menemuinya sebagai menantu. Ya... Mungkin karena pada saat itu, hati Om masih terlalu keras, dan terbakar emosi. Sehingga Om tidak bisa berpikir secara jernih dan bijak. Menurut Om, Fajar itu adalah lelaki tidak baik yang telah memberi pengaruh buruk pada Tari. Sehingga putri Om, bisa melakukan hal yang membuatnya hamil diluar nikah. Tapi sekarang Om sadar, seharusnya Om bersyukur, karena Fajar mau bertanggung jawab atas perbuatannya terhadap putri Om. Dia mau menikahi Tari. Dan memberinya status yang jelas dan layak. Dan, Om lihat sekarang juga, Tari sangat bahagia. Itu artinya, dia bisa membahagiakan putri dan calon cucu Om. Tidak semua pria bisa seperti dia. Yang mau mengakui dan mempertanggung jawabkan perbuatannya. Jadi mungkin, nanti Om akan menemuinya sebagai menantu. Dan Om juga berharap setelah ini, hubungan Om dan Tari bisa kembali membaik seperti dulu" Papar Tristan tersenyum lembut dengan tatapan menerawang.